Thursday, September 20, 2007

Jakarta - Solo, ku bentangkan cinta itu

Ales Oktapratama - 2007
____________________________________________________
Cerpen ini adalah versi baru dari cerpen terdahulu yang berjudul "Mawar Ku". Saya sedang senang-senangnya merombak cerita-cerita yang pernah saya buat. Semoga masih bisa menjadi teman dalam mengisi sisi hampa anda sekalian.
____________________________________________________

Sekitar setengah jam yang lalu aku tiba di stasiun ini, Stasiun Balapan Solo. Sejak tiba hingga kini aku begitu menikmati suasana distasiun ini, kulihat beberapa orang muda sibuk membersihkan lantai dan juga terlihat beberapa orang tertidur dilantai dekat dengan ruang tunggu. Aku begitu senang bisa tiba di kota ini, Solo, kota yang baru kali pertama ini aku singgahi. Suasana yang segar, walau sedikit dingin, membuat aku tambah menikmati suasana di stasiun ini. Di ruang tunggu, aku melihat masih ada beberapa orang yang duduk dan berusaha menahan kantuk sambil menunggu jemputan mereka tiba.

“Pak Araya !”, tiba-tiba saja aku dikejutkan oleh tepukan pelan dibahuku.
Seketika itu juga aku berusaha membalikkan badan untuk mencari tahu siapa yang menepukku,
“Pak Arman!, saya pikir siapa” kataku sambil berdiri dan mengusap kedua mataku.
Ternyata aku secara tak sadar telah tertidur di ruang tunggu itu.
“Sudah lama menunggu ?” tanya Pak Arman kepadaku,
“Nggak juga, sekitar 1 jam yang lalu” jawab ku sambil berusaha untuk mengangkat barang bawaan ku,
“Wah, maaf kalau terlalu lama menunggu” lanjut Pak Arman merasa bersalah,
“Ah, nggak apa-apa, sepertinya memang kereta saya tadi tiba terlalu cepat” jawabku sambil menepuk pundaknya.

Kemudian kami pun pergi meninggalkan stasiun menuju ke sebuah wisma milik perusahaan. Pak Arman adalah kepala cabang perusahaan di Solo sekaligus rekan kerjaku, aku dikirim ke Solo untuk melakukan peninjauan atas proyek baru di Solo, sebuah mega proyek untuk membangun supermall disana. Aku ditugaskan untuk melakukan peninjauan atas pembebasan tanah dan segala keperluan untuk proyek tersebut. Dan Pak Arman ditunjuk sebagai kepala proyek itu.

“Kota ini bagus ya pak” tanya ku sambil melihat-lihat dari dalam mobil,
“Iya pak, loh Pak Araya belum pernah kemari toh” jawab Pak Arman balik bertanya,
“Belum pak, baru kali ini aku lihat Solo” jawabku pelan.

Tak lama kemudian kami tiba di wisma yang kami tuju. Sebuah wisma yang tampak sederhana tetapi asri dan terawat baik. Setibanya, aku langsung saja menuju ke kamar yang sudah disediakan untuk ku di pandu oleh Pak Arman.

“Kalau perlu sesuatu, Pak Araya bisa menghubungi resepsionis” kata Pak Arman,
“Oh iya, terima kasih banyak Pak Arman”
“Kalau begitu saya pamit ingin pulang dulu, soalnya saya janji dengan anak saya untuk mengantarnya berenang pagi ini” lanjut Pak Arman,
“Silahkan pak, sampai ketemu besok” jawabku sambil menyalaminya.

Setelah kepergian Pak Arman, tiba-tiba saja aku merasa sangat lelah dan ngantuk. Rasanya mata ini ingin mejam saja. Tapi aku tetap paksakan untuk mandi terleih dulu. Setelah mandi dan membereskan barang bawaan, aku langsung tidur dan tak terasa aku terbangun menjelang sore hari. Tubuhku terasa lemas, mungkin karena terlalu lama tidur. Menjelang malam, setelah aku mandi, aku sempatkan untuk keluar untuk mengenali kota Solo dan menikmati suasana kota ini. Sungguh kota yang indah, aku sengaja berjalan kaki dari wisma tetapi tak tau tujuannya kemana. Aku hanya mengikuti langkah kaki sambil tengok kanan-kiri menikmati indahnya temaram kota Solo. Aku pikir inilah waktu untuk sedikit santai, karenan besok mungkin tak ada waktu luang karena pekerjaan sudah menunggu.

Keesokan harinya, seperti dugaan ku, aku sibuk sekali. Berbagai meeting harus aku hadiri. Ditengah suasana meeting, tiba-tiba saja aku dan beberapa anggota meeting lainnya dikejutkan oleh suara-suara gaduh dan keributan yang berasal dari halaman depan kantor cabang Solo. Tak lama kemudian dengan tergopoh-gopoh, satpam perusahaan datang:
“Pak Arman, ada demo di depan” ujar sang satpam dengan nafas tersengal,
“Demo ?” bisik aku dan beberapa peserta meeting lainnya penuh keheranan.
Pak Arman tampak terkejut.
“Kamu jaga pintu masuk kantor dan perintahkan seluruh satpam untuk berjaga” perintah Pak Arman

Sesaat kemudian kami keluar dari ruang meeting menuju ke ruang depan untuk melihat aksi demo itu dari dalam kantor. Aku lihat ada sekitar seratusan orang membawa spanduk-spanduk bertuliskan penolakan mereka terhadap rencana pembebasan tanah oleh perusahaan. Aku mengerenyitkan kening ku mencoba berpikir apa yang sedang terjadi.,
“Pak Arman, ada masalah apa dengan pembebasan tanah kita ?” tanya ku pada Pak Arman sambil terus mengamati suasana diluar,
“Eee, bukan masalah serius kok pak, hanya masalah beberapa kepala keluarga yang menolak dibebaskan tanahnya”
“Tapi, dari pengamatan saya, masalah ini sepertinya serius. Coba kita bicara dengan mereka, biarkan 2 atau 3 orang perwakilan dari mereka masuk untuk kita ajak bicara” pintaku pada Pak Arman,
“Ya pak, sepertinya itu adalah jalan terbaik saat ini".

Kemudian Pak Arman tampak menghampiri beberapa satpam dan berjalan keluar ruangan menuju halaman kantor menemui demonstran.

Tak lama kemudian, datanglah tiga orang perwakilan dari pendemo memasuki kantor. Mereka ditemani oleh Pak Arman,
“Mari kita bicara di ruang meeting saja” ajak Pak Arman pada ketiga perwakilan tersebut.
Sedangkan aku bersama beberapa orang manager mengikuti dari belakang. Sesampainya di ruang meeting, kamipun mulai melakukan pembicaraan. Pembicaraanpun dimulai oleh kata-kata bernada tinggi dari salah seorang perwakilan, “Pak Arman!, kami meminta pada pihak perusahaan agar tidak melakukan intimidasi pada penduduk, beberapa penduduk melapor bahwa mereka menerima tekanan dari pihak tak dikenal” kata salah seorang perwakilan,
“Wah, anda jangan menuduh seperti itu, kami tidak pernah melakukan tindakan-tindakan seperti yang anda katakan, kami selalu menghormati hukum yang berlaku” jawab Pak Arman diplomatis.
Ditengah riuh rendah perdebatan, aku berinisiatif menengahi:
“Maaf sebelumnya, sebenarnya apa yang membuat anda-anda menolak pembebasan tanah itu” tanya ku pada ketiga perwakilan itu,
“Loh, anda ini siapa lagi, apa anda tidak pernah dengar tentang masalah ini” jawab salah seorang perwakilan dengan keras,
“Oh iya, ini Pak Araya, utusan dari kantor pusat” sela Pak Arman memperkenalkan diriku.
“Ooo, baguslah kalau begitu, biar anda tahu bahwa kami menolak disemena-menakan”, “Pemberian ganti rugi yang tidak manusaiwi adalah melanggar hak asasi manusia” lanjut salah satu perwakilan kepadaku.
“Maaf, boleh saya tahu nama anda” tanyaku pada salah seorang perwakilan itu yang terlihat paling sering bersuara,
“Nama saya Ajeng, lengkapnya Ajeng Mawar. Kenapa ?, apa bapak mau menculik saya” jawabnya sedikit sinis.
Aku hanya tersenyum kecil mendengar ucapannya.
“Wah, sudah tidak jamannya lagi main culik di negeri ini Nona, saya cuma butuh informasi saja”,
“Apakah anda salah satu dari penduduk itu” tanya ku lagi,
“Bukan, saya dari LSM, saya coba membantu masyarakat yang mendapat perlakuan tak adil” jawabnya.
“Oke, begini saja, saya besok akan ke lokasi, saya akan lakukan pembicaraan langsung dengan penduduk, dan saya harap anda bisa ikut” pinta ku sambil menutup buku agendaku.

Tak lama setelah itu, akhirnya pembicaraan pagi itupun berakhir dengan damai, walau belum menemukan kesepakatan, setidaknya ada peluang untuk diselesaikan dengan baik.

Setelah semua pendemo membubarkan diri, aku mengadakan pembicaraan dengan Pak Arman tentang masalah tersebut. Aku mendapat banyak informasi tentang duduk masalah sebenarnya.

Keesokan harinya, aku pun berangkat menuju lokasi ditemani oleh Pak Arman. Di lokasi kami sudah ditunggu oleh Ajeng Mawar dan beberapa rekannya disebuah rumah yang lumayan bagus. Melihat kedatangan kami, Ajeng Mawar langsung menghampiri kami dan langsung mengajak kami mendatangi beberapa rumah untuk mencari tahu masalah sebenarnya dan apa sesungguhnya yang mereka mau.

Dari beberapa pembicaraan dengan warga aku mengetahui bahwa tawaran harga tanah yang diajukan adalah jauh lebih rendah dari harga tanah yang diinformasikan cabang Solo ke kantor pusat. Mengetahui hal itu, aku mulai berpikir ada sesuatu yang tak beres,

“Pantas, Pak Arman sepertinya tidak begitu bersemangat ketika aku mengusulkan untuk mengunjungi lokasi” bisik ku dalam hati.

Sepanjang kami berkeliling lokasi mengunjungi beberapa warga, aku banyak membicarakan hal-hal detail dengan Ajeng Mawar. Tampak oleh ku keteguhan hati dan semangatnya yang tinggi untuk membela rakyat kecil.
“Ternyata masih ada wanita seperti ini, dia cantik, pintar dan ikhlas” bisikku dalam hati pada suatu kesempatan ketika berbincang dengannya.

Selesai dari mengunjungi lokasi, aku merasa sangat lelah dan kepala ku terasa pusing. Sepertinya masalah pembebasan tanah itu membuat aku banyak berpikir. Setibanya di kantor dari lokasi pembebasan tanah, tak lama aku pulang. Setibanya di rumah pun ternyata aku tidak bisa juga beristirahat karena harus menyelesaikan laporan hasil peninjauanku.

Malam harinya, aku kembali keluar wisma untuk menikmati suasana kota Solo dimalam hari. Aku telusuri jalan-jalan utama yang ramai dan diterangi lampu jalan yang remang-remang, terasa romantis dengan berjalan kaki. Setelah cukup lama berjalan, aku sampai di depan sebuah rumah makan, rumah makan itu terlihat sederhana dan tampak ramai. Karena kebetulan aku juga sudah lapar dan berasumsi kalau rumah makan ramai berarti makanannya enak, maka akupun mampir ke rumah makan itu. Setelah memesan beberapa makanan, aku mencari meja yang dekat dengan ruang terbuka, maksudnya agar aku bisa menikmati pemandangan diluar sana sambil makan.

Ketika aku sedang asyik memandangi suasana diluar sambil menunggu pesananku datang, aku dikejutkan oleh suara lembut wanita menyapaku:
“Pak Araya?” sapa suara lembut itu,
Aku langsung menolehkan wajahku, dan aku tiba-tiba saja menjadi gugup:
“Loh!, Ajeng Mawar kan ?”
“Iya, wah kok melamun gitu pak ?”
“Ah ndak kok, sedang menikmati pemandangan malam saja”.
“Kamu datang dengan siapa?” tanya ku,
“Sendirian aja, kebetulan saya tinggal tepat disebelah jalan rumah makan ini, jadi setiap malam saya membeli makanan disini” jawab Ajeng Mawar penuh senyum,
“Wah, kebetulan kalau begitu, gabung dimeja saya saja, kan lumayan ada teman” pintaku sambil menarik kursi didepanku,
“Saya tadi pesan makanannya dibungkus” jawab Ajeng Mawar,
Mendengar jawaban Ajeng Mawar itu, aku langsung memanggil pelayan rumah makan itu dengan lambaian tanganku,
“Ada yang bisa saya bantu pak” tanya pelayan itu,
“Tolong, agar pesanan ibu ini yang tadi dibungkus dibatalkan, dia makan disini saja”
“Waduh, Pak Araya, kan saya belum bilang bersedia atau tidak untuk menemani bapak makan” tanya Ajeng Mawar bingung,
“Nggak apa-apa kan sesekali melanggar hak asasi orang” jawabku sambil bercanda.
Ajeng Mawar tampak tersenyum merespon kata-kata ku itu.

Akhirnya malam itu kamipun makan bersama. Sambil makan kami bicarakan banyak hal, tapi yang pasti aku menolak membicarakan masalah pekerjaan, apalagi yang berkait dengan permasalahan pembebasan tanah itu. Dibalik kevokalannya, ternyata Ajeng Mawar adalah wanita yang lembut dan romantis, pengetahuannya juga luas, aku jadi begitu kagum dengannya, belum lagi malam itu ia menggunakan pakaian yang sangat serasi dengan wajahnya yang memang cantik. Pembicaraan kami malam itu sangat mengasyikkan, aku juga tak tahu mengapa aku merasa seperti telah lama mengenalnya.

“Jeng, boleh kan saya panggil kamu Ajeng” pintaku,
“Ya nggak apa-apa lah pak, itu kan memang nama saya” jawabnya,
“Kamu juga jangan panggil saya pak dong, emang saya kelihatan sudah bapak-bapak”
“Panggil saja saya, Ray”
Ajeng tersenyum.
“Oke deh, Pak Araya, eh Ray”
“Ray ?, terlalu keren panggilannya” lanjut Ajeng meledek ku.

Pembicaraan kami terasa begitu akrab, derai tawa sering keluar dari mulut kami.
“Oh iya Jeng, kamu orang asli sini” tanya ku,
“Iya, tapi aku lahir dan besar di Jakarta, selepas kuliah aku kembali ke Solo untuk mengurus ayahku sepeninggalan ibuku” jawab Ajeng,
“Kalau begitu, kamu tahu banyak tentang kota ini” kataku sambil kutatap wajah manisnya
“Lumayan” jawabnya singkat,
Aku diam sejenak dan kemudian tersenyum.
“Kalo gitu..” bisik ku
“Kalo gitu apaan ?” tanya Ajeng panasaran
“Aku akan sangat berterima kasih kalau malam ini kamu mau menjadi pemanduku keliling kota ini, aku ingin sekali mengetahui kota ini” pinta ku,
“Memangnya kamu belum pernah kesini toh, kasian deh!” jawab Ajeng meledek.

Tak lama kemudian aku memanggil pelayan untuk meminta bill pembayaran,
“Punyaku biar aku yang bayar” kata Ajeng menyela,
“Jangan, biar sekalian saja, anggap saja tanda terima kasih karena kamu mau menjadi pemanduku malam ini” jawabku sambil memberikan beberapa lembar uang kepada pelayan,
“Waduh, terulang lagi nih, kapan aku bilang bersedia jadi pemandu kamu” jawab Ajeng heran,
“Loh, kamu kan diam saja, jadi aku anggap bersedianya, kan sekali-kali…....” ,
Apa ayo....sekali-kali melanggar hak asasi manusia nggak apa-apa gitu!” selang Ajeng sambil cemberut,
“Duh, segitu sewotnya, mau nggak nih ? tanya ku lagi,
“Iya deh, anggap saja menghormati tamu” jawabnya.
Aku tersenyum mendengar gumamannya itu
“Jeng..jeng, ternyata kamu ngegemesin juga” bisik ku dalam hati.

Malam itu kami telusuri setiap sudut kota Solo, sepanjang jalan kami tak pernah berhenti tertawa, entah karena dia berselera humor atau memang aku yang pintar bikin lelucon. Dan tak terasa waktu berjalan begitu cepat, waktu sudah hampir jam 12 malam,

“Ray, sepertinya kita mesti pulang deh, kalau tidak nanti ayahku bisa marah” kata Ajeng, “Oke deh, aku anter kamu yah” jawab ku,
“Nggak usah, biar pulang sendiri” jawab Ajeng menolak,
“Wah, jangan gitu dong, aku harus antar kamu, ini kan sudah malam, ya sekalian biar tahu rumahmu lah” kataku coba bernegosiasi,
“Rumahku jelek, ntar kamu malu” kata Ajeng merendah,
“Oh iya, kamu pasti anak yang punya perusahaan itu yah, soalnya kamu masih begitu muda tapi sudah pegang posisi penting” lanjut Ajeng,
“Hahaha, nggak juga”,
“Ayo deh, debat melulu, ntar malah tambah malem nyampe rumah” lanjutku sambil menarik tangannya.
Aku sungguh tak sadar telah menggandeng tangan Ajeng sewaktu mengajaknya berjalan pulang, sepertinya Ajengpun tak sadar bahwa tangannyapun terpaut ke lenganku. Namun tiba-tiba:
“Eh, sorry “ ujar Ajeng sambil menarik tangannya,
“Eh!, sama, sorry juga” jawabku tersentak.
Setelah kejadian itu kami saling berdiam diri, suasana tampak hening,
“Wah, apa si Ajeng marah yah, aduh, bego banget sih” bisikku dalam hati.


Tak lama kemudian kami sampai di depan sebuah rumah, rumah itu tampak sederhana dan asri, disekeliling halamannya kulihat banyak sekali tanaman hias yang tertata rapih. “Nah, ini rumah saya, masuk dulu deh, biar ayah saya tahu kalau saya tidak sendirian” kata Ajeng kepadaku sambil berjalan menuju teras rumahnya,
“Oh iya, terima kasih” jawabku,
“Tanaman-tanaman ini bagus, siapa yang memeliharanya” tanyaku lagi,
“Saya. Kebetulan saya hobby merawat tanaman” jawab Ajeng santai.

Selepas mengantarkan Ajeng pulang dan setelah bertemu dan sedikit beramah tamah dengan ayahnya, aku langsung pulang. Sepanjang jalan aku masih saja berpikir tentang Ajeng, dalam pikiranku kenapa dia begitu sempurna dimataku, selama aku beberapa kali menjalin hubungan dengan beberapa wanita, Ajeng sepertinya memberiku sebuah pemandangan baru tentang wanita dan arti kebutuhan hati.
“Mungkin aku mesti membuat laporan tersendiri tentang Ajeng, dan lapornya kemana ya ?” bisikku,
“Oh iya, lapor ke Tuhan kali ya, lapor kalo aku ketemu wanita yang sempurna” bisikku lagi sambil tersungging kecil.

Tak terasa berjalan aku sudah sampai digerbang wisma, aku langsung saja masuk dan menuju kamarku. Setelah berbaring sebentar diatas peraduan, aku langsung menuju meja kerja untuk melihat-lihat pekerjaanku, walau waktu sudah tengah malam aku masih belum merasakan kantuk. Aku lihat-lihat lagi tentang proyek supermall itu, dan juga masalah pembebasan tanah, kubalik-balik lembaran-lembaran dokumen dan notulen-notulen rapat, dan aku temukan sebuah copy kesepakatan dengan nama Ajeng disana, lalu aku kembali tersenyum kecil memandangi namanya, kupandangi dokumen itu agak lama, walau entah lama memandang dokumen itu karena isi kesepakatannya atau ada nama Ajeng-nya, aku benar-benar tidak tahu. Tak berselang lama, kantuk mulai menghampiri ku, lalu kubaringkan tubuh ini dengan perlahan dan mulai kupejamkan mata untuk menyambut mentari esok pagi yang pasti indah seindah suasana hati malam ini.

Selama penugasanku di Solo, waktuku banyak diisi oleh meeting dan meeting, entah dengan para manager cabang atau juga para kontraktor dan pemasok. Namun, ada sedikit yang berubah, semenjak terkuaknya masalah harga pembebasan tanah yang mengundang kontroversi, Pak Arman terlihat agak pendiam dan tak banyak bicara, mungkin hal itu mengganggu pikirannya, karena pasti setelah membaca laporan hasil tinjauanku, pejabat di kantor pusat akan memberinya sangsi. Tapi, ya sudahlah, aku tidak banyak memikirkan hal itu, aku hanya fokus pada pekerjaanku, lagi pula di Solo aku cuma punya waktu 2 bulan.

Hand phone ku berdering, secepatnya aku merespon telpon itu:
“Hallo, siapa ini?” sapa ku di telpon,
“Hai Ray, ini aku Rika, kamu kapan pulang ke Jakarta ?, oh iya, disana asyik dong ?” jawab si penelepon yang ternyata adalah Rika.

Rika adalah wanita yang disodor-sodorkan orang tuaku untuk dijodohkan denganku, orang tuaku menganggapku nggak pernah jelas menjalin hubungan dengan wanita,
“Bentar-bentar putus, ganti lagi!” begitu kata ibuku.
Tapi aku hanya menganggap Rika sebagai teman saja, padahal mungkin dia juga begitu, akunya saja yang GR kali.
“Oh kamu Rika, disini enak kok, kotanya bagus. Aku mungkin pulang tiga minggu lagi” jawabku pada Rika,
“Yah!, lama amat, padahal aku mau ajak kamu nonton konsernya TOTO minggu depan” lanjut Rika sedikit kecewa,
“Iya nih, abisnya kerjaanku belum selesai, kamu aja yang nonton bareng temanmu atau pacarmu” jawabku,
“Hah!, pacar!!, kamukan tau aku nggak ada pacar sekarang, ngejek nih?” balas Rika ketus,
“Hahaha, bercanda, maksudku siapa tahu disana kamu dapat kebetan” jawabku lagi sambil tertawa,
“Aku kan maunya pacaran sama kamu, Ray”
“Ya sudah ah, kalo gitu aku nonton sendiri aja” lanjut Rika,
“Eh, jangan sendirian dong, ntar nggak ada yang jadi “body guard” mu, mending ajak siapa lah, masa’ kamu nggak punya teman?” jawabku lagi,
“Ya udah ntar ku ajak temanku deh, eh kalau temannya cowok kamu nggak cemburu kan?” lanjut Rika mengoda,
“Hahaha, cemburu?, emangnya kamu bisa dicemburuin gitu!” jawabku sambil tertawa balik menggodanya,
“Awas ya!, ya udah deh, hati-hati selama disana ya, bye!” lanjut Rika sambil mengakhiri pembicaraan.
Setelah menutup HP, aku masih saja tersenyum-senyum geli,
“Rika..Rika, lucu banget” bisikku sambil berlalu kembali memasuki ruang meeting.

Setelah beberapa hari berselang sejak aku berkeliling kota dengan Ajeng, aku merasakan sesuat, mungkin kangen ya. Makanya, aku nekat saja berkunjung ke rumahnya dan beruntungnya Ajeng selalu ada di rumah. Mulanya sih aku terlihat agak kaku, tapi setelah beberapa kali, aku sudah merasa santai dengan hal itu. Setiap ketemu, kami membicarakan banyak hal, dari sisi pribadi hingga isue-isue nasional yang sedang berkembang saat itu.

Ajeng bercerita tentang pengalamannya selama menjadi aktivis LSM dan lika-liku dia dari Jakarta sampai dia kembali ke Solo, begitu juga dengan aku, aku cerita tentang kisah-kisah yang aku alami, pastinya nggak cerita tentang pacar-pacar ku yang dulu lah. Kami terasa amat dekat, dan aku merasa seperti telah berteman lama dengan Ajeng. Tak terasa sudah hampir dua bulan aku sering bertemu Ajeng. Di beberapa pertemuan terakhir, kami lewatkan waktu dengan berjalan ke mall, nonton bioskop dan makan, sepertinya sih mesra deh, beberapa kali jemari Ajeng yang lentik itu memegang lembut lenganku, dan akupun menggandengnya dengan senang hati, namun kali ini, Ajeng tidak lagi menarik tangannya, tapi malah membalas pegangan jariku dengan erat.
“Endahnya dunia ini”
Entahlah, selama itu aku merasa amat bahagia, aku tak tau bagaimana dengan Ajeng, aku sih berharap kalau dia juga merasakan sesuatu yang sama denganku.
“Jeng, kamu sudah punya pacar ?” tanyaku pada Ajeng,
“Sekarang sih, aku nggak ada, sepertinya nggak akan ada yang mau dengan ku” jawab Ajeng pelan,
“Masa’ sih nggak ada yang mau sama cewek cantik kayak kamu gini” balasku sambil menoleh kearahnya,
“Hmmm, gombal deh..” lanjut Ajeng.
“Jeng, mungkin lusa besok, aku kembali ke Jakarta karena tugasku sudah selesai”
Mendengar hal itu Ajeng diam sesaat,
“Kapan, kamu kemari lagi ?”
“Entahlah Jeng, mungkin akan sangat lama” jawabku pelan,
Ajeng diam sesaat.
“Kalo gitu kita nggak bisa jalan lagi ya Ray” lanjut Ajeng,
“Kan kita bisa telpon-telponan, email-emailan, sms-an, atau surat-suratan. Jaman teknologi canggih begini semua bisa terasa dekat” jawab ku mencoba menghibur diriku sendiri yang sudah mulai merasakan kesepian saat itu.

Obrolan tentang hal itu membuat aku dan Ajeng jadi banyak diam. Disaat itu aku rasanya ingin bilang kalo aku merasa sayang sama dia, tapi kok lidah ini rasanya jadi kaku. Yang pasti malam itu suasana jadi datar, sampai aku antar Ajeng pulang pun suasana hati kami sepertinya masih datar.

Keesokan harinya, ketika aku sedang makan malam bersama para kontraktor dan manager cabang, termasuk Pak Arman, di sebuah mall, tiba-tiba saja pandanganku tertuju pada sebuah spanduk di dalam restoran tempat kami makan malam.
“Valentine day eve: Pay 1 for 2” begitu kata-kata dalam spanduk tersebut.
“Valentine day ?” bisikku.
Aku jadi teringat kalo besok itu hari valentine. Pikiran ku langsung ke Ajeng, tiba-tiba saja aku sangat kangen pengen ketemu dia, tapi nggak mungkin karena aku sedang bersama mitra-mitra kerja ku.

Selepas makan malam, sewaktu aku dan rombongan berjalan berkeliling mall, aku lihat begitu banyak atribut berbau valentine day di jual di banyak counter. Tak sengaja pandanganku tergugah oleh sebuah counter di sudut mall, aku pandangi sebuah bantal semi boneka berbentuk hati berwarna merah, bantal itu bertuliskan “Be Mine”. Entahlah, sepertinya kata-kata di bantal itu begitu mewakili perasaanku saat ini. Lalu, segera saja aku membelinya. Para kolegaku yang turut dalam rombongan bertanya-tanya karenal aku membeli bantal itu, namun aku hanya menjawab bahwa bantal itu untuk oleh-oleh adikku di Jakarta.

Sebenarnya malam ini aku ingin sekali bersama Ajeng, karena malam ini adalah malam terakhir aku di Solo, mungkin saja adalah malam terakhir aku bisa bersama Ajeng, namun aku tak bisa menolak undangan para kontraktor dan manager-manager cabang itu untuk makan malam bersama sebagai acara perpisahan. Walau aku tertawa atau berbincang-bincang di acara itu, pikiranku tetap saja pada Ajeng.

Sekembalinya aku di wisma, aku pandangi bantal tadi, kadang aku dekap dan kadang aku elus-elus. Mungkin saat itu aku terlihat seperti anak ABG yang sedang kasmaran, tapi aku tak perduli, karena aku juga berhak atas sesuatu yang indah dalam hidupku.

Keesokan paginya, aku bangun lebih awal, karena aku berencana ke rumah Ajeng untuk memberikan bantal yang kubeli tadi malam di hari valentine yang tepat jatuh pada hari ini. Karena terlihat terburu-buru, dan karena aku mesti berpacu dengan jadwal penerbangan ku ke Jakarta pada jam 10 pagi nanti, sejak jam 5 pagi aku sudah selesai mandi dan berkemas, kukumpulkan semua berkas dan pakaian. Pada pukul 7 pagi, aku langsung bergegas menuju rumah Ajeng, aku ingin pertemuanku pagi ini dengan Ajeng menjadi amat berkesan karena aku ingin bilang kalo aku sayang dia.

Sesampainya dirumah Ajeng, seperti biasa, aku pandangi deretan tanaman hias dihalaman rumahnya, lalu setelah puas, aku langsung menuju teras rumahnya, “Assalamualaikum..” sapaku sambil mengetuk pintu rumah Ajeng,
“Walaikum salam..” terdengar suara ayahnya membalas salamku dari dalam rumah.
Tak lama kemudian pintu rumahnya terbuka, ku lihat ayahnya menyambutku dengan senyum ramah.
“Pagi pak, Ajengnya ada ?”
“Ajeng..?, Ajeng tadi pagi selesai shalat subuh pergi bersama teman-teman satu LSM-nya, katanya ada urusan” jawab ayahnya sambil mempersilahkanku masuk dan duduk.

Mendengar penjelasan ayah Ajeng itu, aku merasa lemas, hatiku juga terasa sedih,
“Ya ampun, sial banget, inikan kesempatan terakhir untuk berbagi waktu dengan Ajeng” bisikku dalam hati,
“Kenapa juga dia nggak ada HP” lanjutku berbisik.
Tak lama kemudian aku memutuskan untuk kembali saja ke wismaku, sebelum berpamitan, aku titipkan bungkusan kado berisi bantal berbentuk hati yang semalam aku beli kepada ayahnya:
“Pak, saya titip ini saja untuk Ajeng, dan mohon sampaikan salam saya” kataku sambil menyerahkan bungkusan kado pada ayahnya,
“Baik nak, nanti bapak berikan pada Ajeng” jawab ayahnya,
“Kalau begitu saya pamit dulu pak, Assalamualaikum” lanjutku sambil melangkah meninggalkan rumah Ajeng.

Sepanjang jalan dari rumah Ajeng aku merasa amat lemas, aku seperti berat untuk kembali ke Jakarta. Entahlah, rasa kangen ini seperti amat besar menggelayut di hatiku, terlebih pagi ini aku tak bisa menjumpainya. Sesampainya di wisma, aku melihat mobil yang akan mengantarku ke bandara sudah siap, dan juga ada Pak Arman disana.
“Ada apa Pak Araya ?, kok kelihatannya lesu, apa bapak sakit ?” tanya Pak Arman sambil berjalan mendekatiku,
“Ah, tidak apa-apa pak, mungkin hanya kelelahan saja” jawabku lemah,
“Kalau semuanya sudah siap, kita langsung berangkat saja, nanti terlambat. Sebentar ya, saya ambil barang-barang saya dulu dikamar” ujarku sambil melangkah menuju kamar.

Sepanjang perjalanan menuju bandara aku merasa amat kesepian, kupandangi deretan-deretan gedung sepanjang jalan, orang-orang yang ramai berlalu-lalang dengan pandangan kosong. Aku begitu amat ingin bertemu Ajeng, ingin sekali rasanya kuucapkan sedikit kata-kata terima kasihku, dan kata-kata ungkapan hatiku.

Setibanya dibandara, suasana begitu ramai sekali, jadwal penerbanganku tinggal satu jam lagi, selesai “check in” aku menemui Pak Arman di lobby,
“Pak Arman, terima kasih. Saya langsung kedalam saja, sepertinya sebentar lagi akan boarding” ujar ku pada Pak Arman,
“Kalau begitu, selamat jalan Pak Araya, sampai jumpa lagi” jawab Pak Arman sambil menyalamiku.

Tak lama kemudian Pak Arman melangkah keluar ruang lobby meninggalkanku diikuti oleh supir perusahaan, untuk beberapa saat aku hanya berdiri mematung sambil memandangi Pak Arman sampai bayangannya menghilang disebuah persimpangan.

Kemudian aku mulai melangkah untuk menuju pesawat.
“Ray…..!!”, tiba-tiba aku mendengar seseorang menjerit memanggil namaku,
Sepertinya aku mengenal suara ini.
“Ajeng…!!” bisik ku pelan.
Aku sungguh tak percaya kalo Ajeng yang aku lihat saat ini. Aku hanya mematung memandangi Ajeng.
Dia melangkah mendekatiku,
“Ray, maaf ya, tadi kamu ke rumah aku nggak ada, aku sedang ada perlu dengan teman-teman ku” kata Ajeng pelan dengan nafas tersengal,
“Nggak apa-apa, aku malah seneng kamu ke sini” jawabku dengan penuh haru, luar biasa senang,
”Oh iya, terima kasih kadonya Ray, Happy Valentine too” lanjut Ajeng sambil menunjukkan bantal hati yang ia dekap di dadanya.
Seketika aku merasa amat bahagia dan damai melihat bantal itu didekapnya, “Kamu senang dengan bantal itu?” tanya ku,
“Iya, lucu dan manis banget” jawab Ajeng sambil terus mendekap bantal itu.

Sesaat kemudian kamipun melangkah bersama, semakin dekat langkah kami ke pintu utama, semakin berat langkah kaki ini terasa.
“Jeng” bisikku,
“Ya Ray..ada apa ?” jawabnya,
”Hmm…do you ?” lanjutku,
“Apaan Ray?”
“Ya seperti kata-kata dibantal itu”
“Be mine..please”
Aku langsung ngerasa gugup luar biasa abis ngucapin kalimat itu. Ajeng hanya berdiri mematung. Entah malaikat mana yang menggerakku, aku nggak sadar mengecup pipi Ajeng yang putih dan hlus itu,
“Ray, apa-apa sih!” ujar Ajeng cemberut.
Aku hanya bisa menganggat bahuku mendengar respon Ajeng itu, pikirku Ajeng tak punya perasaan yang sama kepadaku,
“mati dah” bisikku dalam hati.
Namun tiba-tiba Ajeng memelukku, dia rangkulkan kedua tangannya di pinggangku dan berbisik:
“Hatiku sudah menjadi milikmu sebelum kamu berikan bantal hati ini”.
Ya ampun aku merasa bergetar mendengarnya, jantungku berdebar kencang dan seluruh bandara terasa dipenuhi dengan mawar yang wangi.

Ditengah larut pelukan bahagia itu, pihak bandara mengumumkan bahwa penerbangan ke Jakarta akan segera berangkat.
“Ajeng, sepertinya aku harus pergi dulu” ujar ku sambil memandang wajahnya penuh kerinduan,
“Hati-hati dijalan Ray, jangan lupain aku ya” jawab Ajeng dengan mata berkaca-kaca. Melihat matanya itu, akupun mulai berusaha menahan air mata agar tak menetes, aku harus tegar agar Ajeng tak tambah sedih.
“Aku tak akan lupa sama kamu Jeng, aku sayang kamu” bisikku sambil kembali kukecup pipinya.
Akhirnya, tibalah saatnya aku harus berangkat, kupandangi wajahnya dan berat sekali melepas genggaman tangannya. Aku mulai melangkah meninggalkannya menuju pesawat. Belum sepuluh langkah aku meninggalkan Ajeng, aku berbalik menghampiri Ajeng. Ajeng kembali memeluk ku erat dan aku pun membalasnya.
“Ada apa Ray ?” tanya Ajeng masih dalam pelukan ku,
“Jeng, kamu beli HP ya biar aku mudah menghubungimu, ini nomor HPku”
“Iya, sepulang dari sini aku langsung beli deh” jawab Ajeng sambil tersenyum sambil melepas pelukannya,
“Oke, bye honey” ujar ku sambil mengecup pipinya lagi, kali ini kedua pipinya kucium, juga bibir indahnya.
Setelah itu aku berlari menuju pesawat ku.

Hari itu begitu indah, setidaknya kenangan amat indah ada disana, kenangan itu terukir disetiap sudut bandara dan tercetak disetiap jengkal jalan kota Solo. Semenjak kembalinya aku ke Jakarta, aku menjalin hubungan dengan Ajeng banyak melalui sms dan telpon, selama seminggu penuh semenjak aku tiba kembali ke Jakarta, tak pernah aku lewatkan seharipun tanpa menelepon Ajeng, kami memang sedang kasmaran pada masa itu. Hingga pada suatu hari, sekitar tepat seminggu setelah perpisahan dengan Ajeng, tiba-tiba saja aku kehilangan kontak dengan Ajeng. Hpnya tak bisa dihubungi, bahkan setelah dua hari. Aku jadi gusar, entah karena aku rindu atau aku khawatir, semuanya jadi satu. Sampai pada suatu hari aku membaca berita disebuah surat kabar tentang hilangnya beberapa aktivis LSM di Jawa Tengah. Entahlah, setelah membaca berita itu pikiranku langsung ke Ajeng, kemudian aku langsung pesan tiket dan terbang ke Solo secepat mungkin.

Ya Tuhan, betapa dunia ini penuh dengan halilintar menyambar-nyambar, dan gemuruh tak henti-hentinya ketika ayahnya bercerita bahwa Ajeng adalah salah satu dari aktivis yang hilang, saat itu aku langsung lemas, tak tahu harus bagaimana,
“Bungaku hilang…..bungaku hilang” jeritku dalam hati.

Hingga sampai setahun setengah aku tak tahu kabar dari Ajeng, entah dia masih hidup atau sudah mati, tidak ada yang tahu, bahkan beberapa LSM di Solo malah pesimis kalau para aktivis masih hidup. Ketika tiba saatnya proyek supermall milik perusahaan ayah ku selesai dan tiba waktunya diresmikan, aku mendatangi ruang kerja ayahku, aku memohon pada ayahku agar mau menamakan supermall itu dengan nama “mawar”, namanya “Mawar Supermall”, kuambil dari nama Ajeng Mawar.

Namun aku tak bisa menjawab alasanku menamakan supermall itu pada ayahku, aku tak ingin banyak orang tahu tentang perjalanan cintaku dengan Ajeng. Akhirnya ayahku bersedia menerima permohonanku, tapi dengan satu syarat aku bersedia dinikahkan dengan Rika. Karena merasa tertekan dan putus asa akhirnya aku terima syarat ayahku itu. Aku bahagia akhirnya “Mawar Supermall” diresmikan, aku sendiri yang hadir dan dengan restu ayahku pula, aku yang menandatangani prasasti peresmian mall itu.
“Ajeng, kalau saja kamu ada saat ini, lihatlah betapa megahnya gedung ini, ia menjulang tinggi ke angkasa, berdiri kokoh di kotamu. Inilah menara cintaku padamu, kupersembahkan layaknya Taj Mahal yg dibangun untuk permaisurinya. Kamu akan selalu kokoh ada dihatiku” bisikku dalam hati sambil memandang keatas gedung. Air mata ku tak terasa sudah membasahi kedua mata ku.

Selama dua tahun ini aku benar-benar merasa hampa, sampai detik inipun Ajeng tak ada kabar sama sekali, bahkan KOMNAS HAM pun sudah turun tangan mencari tahu keberadaan para aktivis yang hilang itu, termasuk bunga hatiku "Ajeng Mawar". Aku selalu berdoa agar Ajeng selalu dibawah lindungan-Nya. Dan, malam ini adalah malam terakhir aku melepas masa lajang ku, besok adalah hari pernikahanku dengan Rika, walau aku tak mencintainya namun aku sudah berjanji pada ayahku, semua demi Ajeng. Aku teringat semua kenangan manis bersama Ajeng, aku ingat rumah makan itu, dimana pertama kali aku ngobrol dengannya, aku juga ingat jalan-jalan kota Solo itu yang penuh dengan tawa kami malam itu, dan terlebih kecupan dibandara itu, bantal hati itu dan semuanya tentang Ajeng.

“Namun biarlah, akan aku taruh cintamu didalam ruang hatiku Jeng, akan kubaringkan engkau diatas bantal hati itu hangat dalam jiwaku”.
Tak terasa pipiku sudah basah dengan airmata yang aku tak tahu sejak kapan ia telah menetes.
“Kenangan itu amat indah, Ajeng. Malam inipun adalah malam valentine, aku merayakan ini untukmu, Ajeng” bisikku sambil kuusap airmata dipipiku.
“Aku memang tak lama bersamamu, namun kamu akan selamanya dihatiku. Ajeng, untuk yang terakhir sebelum kusimpan cinta ini, aku cinta kamu dan amat merindukanmu” bisikku sambil mengusap air mata dan menatap bintang diangkasa.
“Happy Valentine day, Ajeng ku tercinta”

TAMAT

Disclaimer :
Cerita ini hanya rekaan imajinasi semata