Dering alarm handphone telah membangunkan Ramsi pagi itu. Tubuhnya masih terasa lelah karena telah menyelesaikan pekerjaan berat semalaman, sesaat kemudian Ramsi terlihat meraih air putih yang ada di meja sebelah tempat tidur, dan dia habiskan dua gelas air putih sekaligus. “Uh, kenyang banget”, bisik Ramsi sambil memegang perutnya yang jadi kembung. Lalu seperti biasanya, bangun tidur Ramsi langsung menyalakan televisi, ia cari channel berita untuk mengetahui perkembangan berita diluar sana, ia sengaja mencari channel televisi di Indonesia, dan pencariannya pun berhenti pada saluran Metro tv. “Pemirsa, telah terjadi sebuah ledakan bom dahsyat di kedutaan besar Amerika Serikat di Jakarta. Ledakan tersebut menewaskan sedikitnya 20 orang yang sebagian besar adalah pekerja di kedutaan besar tersebut, dan sampai saat ini belum ada yang mengklaim bertanggung jawab atas ledakan tersebut”, urai pembawa acara headline news di Metro tv pagi itu. Selepas mendengar berita tersebut, Ramsi bersiap-siap untuk mandi. Tiba-tiba handphonenya berdering, “Hallo”, sapanya di hp, “Ramsi saya Rangga, segera buka emailmu” jawab si penelpon yang ternyata adalah Pak Rangga.
Pak Rangga adalah atasan Ramsi dia selalu memberi perintah-perintah kerja melalui email. Ia mengenal Pak Rangga sebagai pribadi yang berwibawa dan misterius. Setelah menutup hp, Ramsi terpaksa menunda ritual mandi pagi untuk membuka email melalui lap top-nya. “Ah, cuma jadwal pertemuan doang. Lagian juga masih dua bulan lagi”, gerutunya setelah membaca email dari Pak Rangga. Kemudian ia langsung saja menuju ke kamar mandi, dan “wuihh, dingin bangettt”, katanya sambil menggigil terkena guyuran air. Setelah mandi ia langsung berbenah, ia pisahkan baju-baju kotor dan bersiap-siap untuk keliling kota menikmati kota Singapura. “Hello, I have laundry in room 7610” katanya kepada petugas house keeping hotel Kempinski Singapore melalui interphone. “Oke sir, we will take your laundry soon” jawab petugas house keeping dengan ramah.
Hari itu Ramsi begitu menikmati suasana Singapura, di sepanjang jalan Orchid road begitu banyak orang berlalu lalang, dan sebagian dari mereka berwajah Indonesia dan mungkin salah satunya adalah koruptor Indonesia yang sedang dalam pelarian. Ia masuki mall-mall dan toko untuk membeli barang-barang sebagai buah tangan keluarga dan kerabat. Ketika ia sedang asyik duduk-duduk di bangku taman, hp-nya berdering. “Hallo, siapa ini” sapaku pelan, “Ini Rangga, pertemuan yang dimaksud dalam email saya diadakan di Jakarta, tolong persiapkan segalanya ya Ram, saya percayakan pada kamu semua ini” jawab Pak Rangga, “Baik pak, saya akan persiapkan semuanya” jawab Ramsi pada Pak Rangga. “Oke Ramsi, hati-hati dan selamat menikmati Singapura” balas Pak Rangga sambil menutup pembicaraan. Baru saja ia tutup hp dari Pak Rangga, hp-nya kembali berdering. “Siapa lagi sih, paling Pak rangga lagi nih” bisiknya pelan sambil menjawab telpon itu, “Ya hallo, siapa ?” sapaku kepada si penelepon. “Duh, galaknya. Belum makan yah..hi.hi” jawab si penelepon. “Noke ?, kamu yah. Lagi dimana kamu?” katanya di hp. “Iya, aku lagi di Makasar, jadwal penerbanganku minggu ini di Indonesia Timur. Kamu kapan pulang dari Singapura Ram?” lanjut sipenelepon yang ternyata adalah Noke.
Noke adalah gadis cantik yang manja tapi mandiri. Dia bekerja sebagai Pramugari di Garuda Indonesia, dia sangat ramah, mungkin karena terbiasa sebagai seorang pramugari. Ramsi bertemu dengan Noke secara tidak sengaja, waktu itu Noke menyapa Ramsi karena mengenali wajahnya dan ternyata Noke itu adalah adik kelas Ramsi sewaktu di SMA dulu. Setelah beberapa lama mereka berhubungan, saat ini Noke sudah mengisi seluruh hati Ramsi. “Aku masih lama disini karena pekerjaanku belum selesai, mungkin baru pulang dua bulan lagi” jawab Ramsi. “Lama banget!!, enak yah disana?. Lupa deh sama aku” balas Noke dengan nada manja. “Ha..ha, nggaklah Ke, aku kangen koq sama kamu. Kamu juga sih, kalau aku lagi di Jakarta kadang kamunya lagi terbang kemana” jawab Ramsi lagi, “Ya gimana, kan aku memang kerjanya terbang melulu kaya burung, tapi hatiku nggak pernah terbang dari hatimu koq” balas Noke. “Yang bener nih!, aduh jadi pengen cubit pipimu, kayaknya ngegemesin nih” balasnya lagi. “Enak aja, kan sakit dicubit. Oh iya Ramsi sayang, minggu depan aku ada jadwal terbang ke Batam, kita ketemuan yah.., kan kamu tinggal nyebrang doang dari Singapura” pinta Noke merayu. “Oke deh Noke yang cantik, tapi imbalannya apa nih atas usahaku nyebrang ke Batam?” jawab Ramsi sambil tersenyum-senyum. “Dasar genit!!, ya udah. Imbalannya nanti aku jitak tiga kali.” Jawab Noke ketus. “Hah!! dijitak, ya udah deh, di jitak juga nggak apa-apa, asal kamu yang jitak” balasnya meledek. “Awas yah, siap dijitak. Oke deh, Udah dulu yah Ram, pulsanya mahal nih. I miss you..cup..cup..cup” jawab Noke sambil mengakhiri pembicaraan.
Walaupun pembicaraan dengan Noke sudah terputus, Ramsi masih saja memandangi nama Noke di hp-nya sambil tersenyum-senyum. Ia begitu senang mendengar suara Noke di hp tadi, Ramsi jadi pengen sekali bertemu dengan Noke, memandang wajahnya yang cantik dan tingkahnya yang manja. “Noke..Noke” bisik Ramsi sambil beranjak dari bangku taman yang sudah di dudukinya lebih dari satu jam. Menjelang malam, Ramsi kembali ke hotel, rasanya sudah puas menikmati kota Singapura. “Good evening Sir” sapa petugas reception. “Good evening” jawab Ramsi sambil membalas senyuman si petugas. Setibanya di kamar ia nyalakan televisi, dan langsung mencari channel Metro TV untuk mendengar berita di Indonesia, namun berita-beritanya masih seputar peledakan bom di kedutaan AS dan itu tidak menarik minatnya. Di depan televisi ia pandangi foto Noke yang terletak di atas televisi hingga akhirnya karena lelah Ramsi tak sadar tertidur.
Hari-hari ia lalui di Singapura dengan berbagai pertemuan di berbagai tempat, hari ini ketemu si A, besoknya ketemu si B, dan banyak lagi, capek sekali tampaknya Ramsi. Belum lagi terkadang ia harus bolak balik terbang ke Kuala Lumpur. Ketika ia sedang asyik dengan pekerjaan di meja kerjanya, dan matanya tertuju pada kalender meja di depannya, betapa Ramsi terkejut bahwa hari ini adalah hari Noke akan ke Batam. “Waduh, mampus dah, aku lupa kalo Noke mau ke Batam” teriaknya sambil beranjak dari meja kerja. Kemudian, tanpa basa-basi ia berkemas dan langsung cabut dari hotel. Hari ini masih jam 06.00 pagi, dan Ramsi belum tidur dari semalam dan perkiraan Noke akan tiba di Batam pukul 08.00 pagi. Sepanjang perjalanan menuju pelabuhan ferry, Ramsi berkali-kali mengingatkan supir taxi supaya lebih cepat. Setengah jam kemudian ia sampai di pelabuhan ferry yang akan membawanya ke Pulau Batam, dan ia pun langsung membeli tiket dan menaiki kapal ferry speed boat. Perasaan Ramsi sudah agak lega karena sudah diatas ferry dan kira-kira satu setengah jam lagi akan sampai di Batam.
Karena semalaman ia belum tidur, tak sadar ia tertidur dalam ferry karena tak kuasa menahan kantuk yang amat sangat. Tiba-tiba ia tersentak terbangun karena hp-nya berdering. “Waduh, Noke telpon!” bisiknya gusar sambil mengusap kedua matanya dengan jari. “Ram, kamu dimana?, aku sudah di Batam nih” sapa Noke di telpon. “Aku lagi di kapal ferry, sebentar lagi nyampe. Sorry yah agak telat, soalnya ada kerjaan tambahan yg mesti aku kerjakan semalam” jawab Ramsi memberi alasan. “Nggak apa-apa kok Ram, nanti kamu langsung ke Novotel aja yah, aku tunggu di lobby” lanjut Noke. “Iya, aku paling setengah jam lagi sampe. Dandan yang cantik yah Ke, aku kangen banget nih” jawab Ramsi merayu. “Iya, aku juga kangen. Cepetan yah tapi hati-hati, see ya” jawab Noke sambil menutup telpon. “Uhh, rasanya capek banget” bisik Ramsi sambil beranjak menuju toilet untuk membasuh wajahnya yang terlihat lelah.
Setelah kapal ferry yang membawa Ramsi dari Singapura berlabuh, ia langsung menaiki taxi menuju Novotel. Dengan hati yang berbunga-bunga menahan rindu, Ramsi mencoba merapihkan diri di sepanjang perjalanan. Sesampainya di Novotel, ia langsung menuju lobby. Ia tengok kanan-kiri mencari bidadarinya, Noke. “Kok nggak ada, kemana si Noke” bisiknya pelan. Ketika ia kebingungan mencari keberadaan Noke, tiba-tiba terdengar suara lembut yang menyapanya dari arah belakang, “Cari siapa pak?” sapa suara itu. Kemudian ia membalikkan tubuhnya, dan di belakangnya sudah berdiri seorang wanita yang amat cantik dengan wajah tersenyum. “Noke......” kata Ramsi pelan, “Ramsi..” balas wanita cantik itu yang ternyata Noke. Kemudian mereka berpelukan erat, dan sesaat mereka tidak sadar kalau mereka berpelukan di tengah-tengah lobby Novotel. “Aku kangen banget sama kamu Ram” bisik Noke di telinga Ramsi. “Aku juga Ke” balas Ramsi sambil mengusap rambut Noke yang hitam dan indah. Kemudian, “pletak!!”, kepala Ramsi seperti ada yang menjitak. “Tuh, imbalannya. Udah aku kasih ya” kata Noke. Ternyata Noke menjitak kepala Ramsi tiga kali. “Aduh” jawab Ramsi sambil memegangi kepalanya. “ha..ha..kacian, makanya jangan genit, sini aku obatin” balas Noke sambil mencium tipis bibir Ramsi.
Hari itu, mereka habiskan bersama. Mereka berkeliling Batam, makan dan keluar masuk cafe. Mereka juga lalui hari itu dengan canda dan tawa, bergandengan tangan dan cium pipi kanan-kiri. Noke hanya satu hari di Batam karena besok dia harus kembali terbang ke Jakarta, jadi mereka manfaatkan waktu yang singkat ini dengan sebaik mungkin, lumayan untuk mengurangi rasa rindu yang sudah menggunung karena sudah hampir dua bulan tak bertemu. “Ram, kapan yah keinginanku untuk terbang keliling dunia terwujud” kata Noke kapada Ramsi, “Maksudmu Ke” jawab Ramsi. “Aku tuh pengen banget jadi pramugari di maskapai penerbangan luar negeri, biar aku bisa terbang ke negara-negara lain” lanjut Noke, “Ya, kamu ngelamar-ngelamar aja ke maskapai international” balas Ramsi sambil terus menggandeng tangannya. “Udah sih, tapi belum ada balasan” jawab Noke lagi, “Sabar aja, ntar juga ada jalan. Tapi ntar aku tambah jarang ketemu kamu dong” kata Ramsi sambil cemberut. “Nggak lah Ram. Kamu kali yang pergi” jawab Noke sedikit ketus. “Yee, kan yang terbang melulu kamu” balas Ramsi sambil mencubit pipi Noke. “Ke, semoga kita tak pernah terpisah, entah karena kamu yang berpaling atau aku yang berpaling. Aku merasa kamu lah yang aku inginkan” lanjut Ramsi pada Noke. “Aku juga Ram, semoga Tuhan memberikan kamu pada ku” jawab Noke sambil memeluk Ramsi erat.
Esok harinya, Ramsi mengantar Noke ke bandara. Noke terlihat amat cantik dengan seragam pramugarinya. Ramsi merasa begitu beruntung memiliki Noke, dia cantik, baik, mandiri, setia dan cerdas. Sesampainya di bandara, mereka pun harus berpisah. “Ram, jaga hatimu juga matamu yah” pesan Noke, “Iya sayang” jawab Ramsi. Pesan itu adalah pesan wajib Noke setiap berpisah dengan Ramsi, Ramsi sih oke-oke saja karena tak ada alasan rasional baginya untuk menduakan cinta Noke. Ramsi menunggu di bandara sampai pesawat Garuda yang membawa Noke lepas landas dan menghilang di horizon bumi. Ketika sedang berjalan keluar bandara, hp Ramsi berdering dan ia langsung menjawabnya. “Hallo” sapanya di hp, “Ramsi, proyek di Singapura dibatalkan. Proyek di alihkan ke Jakarta, jadi dua minggu dari sekarang kamu harus ke Jakarta. Hati-hati sepertinya interpol sudah membaca gerak-gerik rencana kita” jawab si pelepon yang ternyata Pak Rangga. “Besok, paket yang sudah kita rakit suruh orang mu letakkan di dalam mobil di kedutaan besar Inggris di Singapura. Jangan sampai gagal atau kita celaka” lanjut Pak Rangga, “Baik pak, semua sudah siap” jawab Ramsi singkat. “Di Jakarta nanti kita bicarakan target berikutnya, kerjamu di kedubes AS di Jakarta kemarin bagus” balas Pak Rangga lagi sambil menutup pembicaraan.
Setelah menutup hp, Ramsi kembali duduk di ruang tunggu bandara sambil mengusap wajah nya. Pikirannya langsung pada Noke, entahlah apa reaksinya jika sampai tahu profesinya yang sebenarnya ini. Dia hanya tahu Ramsi adalah seorang konsultan di sebuah organisasi international yang tak lebih dari sebuah organisasi terorist. Beberapa kali terlintas untuk membuka tabir itu pada Noke, tapi Ramsi tak sanggup karena Noke pasti akan meninggalkan nya, sedangkan ia tak sanggup kehilangan Noke. “Ya ampun, kepalaku amat pusing memikirkan semua ini” bisik Ramsi dalam hati. Semenjak Ramsi dekat dengan Noke, sudah terpikir untuk mengakhiri semua ini. Ia ingin hidup wajar bersama Noke, selama ini ia hidup dalam kepura-puraan dan ketakutan. Ia pun takut untuk mundur dari organisasi ini, ia berhutang budi pada Pak Rangga yang telah membesarkan dan menyekolahkannya. Entahlah bagaimana caranya mengakhiri semua ini. Hari itupun Ramsi langsung kembali menuju Singapura untuk menyelesaikan pekerjaan malam ini di kedutaan Inggris di Singapura. Sesampainya di Singapura ia langsung menuju bandara Changi untuk menjemput beberapa anggota tim lainnya, rencana kemudian disusun di hotel tempatnya menginap. Dan tepat pukul 09.00 pagi keesokan harinya, kedutaan Inggris di Singapura pun luluh lantak. Hampir semua stasiun tv menyiarkan kejadian itu.
Siang itu, Ramsi hanya terpaku memandangi televisi yang menyiarkan peledakan itu. Hatinya bergetar dan muak. Tiba-tiba hp-nya berdering, “Hallo, siapa ini?” sapanya lemah, “Ram, kamu nggak apa-apa kan. Ya ampun aku lihat berita peledakan di kedutaan Inggris disana” jawab si penelepon yang ternyata Noke, “Aku baik-baik saja Ke” jawab Ramsi pada Noke, “Syukurlah Ram, aku khawatir banget. Kamu pulang aja deh ke Jakarta, aku takutnya ada peristiwa mengerikan lainnya disana” lanjut Noke, “Iya, minggu depan aku pulang ke Jakarta karena proyek dibatalkan” jawab Ramsi lagi masih dengan nada lemah. “Ke, bagaimana menurutmu tentang terorist” tanya Ramsi, “Kok tanya kesitu” balas Noke bingung, “Ya nggak, kan yang ngebom itu terorist” lanjutnya, “Menurutku sih itu tindakan yang keji dan pengecut banget, aku sih nggak akan pernah mau kenal sama orang kayak gituan, aku benci dengan mereka-mereka terorist itu. Ya udah Ram, hati-hati saja selama disana, ntar kalau mau ke Jakarta hubungi aku, biar aku jemput karena minggu depan aku lagi cuti” jawab Noke sambil menutup telpon. Mendengar kata-kata Noke itu tubuh Ramsi bergetar dan tak terasa air matanya menetes pelan. “Noke, maafin aku. Aku janji semua ini pasti akan ku akhiri” bisiknya lirih.
Tak terasa satu minggu sudah berlalu dan Ramsi pun harus ke Jakarta. Pagi-pagi sekali ia sudah berkemas karena ia ikut penerbangan pertama hari ini. Sesampainya di bandara Changi Ramsi langsung menghubungi Noke. “Ke, yee..baru bangun tidur yah. Aku udah mau berangkat nih. Aku naik Singapore Airlines” sapanya pada Noke di telpon, “Ugh..iya baru bangun. Ntar aku jemput deh, hati-hati yah sayang” jawab Noke. Selama dalam penerbangan, Ramsi terus berpikir bagaimana caranya untuk mengakhiri ini semua, “sanggup kah aku mengutarakan hal ini pada Pak Rangga, apakah dia mau terima dan mengerti”. Di tengah lamunannya itu, tiba-tiba terdengar pengumuman dari pilot bahwa pesawat sudah akan sampai di bandara Soekarno-Hatta. Perasaan bahagia karena akan kembali bertemu Noke dan bingung dengan keadaan ini semua campur jadi satu. Sesampainya di bandara Soekarno-Hatta ia langsung mencari Noke, “Ramsiii...” jerit seseorang memanggil namanya. “Noke,.itu dia” jawab Ramsi sambil melangkah menuju Noke. Kemudian Noke menghampiri Ramsi dan memegang kedua tangan Ramsi erat. Mereka pun langsung berangkat menuju hotel tempat Ramsi akan menginap. “Sudah makan Ram” tanya Noke, “Belum” jawab Ramsi singkat. “Kita makan dulu yah” pinta Noke, “Boleh deh, udah laper juga nih” jawab Ramsi sambil menepuk-nepuk perutnya. Setelah makan siang dan jalan di mall, Noke langsung mengantar Ramsi ke hotel untuk beristirahat. Sebelum keluar dari mobilnya, tak lupa Ramsi mengecup pipi Noke yang mulus dengan mesra. “Terima kasih ya sayang. Hati-hati, jangan ngebut” kata Ramsi sambil keluar dari mobil Noke. Sesampainya di kamar hotel, Ramsi langsung merebahkan tubuhnya dan tertidur.
Keesokan hari, Ramsi ada pertemuan penting di kediaman Pak Rangga di seputaran Cibubur. Ia mulai malas mengikuti pertemuan itu karena hanya membahas rencana peledakan-peledakan lainnya. Ia ingin keluar dari semua ini. Seusai pertemuan ia beranikan diri menghadap Pak Rangga. “Pak Rangga” sapa Ramsi pada Pak Rangga yang baru saja akan beranjak dari kursinya, “Iya, ada apa Ram” jawab Pak Rangga. “Saya ingin bicara hal penting dan hanya berdua saja” pinta Ramsi, “Baiklah, ayo ke ruangan saya” jawab Pak Rangga sambil berjalan menuju ruangannya. Sesampainya di ruangan Pak Rangga, “Ada apa Ram” tanya Pak Rangga, “Sebelumnya saya mohon maaf dan terima kasih atas semua kebaikan Pak Rangga selama ini” jawab Ramsi, “Ada apa Ramsi” tanya Pak Rangga dengan bingung, “Begini pak, saya ingin mengundurkan diri dari organisasi dan kegiatan ini. Saya sudah lelah dan ingin mencoba hidup baru. Saya harap bapak maklum” jawab Ramsi dengan wajah tertunduk. Kemudian untuk beberapa lama suasana menjadi sunyi, Pak Rangga hanya memandangi wajah Ramsi dan Ramsi pun mulai gusar dan takut. “Ramsi, kamu sudah saya anggap anak saya sendiri, kamu cerdas dan pemberani. Saya mengerti, semua ini pasti karena perasaanmu pada Noke. Dia memang cantik dan baik” kata Pak Rangga dengan suara beratnya. Ramsi tak merasa heran kalau Pak Rangga tahu hubungannya dengan Noke karena mata-matanya ada dimana-mana. “Baiklah Ram, kalau itu sudah menjadi keputusanmu, saya menghormatinya tapi kamu harus menyelesaikan proyek kita besok dan setelah kamu keluar dari organisasi ini, anggaplah kamu tidak pernah tahu semua ini” lanjut Pak Rangga sambil berdiri dan menepuk pundak Ramsi, “Ramsi..Ramsi, saya sudah berharap bahwa kamu yang akan menggantikan posisi saya kelak. Tapi tak apalah, karena kamu sudah saya anggap anak sendiri maka sayapun rela melepasmu dengan aman. Tapi kalau kamu sampai membocorkan rencana dan identitas kami, maka dengan sangat terpaksa saya akan membuat hubungan mu dengan Noke hanya mimpi seumur hidup” sambung Pak Rangga lagi.
Hari itu Ramsi begitu bahagia dan merasa sangat plong, beban beratnya sudah berkurang. Tapi kemudian ia kembali tercenung, karena ia masih harus menyelesaikan target besok. Target itu begitu berat, besok ia akan meledakkan pesawat Qantas milik Australia. Terbayang oleh-nya betapa banyak orang yang tak bersalah akan tewas dan menderita, “Ya ampun, aku bukanlah manusia tapi monster” jeritnya dalam hati. Belum lagi kebingungan Ramsi hilang, dalam perjalanan pulang, ia kembali dihubungi oleh Pak Rangga, “Ramsi, target besok batal kamu yang koordinir. Koordinasi saya alihkan pada Jacky, dan setelah telpon ini mati maka kamu bukan lagi anggota kami dan jangan coba-coba bernyanyi tentang target ini. Kamu akan diawasi ketat sampai target ini selesai” Kata Pak Rangga panjang lebar sambil menutup telpon. “Ternyata dia sudah membaca pikiranku” bisik Ramsi setelah menerima telpon itu. Tapi ia tetap tak bisa lepas dari bayang-bayang berapa orang yang akan mati besok. Kemudian hp-nya kembali berdering, “Hallo Ke, ada apa?, ternyata telpon dari Noke, “Ram, nanti malam kamu aku jemput yah, kita jalan, aku ada kejutan buat kamu” kata Noke bersemangat, “Iya,aku tunggu jam tujuh yah” balas Ramsi, “Oke, dandan yang keren yah” lanjut Noke sambil menutup telpon.
Tepat jam tujuh malam Noke menjemput Ramsi, mereka pun lalu langsung berangkat. “Kita mau kemana Ke” tanya Ramsi bingung, “Tenang aja, pokoknya sip deh” jawab Noke membuat Ramsi tambah penasaran. Tak berapa lama kemudian mereka pun sampai di tempat yang dituju, sebuah cafe yang indah dan terasa romantis. “Oh, gini doang. Kirain kemana!” saut Ramsi sebel. Kemudian Noke memintah Ramsi duluan untuk menuju meja yang sudah dipesan Noke. Ramsi pun langsung duduk dan menunggu Noke. Tak berapa lama kemudian, tiba-tiba Noke memeluk Ramsi dari arah belakang. Dia menutup mata Ramsi dengan tangannya yang lembut, mencium pipi Ramsi dan berbisik di telinganya:“Happy birthday honey”. Setelah itu dia lepaskan tangannya di mata Ramsi, dan Ramsi terkejut karena di hadapannya sudah ada boneka kerbau. “Siapa yang ulang tahun Ke” tanya Ramsi bingung, “Ya ampun Ram, ini kan tgl 4 Oktober, ulang tahunmu” jawab Noke, “Oh iya, aku lupa” jawab Ramsi lagi. “Mulai deh pikunnya keluar” balas Noke sambil mengucek-ngucek rambut Ramsi. “Terima kasih yah sayang, tapi kok hadiahnya boneka kerbau” kata Ramsi sambil meraih boneka kerbau di atas meja, “Iya, kan kamu kalau tidur kaya kebo, susah bangunnya ha..ha” jawab Noke sambil terbahak.
Kemudian mereka pun memesan beberapa makanan, sambil makan mereka berbincang banyak hal. Noke begitu mempesona malam itu, senyumnya banyak terlontar ke arah Ramsi. Setelah menghabiskan makanan, mereka pun berdiam sejenak karena mungkin kekenyangan. Di tengah kesunyian itu Ramsi meraih kedua tangan Noke yang lentik dan berkata “Noke, entah untuk kesekian kalinya aku katakan bahwa aku mencintai kamu, entahlah kata-kata itu ingin selalu terucap dibibirku ini” rayu Ramsi pada Noke, “Sekarang gantian, kamu yang pejamkan mata’ pinta Ramsi pada Noke, “Ada apaan nih” tanya Noke sambil menutup kedua mata indahnya. “Sekarang buka matamu” pinta Ramsi dengan lembut, “Hahh!!, Ram, indah sekali” jerit Noke terkejut dan kagum melihat cincin berlian yang Ramsi letakkan di hadapan Noke. “Ke, aku nggak mau bertele-tele. Maukah kamu menikah dengan ku” tanya Ramsi sambil menatap mata Noke. “Ramsi, are you serious?” jawab Noke penuh tanya, “Ya, why not. Will you marry me” tanya Ramsi lagi sambil memegang jari Noke dengan erat. “Ramsi, aku juga mencintai kamu. Jelas aku mau menikah dengan mu” jawab Noke lembut. Mendengar jawaban Noke, Ramsi sangat bahagia. Kemudian ia sematkan cincin itu di jari Noke yang lentik, lalu Noke memeluknya erat sekali dan terisak menangis. “Kenapa kamu menagis?” tanyanya pada Noke, “Entahlah Ram, aku bahagia. Tapi juga aku merasa tak ingin melepas pelukan ini” jawab Noke lirih. Tiba-tiba Noke melepas pelukannya dan dengan tiba-tiba wajahnya tersenyum sambil mengusap air mata di pipinya dan berkata: “Aku juga ada yang ingin aku sampaikan kepada mu, aku senang banget sama yang ingin aku sampaikan ini, cita-citaku terwujud juga” kata Noke membuat Ramsi sedikit bingung, “Apa sih Ke, ayo dong, tell me” pinta Ramsi, “Besok aja, pagi-pagi kamu baca email yah. Kejutannya aku jelasin di email aja” jawab Noke sambil tersenyum bahagia.
Malam itu menjadi malam yang tak terlupakan bagi mereka berdua, di hari ulang tahun Ramsi, ia lamar Noke dan diterima. Ia begitu bahagia, tapi ia masih saja penasaran dengan kejutan yang akan dibuat oleh Noke, tapi Noke berkeras tetap membuatnya penasaran. Malam itupun mereka bersepakat untuk mempertemukan orang tua mereka berdua minggu depan. Pokoknya, ketika lamarannya di terima Noke, ia langsung menghubungi orang tuanya untuk membicarakan hal itu. Sepertinya jalan bagi Ramsi dan Noke untuk bersama sudah amat dekat. Sekembalinya Ramsi di hotel, ia tidak bisa tidur karena sangat bahagia sehingga ia lupa akan kegundahannya pada target esok hari. Dan pagi harinya ia terbangun oleh dering telpon dari Noke. “Kamu udah baca emailku belum?, jangan-jangan baru bangun tidur nih si kebo” sapa Noke, “Iya nih baru bangun, kamu dimana?” jawab Ramsi pelan, “Aku di bandara, aku mau terbang perdana nih” jawab Noke lagi, “Terbang perdana?, kan kamu udah sering terbang” lanjut Ramsi bingung, “Makanya baca emailku, kejutannya ada disana, sekalian jawabannya. Ya udah, pesawatku sudah mau boarding, aku harus siap-siap. I love you Ram” jawab Noke manja, “Iya deh, aku buka emailnya. I love you too, bye” balas Ramsi sambil menutup telpon. “Kejutan apaan sih, si Noke kadang-kadang aneh juga” bisik Ramsi pelan sambil membuka lap top-nya.
Kemudian Ramsi membuka lap top di meja kerjanya untuk membaca email dari Noke, dan ketika ia membaca email itu, ia seperti tersambar petir. Tubuhnya kaku tak bisa bergerak, mulutnya seperti tak bisa berkata-kata. “Noke...!!” jeritnya sambil beranjak dari meja, dengan hanya mengenakan baju seadanya ia bergegas meninggalkan kamarnya. Dengan perasaan galau tak karuan ia keluar hotel menumpang taksi. “Taksi!” jeritnya memanggil taksi. “Pak, ke bandara Soekarno-Hatta, cepetan pak!!, darurat” perintah Ramsi kepada supir taksi. Kemudian taksi itupun meluncur kencang menuju bandara. Sepanjang perjalanan ia terus saja menyebut nama Noke, “Ya Tuhan, selamatkan cintaku” bisiknya dalam hati. Dan tak terasa air matanya terlihat mulai menetes, “Noke, aku tak ingin kehilanganmu” bisik Ramsi terisak, bayangan wajah Noke seakan memenuhi matanya. Sesampainya ia dibandara, ia langsung berlari masuk. Ia lihat dipapan boarding bahwa penerbangan Qantas dengan nomor penerbangan QF 013 sudah di posisi “take off”. Dengan perasaan galau ia menerobos masuk menuju ruang tunggu, dan bibirnya tak henti-henti menyebut nama Noke. Mendekati ruang tunggu yg dituju ia menjerit: “Nokeee..”, lalu “Ada yang bisa saya bantu pak” sapa petugas di ruang tunggu, “Batalkan penerbangan itu..batalkan!!” pinta Ramsi pada si petugas sambil berlari menuju landasan. Sesampainya dilandasan ia melihat pesawat Qantas dalam posisi siap take off, ia pun berlari menuju pesawat itu sambil berteriak memanggil nama Noke dan harap penerbangan dibatalkan. Dibelakang Ramsi terlihat satuan pengaman juga mengejarnya. Ketika pesawat Qantas itu mulai take off, Ramsi pun tak kuasa menahan diri dan tersungkur dilandasan pacu dan menjerit sambil menangis:”Nokeeeeeee......................”.
Tak lama kemudian terdengar suara ledakan dahsyat dan terlihat kilatan bola api diudara, pesawat Qantas itu telah meledak dan meluluh lantakkan cinta, masa depan dan semua hidup Ramsi. Kerasnya ledakan itu membuatnya terlempar. Matanya hanya menerawang ke angkasa. Disana ia seakan melihat senyum Noke dan terdengar derai tawanya. Masih ia ingat betapa bahagianya Noke dalam emailnya pagi tadi bahwa ia di terima sebagai pramugari Qantas dan keinginannya untuk berkeliling dunia terkabul. Betapa peristiwa malam tadi menjadi sebuah prasasti abadi di hati Ramsi, pelukan Noke malam itu dan juga kata-katanya, tak disangka adalah yang terakhir. “Noke, aku sayang kamu, aku sudah berusaha mengakhiri ini semua. Aku tak tahu begitu besar bayaran dari semua ini, kamu tak pantas menerima ini” bisik Ramsi lirih sambil terisak. Dikejauhan pun terdengar bunyi sirine mobil ambulance dan banyak mobil pemadam kebakaran bersaut-sautan, bunyi yang sama terdengar di hati Ramsi karena hatinya kini berdarah. Noke, sebuah prasasti cinta
Bersambung......
Friday, December 10, 2004
Monday, October 04, 2004
Mohon maaf...
Mohon maaf, sementara waktu cerpen terbaru belum bisa saya release. Pada waktunya saya akan release cerpen-cerpen :
- Prasasti Cinta (bagian 1 dan 2)
- Jangan sebut aku PKI
- Biarkan aku hidup untuknya.
- Prasasti Cinta (bagian 1 dan 2)
- Jangan sebut aku PKI
- Biarkan aku hidup untuknya.
Saturday, July 03, 2004
MAWAR ku
Sekitar setengah jam yang lalu aku tiba di stasiun ini, Stasiun Balapan Solo. Sejak tiba hingga kini aku begitu menikmati suasana distasiun ini, kulihat beberapa orang muda sibuk membersihkan lantai dan juga terlihat beberapa orang tertidur dilantai dekat dengan ruang tunggu. Aku begitu senang bisa tiba di kota ini, Solo, kota yang baru kali pertama ini aku singgahi. Suasana yang segar, walau sedikit dingin, membuat aku tambah menikmati suasana di stasiun ini. Di ruang tunggu, aku melihat masih ada beberapa orang yang duduk dan berusaha menahan kantuk sambil menunggu jemputan mereka tiba.
“Pak Araya !”, tiba-tiba saja aku dikejutkan oleh tepukan pelan dibahuku, seketika itu juga aku berusaha membalikkan badan untuk mencari tahu siapa yang menepukku, “Pak Arman, saya pikir siapa” kataku sambil berdiri dan mengusap kedua mataku. Aku secara tak sadar telah tertidur di ruang tunggu itu. “Sudah lama menunggu ?” tanya Pak Arman kepadaku, “Nggak juga, sekitar 1 jam yang lalu” jawab ku sambil berusaha untuk mengangkat barang bawaan ku, “Wah, maaf kalau terlalu lama menunggu” lanjut Pak Arman seperti merasa bersalah, “Ah, nggak apa-apa, sepertinya kereta saya tadi tiba terlalu cepat” jawabku sambil menepuk pundaknya. Kemudian kami pun pergi meninggalkan stasiun menuju ke sebuah wisma milik perusahaan. Pak Arman adalah kepala cabang perusahaan di Solo sekaligus rekan kerjaku, aku dikirim ke Solo untuk melakukan peninjauan atas proyek baru di Solo, sebuah mega proyek untuk membangun supermall disana. Aku ditugaskan untuk melakukan peninjauan atas pembebasan tanah dan segala keperluan untuk proyek tersebut.
Pak Arman ditunjuk sebagai kepala proyek itu. “Kota ini bagus yah pak” tanya ku sambil melihat-lihat dari dalam mobil, “Iya pak, loh Pak Araya belum pernah kemari toh” jawab Pak Arman sambil balik bertanya, “Belum pak, baru kali ini aku lihat Solo” jawabku pelan. Tak lama kemudian kami tiba di wisma yang kami tuju. Setelah tiba, aku langsung saja menuju ke kamar tempat ku sambil di pandu oleh Pak Arman. “Kalau perlu sesuatu, Pak Araya bisa menghubungi resepsionis” kata Pak Arman, “Oh iya, terima kasih banyak Pak Arman” jawab ku, “Kalau begitu saya pamit ingin pulang dulu, soalnya saya janji dengan anak saya untuk mengantarnya berenang pagi ini” lanjut Pak Arman, “Silahkan pak, sampai ketemu besok” jawabku sambil menyalaminya. Setelah kepergian Pak Arman, tiba-tiba saja aku merasa sangat lelah dan ngantuk. Setelah mandi dan membereskan barang bawaan, aku langsung tidur dan menjelang sore hari aku baru terbangun, lalu aku sempatkan untuk keluar untuk mengenali kota Solo dan menikmati suasana kota ini.
Keesokan harinya ketika sedang berada di kantor cabang Solo, ditengah heningnya suasana meeting, tiba-tiba saja aku dan beberapa anggota meeting lainnya dikejutkan oleh suara-suara gaduh dan keributan yang berasal dari halaman depan kantor. Kemudian dengan tergopoh-gopoh, satpam perusahaan datang: “Pak Arman, ada demo di depan” kata sang satpam, “Kamu jaga pintu masuk kantor dan perintahkan seluruh satpam untuk berjaga” perintah Pak Arman terlihat gelisah. Sesaat kemudian kami keluar dari ruang meeting menuju ke ruang depan untuk melihat aksi demo itu dari dalam kantor. Aku lihat ada sekitar seratusan orang membawa spanduk-spanduk bertuliskan penolakan mereka terhadap rencana pembebasan tanah oleh perusahaan, “Pak Arman, ada masalah apa dengan pembebasan tanah kita” tanya ku pada Pak Arman sambil terus mengamati suasana diluar, “Eee, bukan masalah serius kok pak, hanya masalah beberapa kepala keluarga yang menolak dibebaskan tanahnya” jawab Pak Arman masih terlihat gusar, “Tapi dari pengamatan saya, masalah ini sepertinya serius. Coba kita bicara dengan mereka, biarkan 2 atau 3 orang perwakilan dari mereka masuk untuk kita ajak bicara” pintaku pada Pak Arman, “Ya pak, sepertinya itu adalah jalan terbaik saat ini" jawab Pak Arman sambil memanggil satpam dan memerintahkan kepada satpam untuk melaksanakan instruksiku.
Tak lama kemudian, datanglah tiga orang perwakilan dari pendemo memasuki kantor. Mereka disambut oleh Pak Arman dengan ramah, “Mari kita bicara di ruang meeting saja” ajak Pak Arman pada ketiga perwakilan tersebut. Sedangkan aku bersama beberapa orang manager lainnya mengikuti dari belakang. Sesampainya di ruang meeting kamipun mulai melakukan pembicaraan, pembicaraanpun dimulai oleh kata-kata bernada tinggi dari salah seorang perwakilan, “Pak Arman!, kami meminta pada pihak perusahaan agar tidak melakukan intimidasi pada penduduk, beberapa penduduk melapor bahwa mereka menerima tekanan dari pihak tak dikenal” kata salah seorang perwakilan, “Wah, anda jangan menuduh seperti itu, kami tidak pernah melakukan tindakan-tindakan seperti yang anda katakan, kami selalu menghormati hukum yang berlaku” jawab Pak Arman diplomatis. Ditengah riuh rendah perdebatan, aku berinisiatif menengahi: “Maaf sebelumnya, sebenarnya apa yang membuat anda-anda menolak pembebasan tanah itu” tanya ku pada ketiga perwakilan itu, “Loh, anda ini siapa lagi, apa anda tidak pernah dengar tentang masalah ini” jawab salah seorang perwakilan dengan keras, “Oh iya, ini Pak Araya, utusan dari kantor pusat” sela Pak Arman memperkenalkan diriku. “Ooo, baguslah kalau begitu, biar anda tahu bahwa kami menolak disemena-menakan, pemberian ganti rugi yang tidak manuasiawi adalah tindakan melanggar hak asasi manusia” lanjut salah satu perwakilan kepadaku. “Maaf, boleh saya tahu nama anda” tanyaku pada salah seorang perwakilan itu yang terlihat paling sering bersuara, “Nama saya Ajeng, lengkapnya Ajeng Mawar, kenapa ?, apa bapak mau menculik saya” jawabnya sedikit sinis, sambil tersenyum kecil aku jawab pertanyaannya: “Wah, sudah tidak jamannya lagi main culik di negeri ini Nona, saya cuma butuh informasi saja”, “Apakah anda salah satu dari penduduk itu” tanya ku lagi, “Bukan, saya dari LSM, saya coba membantu masyarakat yang mendapat perlakuan tak adil” jawabnya. “Oke begini saja, saya besok akan kelokasi, saya akan lakukan pembicaraan langsung dengan penduduk, dan saya harap anda bisa ikut” pinta ku sambil menutup buku agendaku.
Pembicaraan pagi itu berakhir dengan damai, walau belum menemukan kesepakatan. Setelah semua pendemo membubarkan diri, aku mengadakan pembicaraan dengan Pak Arman tentang masalah tersebut. Keesokan hari aku pun berangkat menuju lokasi dengan ditemani oleh Pak Arman, sesampainya dilokasi, kami langsung di temui oleh Ajeng Mawar dan beberapa perwakilan LSM lainnya. Untuk mempersingkat waktu, kamipun langsung mendatangi beberapa rumah untuk mencari tahu masalah sebenarnya dan apa sesungguhnya yang mereka mau. Dari pembicaraan itulah aku mengetahui bahwa tawaran harga tanah yang diajukan adalah jauh lebih rendah dari harga tanah yang diinformasikan cabang Solo ke kantor pusat. Mengetahui hal itu, aku mulai berpikir ada sesuatu yang tak beres, “Pantas, Pak Arman sepertinya berusaha agar aku tidak ke lokasi” bisik ku dalam hati. Lalu, tiba-tiba saja aku teringat dengan Ajeng Mawar, aku terpikir tentang keberaniannya juga ketulusannya membela rakyat kecil, “Ternyata masih ada wanita seperti itu, dia cantik, pintar dan ikhlas” bisikku pelan. Sepanjang hari hingga menjelang sore aku berada di kamarku, aku sibuk menyelesaikan laporan hasil peninjauanku.
Malam harinya, aku kembali keluar wisma untuk menikmati suasana kota Solo dimalam hari. Aku telusuri jalan-jalan utama yang ramai dan diterangi lampu jalan yang remang-remang terasa romantis dengan berjalan kaki. Akhirnya aku sampai di depan sebuah rumah makan, rumah makan itu terlihat sederhana dan tampak ramai. Karena kebetulan aku juga sudah lapar dan berasumsi kalau rumah makan ramai berarti makanannya enak, maka akupun mampir ke rumah makan itu. Setelah memesan beberapa makanan, aku mencari meja yang dekat dengan ruang terbuka, maksudnya agar aku bisa menikmati pemandangan diluar sana sambil makan. Ketika ku sedang asik memandang-mandang suasana diluar sambil menunggu pesananku datang, aku dikejutkan oleh suara lembut wanita menyapaku: “Pak Araya?” kata suara lembut itu, lalu sambil menolehkan wajahku, aku tiba-tiba saja menjadi gugup: “Loh, Ajeng Mawar kan ?” jawabku mencoba meyakinkan kembali, “Iya, wah kok melamun gitu pak” kata Ajeng Mawar, “Ah ndak kok, sedang menikmati pemandangan malam saja. Kamu datang dengan siapa?” kataku sambil bertanya, “Saya sendiri aja, kebetulan saya tinggal tepat disebelah jalan rumah makan ini, jadi setiap malam saya membeli makanan disini” jawab Ajeng Mawar panjang lebar, “Wah, kebetulan kalau begitu, gabung dimeja saya saja, kan lumayan ada teman” kataku sambil menarik kursi didepanku, “Wah, saya tadi pesan makanannya dibungkus” jawab Ajeng Mawar, mendengar jawaban Ajeng Mawar itu, aku langsung memanggil pelayan rumah makan itu dengan lambaian tanganku, “Ada yang bisa saya bantu pak” tanya pelayan itu, “Tolong, agar pesanan ibu ini yang tadi dibungkus dibatalkan, dia makan disini saja” pintaku pada pelayan. “Waduh, Pak Araya, kan saya belum bilang bersedia atau tidak untuk menemani bapak makan” tanya Ajeng Mawar bingung, “Nggak apa-apa kan sesekali melanggar hak asasi orang” jawabku sambil bercanda.
Sesaat kemudian kamipun makan bersama, sambil makan kami bicarakan banyak hal, tapi yang pasti aku menolak membicarakan masalah pekerjaan, apalagi yang berkait dengan permasalahan pembebasan tanah itu. Dibalik kevokalannya, ternyata Ajeng Mawar adalah wanita yang lembut dan punya bakat romantis, pengetahuannya juga luas, aku jadi begitu kagum dengannya, belum lagi malam itu ia menggunakan pakaian yang sangat serasi dengan wajahnya yang memang cantik. Pembicaraan kami malam itu sangat mengasyikkan, aku juga tak tahu mengapa aku merasa seperti telah lama mengenalnya. “Jeng, boleh kan saya panggil kamu Ajeng” pintaku, “Wah, nggak apa-apa lah pak” jawabnya, “Kamu juga jangan panggil saya pak dong, emang saya kelihatan sudah bapak-bapak” jawab ku lagi, “Oke deh, Pak Araya, eh Ray, saya panggil Ray saja yah, kan keren tuh..he..he” kata Ajeng sambil tertawa. Pembicaraan kami terasa begitu akrab, derai tawa sering keluar dari mulut kami. “Oh iya Jeng, kamu orang asli sini” tanya ku, “Iya, tapi aku lahir dan besar di Jakarta, selepas kuliah aku kembali ke Solo untuk mengurus ayahku sepeninggalan ibuku” jawab Ajeng, “Kalau begitu kamu tahu banyak tentang kota ini” kataku sambil kutatap wajah manisnya itu, “Lumayan” jawabnya singkat, “Aku akan sangat berterima kasih kalau malam ini kamu mau menjadi pemanduku keliling kota ini, aku ingin sekali mengetahui kota ini” pintaku ke Ajeng, “Kamu belum pernah kesini toh, kasian deh” jawab Ajeng dengan nada mengejek. Kemudian aku memanggil pelayan untuk meminta bill pembayaran, “Punyaku biar aku yang bayar” kata Ajeng menyelang, “Jangan, biar sekalian saja, anggap saja tanda terima kasih karena kamu mau menjadi pemanduku malam ini” jawabku sambil memberikan beberapa lembar uang kepada pelayan, “Waduh, terulang lagi nih, kapan aku bilang bersedia jadi pemandu kamu” tanya Ajeng heran, “Loh, kamu kan diam saja, jadi aku anggap bersedianya, kan sekali-kali…....” , "Apa ayo....sekali-kali melanggar hak asasi manusia nggak apa-apa gitu!” selang Ajeng sambil cemberut, “Duh, segitu sewotnya, mau nggak nih ? kataku lagi, “Iya deh, anggap saja menghormati tamu” jawabnya. Aku hanya tersenyum saja mendengar gumamannya itu, dalam hatiku berbisik: “Jeng..jeng, ternyata kamu ngegemesin juga”.
Malam itu kami telusuri setiap sudut kota Solo, sepanjang jalan kami tak pernah berhenti tertawa, entah karena dia berselera humor tinggi atau memang aku yang pintar bikin lelucon. Dan tak terasa waktu berjalan begitu cepat, waktu sudah hampir jam 12 malam, “Ray, sepertinya kita mesti pulang deh, kalau tidak nanti ayahku bisa marah” kata Ajeng, “Oke deh, aku anter kamu yah” jawab ku, “Nggak usah, biar pulang sendiri” jawab Ajeng menolak, “Wah, jangan gitu dong, aku harus antar kamu, ini kan sudah malam, ya sekalian biar tahu rumahmu lah” kataku coba bernegosiasi, “Rumahku jelek, ntar kamu malu” kata Ajeng merendah, “Oh iya, kamu pasti anak yang punya perusahaan itu yah, soalnya kamu masih begitu muda tapi sudah pegang posisi penting” lanjut Ajeng, “Ha..ha, nggak juga” jawabku, “Ayo deh, debat melulu, ntar malah tambah malem” lanjutku sambil menarik tangannya. Aku tak sadar telah menggandeng tangannya sewaktu mengajaknya berjalan pulang, sepertinya Ajengpun tak sadar bahwa tangannyapun terpaut ke lenganku, namun tiba-tiba: “Eh, sorry “ kata Ajeng sambil menarik tangannya, “Eh..sama” jawabku tersentak. Kemudian kami saling berdiam diri, suasana tampak hening, pikiranku tak jauh-jauh berpikirnya: “Wah, apa si Ajeng marah yah, aduh..bego banget sih..” bisikku dalam hati.
Tak lama kemudian kami sampai di depan sebuah rumah, rumah itu tampak sederhana dan asri, disekeliling halamannya kulihat banyak sekali tanaman hias yang tertata rapih. “Nah, ini rumah saya, masuk dulu deh, biar ayah saya tahu kalau saya tidak sendirian” kata Ajeng kepadaku sambil berjalan menuju teras rumahnya, “Oh iya, terima kasih” jawabku, “Tanaman-tanaman ini bagus, siapa yang memeliharanya” tanyaku lagi, “Saya, kebetulan saya hobby merawat tanaman” jawab Ajeng santai. Selepas mengantarkan Ajeng pulang dan setelah bertemu dan sedikit beramah tamah dengan ayahnya, aku langsung pulang. Sepanjang jalan aku masih saja berpikir tentang Ajeng, dalam pikiranku kenapa dia begitu sempurna dimataku, selama aku beberapa kali menjalin hubungan dengan beberapa wanita, Ajeng sepertinya memberiku sebuah pemandangan baru tentang wanita dan arti kebutuhan hati. “Mungkin aku mesti membuat laporan tersendiri tentang Ajeng, dan lapornya kemana yah ?” bisikku, “Oh, lapor ke Tuhan kali yah, kalo aku ketemu wanita yang sempurna” bisikku lagi sambil tersungging kecil. Tak terasa aku sudah sampai digerbang wisma tempat ku menginap, aku langsung saja masuk dan menuju kamarku. Setelah berbaring sebentar, aku langsung menuju meja kerja untuk melihat-lihat pekerjaanku, walau waktu sudah tengah malam aku masih belum merasakan kantuk. Aku lihat-lihat lagi tentang proyek supermall itu, dan juga masalah pembebasan tanah, kubalik-balik lembaran-lembaran dokumen dan notulen-notulen rapat, dan aku temukan sebuah copy kesepakatan dengan nama Ajeng disana, lalu aku kembali tersenyum kecil memandangi namanya, kupandangi dokumen itu agak lama, walau entah lama memandang dokumen itu karena isi kesepakatannya atau ada nama Ajeng-nya, aku benar-benar tidak tahu. Tak berselang lama, aku terasa amat mengantuk dan kubaringkan tubuh ini dengan perlahan dan mulai kupejamkan mata untuk menyambut mentari esok pagi.
Selama penugasanku di Solo, waktuku banyak diisi oleh meeting dan meeting, entah dengan para manager cabang atau juga para kontraktor dan pemasok. Namun, ada sedikit yang berubah, semenjak terkuaknya masalah harga pembebasan tanah yang mengundang kontroversi, Pak Arman terlihat agak pendiam dan tak banyak bicara, mungkin hal itu mengganggu pikirannya, karena pasti setelah membaca laporan hasil tinjauanku, pejabat di kantor pusat akan memberinya sangsi. Tapi, ya sudahlah, aku tidak banyak memikirkan hal itu, aku hanya fokus pada pekerjaanku, lagi pula di Solo aku cuma punya waktu 2 bulan. Tiba-tiba hp ku berdering, secepatnya saja aku merespon panggilan itu: “Hallo, siapa ini?” tanya ku kepada sipenelpon, “Hai Ray, ini aku Rika, kamu kapan pulang ke Jakarta, oh iya disana asyik dong” jawab sipenelepon yang ternyata adalah Rika. Rika adalah wanita yang disodor-sodorkan orang tuaku untuk dijodohkan denganku, orang tuaku menganggapku nggak pernah jelas menjalin hubungan dengan wanita, “bentar-bentar putus, ganti lagi!” begitu kata ibuku pada suatu hari. Tapi aku hanya menganggap Rika sebagai teman saja, padahal mungkin dia juga begitu, akunya saja yang GR kali. “Oh kamu Rika, disini enak kok, kotanya bagus. Aku mungkin pulang tiga minggu lagi” jawabku pada Rika, “Yah..padahal aku mau ajak kamu nonton konsernya TOTO minggu depan” lanjut Rika sedikit kecewa, “Iya nih, abisnya kerjaanku belum selesai, kamu aja yang nonton bareng temanmu atau pacarmu” jawabku, “Hah..pacar!!, kamukan tau aku nggak ada pacar sekarang, ngejek nih?” balas Rika ketus, “Ha..ha, bercanda, maksudku siapa tahu disana kamu dapat kebetan” jawabku lagi sambil tertawa, “Ya sudah ah, kalo gitu aku nonton sendiri aja” lanjut Rika, “Eh, jangan sendirian dong, ntar nggak ada yang jadi “body guard” mu, mending ajak siapa tah, masa’ kamu nggak punya teman?” jawabku lagi, “Ya udah ntar ku ajak temanku deh, eh kalau temannya cowok kamu nggak cemburu kan?” lanjut Rika sedikit menggoda, “Ha..ha, cemburu?, emangnya kamu bisa dicemburuin gitu!” jawabku sambil tertawa mencoba menggodanya, “Awas yah, ya udah deh, hati-hati selama disana yah, bye..” lanjut Rika sambil mengakhiri pembicaraan. Setelah menutup HP, aku masih saja tersenyum-senyum geli, “Rika..Rika, lucu banget” bisikku sambil berlalu kembali memasuki ruang meeting.
Setelah beberapa hari berselang sejak aku berkeliling kota dengan Ajeng, aku merasakan sesuatu yang sepertinya itu rasa rindu. Oleh karenanya pada suatu malam, akupun nekat berkunjung ke rumahnya, mulanya aku mungkin terlihat agak kaku, namun setelah beberapa kali, aku sudah merasa santai dengan hal itu. Setiap pertemuan, kami membicarakan banyak hal, dari sisi pribadi hingga isue-isue nasional yang sedang berkembang saat itu. Ajeng bercerita tentang pengalamannya selama menjadi aktivis LSM dan lika-liku dia dari Jakarta sampai dia kembali ke Solo, begitu juga dengan aku, aku cerita tentang kisah-kisah yang aku alami. Kami terasa amat dekat, dan aku merasa seperti telah berteman lama dengan Ajeng. Dalam beberapa pertemuan terakhir, kami lewatkan waktu dengan berjalan ke mall, nonton bioskop dan makan, kami pun sering terlihat mesra, beberapa kali jemari Ajeng yang lentik itu memegang lembut lenganku, dan akupun menggandengnya dengan senang hati, namun kali ini, Ajeng tidak lagi menarik tangannya, tapi malah membalas pegangan jariku dengan erat. Entahlah, selama itu aku merasa amat bahagia, aku tak tau bagaimana dengan Ajeng, aku sih berharap kalau dia juga merasakan sesuatu yang sama denganku. “Jeng, kamu sudah punya pacar ?” tanyaku pada Ajeng dalam sebuah kesempatan, “Sekarang sih, aku nggak ada, sepertinya nggak akan ada yang mau dengan ku” jawab Ajeng pelan, “Wah, masa’ sih nggak ada yang mau sama cewek cantik kayak kamu gini” balasku sambil menoleh kearahnya, “Hmmm, gombal deh..” lanjut Ajeng. “Jeng, mungkin lusa besok, aku kembali ke Jakarta karena tugasku sudah selesai” kataku pada Ajeng dengan nada lemah, mendengar hal itu Ajeng diam sesaat, “Kapan kamu kemari lagi” kata Ajeng balik bertanya, “Entahlah Jeng, mungkin akan sangat lama” jawabku pelan, “Yah, kita nggak bisa jalan lagi ya Ray” lanjut Ajeng, “Kan kita bisa telpon-telponan, email-emailan, sms-an, atau surat-suratan. Jaman teknologi canggih begini semua bisa terasa dekat” kata ku sambil mencoba menghibur diriku sendiri yang sudah mulai merasakan kesepian saat itu.
Keesokan harinya, ketika aku sedang makan malam bersama para kontraktor dan manager cabang, termasuk Pak Arman, di sebuah mall, tiba-tiba saja pandanganku tertuju pada sebuah spanduk didalam restoran tempat kami makan malam. “Valentine day's eve: Makan berdua gratis satu” begitu kata-kata dalam spanduk tersebut. “Valentine day's..?” bisikku. Selepas makan malam, sewaktu aku dan rombongan berjalan berkeliling mall, aku lihat begitu banyak atribut berbau valentine day's dijual pada banyak counter. Seketika saja aku langsung terpikirkan tentang Ajeng, tiba-tiba pandanganku tergugah oleh sebuah counter disudut mall, aku pandangi sebuah bantal semi boneka berbentuk hati berwarna merah, bantal itu bertuliskan “Be Mine”. Entahlah, sepertinya kata-kata di bantal itu begitu mewakili perasaanku saat ini. Lalu, segera saja aku membelinya. Para kolegaku yang turut dalam rombongan ada yang bertanya-tanya perihal aku membeli bantal itu, namun aku hanya menjawab bahwa bantal itu untuk oleh-oleh adikku di Jakarta. Sebenarnya malam ini aku ingin sekali bersama Ajeng, karena malam ini adalah malam terakhir aku di Solo, mungkin saja adalah malam terakhir aku bisa bersama Ajeng, namun aku tak bisa menolak undangan para kontraktor dan manager-manager cabang itu untuk makan malam bersama sebagai acara perpisahan. Walau aku tertawa atau berbincang-bincang diacara itu, pikiranku tetap saja pada Ajeng. Sekembalinya aku di wisma, aku pandangi bantal tadi, kadang aku dekap dan kadang aku elus-elus. Mungkin saat itu aku terlihat seperti anak ABG yang sedang kasmaran, tapi aku tak perduli, karena aku juga berhak atas sesuatu yang indah dalam hidupku.
Keesokan paginya, aku bangun lebih awal, karena aku berencana ke rumah Ajeng untuk memberikan bantal yang kubeli tadi malam di hari valentine yang tepat jatuh pada hari ini. Karena terlihat terburu-buru, dan karena aku mesti berpacu dengan jadwal penerbangan ku ke Jakarta pada jam 10 pagi nanti, sejak jam 5 pagi aku sudah selesai mandi dan berkemas, kukumpulkan semua berkas dan pakaian. Pada pukul 7 pagi, aku langsung bergegas menuju rumah Ajeng, aku ingin pertemuanku pagi ini dengan Ajeng menjadi amat berkesan. Sesampainya dirumah Ajeng, seperti biasa, aku pandangi deretan tanaman hias dihalaman rumahnya, lalu setelah puas aku langsung menuju teras rumahnya, “Assalamualaikum..” sapaku sambil mengetuk pintu rumah Ajeng, “Walaikum salam..” terdengar suara ayahnya membalas salamku dari dalam rumah. Tak lama kemudian pintu rumahnya terbuka, ku lihat ayahnya menyambutku dengan senyum ramah. “Pagi pak, Ajengnya ada ?” tanyaku pada ayahnya, “Ajeng..?, Ajeng tadi pagi selesai shalat subuh pergi bersama teman-teman satu LSMnya, katanya ada urusan” jawab ayahnya sambil mempersilahkanku masuk dan duduk. Mendengar penjelasan ayah Ajeng itu, aku langsung merasa lemas, hatiku juga terasa sedih, “Ya ampun, sial banget, inikan kesempatan terakhir untuk berbagi waktu dengan Ajeng” bisikku dalam hati, “Kenapa juga dia nggak ada HP” lanjutku berbisik.
Tak lama kemudian aku memutuskan untuk kembali saja ke wismaku, sebelum berpamitan, aku titipkan bungkusan kado berisi bantal berbentuk hati yang semalam aku beli kepada ayahnya: “Pak, saya titip ini saja untuk Ajeng, dan mohon sampaikan salam saya” kataku sambil menyerahkan bungkusan kado pada ayahnya, “Baik nak, nanti bapak berikan pada Ajeng” jawab ayahnya, “Kalau begitu saya pamit dulu pak, Assalamualaikum” lanjutku sambil melangkah meninggalkan rumah Ajeng. Sepanjang jalan dari rumah Ajeng aku merasa amat lemas, aku seperti berat untuk kembali ke Jakarta. Entahlah, rasa rindu ini sepeti amat besar menggelayut di hatiku, terlebih pagi ini aku tak bisa menjumpainya. Sesampainya di wisma, aku melihat mobil yang akan mengantarku ke bandara sudah siap, dan juga ada Pak Arman disana. “Ada apa Pak Araya, kok kelihatannya lesu, apa bapak sakit” tanya Pak Arman sambil berjalan mendekatiku, “Ah, tidak apa-apa pak, mungkin hanya kelelahan saja” jawabku lemah, “Kalau semuanya sudah siap, kita langsung berangkat saja, nanti terlambat. Sebentar yah, saya ambil barang-barang saya dulu dikamar” lanjutku sambil melangkah menuju kamar. Sepanjang perjalanan menuju bandara aku merasa amat sunyi, kupandangi deretan-deretan gedung sepanjang jalan, orang-orang yang ramai berlalu-lalang dengan pandangan kosong. Aku begitu amat ingin bertemu Ajeng, ingin sekali rasanya kuucapkan sedikit kata-kata terima kasihku, atau mungkin kata-kata ungkapan hatiku.
Setibanya dibandara, suasana begitu ramai sekali, maklum hari ini adalah akhir pekan. Jadwal penerbanganku tinggal setengah jam lagi, selesai “check in” aku menemui Pak Arman di lobby, “Pak Arman, terima kasih. Saya langsung kedalam saja, sepertinya sebentar lagi akan boarding” kataku pada Pak Arman, “Kalau begitu, selamat jalan Pak Araya, sampai jumpa lagi” jawab Pak Arman sambil menyalamiku. Tak lama kemudian Pak Arman melangkah keluar ruang lobby meninggalkanku diikuti oleh supir perusahaan, untuk beberapa saat aku hanya berdiri mematung sambil memandangi Pak Arman sampai bayangannya menghilang disebuah persimpangan gedung. Kemudian aku mulai melangkah untuk menuju pesawat. “Rayyyy…..”, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara lembut yang memanggil namaku dari arah belakang, sepertinya aku mengenal suara ini. Lalu dengan sekejap aku balikkan tubuhku dan..: “Ajeng…” kataku pelan sepertinya tak percaya. Aku hanya mematung memandangi kedatangan Ajeng, dia melangkah mendekatiku, “Ray, maaf yah tadi kamu kerumah aku nggak ada, aku sedang ada perlu dengan temanku” kata Ajeng pelan, “Nggak apa-apa, aku malah seneng kamu kesini” jawabku,”Oh iya, terima kasih kadonya Ray, Happy Valentine too” lanjut Ajeng sambil menunjukkan bantal hati yang ia dekap didadanya. Seketika aku merasa amat bahagia dan damai melihat bantal itu didekapnya, “Kamu senang dengan bantal itu?” kataku, “Iya, lucu dan manis banget” jawab Ajeng sambil terus mendekap bantal itu. Sesaat kemudian kamipun melangkah bersama, semakin dekat langkah kami ke pintu masuk, semakin berat langkah kaki ini terasa. “Jeng” bisikku padanya, “Ya Ray..ada apa” jawabnya,”Hmm…do you ?” lanjutku, “Apaan Ray?” kata Ajeng balik bertanya, “Ya seperti kata-kata di bantal itu” kataku lagi, “Be mine...please..” bisikku lagi ditelinga Ajeng yang mungil itu, kemudian, Ajeng hanya berdiri mematung, lalu aku kecup saja pipinya yang licin itu, “Ray….apa-apa sih!” kata Ajeng cemberut. Aku hanya bisa menganggat bahuku mendengar respon Ajeng itu, pikirku Ajeng tak punya perasaan yang sama kepadaku, “mati dah” bisikku dalam hati. Namun tiba-tiba Ajeng memelukku, dia rangkulkan kedua tangannya dipinggangku dan berbisik: “Hatiku sudah menjadi milikmu sebelum kamu berikan bantal hati ini”. Ya ampun betapa aku merasa bergetar mendengarnya, jantungku berdebar kencang dan seluruh bandara terasa dipenuhi dengan mawar yang wangi.
Ditengah larut pelukan bahagia itu, kami dikejutkan oleh pengumuman pihak bandara bahwa penerbangan ke Jakarta akan segera berangkat. “Ajeng, sepertinya aku harus pergi dulu” kataku sambil memandang wajahnya penuh kerinduan, “Hati-hati dijalan Ray, jangan lupain aku yah” jawab Ajeng dengan mata berkaca-kaca. Melihat matanya itu, akupun mulai berusaha menahan air mata agar tak menetes, aku harus tegar agar Ajeng tak tambah sedih, entahlah kenapa kepergianku ke Jakarta ini seperti sebuah perpisahan yang begitu memilukan. “Aku tak akan lupa sama kamu Jeng, aku sayang kamu” bisikku sambil kembali kukecup pipinya. Tibalah saatnya aku harus berangkat, kupandangi wajahnya dan berat sekali melepas genggaman tangannya. Aku mulai melangkah meninggalkannya menuju pesawat, tapi tiba-tiba aku berbalik dan berlari kearahnya, “Ada apa Ray” tanya Ajeng heran, “Jeng, kamu beli HP yah biar aku mudah menghubungimu, ini nomor HPku” kataku tergesa-gesa, “Iya, sepulang dari sini aku langsung beli deh” jawab Ajeng sambil tersenyum, “Oke, bye honey” kataku sambil lagi-lagi mengecup pipinya, kali ini kedua pipinya kucium, dan aku berlari menuju pesawat.
Hari itu begitu indah, setidaknya kenangan amat indah ada disana, kenangan itu terukir disetiap sudut bandara dan tercetak disetiap jengkal jalan kota Solo. Semenjak kembalinya aku ke Jakarta, aku menjalin hubungan dengan Ajeng banyak melalui sms dan telpon, selama hampir seminggu penuh semenjak aku tiba kembali ke Jakarta, tak pernah aku lewatkan seharipun tanpa menelepon Ajeng, kami memang sedang kasmaran pada masa itu. Hingga pada suatu hari, sekitar tepat seminggu setelah perpisahan dengan Ajeng, tiba-tiba saja aku kehilangan kontak dengan Ajeng. Hpnya tak bisa dihubungi, bahkan setelah dua hari. Aku jadi gusar, entah karena aku rindu atau aku khawatir, semuanya jadi satu. Sampai pada suatu hari aku membaca berita disebuah surat kabar tentang hilangnya beberapa aktivis LSM di Jawa Tengah. Entahlah, setelah membaca berita itu pikiranku langsung ke Ajeng, kemudian aku langsung pesan tiket dan terbang ke Solo secepat mungkin. Ya Tuhan, betapa dunia ini penuh dengan halilintar menyambar-nyambar, dan gemuruh tak henti-hentinya ketika ayahnya bercerita bahwa Ajeng adalah salah satu dari aktivis yang hilang, saat itu aku langsung lemas, tak tahu harus bagaimana, “Bungaku hilang…..bungaku hilang!!!” jeritku dalam hati.
Hingga sampai setahun setengah aku tak tahu kabar dari Ajeng, entah dia masih hidup atau sudah mati, tidak ada yang tahu, bahkan beberapa LSM di Solo malah pesimis kalau para aktivis masih hidup. Akhirnya tibalah saatnya proyek supermall perusahaanku selesai dan tiba waktunya diresmikan, beberapa hari menjelang diresmikan aku mendatangi ayahku di ruang kerjanya, aku memohon pada ayahku agar mau menamakan supermall itu dengan nama “mawar”, namanya “Mawar Supermall”, kuambil dari nama Ajeng Mawar. Namun aku tak bisa menjawab alasanku menamakan supermall itu pada ayahku, aku tak ingin banyak orang tahu tentang perjalanan cintaku dengan Ajeng. Akhirnya ayahku bersedia menerima permohonanku, tapi dengan satu syarat aku bersedia dijodohkan dengan Rika. Karena merasa tertekan dan putus asa akhirnya aku terima syarat ayahku itu. Aku bahagia akhirnya “Mawar Supermall” diresmikan, aku sendiri yang hadir dan dengan restu ayahku pula, aku yang menandatangani prasasti peresmian mall itu. “Ajeng, kalau saja kamu ada saat ini, lihatlah betapa megahnya gedung ini, ia menjulang tinggi ke angkasa, berdiri kokoh di kotamu. Inilah menara cintaku padamu, kupersembahkan layaknya Taj Mahal yg dibangun seorang raja untuk permaisurinya. Kamu akan selalu kokoh ada dihatiku” bisikku dalam hati sambil memandang keatas gedung.
Selama dua tahun ini aku benar-benar merasa hampa, sampai detik inipun Ajeng tak ada kabar sama sekali, bahkan KOMNAS HAM pun sudah turun tangan mencari tahu keberadaan para aktivis yang hilang itu, termasuk bunga hatiku "Ajeng Mawar". Aku selalu berdoa agar Ajeng selalu dibawah lindungan-Nya. Dan, malam ini adalah malam terakhir aku melepas masa bujangku, besok adalah hari pernikahanku dengan Rika, walau aku tak mencintainya namun aku sudah berjanji pada ayahku, semua demi Ajeng. Ditengah kesunyian malam di halaman belakang rumahku, aku teringat semua kenangan manis bersama Ajeng, aku ingat rumah makan itu, dimana pertama kali aku ngobrol dengannya, aku juga ingat jalan-jalan kota Solo itu yang penuh dengan tawa kami malam itu, dan terlebih kecupan dibandara itu, bantal hati itu dan semuanya tentang Ajeng. Namun biarlah, akan aku taruh cintamu didalam ruang hatiku Jeng, akan kubaringkan engkau diatas bantal hati itu hangat dalam jiwaku. Tak terasa pipiku sudah basah dengan airmata yang aku tak tahu sejak kapan ia telah menetes, kenangan itu amat indah jeng. Malam inipun adalah malam valentine, “aku merayakan ini untukmu Jeng” bisikku sambil kuusap airmata dipipiku. Aku memang tak lama bersamamu, namun kamu akan selamanya dihatiku. “Ajeng, untuk yang terakhir sebelum kusimpan cinta ini, aku cinta kamu dan amat merindukanmu” bisikku sambil menatap bintang diangkasa dan diiringi derai air mata yang semakin deras. “Happy Valentine day's…Jeng”…..
“Pak Araya !”, tiba-tiba saja aku dikejutkan oleh tepukan pelan dibahuku, seketika itu juga aku berusaha membalikkan badan untuk mencari tahu siapa yang menepukku, “Pak Arman, saya pikir siapa” kataku sambil berdiri dan mengusap kedua mataku. Aku secara tak sadar telah tertidur di ruang tunggu itu. “Sudah lama menunggu ?” tanya Pak Arman kepadaku, “Nggak juga, sekitar 1 jam yang lalu” jawab ku sambil berusaha untuk mengangkat barang bawaan ku, “Wah, maaf kalau terlalu lama menunggu” lanjut Pak Arman seperti merasa bersalah, “Ah, nggak apa-apa, sepertinya kereta saya tadi tiba terlalu cepat” jawabku sambil menepuk pundaknya. Kemudian kami pun pergi meninggalkan stasiun menuju ke sebuah wisma milik perusahaan. Pak Arman adalah kepala cabang perusahaan di Solo sekaligus rekan kerjaku, aku dikirim ke Solo untuk melakukan peninjauan atas proyek baru di Solo, sebuah mega proyek untuk membangun supermall disana. Aku ditugaskan untuk melakukan peninjauan atas pembebasan tanah dan segala keperluan untuk proyek tersebut.
Pak Arman ditunjuk sebagai kepala proyek itu. “Kota ini bagus yah pak” tanya ku sambil melihat-lihat dari dalam mobil, “Iya pak, loh Pak Araya belum pernah kemari toh” jawab Pak Arman sambil balik bertanya, “Belum pak, baru kali ini aku lihat Solo” jawabku pelan. Tak lama kemudian kami tiba di wisma yang kami tuju. Setelah tiba, aku langsung saja menuju ke kamar tempat ku sambil di pandu oleh Pak Arman. “Kalau perlu sesuatu, Pak Araya bisa menghubungi resepsionis” kata Pak Arman, “Oh iya, terima kasih banyak Pak Arman” jawab ku, “Kalau begitu saya pamit ingin pulang dulu, soalnya saya janji dengan anak saya untuk mengantarnya berenang pagi ini” lanjut Pak Arman, “Silahkan pak, sampai ketemu besok” jawabku sambil menyalaminya. Setelah kepergian Pak Arman, tiba-tiba saja aku merasa sangat lelah dan ngantuk. Setelah mandi dan membereskan barang bawaan, aku langsung tidur dan menjelang sore hari aku baru terbangun, lalu aku sempatkan untuk keluar untuk mengenali kota Solo dan menikmati suasana kota ini.
Keesokan harinya ketika sedang berada di kantor cabang Solo, ditengah heningnya suasana meeting, tiba-tiba saja aku dan beberapa anggota meeting lainnya dikejutkan oleh suara-suara gaduh dan keributan yang berasal dari halaman depan kantor. Kemudian dengan tergopoh-gopoh, satpam perusahaan datang: “Pak Arman, ada demo di depan” kata sang satpam, “Kamu jaga pintu masuk kantor dan perintahkan seluruh satpam untuk berjaga” perintah Pak Arman terlihat gelisah. Sesaat kemudian kami keluar dari ruang meeting menuju ke ruang depan untuk melihat aksi demo itu dari dalam kantor. Aku lihat ada sekitar seratusan orang membawa spanduk-spanduk bertuliskan penolakan mereka terhadap rencana pembebasan tanah oleh perusahaan, “Pak Arman, ada masalah apa dengan pembebasan tanah kita” tanya ku pada Pak Arman sambil terus mengamati suasana diluar, “Eee, bukan masalah serius kok pak, hanya masalah beberapa kepala keluarga yang menolak dibebaskan tanahnya” jawab Pak Arman masih terlihat gusar, “Tapi dari pengamatan saya, masalah ini sepertinya serius. Coba kita bicara dengan mereka, biarkan 2 atau 3 orang perwakilan dari mereka masuk untuk kita ajak bicara” pintaku pada Pak Arman, “Ya pak, sepertinya itu adalah jalan terbaik saat ini" jawab Pak Arman sambil memanggil satpam dan memerintahkan kepada satpam untuk melaksanakan instruksiku.
Tak lama kemudian, datanglah tiga orang perwakilan dari pendemo memasuki kantor. Mereka disambut oleh Pak Arman dengan ramah, “Mari kita bicara di ruang meeting saja” ajak Pak Arman pada ketiga perwakilan tersebut. Sedangkan aku bersama beberapa orang manager lainnya mengikuti dari belakang. Sesampainya di ruang meeting kamipun mulai melakukan pembicaraan, pembicaraanpun dimulai oleh kata-kata bernada tinggi dari salah seorang perwakilan, “Pak Arman!, kami meminta pada pihak perusahaan agar tidak melakukan intimidasi pada penduduk, beberapa penduduk melapor bahwa mereka menerima tekanan dari pihak tak dikenal” kata salah seorang perwakilan, “Wah, anda jangan menuduh seperti itu, kami tidak pernah melakukan tindakan-tindakan seperti yang anda katakan, kami selalu menghormati hukum yang berlaku” jawab Pak Arman diplomatis. Ditengah riuh rendah perdebatan, aku berinisiatif menengahi: “Maaf sebelumnya, sebenarnya apa yang membuat anda-anda menolak pembebasan tanah itu” tanya ku pada ketiga perwakilan itu, “Loh, anda ini siapa lagi, apa anda tidak pernah dengar tentang masalah ini” jawab salah seorang perwakilan dengan keras, “Oh iya, ini Pak Araya, utusan dari kantor pusat” sela Pak Arman memperkenalkan diriku. “Ooo, baguslah kalau begitu, biar anda tahu bahwa kami menolak disemena-menakan, pemberian ganti rugi yang tidak manuasiawi adalah tindakan melanggar hak asasi manusia” lanjut salah satu perwakilan kepadaku. “Maaf, boleh saya tahu nama anda” tanyaku pada salah seorang perwakilan itu yang terlihat paling sering bersuara, “Nama saya Ajeng, lengkapnya Ajeng Mawar, kenapa ?, apa bapak mau menculik saya” jawabnya sedikit sinis, sambil tersenyum kecil aku jawab pertanyaannya: “Wah, sudah tidak jamannya lagi main culik di negeri ini Nona, saya cuma butuh informasi saja”, “Apakah anda salah satu dari penduduk itu” tanya ku lagi, “Bukan, saya dari LSM, saya coba membantu masyarakat yang mendapat perlakuan tak adil” jawabnya. “Oke begini saja, saya besok akan kelokasi, saya akan lakukan pembicaraan langsung dengan penduduk, dan saya harap anda bisa ikut” pinta ku sambil menutup buku agendaku.
Pembicaraan pagi itu berakhir dengan damai, walau belum menemukan kesepakatan. Setelah semua pendemo membubarkan diri, aku mengadakan pembicaraan dengan Pak Arman tentang masalah tersebut. Keesokan hari aku pun berangkat menuju lokasi dengan ditemani oleh Pak Arman, sesampainya dilokasi, kami langsung di temui oleh Ajeng Mawar dan beberapa perwakilan LSM lainnya. Untuk mempersingkat waktu, kamipun langsung mendatangi beberapa rumah untuk mencari tahu masalah sebenarnya dan apa sesungguhnya yang mereka mau. Dari pembicaraan itulah aku mengetahui bahwa tawaran harga tanah yang diajukan adalah jauh lebih rendah dari harga tanah yang diinformasikan cabang Solo ke kantor pusat. Mengetahui hal itu, aku mulai berpikir ada sesuatu yang tak beres, “Pantas, Pak Arman sepertinya berusaha agar aku tidak ke lokasi” bisik ku dalam hati. Lalu, tiba-tiba saja aku teringat dengan Ajeng Mawar, aku terpikir tentang keberaniannya juga ketulusannya membela rakyat kecil, “Ternyata masih ada wanita seperti itu, dia cantik, pintar dan ikhlas” bisikku pelan. Sepanjang hari hingga menjelang sore aku berada di kamarku, aku sibuk menyelesaikan laporan hasil peninjauanku.
Malam harinya, aku kembali keluar wisma untuk menikmati suasana kota Solo dimalam hari. Aku telusuri jalan-jalan utama yang ramai dan diterangi lampu jalan yang remang-remang terasa romantis dengan berjalan kaki. Akhirnya aku sampai di depan sebuah rumah makan, rumah makan itu terlihat sederhana dan tampak ramai. Karena kebetulan aku juga sudah lapar dan berasumsi kalau rumah makan ramai berarti makanannya enak, maka akupun mampir ke rumah makan itu. Setelah memesan beberapa makanan, aku mencari meja yang dekat dengan ruang terbuka, maksudnya agar aku bisa menikmati pemandangan diluar sana sambil makan. Ketika ku sedang asik memandang-mandang suasana diluar sambil menunggu pesananku datang, aku dikejutkan oleh suara lembut wanita menyapaku: “Pak Araya?” kata suara lembut itu, lalu sambil menolehkan wajahku, aku tiba-tiba saja menjadi gugup: “Loh, Ajeng Mawar kan ?” jawabku mencoba meyakinkan kembali, “Iya, wah kok melamun gitu pak” kata Ajeng Mawar, “Ah ndak kok, sedang menikmati pemandangan malam saja. Kamu datang dengan siapa?” kataku sambil bertanya, “Saya sendiri aja, kebetulan saya tinggal tepat disebelah jalan rumah makan ini, jadi setiap malam saya membeli makanan disini” jawab Ajeng Mawar panjang lebar, “Wah, kebetulan kalau begitu, gabung dimeja saya saja, kan lumayan ada teman” kataku sambil menarik kursi didepanku, “Wah, saya tadi pesan makanannya dibungkus” jawab Ajeng Mawar, mendengar jawaban Ajeng Mawar itu, aku langsung memanggil pelayan rumah makan itu dengan lambaian tanganku, “Ada yang bisa saya bantu pak” tanya pelayan itu, “Tolong, agar pesanan ibu ini yang tadi dibungkus dibatalkan, dia makan disini saja” pintaku pada pelayan. “Waduh, Pak Araya, kan saya belum bilang bersedia atau tidak untuk menemani bapak makan” tanya Ajeng Mawar bingung, “Nggak apa-apa kan sesekali melanggar hak asasi orang” jawabku sambil bercanda.
Sesaat kemudian kamipun makan bersama, sambil makan kami bicarakan banyak hal, tapi yang pasti aku menolak membicarakan masalah pekerjaan, apalagi yang berkait dengan permasalahan pembebasan tanah itu. Dibalik kevokalannya, ternyata Ajeng Mawar adalah wanita yang lembut dan punya bakat romantis, pengetahuannya juga luas, aku jadi begitu kagum dengannya, belum lagi malam itu ia menggunakan pakaian yang sangat serasi dengan wajahnya yang memang cantik. Pembicaraan kami malam itu sangat mengasyikkan, aku juga tak tahu mengapa aku merasa seperti telah lama mengenalnya. “Jeng, boleh kan saya panggil kamu Ajeng” pintaku, “Wah, nggak apa-apa lah pak” jawabnya, “Kamu juga jangan panggil saya pak dong, emang saya kelihatan sudah bapak-bapak” jawab ku lagi, “Oke deh, Pak Araya, eh Ray, saya panggil Ray saja yah, kan keren tuh..he..he” kata Ajeng sambil tertawa. Pembicaraan kami terasa begitu akrab, derai tawa sering keluar dari mulut kami. “Oh iya Jeng, kamu orang asli sini” tanya ku, “Iya, tapi aku lahir dan besar di Jakarta, selepas kuliah aku kembali ke Solo untuk mengurus ayahku sepeninggalan ibuku” jawab Ajeng, “Kalau begitu kamu tahu banyak tentang kota ini” kataku sambil kutatap wajah manisnya itu, “Lumayan” jawabnya singkat, “Aku akan sangat berterima kasih kalau malam ini kamu mau menjadi pemanduku keliling kota ini, aku ingin sekali mengetahui kota ini” pintaku ke Ajeng, “Kamu belum pernah kesini toh, kasian deh” jawab Ajeng dengan nada mengejek. Kemudian aku memanggil pelayan untuk meminta bill pembayaran, “Punyaku biar aku yang bayar” kata Ajeng menyelang, “Jangan, biar sekalian saja, anggap saja tanda terima kasih karena kamu mau menjadi pemanduku malam ini” jawabku sambil memberikan beberapa lembar uang kepada pelayan, “Waduh, terulang lagi nih, kapan aku bilang bersedia jadi pemandu kamu” tanya Ajeng heran, “Loh, kamu kan diam saja, jadi aku anggap bersedianya, kan sekali-kali…....” , "Apa ayo....sekali-kali melanggar hak asasi manusia nggak apa-apa gitu!” selang Ajeng sambil cemberut, “Duh, segitu sewotnya, mau nggak nih ? kataku lagi, “Iya deh, anggap saja menghormati tamu” jawabnya. Aku hanya tersenyum saja mendengar gumamannya itu, dalam hatiku berbisik: “Jeng..jeng, ternyata kamu ngegemesin juga”.
Malam itu kami telusuri setiap sudut kota Solo, sepanjang jalan kami tak pernah berhenti tertawa, entah karena dia berselera humor tinggi atau memang aku yang pintar bikin lelucon. Dan tak terasa waktu berjalan begitu cepat, waktu sudah hampir jam 12 malam, “Ray, sepertinya kita mesti pulang deh, kalau tidak nanti ayahku bisa marah” kata Ajeng, “Oke deh, aku anter kamu yah” jawab ku, “Nggak usah, biar pulang sendiri” jawab Ajeng menolak, “Wah, jangan gitu dong, aku harus antar kamu, ini kan sudah malam, ya sekalian biar tahu rumahmu lah” kataku coba bernegosiasi, “Rumahku jelek, ntar kamu malu” kata Ajeng merendah, “Oh iya, kamu pasti anak yang punya perusahaan itu yah, soalnya kamu masih begitu muda tapi sudah pegang posisi penting” lanjut Ajeng, “Ha..ha, nggak juga” jawabku, “Ayo deh, debat melulu, ntar malah tambah malem” lanjutku sambil menarik tangannya. Aku tak sadar telah menggandeng tangannya sewaktu mengajaknya berjalan pulang, sepertinya Ajengpun tak sadar bahwa tangannyapun terpaut ke lenganku, namun tiba-tiba: “Eh, sorry “ kata Ajeng sambil menarik tangannya, “Eh..sama” jawabku tersentak. Kemudian kami saling berdiam diri, suasana tampak hening, pikiranku tak jauh-jauh berpikirnya: “Wah, apa si Ajeng marah yah, aduh..bego banget sih..” bisikku dalam hati.
Tak lama kemudian kami sampai di depan sebuah rumah, rumah itu tampak sederhana dan asri, disekeliling halamannya kulihat banyak sekali tanaman hias yang tertata rapih. “Nah, ini rumah saya, masuk dulu deh, biar ayah saya tahu kalau saya tidak sendirian” kata Ajeng kepadaku sambil berjalan menuju teras rumahnya, “Oh iya, terima kasih” jawabku, “Tanaman-tanaman ini bagus, siapa yang memeliharanya” tanyaku lagi, “Saya, kebetulan saya hobby merawat tanaman” jawab Ajeng santai. Selepas mengantarkan Ajeng pulang dan setelah bertemu dan sedikit beramah tamah dengan ayahnya, aku langsung pulang. Sepanjang jalan aku masih saja berpikir tentang Ajeng, dalam pikiranku kenapa dia begitu sempurna dimataku, selama aku beberapa kali menjalin hubungan dengan beberapa wanita, Ajeng sepertinya memberiku sebuah pemandangan baru tentang wanita dan arti kebutuhan hati. “Mungkin aku mesti membuat laporan tersendiri tentang Ajeng, dan lapornya kemana yah ?” bisikku, “Oh, lapor ke Tuhan kali yah, kalo aku ketemu wanita yang sempurna” bisikku lagi sambil tersungging kecil. Tak terasa aku sudah sampai digerbang wisma tempat ku menginap, aku langsung saja masuk dan menuju kamarku. Setelah berbaring sebentar, aku langsung menuju meja kerja untuk melihat-lihat pekerjaanku, walau waktu sudah tengah malam aku masih belum merasakan kantuk. Aku lihat-lihat lagi tentang proyek supermall itu, dan juga masalah pembebasan tanah, kubalik-balik lembaran-lembaran dokumen dan notulen-notulen rapat, dan aku temukan sebuah copy kesepakatan dengan nama Ajeng disana, lalu aku kembali tersenyum kecil memandangi namanya, kupandangi dokumen itu agak lama, walau entah lama memandang dokumen itu karena isi kesepakatannya atau ada nama Ajeng-nya, aku benar-benar tidak tahu. Tak berselang lama, aku terasa amat mengantuk dan kubaringkan tubuh ini dengan perlahan dan mulai kupejamkan mata untuk menyambut mentari esok pagi.
Selama penugasanku di Solo, waktuku banyak diisi oleh meeting dan meeting, entah dengan para manager cabang atau juga para kontraktor dan pemasok. Namun, ada sedikit yang berubah, semenjak terkuaknya masalah harga pembebasan tanah yang mengundang kontroversi, Pak Arman terlihat agak pendiam dan tak banyak bicara, mungkin hal itu mengganggu pikirannya, karena pasti setelah membaca laporan hasil tinjauanku, pejabat di kantor pusat akan memberinya sangsi. Tapi, ya sudahlah, aku tidak banyak memikirkan hal itu, aku hanya fokus pada pekerjaanku, lagi pula di Solo aku cuma punya waktu 2 bulan. Tiba-tiba hp ku berdering, secepatnya saja aku merespon panggilan itu: “Hallo, siapa ini?” tanya ku kepada sipenelpon, “Hai Ray, ini aku Rika, kamu kapan pulang ke Jakarta, oh iya disana asyik dong” jawab sipenelepon yang ternyata adalah Rika. Rika adalah wanita yang disodor-sodorkan orang tuaku untuk dijodohkan denganku, orang tuaku menganggapku nggak pernah jelas menjalin hubungan dengan wanita, “bentar-bentar putus, ganti lagi!” begitu kata ibuku pada suatu hari. Tapi aku hanya menganggap Rika sebagai teman saja, padahal mungkin dia juga begitu, akunya saja yang GR kali. “Oh kamu Rika, disini enak kok, kotanya bagus. Aku mungkin pulang tiga minggu lagi” jawabku pada Rika, “Yah..padahal aku mau ajak kamu nonton konsernya TOTO minggu depan” lanjut Rika sedikit kecewa, “Iya nih, abisnya kerjaanku belum selesai, kamu aja yang nonton bareng temanmu atau pacarmu” jawabku, “Hah..pacar!!, kamukan tau aku nggak ada pacar sekarang, ngejek nih?” balas Rika ketus, “Ha..ha, bercanda, maksudku siapa tahu disana kamu dapat kebetan” jawabku lagi sambil tertawa, “Ya sudah ah, kalo gitu aku nonton sendiri aja” lanjut Rika, “Eh, jangan sendirian dong, ntar nggak ada yang jadi “body guard” mu, mending ajak siapa tah, masa’ kamu nggak punya teman?” jawabku lagi, “Ya udah ntar ku ajak temanku deh, eh kalau temannya cowok kamu nggak cemburu kan?” lanjut Rika sedikit menggoda, “Ha..ha, cemburu?, emangnya kamu bisa dicemburuin gitu!” jawabku sambil tertawa mencoba menggodanya, “Awas yah, ya udah deh, hati-hati selama disana yah, bye..” lanjut Rika sambil mengakhiri pembicaraan. Setelah menutup HP, aku masih saja tersenyum-senyum geli, “Rika..Rika, lucu banget” bisikku sambil berlalu kembali memasuki ruang meeting.
Setelah beberapa hari berselang sejak aku berkeliling kota dengan Ajeng, aku merasakan sesuatu yang sepertinya itu rasa rindu. Oleh karenanya pada suatu malam, akupun nekat berkunjung ke rumahnya, mulanya aku mungkin terlihat agak kaku, namun setelah beberapa kali, aku sudah merasa santai dengan hal itu. Setiap pertemuan, kami membicarakan banyak hal, dari sisi pribadi hingga isue-isue nasional yang sedang berkembang saat itu. Ajeng bercerita tentang pengalamannya selama menjadi aktivis LSM dan lika-liku dia dari Jakarta sampai dia kembali ke Solo, begitu juga dengan aku, aku cerita tentang kisah-kisah yang aku alami. Kami terasa amat dekat, dan aku merasa seperti telah berteman lama dengan Ajeng. Dalam beberapa pertemuan terakhir, kami lewatkan waktu dengan berjalan ke mall, nonton bioskop dan makan, kami pun sering terlihat mesra, beberapa kali jemari Ajeng yang lentik itu memegang lembut lenganku, dan akupun menggandengnya dengan senang hati, namun kali ini, Ajeng tidak lagi menarik tangannya, tapi malah membalas pegangan jariku dengan erat. Entahlah, selama itu aku merasa amat bahagia, aku tak tau bagaimana dengan Ajeng, aku sih berharap kalau dia juga merasakan sesuatu yang sama denganku. “Jeng, kamu sudah punya pacar ?” tanyaku pada Ajeng dalam sebuah kesempatan, “Sekarang sih, aku nggak ada, sepertinya nggak akan ada yang mau dengan ku” jawab Ajeng pelan, “Wah, masa’ sih nggak ada yang mau sama cewek cantik kayak kamu gini” balasku sambil menoleh kearahnya, “Hmmm, gombal deh..” lanjut Ajeng. “Jeng, mungkin lusa besok, aku kembali ke Jakarta karena tugasku sudah selesai” kataku pada Ajeng dengan nada lemah, mendengar hal itu Ajeng diam sesaat, “Kapan kamu kemari lagi” kata Ajeng balik bertanya, “Entahlah Jeng, mungkin akan sangat lama” jawabku pelan, “Yah, kita nggak bisa jalan lagi ya Ray” lanjut Ajeng, “Kan kita bisa telpon-telponan, email-emailan, sms-an, atau surat-suratan. Jaman teknologi canggih begini semua bisa terasa dekat” kata ku sambil mencoba menghibur diriku sendiri yang sudah mulai merasakan kesepian saat itu.
Keesokan harinya, ketika aku sedang makan malam bersama para kontraktor dan manager cabang, termasuk Pak Arman, di sebuah mall, tiba-tiba saja pandanganku tertuju pada sebuah spanduk didalam restoran tempat kami makan malam. “Valentine day's eve: Makan berdua gratis satu” begitu kata-kata dalam spanduk tersebut. “Valentine day's..?” bisikku. Selepas makan malam, sewaktu aku dan rombongan berjalan berkeliling mall, aku lihat begitu banyak atribut berbau valentine day's dijual pada banyak counter. Seketika saja aku langsung terpikirkan tentang Ajeng, tiba-tiba pandanganku tergugah oleh sebuah counter disudut mall, aku pandangi sebuah bantal semi boneka berbentuk hati berwarna merah, bantal itu bertuliskan “Be Mine”. Entahlah, sepertinya kata-kata di bantal itu begitu mewakili perasaanku saat ini. Lalu, segera saja aku membelinya. Para kolegaku yang turut dalam rombongan ada yang bertanya-tanya perihal aku membeli bantal itu, namun aku hanya menjawab bahwa bantal itu untuk oleh-oleh adikku di Jakarta. Sebenarnya malam ini aku ingin sekali bersama Ajeng, karena malam ini adalah malam terakhir aku di Solo, mungkin saja adalah malam terakhir aku bisa bersama Ajeng, namun aku tak bisa menolak undangan para kontraktor dan manager-manager cabang itu untuk makan malam bersama sebagai acara perpisahan. Walau aku tertawa atau berbincang-bincang diacara itu, pikiranku tetap saja pada Ajeng. Sekembalinya aku di wisma, aku pandangi bantal tadi, kadang aku dekap dan kadang aku elus-elus. Mungkin saat itu aku terlihat seperti anak ABG yang sedang kasmaran, tapi aku tak perduli, karena aku juga berhak atas sesuatu yang indah dalam hidupku.
Keesokan paginya, aku bangun lebih awal, karena aku berencana ke rumah Ajeng untuk memberikan bantal yang kubeli tadi malam di hari valentine yang tepat jatuh pada hari ini. Karena terlihat terburu-buru, dan karena aku mesti berpacu dengan jadwal penerbangan ku ke Jakarta pada jam 10 pagi nanti, sejak jam 5 pagi aku sudah selesai mandi dan berkemas, kukumpulkan semua berkas dan pakaian. Pada pukul 7 pagi, aku langsung bergegas menuju rumah Ajeng, aku ingin pertemuanku pagi ini dengan Ajeng menjadi amat berkesan. Sesampainya dirumah Ajeng, seperti biasa, aku pandangi deretan tanaman hias dihalaman rumahnya, lalu setelah puas aku langsung menuju teras rumahnya, “Assalamualaikum..” sapaku sambil mengetuk pintu rumah Ajeng, “Walaikum salam..” terdengar suara ayahnya membalas salamku dari dalam rumah. Tak lama kemudian pintu rumahnya terbuka, ku lihat ayahnya menyambutku dengan senyum ramah. “Pagi pak, Ajengnya ada ?” tanyaku pada ayahnya, “Ajeng..?, Ajeng tadi pagi selesai shalat subuh pergi bersama teman-teman satu LSMnya, katanya ada urusan” jawab ayahnya sambil mempersilahkanku masuk dan duduk. Mendengar penjelasan ayah Ajeng itu, aku langsung merasa lemas, hatiku juga terasa sedih, “Ya ampun, sial banget, inikan kesempatan terakhir untuk berbagi waktu dengan Ajeng” bisikku dalam hati, “Kenapa juga dia nggak ada HP” lanjutku berbisik.
Tak lama kemudian aku memutuskan untuk kembali saja ke wismaku, sebelum berpamitan, aku titipkan bungkusan kado berisi bantal berbentuk hati yang semalam aku beli kepada ayahnya: “Pak, saya titip ini saja untuk Ajeng, dan mohon sampaikan salam saya” kataku sambil menyerahkan bungkusan kado pada ayahnya, “Baik nak, nanti bapak berikan pada Ajeng” jawab ayahnya, “Kalau begitu saya pamit dulu pak, Assalamualaikum” lanjutku sambil melangkah meninggalkan rumah Ajeng. Sepanjang jalan dari rumah Ajeng aku merasa amat lemas, aku seperti berat untuk kembali ke Jakarta. Entahlah, rasa rindu ini sepeti amat besar menggelayut di hatiku, terlebih pagi ini aku tak bisa menjumpainya. Sesampainya di wisma, aku melihat mobil yang akan mengantarku ke bandara sudah siap, dan juga ada Pak Arman disana. “Ada apa Pak Araya, kok kelihatannya lesu, apa bapak sakit” tanya Pak Arman sambil berjalan mendekatiku, “Ah, tidak apa-apa pak, mungkin hanya kelelahan saja” jawabku lemah, “Kalau semuanya sudah siap, kita langsung berangkat saja, nanti terlambat. Sebentar yah, saya ambil barang-barang saya dulu dikamar” lanjutku sambil melangkah menuju kamar. Sepanjang perjalanan menuju bandara aku merasa amat sunyi, kupandangi deretan-deretan gedung sepanjang jalan, orang-orang yang ramai berlalu-lalang dengan pandangan kosong. Aku begitu amat ingin bertemu Ajeng, ingin sekali rasanya kuucapkan sedikit kata-kata terima kasihku, atau mungkin kata-kata ungkapan hatiku.
Setibanya dibandara, suasana begitu ramai sekali, maklum hari ini adalah akhir pekan. Jadwal penerbanganku tinggal setengah jam lagi, selesai “check in” aku menemui Pak Arman di lobby, “Pak Arman, terima kasih. Saya langsung kedalam saja, sepertinya sebentar lagi akan boarding” kataku pada Pak Arman, “Kalau begitu, selamat jalan Pak Araya, sampai jumpa lagi” jawab Pak Arman sambil menyalamiku. Tak lama kemudian Pak Arman melangkah keluar ruang lobby meninggalkanku diikuti oleh supir perusahaan, untuk beberapa saat aku hanya berdiri mematung sambil memandangi Pak Arman sampai bayangannya menghilang disebuah persimpangan gedung. Kemudian aku mulai melangkah untuk menuju pesawat. “Rayyyy…..”, tiba-tiba aku dikejutkan oleh suara lembut yang memanggil namaku dari arah belakang, sepertinya aku mengenal suara ini. Lalu dengan sekejap aku balikkan tubuhku dan..: “Ajeng…” kataku pelan sepertinya tak percaya. Aku hanya mematung memandangi kedatangan Ajeng, dia melangkah mendekatiku, “Ray, maaf yah tadi kamu kerumah aku nggak ada, aku sedang ada perlu dengan temanku” kata Ajeng pelan, “Nggak apa-apa, aku malah seneng kamu kesini” jawabku,”Oh iya, terima kasih kadonya Ray, Happy Valentine too” lanjut Ajeng sambil menunjukkan bantal hati yang ia dekap didadanya. Seketika aku merasa amat bahagia dan damai melihat bantal itu didekapnya, “Kamu senang dengan bantal itu?” kataku, “Iya, lucu dan manis banget” jawab Ajeng sambil terus mendekap bantal itu. Sesaat kemudian kamipun melangkah bersama, semakin dekat langkah kami ke pintu masuk, semakin berat langkah kaki ini terasa. “Jeng” bisikku padanya, “Ya Ray..ada apa” jawabnya,”Hmm…do you ?” lanjutku, “Apaan Ray?” kata Ajeng balik bertanya, “Ya seperti kata-kata di bantal itu” kataku lagi, “Be mine...please..” bisikku lagi ditelinga Ajeng yang mungil itu, kemudian, Ajeng hanya berdiri mematung, lalu aku kecup saja pipinya yang licin itu, “Ray….apa-apa sih!” kata Ajeng cemberut. Aku hanya bisa menganggat bahuku mendengar respon Ajeng itu, pikirku Ajeng tak punya perasaan yang sama kepadaku, “mati dah” bisikku dalam hati. Namun tiba-tiba Ajeng memelukku, dia rangkulkan kedua tangannya dipinggangku dan berbisik: “Hatiku sudah menjadi milikmu sebelum kamu berikan bantal hati ini”. Ya ampun betapa aku merasa bergetar mendengarnya, jantungku berdebar kencang dan seluruh bandara terasa dipenuhi dengan mawar yang wangi.
Ditengah larut pelukan bahagia itu, kami dikejutkan oleh pengumuman pihak bandara bahwa penerbangan ke Jakarta akan segera berangkat. “Ajeng, sepertinya aku harus pergi dulu” kataku sambil memandang wajahnya penuh kerinduan, “Hati-hati dijalan Ray, jangan lupain aku yah” jawab Ajeng dengan mata berkaca-kaca. Melihat matanya itu, akupun mulai berusaha menahan air mata agar tak menetes, aku harus tegar agar Ajeng tak tambah sedih, entahlah kenapa kepergianku ke Jakarta ini seperti sebuah perpisahan yang begitu memilukan. “Aku tak akan lupa sama kamu Jeng, aku sayang kamu” bisikku sambil kembali kukecup pipinya. Tibalah saatnya aku harus berangkat, kupandangi wajahnya dan berat sekali melepas genggaman tangannya. Aku mulai melangkah meninggalkannya menuju pesawat, tapi tiba-tiba aku berbalik dan berlari kearahnya, “Ada apa Ray” tanya Ajeng heran, “Jeng, kamu beli HP yah biar aku mudah menghubungimu, ini nomor HPku” kataku tergesa-gesa, “Iya, sepulang dari sini aku langsung beli deh” jawab Ajeng sambil tersenyum, “Oke, bye honey” kataku sambil lagi-lagi mengecup pipinya, kali ini kedua pipinya kucium, dan aku berlari menuju pesawat.
Hari itu begitu indah, setidaknya kenangan amat indah ada disana, kenangan itu terukir disetiap sudut bandara dan tercetak disetiap jengkal jalan kota Solo. Semenjak kembalinya aku ke Jakarta, aku menjalin hubungan dengan Ajeng banyak melalui sms dan telpon, selama hampir seminggu penuh semenjak aku tiba kembali ke Jakarta, tak pernah aku lewatkan seharipun tanpa menelepon Ajeng, kami memang sedang kasmaran pada masa itu. Hingga pada suatu hari, sekitar tepat seminggu setelah perpisahan dengan Ajeng, tiba-tiba saja aku kehilangan kontak dengan Ajeng. Hpnya tak bisa dihubungi, bahkan setelah dua hari. Aku jadi gusar, entah karena aku rindu atau aku khawatir, semuanya jadi satu. Sampai pada suatu hari aku membaca berita disebuah surat kabar tentang hilangnya beberapa aktivis LSM di Jawa Tengah. Entahlah, setelah membaca berita itu pikiranku langsung ke Ajeng, kemudian aku langsung pesan tiket dan terbang ke Solo secepat mungkin. Ya Tuhan, betapa dunia ini penuh dengan halilintar menyambar-nyambar, dan gemuruh tak henti-hentinya ketika ayahnya bercerita bahwa Ajeng adalah salah satu dari aktivis yang hilang, saat itu aku langsung lemas, tak tahu harus bagaimana, “Bungaku hilang…..bungaku hilang!!!” jeritku dalam hati.
Hingga sampai setahun setengah aku tak tahu kabar dari Ajeng, entah dia masih hidup atau sudah mati, tidak ada yang tahu, bahkan beberapa LSM di Solo malah pesimis kalau para aktivis masih hidup. Akhirnya tibalah saatnya proyek supermall perusahaanku selesai dan tiba waktunya diresmikan, beberapa hari menjelang diresmikan aku mendatangi ayahku di ruang kerjanya, aku memohon pada ayahku agar mau menamakan supermall itu dengan nama “mawar”, namanya “Mawar Supermall”, kuambil dari nama Ajeng Mawar. Namun aku tak bisa menjawab alasanku menamakan supermall itu pada ayahku, aku tak ingin banyak orang tahu tentang perjalanan cintaku dengan Ajeng. Akhirnya ayahku bersedia menerima permohonanku, tapi dengan satu syarat aku bersedia dijodohkan dengan Rika. Karena merasa tertekan dan putus asa akhirnya aku terima syarat ayahku itu. Aku bahagia akhirnya “Mawar Supermall” diresmikan, aku sendiri yang hadir dan dengan restu ayahku pula, aku yang menandatangani prasasti peresmian mall itu. “Ajeng, kalau saja kamu ada saat ini, lihatlah betapa megahnya gedung ini, ia menjulang tinggi ke angkasa, berdiri kokoh di kotamu. Inilah menara cintaku padamu, kupersembahkan layaknya Taj Mahal yg dibangun seorang raja untuk permaisurinya. Kamu akan selalu kokoh ada dihatiku” bisikku dalam hati sambil memandang keatas gedung.
Selama dua tahun ini aku benar-benar merasa hampa, sampai detik inipun Ajeng tak ada kabar sama sekali, bahkan KOMNAS HAM pun sudah turun tangan mencari tahu keberadaan para aktivis yang hilang itu, termasuk bunga hatiku "Ajeng Mawar". Aku selalu berdoa agar Ajeng selalu dibawah lindungan-Nya. Dan, malam ini adalah malam terakhir aku melepas masa bujangku, besok adalah hari pernikahanku dengan Rika, walau aku tak mencintainya namun aku sudah berjanji pada ayahku, semua demi Ajeng. Ditengah kesunyian malam di halaman belakang rumahku, aku teringat semua kenangan manis bersama Ajeng, aku ingat rumah makan itu, dimana pertama kali aku ngobrol dengannya, aku juga ingat jalan-jalan kota Solo itu yang penuh dengan tawa kami malam itu, dan terlebih kecupan dibandara itu, bantal hati itu dan semuanya tentang Ajeng. Namun biarlah, akan aku taruh cintamu didalam ruang hatiku Jeng, akan kubaringkan engkau diatas bantal hati itu hangat dalam jiwaku. Tak terasa pipiku sudah basah dengan airmata yang aku tak tahu sejak kapan ia telah menetes, kenangan itu amat indah jeng. Malam inipun adalah malam valentine, “aku merayakan ini untukmu Jeng” bisikku sambil kuusap airmata dipipiku. Aku memang tak lama bersamamu, namun kamu akan selamanya dihatiku. “Ajeng, untuk yang terakhir sebelum kusimpan cinta ini, aku cinta kamu dan amat merindukanmu” bisikku sambil menatap bintang diangkasa dan diiringi derai air mata yang semakin deras. “Happy Valentine day's…Jeng”…..
Wednesday, June 30, 2004
Edisi Perdana
Selamat datang di CERPEN@ku
CERPEN@ku berisi cerpen-cerpen karya saya. Cerpen terbaru akan di posting setiap hari minggu, tapi maaf cerpen baru akan diposting mulai 4 Juli 2004. Melalui CERPEN@ku, saya hanya ingin menyalurkan hobby menulis, dan berharap bisa menghibur para pengunjung. Jika tak berkenan harap maklum. Terima kasih
Nantikan salah satu cerpen di bawah ini pada edisi perdana 4 Juli 2004, hanya di CERPEN@ku.
- Warna air mata
- Jangan panggil aku PKI
- Maafkan aku kau kucium
- Menghadang matahari
- Mawar
- Putri menari
- Impian dalam kotak pensil
- Dll
Juga nantikan proyek novel saya dengan judul: Ada malamku dibahumu
Regards,
Aes Okta Pratama
CERPEN@ku berisi cerpen-cerpen karya saya. Cerpen terbaru akan di posting setiap hari minggu, tapi maaf cerpen baru akan diposting mulai 4 Juli 2004. Melalui CERPEN@ku, saya hanya ingin menyalurkan hobby menulis, dan berharap bisa menghibur para pengunjung. Jika tak berkenan harap maklum. Terima kasih
Nantikan salah satu cerpen di bawah ini pada edisi perdana 4 Juli 2004, hanya di CERPEN@ku.
- Warna air mata
- Jangan panggil aku PKI
- Maafkan aku kau kucium
- Menghadang matahari
- Mawar
- Putri menari
- Impian dalam kotak pensil
- Dll
Juga nantikan proyek novel saya dengan judul: Ada malamku dibahumu
Regards,
Aes Okta Pratama
Subscribe to:
Posts (Atom)