Sunday, September 21, 2008

Died In Your Arms Tonight

Ini juga untuk 2009...hehehe

Friday, September 19, 2008

Rindu Tiada Akhir

"Aku rindu akan dirimu bagaikan waktu yang terus berputar tak ada hentinya. Memandang mu bukanlah sebuah cara membunuh sedikit rindu itu tetapi semakin membuat rindu itu makin kuat menyeruak masuk ke ruang-ruang hati terdalam".

Itu sedikit penggalan tulisan untuk tahun 2009, semoga sempet nulisnya, kalo kerjaan juga nggak banyak. Huhhhh!!!

Met Puasa ye n met idul fitri. Mohon maaf lahir dan batin

Saturday, October 06, 2007

Jangan Biarkan Aku Kehilangan Mu - Bagian 1

Ales Oktapratama. Jakarta, October 7, 2007

Malam ini malam minggu, Adi hanya terdiam bersendirian di dalam kamar, menonton acara-acara televise yang rasanya sangat membosankan. Dia ngemil, makan begitu lumayan banyak makanan sampai merasa begitu kenyang. Di lihatnya tumpukan buku, begitu banyak dan beberapa diantaranya belum sempat dibacanya, sayangnya Adi sama sekali tak ada gairah untuk menyentuh mereka, Adi merasa sepi, pikirannya tak disina bersamanya.

Menjelang tengah malam, Adi masih seperti itu, terpaku sendiri dalam kamar. Adi begitu merindukan seseorang, seseorang yang begitu berarti baginya, tapi dia tak bisa bersamanya malam ini. Dia coba menghidupkan computer, membuka file-file bergambar dirinya, gambar mereka berdua, semuanya penuh dengan senyum, cermin kebahagiaan yang mereka miliki.

Tiba-tiba handphonenya berdering, sebuah pesan masuk. Dilihatnya sejenak, ternyata pesan dari Ratih.
“Sayang, ibu ku meminta ku untuk melupakan kamu, katanya hubungan ini tidak benar” begitu tulis Ratih dalam pesan singkatnya.

Adi memejamkan matanya, keningnya mengerenyit dan tampak gusar. Sesaat Adi terpaku memandangi terus pesan singkat dari Ratih, dia bingung ingin membalas apa, dia seperti kehabisan kata-kata.
“Sayang ku, katakan pada mereka bahwa cinta ku bukanlah sekedar saja, kamu begitu aku butuhkan dan aku mencintai mu dengan sepenuh hati dan hidup ku”. Akhirnya kata-kata itulah yang mampu Adi rangkai menjawab pesan singkat Ratih.

Hubungan mereka memang bukanlah sebuah hubungan yang normal, sebagian orang akan menganggap mereka ini gila, melanggar norma masyarakat umum bahkan mungkin akan ada yang bilang ini sebuah hubungan yang berlandaskan kesenangan sesaat. Tapi, lepas dari itu semua, yang mereka rasakan sesungguhnya adalah sebuah hubungan antar anak manusia yang indah bagi yang merasakannya. Adi mencintai Ratih sebagai sosok manusia yang pantas memperoleh banyak cinta, banyak kebahagiaan, banyak manja, banyak perhatian, banyak kasih sayang dan banyak perlakuan istimewa.

Mereka bertemu sekitar setahun yang lalu di sebuah acara. Awal perkenalan mereka tidak ada sesuatu yang istimewa, semua berjalan normal dan apa adanya. Sejak pertama bertemu, Adi memang sudah menyadari adanya kelebihan yang Ratih miliki, pesona yang dimiliki Ratih bisa membuat banyak pria tertunduk menyembahnya, senyumnya bisa membuat banyak lelaki berlari mengejar bayangannya dan keanggunannya bisa membuat dunia ini cerah secerah pagi bermandi sinaran mentari.

Kemudian berlanjut, berselang beberapa waktu setelah acara itu, mereka memang sering jalan bareng, mereka pun awalnya tak pernah mengira kalau semua berawal dari sana. Lama kelamaan, mereka pun tak sanggup lagi memendam rasa yang sudah mulai tumbuh sejak perkenalan pertama, hasrat untuk menyampaikan betapa mereka saling mencintai amat kuat. Akhirnya, suatu malam mereka mengatakannya, malam itu pula untuk pertama kalinya Adi menyentuh bibir Ratih yang merah merona.
"Sungguh manis rasanya bibir mu, terasa hangat hingga ke penjuru jiwa ku" bisik Adi sesaat setelah mengecup bibir Ratih.
Ratih hanya tersenyum kecil, tak bergeming, hanya melempar pandangan, yang tanpa disadari Adi, bentangan jaring cinta mulai terkembang mengikat mereka, untuk selamanya.
Sejak malam itulah mereka menjadi pasangan kekasih dengan nyala bara api rindu yang berkobar-kobar yang tak akan padam seumur hidup.

Mereka lalui banyak hari indah bersama, lewati banyak malam syahdu berdua. Inilah kisah perjalanan cinta yang belum pernah Adi alami sebelumnya, perjalanan yang penuh dengan arti dan rasa. Walau ada kalanya mereka bertengkar, tapi itu hanyalah sebuah letupan kecil dari bara api cinta yang mereka punya, mereka tetap menikmatinya dan tak akan pernah ingin mengakhiri hubungan indah ini sampai kapan pun.

Walau merekai begitu menikmati hubungan ini, tapi di hati kecil mereka selalu terbesit sebuah masalah yang tak akan pernah bisa di tutup-tutupi atau dibiarkan ,karena masalah itu adalah bawaan yang sejak awal sudah disadari, dia ada sejak pertama mereka menjalin kasih, dia ada sejak hati mereka berdegup untuk pertama kali ketika bibir mereka saling bersentuhan. Bagi Adi, Ratih adalah wanita teristimewa, tetapi Ratih juga adalah bukan wanita seperti pada umumnya. Ratih tetaplah Ratih yang dicintai Adi sepenuh hati.

Handphone disaku Adi terdengar berdering, sebuah pesan singkat dari Ratih datang lagi.
“Sayang, bantu aku meyakinkan mereka bahwa kita saling mencintai, bahwa kamu begitu mencintai ku”.
Lagi-lagi Adi terdiam membacanya, dia bingung ingin membalas apa.
"Harus kah aku datang kepada mereka dan mengatakan semuanya, mengatakan bahwa aku mencintainya ?. Tapi aku sadar itu tidak benar, tak akan menjadi solusi, malah akan menimbulkan masalah baru" bisik Adi dalam hati
“Katakan kepada mereka, aku mencintai kamu, aku tidak main-main” tulis Adi dalam dalam balasan pesan singkatnya.

Selepas mengirimkan pesan, dia pandangi seisi kamarnya, matanya tertuju pada sebuah kertas warna-warni, bentuknya kecil, lucu dan indah. “Happy birthday” begitulah tulisan di kertas itu. Itu adalah kartu ucapan ulang tahun dari Ratih sebulan lalu. Adi bangkit dari duduknya dan meraih kartu itu, dan dibacanya lagi pesan yang tertulis didalamnya. Tak terasa, matanya sudah basah, tak terasa pula beberapa bulir air mata sudah menetes membasahi pipinya. Dia teringat betapa indahnya hari ulang tahunnya tahun ini, hari ulang tahun terindah yang pernah ada dalam hidupnya, ulang tahun yang dihiasi dengan sebuah kue besar dengan lilin diatasnya yang Ratih bawakan saat pagi ketika Adi pun belum terjaga dari tidurnya.

Ia berpikir apakah semua harus berakhir disini, apakah ini adalah ujung dari kebahagiaan kami berdua?.
"Aku sungguh tak ingin, sungguh tak rela bila semua ini berakhir" jerit Adi dalam hatinya.
Adi jadi termenung, teringat lagi semua kejadian indah yang mereka alami, saat mereka nonton, makan di tempat-tempat istimewa, berbelanja bersama, atau hanya sekedar nongkrong di tempat dengan suasana yang luar biasa. Semua itu terukir diatas hati dengan tinta emas yang tak akan pernah lekang oleh waktu sampai ajal tiba.
“Sayang, jangan biarin aku kehilangan kamu, wanita yang amat istimewa dan begitu aku butuhkan, aku mencintai kamu selalu dengan sepenuh hati dan hidup”
Begitulah tulis Adi dalam pesan singkatnya untuk Ratih. Selang beberapa lama tidak ada balasan dari Ratih. Adi berharap bahwa semuanya baik-baik saja.
"Aku selalu bahagia bersamanya, dan akan selalu seperti itu, tak pernah berubah sampai kapan pun" ujar Adi dengan gambar Ratih di genggamannya.
Ia lalu roboh terbaring diatas tempat tidurnya.

SEKIAN
__________________________________________________________
Cinta bukanlah tentang benar atau tidak benar, tetapi cinta adalah tentang rasa, dan rasa itu adalah tentang kebahagiaan, dan kebahagiaan itu adalah yang manusia cari di dunia dan akhirat.
__________________________________________________________

Thursday, September 20, 2007

Jakarta - Solo, ku bentangkan cinta itu

Ales Oktapratama - 2007
____________________________________________________
Cerpen ini adalah versi baru dari cerpen terdahulu yang berjudul "Mawar Ku". Saya sedang senang-senangnya merombak cerita-cerita yang pernah saya buat. Semoga masih bisa menjadi teman dalam mengisi sisi hampa anda sekalian.
____________________________________________________

Sekitar setengah jam yang lalu aku tiba di stasiun ini, Stasiun Balapan Solo. Sejak tiba hingga kini aku begitu menikmati suasana distasiun ini, kulihat beberapa orang muda sibuk membersihkan lantai dan juga terlihat beberapa orang tertidur dilantai dekat dengan ruang tunggu. Aku begitu senang bisa tiba di kota ini, Solo, kota yang baru kali pertama ini aku singgahi. Suasana yang segar, walau sedikit dingin, membuat aku tambah menikmati suasana di stasiun ini. Di ruang tunggu, aku melihat masih ada beberapa orang yang duduk dan berusaha menahan kantuk sambil menunggu jemputan mereka tiba.

“Pak Araya !”, tiba-tiba saja aku dikejutkan oleh tepukan pelan dibahuku.
Seketika itu juga aku berusaha membalikkan badan untuk mencari tahu siapa yang menepukku,
“Pak Arman!, saya pikir siapa” kataku sambil berdiri dan mengusap kedua mataku.
Ternyata aku secara tak sadar telah tertidur di ruang tunggu itu.
“Sudah lama menunggu ?” tanya Pak Arman kepadaku,
“Nggak juga, sekitar 1 jam yang lalu” jawab ku sambil berusaha untuk mengangkat barang bawaan ku,
“Wah, maaf kalau terlalu lama menunggu” lanjut Pak Arman merasa bersalah,
“Ah, nggak apa-apa, sepertinya memang kereta saya tadi tiba terlalu cepat” jawabku sambil menepuk pundaknya.

Kemudian kami pun pergi meninggalkan stasiun menuju ke sebuah wisma milik perusahaan. Pak Arman adalah kepala cabang perusahaan di Solo sekaligus rekan kerjaku, aku dikirim ke Solo untuk melakukan peninjauan atas proyek baru di Solo, sebuah mega proyek untuk membangun supermall disana. Aku ditugaskan untuk melakukan peninjauan atas pembebasan tanah dan segala keperluan untuk proyek tersebut. Dan Pak Arman ditunjuk sebagai kepala proyek itu.

“Kota ini bagus ya pak” tanya ku sambil melihat-lihat dari dalam mobil,
“Iya pak, loh Pak Araya belum pernah kemari toh” jawab Pak Arman balik bertanya,
“Belum pak, baru kali ini aku lihat Solo” jawabku pelan.

Tak lama kemudian kami tiba di wisma yang kami tuju. Sebuah wisma yang tampak sederhana tetapi asri dan terawat baik. Setibanya, aku langsung saja menuju ke kamar yang sudah disediakan untuk ku di pandu oleh Pak Arman.

“Kalau perlu sesuatu, Pak Araya bisa menghubungi resepsionis” kata Pak Arman,
“Oh iya, terima kasih banyak Pak Arman”
“Kalau begitu saya pamit ingin pulang dulu, soalnya saya janji dengan anak saya untuk mengantarnya berenang pagi ini” lanjut Pak Arman,
“Silahkan pak, sampai ketemu besok” jawabku sambil menyalaminya.

Setelah kepergian Pak Arman, tiba-tiba saja aku merasa sangat lelah dan ngantuk. Rasanya mata ini ingin mejam saja. Tapi aku tetap paksakan untuk mandi terleih dulu. Setelah mandi dan membereskan barang bawaan, aku langsung tidur dan tak terasa aku terbangun menjelang sore hari. Tubuhku terasa lemas, mungkin karena terlalu lama tidur. Menjelang malam, setelah aku mandi, aku sempatkan untuk keluar untuk mengenali kota Solo dan menikmati suasana kota ini. Sungguh kota yang indah, aku sengaja berjalan kaki dari wisma tetapi tak tau tujuannya kemana. Aku hanya mengikuti langkah kaki sambil tengok kanan-kiri menikmati indahnya temaram kota Solo. Aku pikir inilah waktu untuk sedikit santai, karenan besok mungkin tak ada waktu luang karena pekerjaan sudah menunggu.

Keesokan harinya, seperti dugaan ku, aku sibuk sekali. Berbagai meeting harus aku hadiri. Ditengah suasana meeting, tiba-tiba saja aku dan beberapa anggota meeting lainnya dikejutkan oleh suara-suara gaduh dan keributan yang berasal dari halaman depan kantor cabang Solo. Tak lama kemudian dengan tergopoh-gopoh, satpam perusahaan datang:
“Pak Arman, ada demo di depan” ujar sang satpam dengan nafas tersengal,
“Demo ?” bisik aku dan beberapa peserta meeting lainnya penuh keheranan.
Pak Arman tampak terkejut.
“Kamu jaga pintu masuk kantor dan perintahkan seluruh satpam untuk berjaga” perintah Pak Arman

Sesaat kemudian kami keluar dari ruang meeting menuju ke ruang depan untuk melihat aksi demo itu dari dalam kantor. Aku lihat ada sekitar seratusan orang membawa spanduk-spanduk bertuliskan penolakan mereka terhadap rencana pembebasan tanah oleh perusahaan. Aku mengerenyitkan kening ku mencoba berpikir apa yang sedang terjadi.,
“Pak Arman, ada masalah apa dengan pembebasan tanah kita ?” tanya ku pada Pak Arman sambil terus mengamati suasana diluar,
“Eee, bukan masalah serius kok pak, hanya masalah beberapa kepala keluarga yang menolak dibebaskan tanahnya”
“Tapi, dari pengamatan saya, masalah ini sepertinya serius. Coba kita bicara dengan mereka, biarkan 2 atau 3 orang perwakilan dari mereka masuk untuk kita ajak bicara” pintaku pada Pak Arman,
“Ya pak, sepertinya itu adalah jalan terbaik saat ini".

Kemudian Pak Arman tampak menghampiri beberapa satpam dan berjalan keluar ruangan menuju halaman kantor menemui demonstran.

Tak lama kemudian, datanglah tiga orang perwakilan dari pendemo memasuki kantor. Mereka ditemani oleh Pak Arman,
“Mari kita bicara di ruang meeting saja” ajak Pak Arman pada ketiga perwakilan tersebut.
Sedangkan aku bersama beberapa orang manager mengikuti dari belakang. Sesampainya di ruang meeting, kamipun mulai melakukan pembicaraan. Pembicaraanpun dimulai oleh kata-kata bernada tinggi dari salah seorang perwakilan, “Pak Arman!, kami meminta pada pihak perusahaan agar tidak melakukan intimidasi pada penduduk, beberapa penduduk melapor bahwa mereka menerima tekanan dari pihak tak dikenal” kata salah seorang perwakilan,
“Wah, anda jangan menuduh seperti itu, kami tidak pernah melakukan tindakan-tindakan seperti yang anda katakan, kami selalu menghormati hukum yang berlaku” jawab Pak Arman diplomatis.
Ditengah riuh rendah perdebatan, aku berinisiatif menengahi:
“Maaf sebelumnya, sebenarnya apa yang membuat anda-anda menolak pembebasan tanah itu” tanya ku pada ketiga perwakilan itu,
“Loh, anda ini siapa lagi, apa anda tidak pernah dengar tentang masalah ini” jawab salah seorang perwakilan dengan keras,
“Oh iya, ini Pak Araya, utusan dari kantor pusat” sela Pak Arman memperkenalkan diriku.
“Ooo, baguslah kalau begitu, biar anda tahu bahwa kami menolak disemena-menakan”, “Pemberian ganti rugi yang tidak manusaiwi adalah melanggar hak asasi manusia” lanjut salah satu perwakilan kepadaku.
“Maaf, boleh saya tahu nama anda” tanyaku pada salah seorang perwakilan itu yang terlihat paling sering bersuara,
“Nama saya Ajeng, lengkapnya Ajeng Mawar. Kenapa ?, apa bapak mau menculik saya” jawabnya sedikit sinis.
Aku hanya tersenyum kecil mendengar ucapannya.
“Wah, sudah tidak jamannya lagi main culik di negeri ini Nona, saya cuma butuh informasi saja”,
“Apakah anda salah satu dari penduduk itu” tanya ku lagi,
“Bukan, saya dari LSM, saya coba membantu masyarakat yang mendapat perlakuan tak adil” jawabnya.
“Oke, begini saja, saya besok akan ke lokasi, saya akan lakukan pembicaraan langsung dengan penduduk, dan saya harap anda bisa ikut” pinta ku sambil menutup buku agendaku.

Tak lama setelah itu, akhirnya pembicaraan pagi itupun berakhir dengan damai, walau belum menemukan kesepakatan, setidaknya ada peluang untuk diselesaikan dengan baik.

Setelah semua pendemo membubarkan diri, aku mengadakan pembicaraan dengan Pak Arman tentang masalah tersebut. Aku mendapat banyak informasi tentang duduk masalah sebenarnya.

Keesokan harinya, aku pun berangkat menuju lokasi ditemani oleh Pak Arman. Di lokasi kami sudah ditunggu oleh Ajeng Mawar dan beberapa rekannya disebuah rumah yang lumayan bagus. Melihat kedatangan kami, Ajeng Mawar langsung menghampiri kami dan langsung mengajak kami mendatangi beberapa rumah untuk mencari tahu masalah sebenarnya dan apa sesungguhnya yang mereka mau.

Dari beberapa pembicaraan dengan warga aku mengetahui bahwa tawaran harga tanah yang diajukan adalah jauh lebih rendah dari harga tanah yang diinformasikan cabang Solo ke kantor pusat. Mengetahui hal itu, aku mulai berpikir ada sesuatu yang tak beres,

“Pantas, Pak Arman sepertinya tidak begitu bersemangat ketika aku mengusulkan untuk mengunjungi lokasi” bisik ku dalam hati.

Sepanjang kami berkeliling lokasi mengunjungi beberapa warga, aku banyak membicarakan hal-hal detail dengan Ajeng Mawar. Tampak oleh ku keteguhan hati dan semangatnya yang tinggi untuk membela rakyat kecil.
“Ternyata masih ada wanita seperti ini, dia cantik, pintar dan ikhlas” bisikku dalam hati pada suatu kesempatan ketika berbincang dengannya.

Selesai dari mengunjungi lokasi, aku merasa sangat lelah dan kepala ku terasa pusing. Sepertinya masalah pembebasan tanah itu membuat aku banyak berpikir. Setibanya di kantor dari lokasi pembebasan tanah, tak lama aku pulang. Setibanya di rumah pun ternyata aku tidak bisa juga beristirahat karena harus menyelesaikan laporan hasil peninjauanku.

Malam harinya, aku kembali keluar wisma untuk menikmati suasana kota Solo dimalam hari. Aku telusuri jalan-jalan utama yang ramai dan diterangi lampu jalan yang remang-remang, terasa romantis dengan berjalan kaki. Setelah cukup lama berjalan, aku sampai di depan sebuah rumah makan, rumah makan itu terlihat sederhana dan tampak ramai. Karena kebetulan aku juga sudah lapar dan berasumsi kalau rumah makan ramai berarti makanannya enak, maka akupun mampir ke rumah makan itu. Setelah memesan beberapa makanan, aku mencari meja yang dekat dengan ruang terbuka, maksudnya agar aku bisa menikmati pemandangan diluar sana sambil makan.

Ketika aku sedang asyik memandangi suasana diluar sambil menunggu pesananku datang, aku dikejutkan oleh suara lembut wanita menyapaku:
“Pak Araya?” sapa suara lembut itu,
Aku langsung menolehkan wajahku, dan aku tiba-tiba saja menjadi gugup:
“Loh!, Ajeng Mawar kan ?”
“Iya, wah kok melamun gitu pak ?”
“Ah ndak kok, sedang menikmati pemandangan malam saja”.
“Kamu datang dengan siapa?” tanya ku,
“Sendirian aja, kebetulan saya tinggal tepat disebelah jalan rumah makan ini, jadi setiap malam saya membeli makanan disini” jawab Ajeng Mawar penuh senyum,
“Wah, kebetulan kalau begitu, gabung dimeja saya saja, kan lumayan ada teman” pintaku sambil menarik kursi didepanku,
“Saya tadi pesan makanannya dibungkus” jawab Ajeng Mawar,
Mendengar jawaban Ajeng Mawar itu, aku langsung memanggil pelayan rumah makan itu dengan lambaian tanganku,
“Ada yang bisa saya bantu pak” tanya pelayan itu,
“Tolong, agar pesanan ibu ini yang tadi dibungkus dibatalkan, dia makan disini saja”
“Waduh, Pak Araya, kan saya belum bilang bersedia atau tidak untuk menemani bapak makan” tanya Ajeng Mawar bingung,
“Nggak apa-apa kan sesekali melanggar hak asasi orang” jawabku sambil bercanda.
Ajeng Mawar tampak tersenyum merespon kata-kata ku itu.

Akhirnya malam itu kamipun makan bersama. Sambil makan kami bicarakan banyak hal, tapi yang pasti aku menolak membicarakan masalah pekerjaan, apalagi yang berkait dengan permasalahan pembebasan tanah itu. Dibalik kevokalannya, ternyata Ajeng Mawar adalah wanita yang lembut dan romantis, pengetahuannya juga luas, aku jadi begitu kagum dengannya, belum lagi malam itu ia menggunakan pakaian yang sangat serasi dengan wajahnya yang memang cantik. Pembicaraan kami malam itu sangat mengasyikkan, aku juga tak tahu mengapa aku merasa seperti telah lama mengenalnya.

“Jeng, boleh kan saya panggil kamu Ajeng” pintaku,
“Ya nggak apa-apa lah pak, itu kan memang nama saya” jawabnya,
“Kamu juga jangan panggil saya pak dong, emang saya kelihatan sudah bapak-bapak”
“Panggil saja saya, Ray”
Ajeng tersenyum.
“Oke deh, Pak Araya, eh Ray”
“Ray ?, terlalu keren panggilannya” lanjut Ajeng meledek ku.

Pembicaraan kami terasa begitu akrab, derai tawa sering keluar dari mulut kami.
“Oh iya Jeng, kamu orang asli sini” tanya ku,
“Iya, tapi aku lahir dan besar di Jakarta, selepas kuliah aku kembali ke Solo untuk mengurus ayahku sepeninggalan ibuku” jawab Ajeng,
“Kalau begitu, kamu tahu banyak tentang kota ini” kataku sambil kutatap wajah manisnya
“Lumayan” jawabnya singkat,
Aku diam sejenak dan kemudian tersenyum.
“Kalo gitu..” bisik ku
“Kalo gitu apaan ?” tanya Ajeng panasaran
“Aku akan sangat berterima kasih kalau malam ini kamu mau menjadi pemanduku keliling kota ini, aku ingin sekali mengetahui kota ini” pinta ku,
“Memangnya kamu belum pernah kesini toh, kasian deh!” jawab Ajeng meledek.

Tak lama kemudian aku memanggil pelayan untuk meminta bill pembayaran,
“Punyaku biar aku yang bayar” kata Ajeng menyela,
“Jangan, biar sekalian saja, anggap saja tanda terima kasih karena kamu mau menjadi pemanduku malam ini” jawabku sambil memberikan beberapa lembar uang kepada pelayan,
“Waduh, terulang lagi nih, kapan aku bilang bersedia jadi pemandu kamu” jawab Ajeng heran,
“Loh, kamu kan diam saja, jadi aku anggap bersedianya, kan sekali-kali…....” ,
Apa ayo....sekali-kali melanggar hak asasi manusia nggak apa-apa gitu!” selang Ajeng sambil cemberut,
“Duh, segitu sewotnya, mau nggak nih ? tanya ku lagi,
“Iya deh, anggap saja menghormati tamu” jawabnya.
Aku tersenyum mendengar gumamannya itu
“Jeng..jeng, ternyata kamu ngegemesin juga” bisik ku dalam hati.

Malam itu kami telusuri setiap sudut kota Solo, sepanjang jalan kami tak pernah berhenti tertawa, entah karena dia berselera humor atau memang aku yang pintar bikin lelucon. Dan tak terasa waktu berjalan begitu cepat, waktu sudah hampir jam 12 malam,

“Ray, sepertinya kita mesti pulang deh, kalau tidak nanti ayahku bisa marah” kata Ajeng, “Oke deh, aku anter kamu yah” jawab ku,
“Nggak usah, biar pulang sendiri” jawab Ajeng menolak,
“Wah, jangan gitu dong, aku harus antar kamu, ini kan sudah malam, ya sekalian biar tahu rumahmu lah” kataku coba bernegosiasi,
“Rumahku jelek, ntar kamu malu” kata Ajeng merendah,
“Oh iya, kamu pasti anak yang punya perusahaan itu yah, soalnya kamu masih begitu muda tapi sudah pegang posisi penting” lanjut Ajeng,
“Hahaha, nggak juga”,
“Ayo deh, debat melulu, ntar malah tambah malem nyampe rumah” lanjutku sambil menarik tangannya.
Aku sungguh tak sadar telah menggandeng tangan Ajeng sewaktu mengajaknya berjalan pulang, sepertinya Ajengpun tak sadar bahwa tangannyapun terpaut ke lenganku. Namun tiba-tiba:
“Eh, sorry “ ujar Ajeng sambil menarik tangannya,
“Eh!, sama, sorry juga” jawabku tersentak.
Setelah kejadian itu kami saling berdiam diri, suasana tampak hening,
“Wah, apa si Ajeng marah yah, aduh, bego banget sih” bisikku dalam hati.


Tak lama kemudian kami sampai di depan sebuah rumah, rumah itu tampak sederhana dan asri, disekeliling halamannya kulihat banyak sekali tanaman hias yang tertata rapih. “Nah, ini rumah saya, masuk dulu deh, biar ayah saya tahu kalau saya tidak sendirian” kata Ajeng kepadaku sambil berjalan menuju teras rumahnya,
“Oh iya, terima kasih” jawabku,
“Tanaman-tanaman ini bagus, siapa yang memeliharanya” tanyaku lagi,
“Saya. Kebetulan saya hobby merawat tanaman” jawab Ajeng santai.

Selepas mengantarkan Ajeng pulang dan setelah bertemu dan sedikit beramah tamah dengan ayahnya, aku langsung pulang. Sepanjang jalan aku masih saja berpikir tentang Ajeng, dalam pikiranku kenapa dia begitu sempurna dimataku, selama aku beberapa kali menjalin hubungan dengan beberapa wanita, Ajeng sepertinya memberiku sebuah pemandangan baru tentang wanita dan arti kebutuhan hati.
“Mungkin aku mesti membuat laporan tersendiri tentang Ajeng, dan lapornya kemana ya ?” bisikku,
“Oh iya, lapor ke Tuhan kali ya, lapor kalo aku ketemu wanita yang sempurna” bisikku lagi sambil tersungging kecil.

Tak terasa berjalan aku sudah sampai digerbang wisma, aku langsung saja masuk dan menuju kamarku. Setelah berbaring sebentar diatas peraduan, aku langsung menuju meja kerja untuk melihat-lihat pekerjaanku, walau waktu sudah tengah malam aku masih belum merasakan kantuk. Aku lihat-lihat lagi tentang proyek supermall itu, dan juga masalah pembebasan tanah, kubalik-balik lembaran-lembaran dokumen dan notulen-notulen rapat, dan aku temukan sebuah copy kesepakatan dengan nama Ajeng disana, lalu aku kembali tersenyum kecil memandangi namanya, kupandangi dokumen itu agak lama, walau entah lama memandang dokumen itu karena isi kesepakatannya atau ada nama Ajeng-nya, aku benar-benar tidak tahu. Tak berselang lama, kantuk mulai menghampiri ku, lalu kubaringkan tubuh ini dengan perlahan dan mulai kupejamkan mata untuk menyambut mentari esok pagi yang pasti indah seindah suasana hati malam ini.

Selama penugasanku di Solo, waktuku banyak diisi oleh meeting dan meeting, entah dengan para manager cabang atau juga para kontraktor dan pemasok. Namun, ada sedikit yang berubah, semenjak terkuaknya masalah harga pembebasan tanah yang mengundang kontroversi, Pak Arman terlihat agak pendiam dan tak banyak bicara, mungkin hal itu mengganggu pikirannya, karena pasti setelah membaca laporan hasil tinjauanku, pejabat di kantor pusat akan memberinya sangsi. Tapi, ya sudahlah, aku tidak banyak memikirkan hal itu, aku hanya fokus pada pekerjaanku, lagi pula di Solo aku cuma punya waktu 2 bulan.

Hand phone ku berdering, secepatnya aku merespon telpon itu:
“Hallo, siapa ini?” sapa ku di telpon,
“Hai Ray, ini aku Rika, kamu kapan pulang ke Jakarta ?, oh iya, disana asyik dong ?” jawab si penelepon yang ternyata adalah Rika.

Rika adalah wanita yang disodor-sodorkan orang tuaku untuk dijodohkan denganku, orang tuaku menganggapku nggak pernah jelas menjalin hubungan dengan wanita,
“Bentar-bentar putus, ganti lagi!” begitu kata ibuku.
Tapi aku hanya menganggap Rika sebagai teman saja, padahal mungkin dia juga begitu, akunya saja yang GR kali.
“Oh kamu Rika, disini enak kok, kotanya bagus. Aku mungkin pulang tiga minggu lagi” jawabku pada Rika,
“Yah!, lama amat, padahal aku mau ajak kamu nonton konsernya TOTO minggu depan” lanjut Rika sedikit kecewa,
“Iya nih, abisnya kerjaanku belum selesai, kamu aja yang nonton bareng temanmu atau pacarmu” jawabku,
“Hah!, pacar!!, kamukan tau aku nggak ada pacar sekarang, ngejek nih?” balas Rika ketus,
“Hahaha, bercanda, maksudku siapa tahu disana kamu dapat kebetan” jawabku lagi sambil tertawa,
“Aku kan maunya pacaran sama kamu, Ray”
“Ya sudah ah, kalo gitu aku nonton sendiri aja” lanjut Rika,
“Eh, jangan sendirian dong, ntar nggak ada yang jadi “body guard” mu, mending ajak siapa lah, masa’ kamu nggak punya teman?” jawabku lagi,
“Ya udah ntar ku ajak temanku deh, eh kalau temannya cowok kamu nggak cemburu kan?” lanjut Rika mengoda,
“Hahaha, cemburu?, emangnya kamu bisa dicemburuin gitu!” jawabku sambil tertawa balik menggodanya,
“Awas ya!, ya udah deh, hati-hati selama disana ya, bye!” lanjut Rika sambil mengakhiri pembicaraan.
Setelah menutup HP, aku masih saja tersenyum-senyum geli,
“Rika..Rika, lucu banget” bisikku sambil berlalu kembali memasuki ruang meeting.

Setelah beberapa hari berselang sejak aku berkeliling kota dengan Ajeng, aku merasakan sesuat, mungkin kangen ya. Makanya, aku nekat saja berkunjung ke rumahnya dan beruntungnya Ajeng selalu ada di rumah. Mulanya sih aku terlihat agak kaku, tapi setelah beberapa kali, aku sudah merasa santai dengan hal itu. Setiap ketemu, kami membicarakan banyak hal, dari sisi pribadi hingga isue-isue nasional yang sedang berkembang saat itu.

Ajeng bercerita tentang pengalamannya selama menjadi aktivis LSM dan lika-liku dia dari Jakarta sampai dia kembali ke Solo, begitu juga dengan aku, aku cerita tentang kisah-kisah yang aku alami, pastinya nggak cerita tentang pacar-pacar ku yang dulu lah. Kami terasa amat dekat, dan aku merasa seperti telah berteman lama dengan Ajeng. Tak terasa sudah hampir dua bulan aku sering bertemu Ajeng. Di beberapa pertemuan terakhir, kami lewatkan waktu dengan berjalan ke mall, nonton bioskop dan makan, sepertinya sih mesra deh, beberapa kali jemari Ajeng yang lentik itu memegang lembut lenganku, dan akupun menggandengnya dengan senang hati, namun kali ini, Ajeng tidak lagi menarik tangannya, tapi malah membalas pegangan jariku dengan erat.
“Endahnya dunia ini”
Entahlah, selama itu aku merasa amat bahagia, aku tak tau bagaimana dengan Ajeng, aku sih berharap kalau dia juga merasakan sesuatu yang sama denganku.
“Jeng, kamu sudah punya pacar ?” tanyaku pada Ajeng,
“Sekarang sih, aku nggak ada, sepertinya nggak akan ada yang mau dengan ku” jawab Ajeng pelan,
“Masa’ sih nggak ada yang mau sama cewek cantik kayak kamu gini” balasku sambil menoleh kearahnya,
“Hmmm, gombal deh..” lanjut Ajeng.
“Jeng, mungkin lusa besok, aku kembali ke Jakarta karena tugasku sudah selesai”
Mendengar hal itu Ajeng diam sesaat,
“Kapan, kamu kemari lagi ?”
“Entahlah Jeng, mungkin akan sangat lama” jawabku pelan,
Ajeng diam sesaat.
“Kalo gitu kita nggak bisa jalan lagi ya Ray” lanjut Ajeng,
“Kan kita bisa telpon-telponan, email-emailan, sms-an, atau surat-suratan. Jaman teknologi canggih begini semua bisa terasa dekat” jawab ku mencoba menghibur diriku sendiri yang sudah mulai merasakan kesepian saat itu.

Obrolan tentang hal itu membuat aku dan Ajeng jadi banyak diam. Disaat itu aku rasanya ingin bilang kalo aku merasa sayang sama dia, tapi kok lidah ini rasanya jadi kaku. Yang pasti malam itu suasana jadi datar, sampai aku antar Ajeng pulang pun suasana hati kami sepertinya masih datar.

Keesokan harinya, ketika aku sedang makan malam bersama para kontraktor dan manager cabang, termasuk Pak Arman, di sebuah mall, tiba-tiba saja pandanganku tertuju pada sebuah spanduk di dalam restoran tempat kami makan malam.
“Valentine day eve: Pay 1 for 2” begitu kata-kata dalam spanduk tersebut.
“Valentine day ?” bisikku.
Aku jadi teringat kalo besok itu hari valentine. Pikiran ku langsung ke Ajeng, tiba-tiba saja aku sangat kangen pengen ketemu dia, tapi nggak mungkin karena aku sedang bersama mitra-mitra kerja ku.

Selepas makan malam, sewaktu aku dan rombongan berjalan berkeliling mall, aku lihat begitu banyak atribut berbau valentine day di jual di banyak counter. Tak sengaja pandanganku tergugah oleh sebuah counter di sudut mall, aku pandangi sebuah bantal semi boneka berbentuk hati berwarna merah, bantal itu bertuliskan “Be Mine”. Entahlah, sepertinya kata-kata di bantal itu begitu mewakili perasaanku saat ini. Lalu, segera saja aku membelinya. Para kolegaku yang turut dalam rombongan bertanya-tanya karenal aku membeli bantal itu, namun aku hanya menjawab bahwa bantal itu untuk oleh-oleh adikku di Jakarta.

Sebenarnya malam ini aku ingin sekali bersama Ajeng, karena malam ini adalah malam terakhir aku di Solo, mungkin saja adalah malam terakhir aku bisa bersama Ajeng, namun aku tak bisa menolak undangan para kontraktor dan manager-manager cabang itu untuk makan malam bersama sebagai acara perpisahan. Walau aku tertawa atau berbincang-bincang di acara itu, pikiranku tetap saja pada Ajeng.

Sekembalinya aku di wisma, aku pandangi bantal tadi, kadang aku dekap dan kadang aku elus-elus. Mungkin saat itu aku terlihat seperti anak ABG yang sedang kasmaran, tapi aku tak perduli, karena aku juga berhak atas sesuatu yang indah dalam hidupku.

Keesokan paginya, aku bangun lebih awal, karena aku berencana ke rumah Ajeng untuk memberikan bantal yang kubeli tadi malam di hari valentine yang tepat jatuh pada hari ini. Karena terlihat terburu-buru, dan karena aku mesti berpacu dengan jadwal penerbangan ku ke Jakarta pada jam 10 pagi nanti, sejak jam 5 pagi aku sudah selesai mandi dan berkemas, kukumpulkan semua berkas dan pakaian. Pada pukul 7 pagi, aku langsung bergegas menuju rumah Ajeng, aku ingin pertemuanku pagi ini dengan Ajeng menjadi amat berkesan karena aku ingin bilang kalo aku sayang dia.

Sesampainya dirumah Ajeng, seperti biasa, aku pandangi deretan tanaman hias dihalaman rumahnya, lalu setelah puas, aku langsung menuju teras rumahnya, “Assalamualaikum..” sapaku sambil mengetuk pintu rumah Ajeng,
“Walaikum salam..” terdengar suara ayahnya membalas salamku dari dalam rumah.
Tak lama kemudian pintu rumahnya terbuka, ku lihat ayahnya menyambutku dengan senyum ramah.
“Pagi pak, Ajengnya ada ?”
“Ajeng..?, Ajeng tadi pagi selesai shalat subuh pergi bersama teman-teman satu LSM-nya, katanya ada urusan” jawab ayahnya sambil mempersilahkanku masuk dan duduk.

Mendengar penjelasan ayah Ajeng itu, aku merasa lemas, hatiku juga terasa sedih,
“Ya ampun, sial banget, inikan kesempatan terakhir untuk berbagi waktu dengan Ajeng” bisikku dalam hati,
“Kenapa juga dia nggak ada HP” lanjutku berbisik.
Tak lama kemudian aku memutuskan untuk kembali saja ke wismaku, sebelum berpamitan, aku titipkan bungkusan kado berisi bantal berbentuk hati yang semalam aku beli kepada ayahnya:
“Pak, saya titip ini saja untuk Ajeng, dan mohon sampaikan salam saya” kataku sambil menyerahkan bungkusan kado pada ayahnya,
“Baik nak, nanti bapak berikan pada Ajeng” jawab ayahnya,
“Kalau begitu saya pamit dulu pak, Assalamualaikum” lanjutku sambil melangkah meninggalkan rumah Ajeng.

Sepanjang jalan dari rumah Ajeng aku merasa amat lemas, aku seperti berat untuk kembali ke Jakarta. Entahlah, rasa kangen ini seperti amat besar menggelayut di hatiku, terlebih pagi ini aku tak bisa menjumpainya. Sesampainya di wisma, aku melihat mobil yang akan mengantarku ke bandara sudah siap, dan juga ada Pak Arman disana.
“Ada apa Pak Araya ?, kok kelihatannya lesu, apa bapak sakit ?” tanya Pak Arman sambil berjalan mendekatiku,
“Ah, tidak apa-apa pak, mungkin hanya kelelahan saja” jawabku lemah,
“Kalau semuanya sudah siap, kita langsung berangkat saja, nanti terlambat. Sebentar ya, saya ambil barang-barang saya dulu dikamar” ujarku sambil melangkah menuju kamar.

Sepanjang perjalanan menuju bandara aku merasa amat kesepian, kupandangi deretan-deretan gedung sepanjang jalan, orang-orang yang ramai berlalu-lalang dengan pandangan kosong. Aku begitu amat ingin bertemu Ajeng, ingin sekali rasanya kuucapkan sedikit kata-kata terima kasihku, dan kata-kata ungkapan hatiku.

Setibanya dibandara, suasana begitu ramai sekali, jadwal penerbanganku tinggal satu jam lagi, selesai “check in” aku menemui Pak Arman di lobby,
“Pak Arman, terima kasih. Saya langsung kedalam saja, sepertinya sebentar lagi akan boarding” ujar ku pada Pak Arman,
“Kalau begitu, selamat jalan Pak Araya, sampai jumpa lagi” jawab Pak Arman sambil menyalamiku.

Tak lama kemudian Pak Arman melangkah keluar ruang lobby meninggalkanku diikuti oleh supir perusahaan, untuk beberapa saat aku hanya berdiri mematung sambil memandangi Pak Arman sampai bayangannya menghilang disebuah persimpangan.

Kemudian aku mulai melangkah untuk menuju pesawat.
“Ray…..!!”, tiba-tiba aku mendengar seseorang menjerit memanggil namaku,
Sepertinya aku mengenal suara ini.
“Ajeng…!!” bisik ku pelan.
Aku sungguh tak percaya kalo Ajeng yang aku lihat saat ini. Aku hanya mematung memandangi Ajeng.
Dia melangkah mendekatiku,
“Ray, maaf ya, tadi kamu ke rumah aku nggak ada, aku sedang ada perlu dengan teman-teman ku” kata Ajeng pelan dengan nafas tersengal,
“Nggak apa-apa, aku malah seneng kamu ke sini” jawabku dengan penuh haru, luar biasa senang,
”Oh iya, terima kasih kadonya Ray, Happy Valentine too” lanjut Ajeng sambil menunjukkan bantal hati yang ia dekap di dadanya.
Seketika aku merasa amat bahagia dan damai melihat bantal itu didekapnya, “Kamu senang dengan bantal itu?” tanya ku,
“Iya, lucu dan manis banget” jawab Ajeng sambil terus mendekap bantal itu.

Sesaat kemudian kamipun melangkah bersama, semakin dekat langkah kami ke pintu utama, semakin berat langkah kaki ini terasa.
“Jeng” bisikku,
“Ya Ray..ada apa ?” jawabnya,
”Hmm…do you ?” lanjutku,
“Apaan Ray?”
“Ya seperti kata-kata dibantal itu”
“Be mine..please”
Aku langsung ngerasa gugup luar biasa abis ngucapin kalimat itu. Ajeng hanya berdiri mematung. Entah malaikat mana yang menggerakku, aku nggak sadar mengecup pipi Ajeng yang putih dan hlus itu,
“Ray, apa-apa sih!” ujar Ajeng cemberut.
Aku hanya bisa menganggat bahuku mendengar respon Ajeng itu, pikirku Ajeng tak punya perasaan yang sama kepadaku,
“mati dah” bisikku dalam hati.
Namun tiba-tiba Ajeng memelukku, dia rangkulkan kedua tangannya di pinggangku dan berbisik:
“Hatiku sudah menjadi milikmu sebelum kamu berikan bantal hati ini”.
Ya ampun aku merasa bergetar mendengarnya, jantungku berdebar kencang dan seluruh bandara terasa dipenuhi dengan mawar yang wangi.

Ditengah larut pelukan bahagia itu, pihak bandara mengumumkan bahwa penerbangan ke Jakarta akan segera berangkat.
“Ajeng, sepertinya aku harus pergi dulu” ujar ku sambil memandang wajahnya penuh kerinduan,
“Hati-hati dijalan Ray, jangan lupain aku ya” jawab Ajeng dengan mata berkaca-kaca. Melihat matanya itu, akupun mulai berusaha menahan air mata agar tak menetes, aku harus tegar agar Ajeng tak tambah sedih.
“Aku tak akan lupa sama kamu Jeng, aku sayang kamu” bisikku sambil kembali kukecup pipinya.
Akhirnya, tibalah saatnya aku harus berangkat, kupandangi wajahnya dan berat sekali melepas genggaman tangannya. Aku mulai melangkah meninggalkannya menuju pesawat. Belum sepuluh langkah aku meninggalkan Ajeng, aku berbalik menghampiri Ajeng. Ajeng kembali memeluk ku erat dan aku pun membalasnya.
“Ada apa Ray ?” tanya Ajeng masih dalam pelukan ku,
“Jeng, kamu beli HP ya biar aku mudah menghubungimu, ini nomor HPku”
“Iya, sepulang dari sini aku langsung beli deh” jawab Ajeng sambil tersenyum sambil melepas pelukannya,
“Oke, bye honey” ujar ku sambil mengecup pipinya lagi, kali ini kedua pipinya kucium, juga bibir indahnya.
Setelah itu aku berlari menuju pesawat ku.

Hari itu begitu indah, setidaknya kenangan amat indah ada disana, kenangan itu terukir disetiap sudut bandara dan tercetak disetiap jengkal jalan kota Solo. Semenjak kembalinya aku ke Jakarta, aku menjalin hubungan dengan Ajeng banyak melalui sms dan telpon, selama seminggu penuh semenjak aku tiba kembali ke Jakarta, tak pernah aku lewatkan seharipun tanpa menelepon Ajeng, kami memang sedang kasmaran pada masa itu. Hingga pada suatu hari, sekitar tepat seminggu setelah perpisahan dengan Ajeng, tiba-tiba saja aku kehilangan kontak dengan Ajeng. Hpnya tak bisa dihubungi, bahkan setelah dua hari. Aku jadi gusar, entah karena aku rindu atau aku khawatir, semuanya jadi satu. Sampai pada suatu hari aku membaca berita disebuah surat kabar tentang hilangnya beberapa aktivis LSM di Jawa Tengah. Entahlah, setelah membaca berita itu pikiranku langsung ke Ajeng, kemudian aku langsung pesan tiket dan terbang ke Solo secepat mungkin.

Ya Tuhan, betapa dunia ini penuh dengan halilintar menyambar-nyambar, dan gemuruh tak henti-hentinya ketika ayahnya bercerita bahwa Ajeng adalah salah satu dari aktivis yang hilang, saat itu aku langsung lemas, tak tahu harus bagaimana,
“Bungaku hilang…..bungaku hilang” jeritku dalam hati.

Hingga sampai setahun setengah aku tak tahu kabar dari Ajeng, entah dia masih hidup atau sudah mati, tidak ada yang tahu, bahkan beberapa LSM di Solo malah pesimis kalau para aktivis masih hidup. Ketika tiba saatnya proyek supermall milik perusahaan ayah ku selesai dan tiba waktunya diresmikan, aku mendatangi ruang kerja ayahku, aku memohon pada ayahku agar mau menamakan supermall itu dengan nama “mawar”, namanya “Mawar Supermall”, kuambil dari nama Ajeng Mawar.

Namun aku tak bisa menjawab alasanku menamakan supermall itu pada ayahku, aku tak ingin banyak orang tahu tentang perjalanan cintaku dengan Ajeng. Akhirnya ayahku bersedia menerima permohonanku, tapi dengan satu syarat aku bersedia dinikahkan dengan Rika. Karena merasa tertekan dan putus asa akhirnya aku terima syarat ayahku itu. Aku bahagia akhirnya “Mawar Supermall” diresmikan, aku sendiri yang hadir dan dengan restu ayahku pula, aku yang menandatangani prasasti peresmian mall itu.
“Ajeng, kalau saja kamu ada saat ini, lihatlah betapa megahnya gedung ini, ia menjulang tinggi ke angkasa, berdiri kokoh di kotamu. Inilah menara cintaku padamu, kupersembahkan layaknya Taj Mahal yg dibangun untuk permaisurinya. Kamu akan selalu kokoh ada dihatiku” bisikku dalam hati sambil memandang keatas gedung. Air mata ku tak terasa sudah membasahi kedua mata ku.

Selama dua tahun ini aku benar-benar merasa hampa, sampai detik inipun Ajeng tak ada kabar sama sekali, bahkan KOMNAS HAM pun sudah turun tangan mencari tahu keberadaan para aktivis yang hilang itu, termasuk bunga hatiku "Ajeng Mawar". Aku selalu berdoa agar Ajeng selalu dibawah lindungan-Nya. Dan, malam ini adalah malam terakhir aku melepas masa lajang ku, besok adalah hari pernikahanku dengan Rika, walau aku tak mencintainya namun aku sudah berjanji pada ayahku, semua demi Ajeng. Aku teringat semua kenangan manis bersama Ajeng, aku ingat rumah makan itu, dimana pertama kali aku ngobrol dengannya, aku juga ingat jalan-jalan kota Solo itu yang penuh dengan tawa kami malam itu, dan terlebih kecupan dibandara itu, bantal hati itu dan semuanya tentang Ajeng.

“Namun biarlah, akan aku taruh cintamu didalam ruang hatiku Jeng, akan kubaringkan engkau diatas bantal hati itu hangat dalam jiwaku”.
Tak terasa pipiku sudah basah dengan airmata yang aku tak tahu sejak kapan ia telah menetes.
“Kenangan itu amat indah, Ajeng. Malam inipun adalah malam valentine, aku merayakan ini untukmu, Ajeng” bisikku sambil kuusap airmata dipipiku.
“Aku memang tak lama bersamamu, namun kamu akan selamanya dihatiku. Ajeng, untuk yang terakhir sebelum kusimpan cinta ini, aku cinta kamu dan amat merindukanmu” bisikku sambil mengusap air mata dan menatap bintang diangkasa.
“Happy Valentine day, Ajeng ku tercinta”

TAMAT

Disclaimer :
Cerita ini hanya rekaan imajinasi semata

Tuesday, February 14, 2006

Menanti Cinta Mu

Sedang di edit, sorry. I'll post it soon

Sunday, November 06, 2005

Seperti apa itu CINTA ?

Karya : Ales Oktapratama

Seorang pria muda duduk di teras sebuah rumah sederhana. Ia tampak sendirian di teras itu, ditemani secangkir teh hangat untuk menemani dinginnya malam itu. "Sorry ya sayang, agak lama, soalnya aku bantu ibu sedikit tadi" sapa seorang wanita yang datang dari dalam rumah. "Nggak apa-apa, kan saya udah di buatkan teh hangat" jawab si pria sambil tersenyum bahagia. Kemudian keduanya berbincang sambil terkadang tertawa terbahak-bahak, kadang juga kecupan mendarat di pipi si wanita yang tampak cantik dan bersahaja. "Kerjaan mu gimana mas ?" tanya si wanita sambil menghela nafas yang agak tersengal karena tertawa. "Ya begitu-begitu saja Jeng, nggak ada yang spesial, dalam hidup saya kan yang spesial cuma kamu". "Dasar!! perayu". Du tengah perbincangan sejoli itu, tiba-tiba seberkas cahaya dari lampu sebuah mobil menyorot mereka, lalu tampak sebuah sedang mewah memasuki pekarangan. Kemudian, keluarlah seorang pria dari dalam mobil, pria yang tampak rapi dan perlente. "Assalamualaikum" sapa si pria kepada mereka berdua. "Waalaikum salam". "Ayo masuk Ton, biar saya panggilkan Rina" jawab Ajeng. Lalu si pria bermobil yang bernama Toni itu duduk, sambil menunggu kehadiran Rina adik Ajeng,Toni berbincang dengan pacar Ajeng yang bernama Ramsi. "Mas Toni, ayo ke dalem aja" ajak Rina yang tiba-tiba nongol dari dalam rumah. "Saya ke dalem dulu ya" sapa Toni pada Ramsi. "Oh iya" jawab Ramsi.

Tak berapa lama kemudian, keluarlah seorang pria tua berumur sekitar 55 tahun. Melihat pria tua itu, Ramsi spontan beranjak berdiri dan memberi salam. "Selamat malam , pak". Namun sapaan Ramsi hanya di balas dengan senyum seadanya. "Jeng, bapak mu lagi marah ya ?" tanya Ramsi pada Ajeng. "Bapak mah emang gitu mas, biarin aja" jawab Ajeng. Lalu, pria tua yang ternyata ayah Ajeng tampak berjalan mendekati mobil mewah Toni. "Nak Toni!!" panggil ayah Ajeng pada Toni, pacar Rina. Kemudian Toni beserta Rina tampak keluar menghampiri Ayahnya. "Nak Toni, ini mobil baru lagi" tanya si ayah pada Toni. "Iya om, minggu lalu papi baru beli" jawab Toni. "hebat!!..hebat!!" gumam si ayah. Sementara itu, Ramsi dan Ajeng hanya diam menyaksikan itu semua, Ramsi tersungging kecil dan Ajeng tampak meraih jemari Ramsi dan tersnyum manissss!!!!!!!!!!!!!!! sekali. "Wah!! sudah jam 9 Jeng, aku pulang dulu ya". "Iya, besok jadi kita jalan ke mall ?". "Insya Allah, nanti saya jemput kamu". "Oke deh. Ya udah, itu sekalian pamit sama ayah". Kemudian, Ramsi beranjak dari teras, menghapiri ayah Ajeng untuk berpamitan, lalu ia menuju motor vespa tuanya yang terparkir tepat disamping mobil Toni. "Ayo semuanya, saya pulang dulu" sapa Ramsi pada si ayah, Toni dan Rina. "Iya, hati-hati di jalan" jawab mereka kecuali si ayah. Setelah mengantar Ramsi sampai pintu gerbang, Ajeng di panggil oleh ayahnya. "Jeng, kalau cari pacar itu seperti Toni" ujar ayahnya. "Maksud ayah ?". "Coba lihat Toni, mobilnya bagus, keluarganya kaya, bapaknya seorang pengusaha". "Kenapa kita harus mengukur semuanya dari materi sih" jawab Ajeng kesal. "Ayah ngomong gini biar kehidupan mu baik, kalau kayak si Ramsi yang cuma kareyawan itu, gimana hidup mu nanti mau mapan". "ajeng yang menjalani semua in, jadi Ajeng tau pasti dan Ajeng nggak pernah takut untuk susah". "Kamu ini kok ngeyel di omonginnya, mana ada cinta bisa bikin bahagia". Merasa kesal dengan komentar ayahnya, Ajeng nyelonong masuk ke rumah. "Dasar!! bocah gemblung" gumam ayah Ajeng.

BERSAMBUNG - Gi capek ngetik neh!!

Monday, October 17, 2005

Serial : Pikirkanlah! 1

Karya : Ales OP

Dingin malam ini membuat tubuh orang yang berjalan di trotoar menjadi menggigil. Hujan lebat yang turun sebelumnya membuat suasana menjadi lembab dan tanah menjadi becek. Gelandangan kota Jakarta yang terbiasa tertidur di selimuti malam pun tak kuasa menahan dingin malam itu, mereka tampak menutupi rubuh mereka rapat-rapat dengan lembaran selimut kumuh dan rombeng. Lalu lalang kendaraan pun tak begitu padat, mungkin mereka lebih memilih tinggal di rumah dan menikmati suasana hangat di tengah keluarga dibandingkan harus meladeni dinginnya malam ini.

Di sebuah halte bis yang letaknya tak jauh dari Bendungan Hilir, beberapa orang masih tampak terduduk menunggu bis yang akan membawa mereka kembali ke rumah. Menit demi menit, satu persatu mereka menaiki bis yang di mereka tunggu hingga akhirnya tak seorang pun tersisa, kecuali seorang wanita muda yang masih terduduk tersender di bangku halte. Wajahnya tampak jemu dan matanya terlihat lelah. Sementara itu, di pojokan halte ada seorang gelandangan tua yang memperhatikan wanita itu sejak tadi. Matanya menatap si wanita dengan tajam penuh tanda tanya. Kemudian langkah gontai si gelandangan tua tampak mendekati si wanita. “Hei Nona, sejak tadi saya perhatikan kamu hanya melamun saja disini, apa yang kamu kerjakan disini ?” tanya si gelandangan tua dengan suara bergetar karena kedinginan. Si wanita hanya diam, hanya terlihat tangannya merogoh kantungnya dan kemudian memberikan selembar uang Rp. 1.000 kepada gelandangan tua itu. “Maaf Nona, saya bukan meminta uang mu. Saya hanya memperingatkan mu bahwa tak baik wanita malam-malam begini masih sendiri disini, kamu tau sendiri Jakarta seperti apa”. Si wanita hanya melirik wajah si gelandangan tua itu dan kemudian kembali terdiam. “Ya sudah, sepertinya kamu nggak mau di ganggu, saya minta maaf. Tapi ingat, hati-hati!!” pesan si gelandangan.

“Saya sedang menunggu pacar saya disini, katanya kami akan bertemu disini setengah jam yang lalu” kata si wanita dengan nada lemah. Si gelandangan tua yang awalnya ingin kembali ke peraduannya, menjadi terhenti dan kembali menoleh si wanita. “Aneh!, kok janji ketemu di halte seperti ini?” jawab si gelandangan sambil mengerenyitkan dahinya. “Kalau boleh tau, namamu siapa ?” tanya si gelandangan lagi. “Nama saya Mira”. “Nama yang bagus, seperti Mira Lesmana”. “Pacar saya itu katanya mau mengenalkan saya pada ayahnya karena kami berencana mau menikah” lanjut Si wanita yang bernama Mira itu. “Oooo, pacar mu pasti baik dan tampan, sesuai dengan wajah kamu yang cantik dan manis. Semoga sebentar lagi dia datang”. “Mobil sedan mu tampak kotor sekali” ujar si gelandangan sambil memandangi mobil Mira yang penuh lumpur yang terparkir tepat di depan halte itu.

Tak lama kemudian, memang ada seorang pria yang datang. Dari kejauhan dia sudah berteriak memanggil Mira. Wajah Mira tampak berubah menjadi gembira melihat pria yang ditunggunya tiba. “Rahmat!!, kok lama bener sih nyampenya ?” tanya Mira sambil cemberut. “Kan hujan, aku nuggu hujan reda dulu baru naik bis”. “Oh iya, kalian sudah lama ngobrolnya” tanya Rahmat sambil memandang ke arah gelandangan tua. Mira hanya mengangguk kecil dan melirik ke arah gelandangan tua yang tampak masih berdiri di dekatnya. “Mir, kenalkan ini ayah ku” kata Rahmat sambil menyodorkan tangan si gelandangan tua pada Mira. Mata Mira tampak terbelalak dan wajahnya penuh keterkejutan mendengar perkataan Rahmat itu. Sementara si gelandangan tua yang diperkenalkan Rahmat sebagai ayahnya, hanya memandangi wajah Mira yang masih tampak tak percaya. “Mir, kamu baru sedikit mengetahui tentang diriku, karena kamu ingin menikah dengan ku, maka kubukalah semuanya untuk mu” lanjut Rahmat sambil merangkul ayahnya yang gelandangan itu.

Sementara Mira masih berdiri mematung dengan wajah tertunduk, Rahmat dan ayahnya memandanginya dengan diam.

Thursday, September 29, 2005

Impian Dalam Kotak Pensil

Karya : Ales Oktapratama, 2004.

Sinar matahari pagi itu terasa begitu hangat, cahayanya terlihat berkilau dari selah-selah dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Sesekali terdengar suara ayam berkokok bersaut-sautan, belum lagi terdengar suara gemuruh laju kereta api pagi yang datang dari arah Manggarai. Seorang pria separuh abad duduk diam di beranda sebuah rumah yang terletak tak jauh dari perlintasan kereta api, di hadapannya ada secangkir teh hangat yang masih mengepulkan asap nikmatnya. Wajahnya terlihat tanpa ekspresi, matanya menerawang dan goretan-goretan derita hidup amat nyata terukir di wajah tuanya itu. Dia hanya terlihat sesekali menghela lalat-lalat yang mencoba ikut menikmati teh hangatnya.

Pak Sastro amat dikenal di perkampungan pemulung itu, sosoknya yang penuh perhatian dan suka menolong membuatnya amat di sayangi seluruh penghuni perkampungan pemulung itu, sebuah perkampungan yang sering disebut oleh banyak orang yang lebih beruntung sebagai perkampungan kumuh. Namun kehidupan Pak Sastro amatlah malang, saat ini ia kehilangan ingatannya, hidupnya seperti hampa. Pak Sastro yang dulu dikenal mandiri, kini hanya pasrah menjalani hidup dari belas kasihan orang lain. Semenjak kepergian istri tercintanya beberapa tahun yang lalu, kini ia tinggal bersama putri satu-satunya, buah cintanya, Mawar. Mawar lah yang akhir-akhir ini dengan telaten merawat ayahnya itu, sikapnya yang penuh perhatian dan pengabdian pada orang tua, membuat penilaian orang akan parasnya yang cantik adalah luar dan dalam.

Setiap pagi hari, setelah selesai ia membereskan rumah dan menyajikan sajian untuk ayahnya, setelah mencium tangan ayahnya Mawar pun bergegas pergi: “Ayah, Mawar pergi dulu, kalau ayah lapar, dimeja makan sudah Mawar sediakan nasi goreng. Assalamualaikum” kata Mawar sambil beranjak. Pak Sastro hanya diam menerima pamit anaknya itu, matanya masih saja menerawang, sunyi. Berbekal sebotol air putih dalam botol bekas dan karung rombeng yang terlihat kotor ia jelajahi tiap jengkal kota Jakarta, ia coba jemput rezeki dari pinggiran jalan, dari tempat-tempat sampah dan dari tiap debu yang berterbangan di udara. Mawar menjalani semuanya dengan senang hati, tak pernah keluar keluh kesah dari bibirnya yang tipis, dia lalui hari-harinya dengan kesabaran. Setiap pukul 7.30 pagi, Mawar selalu saja berhenti di depan sebuah gedung SMU mewah di pusat kota, ia begitu menikmati suasana keramaian para siswa yang akan masuk sekolah, ia kadang terlihat tersenyum kecil dan memandang jauh ke komplek SMU itu, “Mawar, kamu kenapa senyum-senyum sendiri begitu ?” tanya Pak Kosim penjual gorengan di SMU itu yang sudah lama mengenal Mawar, “Nggak apa-apa Pak” jawabnya pelan, “Kalau saja saya seberuntung mereka ya pak” lanjut Mawar lagi.

Perempuan seusia Mawar memang seharusnyalah duduk di bangku SMU, untuk menerima hak yang sama atas masa depannya. Namun, segala macam alasan yang berbau ekonomi menjadi pagar kokoh yang menghalanginya. Ketidakberdayaan ayahnya dan tuntutan hidup membuat Mawar mesti rela kehilangan itu semua. Dalam setiap lamunannya ia ingat si Nita, Mirna, Santi, Joko dan Karim, teman-teman dekatnya sewaktu di SMP dulu yang kini melanjutkan sekolah ke SMU, alangkah enaknya menjadi mereka, pikir Mawar. Mawar pun sering teringat tentang kematian ibunya, kematian yang juga membawa kebinasaan bagi harmoni keluarganya, dia ingat betapa ibunya sangat ingin Mawar menjadi orang terpelajar, menjadi orang pintar agar kehidupannya tidak seperti kehidupan kedua orang tuanya kini, “Mawar! Apapun yang terjadi kamu mesti melanjutkan sekolah” kenang Mawar akan kata-kata ibunya. Itulah kata-kata ibunya yang selalu ada di pikirannya dan juga bukti pengorbanan ibunya demi sekolahnya.

Mawar pun teringat kembali akan kisahnya dahulu. Waktu itu Mawar duduk di bangku SMP kelas 3, prestasi belajar Mawar memang luar biasa, peringkat pertama selalu diraihnya sejak kelas 1. Sampai pada saat menjelang ujian akhir, Mawar memerlukan uang untuk membayar tunggakan SPP dan uang ujiannya, Mawar tahu bahwa orang tuanya sedang tak memiliki uang terlebih lagi saat ini ibunya sedang sakit-sakitan, namun walau bagaimanapun ia tetap meminta pada ayahnya: “Ayah, bulan depan Mawar mau ujian akhir, dan tunggakan uang SPP juga uang ujiannya mesti dilunasi, jika tidak, Mawar tidak boleh ikut ujian” kata Mawar kepada ayahnya dengan lembut dan wajah tertunduk. Sambil menghela nafas panjang, ayahnya, Pak Satro hanya menjawab: “Mawar, sepertinya saat ini ayah belum ada uang sebanyak itu, tapi ayah akan usahakan”. Haripun terus berganti, hingga akhirnya batas akhir pembayaran tinggal satu minggu lagi, dan Pak Sastro belum memberikan Mawar uang untuk membayar tunggakan SPPnya. Mawar sangat mengerti hal itu, ia tahu kalau ayahnya tak berhasil mendapatkan uang tersebut. Hingga pada hari terakhir batas waktu pembayaran, ibunya memberikan uang pada Mawar, “Mawar, ini uang untuk membayar tunggakan SPP dan uang ujian mu” kata ibunya sambil terbatuk-batuk, “Asyik!, Mawar bisa ikut ujian, terima kasih ya bu” jerit Mawar gembira sambil memeluk ibunya dan kemudian bergegas pergi ke sekolah.

Pada hari ujian berlangsung, ibunya harus dibawa rumah sakit karena penyakit yang dideritanya bertambah parah, keadaannya sangat lemah. “Bu, bertahan ya, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit” kata Pak Sastro sepanjang perjalanan. “Pak Dahlan, bisa tolong seseorang suruh menjemput Mawar disekolahnya” pinta Pak Sastro kepada Pak Dahlan tetangga sebelah rumahnya. “Jangan pak, biarkan dia berkonsentrasi pada ujiannya” pinta Bu Sastro lirih. “Pak, sepertinya saya sudah tidak kuat lagi” kata Ibu Sastro tampak menahan sakit, “Bertahanlah bu, sebentar lagi kita sampai” jawab Pak Sastro sambil terlihat meneteskan air mata, “Pak! Saya minta maaf karena sudah membohongi bapak, karena akhir-akhir ini saya tidak lagi minum obat karena obatnya sudah habis” kata Bu Sastro pelan. “Pak! uang untuk pengobatan dan untuk membeli obat saya berikan kepada Mawar untuk membayar tunggakan uang sekolahnya, jangan ceritakan hal ini pada Mawar ya” lanjut Bu Sastro, “Salam untuk Mawar pak, dan terima kasih bapak sudah menjadi suami yang baik” kata Bu Sastro yang kemudian menutup mata untuk selamanya. Suasana dalam mobil yang akan membawa Bu Sastro ke rumah sakit saat itu menjadi hening, “Inalillahi wa inna illahi rojiun” ucap Pak Sastro sambil manahan air matanya dan mengusap wajah istri tercintanya itu.

Seusai ujian, Mawar langsung kembali ke rumahnya, hatinya gembira karena hampir seluruh soal bisa ia jawab dengan meyakinkan. Hingga dari kejauhan ia melihat keramaian didepan rumahnya: “Ada apa yah ?, kok di depan rumah ramai sekali” tanya Mawar dalam hati. Beberapa tetangga memberitahu Pak Sastro kalau Mawar sedang menuju ke rumah, setelah tinggal beberapa meter dari muka rumah, Pak sastro tampak menyambut Mawar, melihat semua itu hati mawar jadi tak karuan, ia coba buang praduga buruk di pikirannya, “Ayah, ada apa ini, ibu mana?” tanyanya dengan bibir tergetar, “Tabah ya nak, tabah! “ jawab ayahnya sambil memeluk Mawar sambil tersedu, seketika itupun Mawar tak bisa lagi menampik dugaan dipikirannya, tangisnyapun tumpah dipelukan ayahnya: “Ibuu…!!!” jeritnya sambil kemudian masuk ke dalam rumah bersimpuh disisi jenazah sang ibu yang terbujur kaku dengan wajah tampak tersenyum: “Ibu, kenapa ibu tinggalin Mawar” bisik Mawar sambil menangis pedih.

Sejak saat itulah kehidupan keluarga Mawar berubah, Pak sastro menjadi sering melamun dan menangis sendiri. Mawarpun seperti kehilangan panduan, ia menjadi gamang menghadapi semuanya, bahkan saat menerima hasil ujian yang menempatkannya sebagai juara sekolah, Mawar hanya diam, hasil ujian yang begitu sangat ingin ia persembahkan bagi ibunya seakan sirna, “Mawar, kamu memang anak pintar, ayah bangga padamu, ibu mu pun pasti bangga menyaksikan ini semua” kata ayahnya saat melihat hasil ujian Mawar, “Tak sia-sia ia korbankan hidupnya untuk sekolah mu” lanjut ayahnya, “Korbankan hidup?, apa yang telah ibu lakukan ayah?” tanya Mawar penasaran. Kemudian ayahnya pun menceritakan semuanya. Tak lama kemudian Mawar menangis tersedu-sedu sambil bersimpuh di lantai, “Sudahlah nak, ini semua salah ayah, ayah tidak bisa memberi kalian kecukupan materi, mungkin ayah kurang berusaha” kata ayahnya sambil mengangkat bahu Mawar ke pelukannya. Setelah kejadian ini, ayahnya semakin sering melamun dan berbicara sendiri dengan kata-kata yang menyalahkan dirinya atas semua yang menimpa keluarganya.

Mengenang semua kejadian itu membuat air mata Mawar mengalir deras, ditengah kesedihannya ia coba raih sebuah kotak pensil yang masih terawat yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Ia pandangi kotak pensil itu, kotak yang bukan saja berisi alat-alat tulis tetapi berisi jutaan impian dan masa depan Mawar. Mawar masih ingat bahwa kotak pensil itu adalah pemberian Danny, anak majikan ibunya dahulu, saat itu Dany memberikannya kotak pensil ketika Mawar berulang tahun. Masih pula terbayang oleh Mawar kebaikan hati Danny dan wajahnya yang tampan, “Entah dimana ia sekarang” bisik Mawar sambil memeluk kotak pensil itu erat di dadanya.

______________________________________________________________________

Mawar bisa tumbuh dimana saja, bisa di taman yang indah ataupun di antara belukar. Namun mawar tetaplah mawar, bunga yang selalu menebarkan pesonanya.
______________________________________________________________________