Thursday, September 29, 2005

Impian Dalam Kotak Pensil

Karya : Ales Oktapratama, 2004.

Sinar matahari pagi itu terasa begitu hangat, cahayanya terlihat berkilau dari selah-selah dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Sesekali terdengar suara ayam berkokok bersaut-sautan, belum lagi terdengar suara gemuruh laju kereta api pagi yang datang dari arah Manggarai. Seorang pria separuh abad duduk diam di beranda sebuah rumah yang terletak tak jauh dari perlintasan kereta api, di hadapannya ada secangkir teh hangat yang masih mengepulkan asap nikmatnya. Wajahnya terlihat tanpa ekspresi, matanya menerawang dan goretan-goretan derita hidup amat nyata terukir di wajah tuanya itu. Dia hanya terlihat sesekali menghela lalat-lalat yang mencoba ikut menikmati teh hangatnya.

Pak Sastro amat dikenal di perkampungan pemulung itu, sosoknya yang penuh perhatian dan suka menolong membuatnya amat di sayangi seluruh penghuni perkampungan pemulung itu, sebuah perkampungan yang sering disebut oleh banyak orang yang lebih beruntung sebagai perkampungan kumuh. Namun kehidupan Pak Sastro amatlah malang, saat ini ia kehilangan ingatannya, hidupnya seperti hampa. Pak Sastro yang dulu dikenal mandiri, kini hanya pasrah menjalani hidup dari belas kasihan orang lain. Semenjak kepergian istri tercintanya beberapa tahun yang lalu, kini ia tinggal bersama putri satu-satunya, buah cintanya, Mawar. Mawar lah yang akhir-akhir ini dengan telaten merawat ayahnya itu, sikapnya yang penuh perhatian dan pengabdian pada orang tua, membuat penilaian orang akan parasnya yang cantik adalah luar dan dalam.

Setiap pagi hari, setelah selesai ia membereskan rumah dan menyajikan sajian untuk ayahnya, setelah mencium tangan ayahnya Mawar pun bergegas pergi: “Ayah, Mawar pergi dulu, kalau ayah lapar, dimeja makan sudah Mawar sediakan nasi goreng. Assalamualaikum” kata Mawar sambil beranjak. Pak Sastro hanya diam menerima pamit anaknya itu, matanya masih saja menerawang, sunyi. Berbekal sebotol air putih dalam botol bekas dan karung rombeng yang terlihat kotor ia jelajahi tiap jengkal kota Jakarta, ia coba jemput rezeki dari pinggiran jalan, dari tempat-tempat sampah dan dari tiap debu yang berterbangan di udara. Mawar menjalani semuanya dengan senang hati, tak pernah keluar keluh kesah dari bibirnya yang tipis, dia lalui hari-harinya dengan kesabaran. Setiap pukul 7.30 pagi, Mawar selalu saja berhenti di depan sebuah gedung SMU mewah di pusat kota, ia begitu menikmati suasana keramaian para siswa yang akan masuk sekolah, ia kadang terlihat tersenyum kecil dan memandang jauh ke komplek SMU itu, “Mawar, kamu kenapa senyum-senyum sendiri begitu ?” tanya Pak Kosim penjual gorengan di SMU itu yang sudah lama mengenal Mawar, “Nggak apa-apa Pak” jawabnya pelan, “Kalau saja saya seberuntung mereka ya pak” lanjut Mawar lagi.

Perempuan seusia Mawar memang seharusnyalah duduk di bangku SMU, untuk menerima hak yang sama atas masa depannya. Namun, segala macam alasan yang berbau ekonomi menjadi pagar kokoh yang menghalanginya. Ketidakberdayaan ayahnya dan tuntutan hidup membuat Mawar mesti rela kehilangan itu semua. Dalam setiap lamunannya ia ingat si Nita, Mirna, Santi, Joko dan Karim, teman-teman dekatnya sewaktu di SMP dulu yang kini melanjutkan sekolah ke SMU, alangkah enaknya menjadi mereka, pikir Mawar. Mawar pun sering teringat tentang kematian ibunya, kematian yang juga membawa kebinasaan bagi harmoni keluarganya, dia ingat betapa ibunya sangat ingin Mawar menjadi orang terpelajar, menjadi orang pintar agar kehidupannya tidak seperti kehidupan kedua orang tuanya kini, “Mawar! Apapun yang terjadi kamu mesti melanjutkan sekolah” kenang Mawar akan kata-kata ibunya. Itulah kata-kata ibunya yang selalu ada di pikirannya dan juga bukti pengorbanan ibunya demi sekolahnya.

Mawar pun teringat kembali akan kisahnya dahulu. Waktu itu Mawar duduk di bangku SMP kelas 3, prestasi belajar Mawar memang luar biasa, peringkat pertama selalu diraihnya sejak kelas 1. Sampai pada saat menjelang ujian akhir, Mawar memerlukan uang untuk membayar tunggakan SPP dan uang ujiannya, Mawar tahu bahwa orang tuanya sedang tak memiliki uang terlebih lagi saat ini ibunya sedang sakit-sakitan, namun walau bagaimanapun ia tetap meminta pada ayahnya: “Ayah, bulan depan Mawar mau ujian akhir, dan tunggakan uang SPP juga uang ujiannya mesti dilunasi, jika tidak, Mawar tidak boleh ikut ujian” kata Mawar kepada ayahnya dengan lembut dan wajah tertunduk. Sambil menghela nafas panjang, ayahnya, Pak Satro hanya menjawab: “Mawar, sepertinya saat ini ayah belum ada uang sebanyak itu, tapi ayah akan usahakan”. Haripun terus berganti, hingga akhirnya batas akhir pembayaran tinggal satu minggu lagi, dan Pak Sastro belum memberikan Mawar uang untuk membayar tunggakan SPPnya. Mawar sangat mengerti hal itu, ia tahu kalau ayahnya tak berhasil mendapatkan uang tersebut. Hingga pada hari terakhir batas waktu pembayaran, ibunya memberikan uang pada Mawar, “Mawar, ini uang untuk membayar tunggakan SPP dan uang ujian mu” kata ibunya sambil terbatuk-batuk, “Asyik!, Mawar bisa ikut ujian, terima kasih ya bu” jerit Mawar gembira sambil memeluk ibunya dan kemudian bergegas pergi ke sekolah.

Pada hari ujian berlangsung, ibunya harus dibawa rumah sakit karena penyakit yang dideritanya bertambah parah, keadaannya sangat lemah. “Bu, bertahan ya, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit” kata Pak Sastro sepanjang perjalanan. “Pak Dahlan, bisa tolong seseorang suruh menjemput Mawar disekolahnya” pinta Pak Sastro kepada Pak Dahlan tetangga sebelah rumahnya. “Jangan pak, biarkan dia berkonsentrasi pada ujiannya” pinta Bu Sastro lirih. “Pak, sepertinya saya sudah tidak kuat lagi” kata Ibu Sastro tampak menahan sakit, “Bertahanlah bu, sebentar lagi kita sampai” jawab Pak Sastro sambil terlihat meneteskan air mata, “Pak! Saya minta maaf karena sudah membohongi bapak, karena akhir-akhir ini saya tidak lagi minum obat karena obatnya sudah habis” kata Bu Sastro pelan. “Pak! uang untuk pengobatan dan untuk membeli obat saya berikan kepada Mawar untuk membayar tunggakan uang sekolahnya, jangan ceritakan hal ini pada Mawar ya” lanjut Bu Sastro, “Salam untuk Mawar pak, dan terima kasih bapak sudah menjadi suami yang baik” kata Bu Sastro yang kemudian menutup mata untuk selamanya. Suasana dalam mobil yang akan membawa Bu Sastro ke rumah sakit saat itu menjadi hening, “Inalillahi wa inna illahi rojiun” ucap Pak Sastro sambil manahan air matanya dan mengusap wajah istri tercintanya itu.

Seusai ujian, Mawar langsung kembali ke rumahnya, hatinya gembira karena hampir seluruh soal bisa ia jawab dengan meyakinkan. Hingga dari kejauhan ia melihat keramaian didepan rumahnya: “Ada apa yah ?, kok di depan rumah ramai sekali” tanya Mawar dalam hati. Beberapa tetangga memberitahu Pak Sastro kalau Mawar sedang menuju ke rumah, setelah tinggal beberapa meter dari muka rumah, Pak sastro tampak menyambut Mawar, melihat semua itu hati mawar jadi tak karuan, ia coba buang praduga buruk di pikirannya, “Ayah, ada apa ini, ibu mana?” tanyanya dengan bibir tergetar, “Tabah ya nak, tabah! “ jawab ayahnya sambil memeluk Mawar sambil tersedu, seketika itupun Mawar tak bisa lagi menampik dugaan dipikirannya, tangisnyapun tumpah dipelukan ayahnya: “Ibuu…!!!” jeritnya sambil kemudian masuk ke dalam rumah bersimpuh disisi jenazah sang ibu yang terbujur kaku dengan wajah tampak tersenyum: “Ibu, kenapa ibu tinggalin Mawar” bisik Mawar sambil menangis pedih.

Sejak saat itulah kehidupan keluarga Mawar berubah, Pak sastro menjadi sering melamun dan menangis sendiri. Mawarpun seperti kehilangan panduan, ia menjadi gamang menghadapi semuanya, bahkan saat menerima hasil ujian yang menempatkannya sebagai juara sekolah, Mawar hanya diam, hasil ujian yang begitu sangat ingin ia persembahkan bagi ibunya seakan sirna, “Mawar, kamu memang anak pintar, ayah bangga padamu, ibu mu pun pasti bangga menyaksikan ini semua” kata ayahnya saat melihat hasil ujian Mawar, “Tak sia-sia ia korbankan hidupnya untuk sekolah mu” lanjut ayahnya, “Korbankan hidup?, apa yang telah ibu lakukan ayah?” tanya Mawar penasaran. Kemudian ayahnya pun menceritakan semuanya. Tak lama kemudian Mawar menangis tersedu-sedu sambil bersimpuh di lantai, “Sudahlah nak, ini semua salah ayah, ayah tidak bisa memberi kalian kecukupan materi, mungkin ayah kurang berusaha” kata ayahnya sambil mengangkat bahu Mawar ke pelukannya. Setelah kejadian ini, ayahnya semakin sering melamun dan berbicara sendiri dengan kata-kata yang menyalahkan dirinya atas semua yang menimpa keluarganya.

Mengenang semua kejadian itu membuat air mata Mawar mengalir deras, ditengah kesedihannya ia coba raih sebuah kotak pensil yang masih terawat yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Ia pandangi kotak pensil itu, kotak yang bukan saja berisi alat-alat tulis tetapi berisi jutaan impian dan masa depan Mawar. Mawar masih ingat bahwa kotak pensil itu adalah pemberian Danny, anak majikan ibunya dahulu, saat itu Dany memberikannya kotak pensil ketika Mawar berulang tahun. Masih pula terbayang oleh Mawar kebaikan hati Danny dan wajahnya yang tampan, “Entah dimana ia sekarang” bisik Mawar sambil memeluk kotak pensil itu erat di dadanya.

______________________________________________________________________

Mawar bisa tumbuh dimana saja, bisa di taman yang indah ataupun di antara belukar. Namun mawar tetaplah mawar, bunga yang selalu menebarkan pesonanya.
______________________________________________________________________

Wednesday, September 28, 2005

Jangan sebut aku PKI !!

Karya : Ales Oktapratama, 2004.


Siang itu cuaca sangat panas, terik matahari seakan membakar pundak para kuli bangunan di proyek gedung pencakar langit yang sedang dibangun itu. Berpuluh-puluh kuli bangunan saling bahu membahu untuk menyelesaikan proyek pencakar langit itu agar sesuai dengan tenggat waktunya. Dari kejauhan terlihat dua orang kuli sedang duduk dan berbincang tak jauh dari tumpukan balok-balok kayu. “Jo, hari ini kamu lemes amat, kamu sakit ?” sapa seorang kuli kepada Sutejo sesama kuli bangunan, “Nggak apa-apa, mungkin karena belum makan aja” jawab Sutejo, “Mir, kamu kok malah semangat amat nih hari” lanjut Sutejo bertanya pada salah satu kuli tersebut yang bernama Amir. “Gimana sih kamu Jo, ya jelas aja seneng, kan hari ini hari bayaran” jawab Amir dengan aneh, “Oh iya, aku lupa Mir” jawab Sutejo sambil menggaruk-garuk kepalanya, “Ya sudah, nanti kita sambung lagi ngobrolnya, ntar ketauan mandor kan berabe” ajak Amir sambil beranjak menuju tumpukan kayu balok.

Di sebuah sekolah dasar terlihat anak-anak sekolah sedang serius belajar, wajah mereka tampak segar walaupun ruang tempat mereka belajar sama sekali tidak segar dan cenderung membahayakan. Plafon ruang kelas IV yang mereka tempati tampak sudah bergelayut nyaris roboh dan dinding-dinding kelas juga terlihat retak dan keropos. Tiba-tiba sebuah serpihak kecil kayu jatuh di hadapan seorang murid yg sedang serius menulis, “Wah, mejaku jadi kotor deh” bisik anak itu, “Iya, rambutmu juga tuh banyak ampas kayunya Ton" kata seorang murid perempuan kepada anak itu yang bernama Tono, “Eh, terima kasih ya Dar” jawab Tono kepada anak perempuan itu yg ternyata bernama Sundari. “Tono!, kamu ngapain, kok malah ngobrol” teriak ibu guru setelah melihat mereka berbicara dan sambil membersihkan meja mereka, “Nggak bu, ini sedang membersihkan ampas kayu yg jatuh dari plafon” jawab Tono, “Untung nggak roboh” timpal anak lainnya yg berpostur gendut yang duduk di bangku paling belakang, “Sudah..sudah, menurut ibu ini masih aman kok” lanjut bu guru. “Bu kalau kelak saya jadi presiden, sekolah-sekolah akan saya bangun dengan bagus” kata Tono lantang, “Supaya bisa belajar dengan tenang” lanjut Tono, “Ha..ha….ha..keturunan PKI mana bisa jadi presiden” timpal anak gendut tadi sambil tertawa dan diikuti tawa oleh teman lainnya, “Andri!!, kamu tidak boleh berbicara seperti itu, siapa yang mengajari kamu!” bentak bu guru kepada Andri si anak gendut itu, “Eeee, kata ayah saya bu, katanya kalau PKI itu nggak bisa jadi pegawai negeri apalagi presiden, dan katanya juga Tono itu keturunan PKI” jawab Andri sambil tertunduk, “Ya sudah, kamu tidak boleh lagi bicara seperti itu, kalau diulangi lagi, kamu ibu hukum” lanjut bu guru, “ya sudah, kita lanjutkan lagi belajarnya”.

Sementara itu di sebuah rumah yang amat sederhana di pinggir rel kereta api di sekitar Tanah Abang dan biasa disebut mereka yg lebih beruntung dengan sebutan “Kampung Kumuh”, seorang gadis cilik tampak duduk manis di samping seorang ibu yang sedang sibuk mencuci pakaian yang tampak menggunung. Sesekali terlihat ia mengusap kening sang ibu dengan kain ditangannya, “Ibu capek yah?” tanya gadis cilik itu, “Nggak sayang, ini kan sudah pekerjaan ibu” jawab sang ibu sambil terus mencuci, “Kalau ibu capek, ibu istirahat saja” lanjut gadis cilik itu, “Rina..rina, ibu sayang sama kamu, kalau ibu nggak nyuci nanti biaya kita makan gimana, terus bayarin masuk sekolahmu dan biaya kakakmu siapa” jawab sang ibu kepada Rina gadis cilik itu sambil mencubit pipinya. “Rina bisa kok mencuci, Rina aja sini yg cuci, ibu istirahat, kakak aja pulang sekolah bisa ngamen” lanjut Rina si gadis cilik, “Ah, kamu itu masih kecil, belum kuat kalau nyuci, sayang. Nanti kalau kamu sudah besar, tapi ya jangan kerja jadi tukang cuci, kamu kerja di gedung-gedung tinggi itu tuh, kakakmu juga. Ibu jadi tukang cuci begini karena untuk membantu ayahmu supaya kamu bisa sekolah supaya jadi orang hebat” jawab sang ibu, “Tapi masih lama yah bu, sekarang aja Rina belum sekolah” kata Rina lagi, “ya sabar, yg penting kamu nanti kalau udah sekolah belajar yang rajin biar pinter dan capeknya ibu ini nggak sia-sia ya sayang” jawab sang ibu lagi. Rina si gadis cilik hanya terpaku memandang ke langit mendengarkan ucapan ibunya itu.

Sore hari, Tejo dan Amir berjalan bersama sepulang mereka dari proyek, sepanjang jalan mereka terlihat berbincang-bincang. Dari wajah mereka terbesit sedikit kegembiraan karena mereka sudah menerima uang bayaran bulan ini. “Jo, bayaranmu nyisa berapa?” tanya Amir, “Tadi saya bayarin ke kedai Rp. 90.000, ya jadi nyisa Rp. 210.000” jawab Sutejo, “Wah, masih banyakan kamu tuh, aku nyisa Rp. 130.000, abis tadi selain bayar ke kedai Bu Sumirah, aku juga bayar utang sama si Jabrik tuh” lanjut Amir, “Kamu kan bujangan Mir, kalo aku kan harus menghidupi istri dan dua anakku, ya uang segitu paling habis untuk seminggu” jawab Tejo, “Ya gini deh nasibnya orang susah, dibayar sesuai UMR alias cuma cukup untuk makan pas-pasan” sambung Amir dengan kesal, “Ya sudah lah, kalau dipikirin terus ntar stres, Mir aku duluan yah, sampai ketemu besok” kata Tejo sambil berbelok ke salah satu gang di kampung kumuh itu. “Oke Jo, sampai ketemu besok” jawab Amir sambil melambaikan tangannya.

Sesampainya di rumah, Sutejo langsung duduk di bangku yg sudah buruk di muka rumahnya. Sambil menghela nafas panjang, dia pandangi uang bayarannya dan kemudian memasukkannya kembali dalam saku. “Eh, bapak sudah pulang toh, la ya kok ndak langsung masuk?” sapa sang ibu yang keluar sambil membawa sapu ijuk, “Ndak apa-apa, lagi kepingin liat-liat suasana aja” jawab Tejo, “Ibu buatkan kopi ya ?” kata sang ibu sambil meraih kantung plastik yang berisi peralatan kerja Tejo. “Bapak!!, bapak sudah pulang, sudah lama?” tanya Rina yang tiba-tiba muncul dari samping rumah mereka, “Baru aja sayang, kamu pasti belum mandi” jawab Tejo sambil menggendong dan mencium pipi putri ciliknya itu, “Kok bapak tau” jawab Rina sambil merangkul leher Tejo dengan manja, “Lha pasti tau dong, soalnya bapak cium masih bau asem..ha..ha..ha” lanjut Tejo sambil tertawa menggoda putrinya itu, “Ya sudah, kamu mandi sana, bapak juga mau mandi” lanjut Tejo sambil masuk ke dalam rumah. Setelah selesai mandi, Tejo duduk-duduk dan terlihat santai. “Pak, ini kopinya” sapa sang ibu sambil menaruh kopi di meja di depan televisi 14 inch yg gambarnya sudah mulai buram, “Terima kasih bidadariku” balas Tejo sambil meraih cangkir kopi dihadapannya, “Ah, bapak ini masih aja genit, inget dah tue loh pak” jawab sang ibu tersipu. “Oh iya, Tono belum pulang toh bu” tanya Tejo pada istrinya, “Iya, biasanyakan dia pulang selepas magrib pak, gimana sih, kok lali sih” jawab sang ibu.

Menjelang Isya, Tono pulang ke rumah, wajahnya tampak kuyu dan lelah. Peralatan mengamennya yg terbuat dari lempengen tutup botol ia gantung di muka rumahnya. “Assalamualaikum” sapa Tono sambil ngeloyor masuk ke rumah, “Waalaikumsalam” jawab sang ibu, “Capek nak?, mandi dulu sana biar segar” lanjut sang ibu sambil menepuk pundak Tono. Setelah selesai mandi Tono menonton televisi bersama ayahnya dan tak lupa ia bawa beberapa buku sekolahnya dan mengerjakan beberapa pekerjaan rumah dari gurunya. Tiba-tiba Tono bertanya : "Pak, PKI itu apa sih?” tanya Tono santai sambil serius mengejakan PR-nya, “Kamu dapat dari mana kata-kata itu” jawab Tejo sambil bertanya balik, “Kata si Andri, tadi di sekolah dia bilang Tono nggak bisa jadi presiden karena Tono keturunan PKI katanya” lanjut Tono sambil menatap Ayahnya lembut, “PKI itu bukan apa-apa nak, bukan juga siapa-siapa, PKI hanya sebuah sejarah gelap negeri ini” jawab Tejo hati-hati, “Terus, kenapa Tono nggak bisa jadi presiden, kan Tono mau membangun negeri ini menjadi negeri yg makmur” lanjut Tono. Sesaat kemudian Tejo beranjak dari kursinya dan mendekati Tono duduk di lantai, sambil menatap mata Tono dalam-dalam, ia berujar: “Tono anakku, untuk membangun negeri ini tidak harus dengan menjadi presiden, justru negeri ini hancur karena ulah presidennya. Belajarlah yg rajin, supaya kamu cerdas, juga taatlah beribadah supaya kamu juga punya moral yg baik”. “Tapi Tono mau jadi presiden pak!, makanya Tono sekarang belajar dan rajin shalat” kata Tono lagi, “Iya nak, jadilah presiden, kelak saat kamu dewasa, bapak harap negeri ini sudah berubah, tak ada lagi diskriminasi. Ya sudah, lanjutkan belajarnya deh pak presiden!!” kata Tejo panjang lebar sambil mengucek kepala Tono, “Apa itu diskriminasi pak?” tanya Tono lagi, “Hmmm…nanti saat kamu dewasa dan ilmu mu pun bertambah, kamu akan tau sendiri” jawab Tejo sambil beranjak dari sisi Tono.

Menjelang malam, setelah selesai mengerjaan PR-nya, Tono seperti biasa menghampiri Rina, adik kecilnya yang sedang bermain dimuka rumah. “Rina, sini deh” sapa Tono dimuka pintu, “Ada apa kak?” jawab Rina sambil menghampiri Tono, “Ini, kakak ada coklat untuk kamu” kata Tono sambil tersenyum, “Asyikk..terima kasih ya kak, kakak dapet uang dari mana bisa beli coklat ?” lanjut Rina bertanya, “Halal kok ini Rin, tadi kebetulan kakak ketemu penumpang-penumpang yg dermawan, jadi mereka kasih kakak uang lebih” jawab Tono, “Mending di tabung kak, biar kakak bisa sekolah tinggi dan jadi presiden beneran” kata Rina, “Udah kok, tiap hari kakak nabung, u/ bantu bapak biayai masuk sekolahmu tahun depan” jawab Tono sambil mencium pipi adik kecilnya itu. Kemudian keduanya masuk ke dalam rumah, tak lama kemudian mereka pun tertidur pulas untuk menyambut hari esok yang masih tak menentu.

Di tengah larutnya malam, Tejo dan istrinya terlihat duduk santai di muka rumah mereka. Sambil menatap langit yg ditaburi bintang mereka asyik berbincang. “Bu, kadang aku ini merasa tidak bertanggungjawab sebagai ayah” bisik Tejo pelan, “Kok ngomong gitu sih, bapak itu adalah bapak yg paling baik” jawab sang ibu dengan wajah terheran-heran, “Ya opo bu, lihat aja si Tono, dia harus mengamen untuk nambahin biaya sekolahnya, terus juga ibu harus jadi tukang cuci untuk menambal kebutuhan keluarga ini, rasanya aku gagal membahagiakan kalian” lanjut Tejo dengan mata berkaca-kaca, “Pak, jangan ngomong gitu, usaha bapak adalah nafas yang kami hirup sampai detik ini, kami nggak pernah nuntut harta berlimpah, sing penting bapak terus menyayangi kami” jawab sang ibu sambil tersedu memeluk Tejo, “Maafin aku ya bu, coba dulu kalau aku di terima sebagai pegawai negeri, mungkin nasib kita akan jauh berbeda, tapi aku tak bisa menyalahkan kakekku yang anggota PKI sehingga aku tidak lolos litsus dan tidak di terima sebagai abdi negara”, “tapi aku bertekad, anak-anak harus terus sekolah, apapun yang terjadi, supaya kehidupan mereka kelak lebih baik dan dihargai orang” kata Tejo panjang lebar sambil menatap bintang dan mengelus rambut istrinya. “Ibu juga bertekad yg sama pak, juga berharap semoga kelak negeri ini berubah, tidak lagi mendiskriminasikan para keturunan PKI seperti kita ini, agar anak-anak kita tak lagi harus menelan pil pahit harus di singkirkan” jawab sang ibu sambil mengusap air matanya, “Aku sangat beruntung punya istri seperti mu yg penuh pengertian dan anak-anak yg manis dan cerdas, semoga saja saya diberi umur untuk menyaksikan mereka tumbuh dan maju” ujar Tejo lirih, “Pak, ngomonge bapak iki opo sih, lha kok ke umur-umur segala, aku ngeri ah!!” saut sang Ibu sambil mencium tangan Tejo, “Ya sudah lah, sudah malam, ayo kita tidur” ajak Tejo sambil bangkit dan menggandeng sang ibu.


Satu minggu telah berlalu, sang ibu terus menggeluti profesi mencucinya dan Tejo juga terus berusaha sekuat tenaganya untuk membiayai keluarga kecilnya. Hingga pada suatu siang yang terik, Amir terlihat tergopoh-gopoh berlari menuju rumah Tejo. “Mbak Hanum..mbak Hanum!!” panggil Amir kepada Hanum istri Tejo, lalu dengan tergopoh-gopoh Hanum berlari kecil dari dalam rumah menghampiri Amir, “Ono opo Mir ?, lha kok kayak orang kesurupan gitu” tanya Hanum penasaran, “Anu mbak, Tejo!” jawab Amir terbata-bata, “Hah!!.kenapa mas Tejo, ada apa?” teriak Hanum merasa telah terjadi sesuatu, “Anu mbak, mas Tejo… kecelakaan, sekarang dia di rumah sakit” jawab Amir, “Ya Allah, mas Tejooo!! teriak Hanum histeris. Tak lama kemudian, mereka langsung menuju rumah sakit, sepanjang jalan Hanum tak henti-hentinya menangis, “Ya Allah, selamatkan suamiku ya Allah” bisik Hanum lemah, “Tabah mbak, kita doakan saja agar mas Tejo baik-baik saja” kata Amir menenangkan Hanum istri Tejo.

Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung menuju ruang gawat darurat. Disana terlihat sudah banyak sekali teman-teman kerja Tejo yang lain, dan terlihat juga Pak Hasan sang mandor. “Minggir..minggir!!, ini istrinya Tejo” teriak Amir sambil memberi Hanum jalan. Sesampainya Hanum dihadapan Tejo yg terbaring lemah, “Mas, apa yang terjadi ?” tanya Hanum tersedu sambil mengusap wajah suami tercintanya itu dengan lembut, “ini sudah musibah bu” jawab Tejo pelan, “Sepertinya aku nggak kuat lagi bu” lanjut Tejo, “Pak, bapak harus sehat jangan tinggalin kami, Rina dan Tono butuh bapak” kata Hanum dengan tangis berderai, “Maaf kan aku bu, jaga anak-anak, sampaikan maaf ku karena aku belum bisa memberi mereka kabahagian, dan salam untuk Rina si calon dokter ku dan Tono si calon presiden” bisik Tejo lemah dan terbata-bata. “Bu, terima kasih untuk cinta mu, aku mencintaimu…” ujar Tejo yang kemudian Tejo menggenggam erat tangan istrinya dan menatapnya syahdu penuh cinta, hingga akhirnya matanya tertutup untuk selamanya. “Mas Tejooooo!!!” teriakan Hanum siang itu seakan merobek hati seisi ruangan, suami tercintanya yang sekaligus tulang punggung keluarga harus pergi mendahului mereka. Amir terlihat menangis di pojokan ruang, ia seperti tidak percaya telah kehilangan karib dekatnya. Sementara itu Hanum terus saja menangis sambil terus memeluk tubuh kaku Tejo, dia ciumi wajah suaminya itu, dia belai rambut hitam Tejo dan dia bisikkan “Aku akan sangat merindukan mu mas”.

Sementara itu, di sebuah sekolah dasar, Tono terlihat sudah keluar kelasnya untuk pulang. “Heh pengamen!!, loe nggak ngamen, mana kecrekan loe” teriak Andri meledek Tono, “Ngamen juga halal Dri, kalo kamu kan bisanya cuma minta sama orang tua mu” jawab Tono, “Iya dong, kan orang tua ku banyak uang nya” lanjut Andri di ikuti teman-temannya meledek Tono, “Bapak mu itu cuma lurah, kok bisa punya uang banyak dari mana tuh” bisik Tono dalam hati. Sesaat kemudian Tono terdiam dan menyadari kalau kecrekannya benar tertinggal di rumah, lalu ia pun langsung berlari pulang ke rumahnya. Mendekati rumahnya, Tono mendengar suara tangis Rina adik kecilnya dari dalam rumah, lalu dia berlari kencang untuk mengetahui keadaan adiknya itu, “Ya ampun, Rina kenapa kamu menangis, dimana ibu?” tanya Tono tergopoh-gopoh, “Nggak tau kak, tadi Rina pulang dari main, ibu sudah nggak ada” jawab Rina sambil merengek, “Ya sudah adikku sayang, mungkin ibu lagi ada perlu keluar rumah”, “Ya udah, dari pada sendirian ikut kakak ngamen yuk” ajak Tono pada adiknya, “Yuk, ntar kalau duitnya banyak, beliin Rina coklat lagi yah kak” jawab Rina sambil mengusap air matanya, “Iya sayang, yuk jalan” jawab Tono sambil meraih Rina ke gendongannya. Sepanjang siang itu, Tono dan Rina mengamen dari satu bus ke bus yang lainnya, dengan ceria si Rina kecil menemani sang kakak bernyanyi, karena wajah Rina yang imut dan lucu serta tingkahnya yang polos, banyak penumpang bus yang tercuri hatinya, sehingga uang yang mereka terima pun lumayan banyak. Menjelang sore, mereka terlihat duduk beristirahat di halte bus Plaza Sarinah, “Oh iya Rina sayang, yuk kita ke Hero di dalam” ajak Tono, “Ngapain kak” jawab Rina bertanya balik, “Loh, katanya tadi mau coklat” jawab Tono lagi, “Asyikkk, emang uangnya banyak kak?” teriak Rina gembira, “Alhamdulillah, ini rezeki kamu, karena ada kamu jadinya uangnya banyak” jawab Tono. Kemudian mereka pun langsung berjalan masuk ke basement Sarinah menuju Hero Supermarket. Dan sekembalinya dari Hero Supermarket, Rina sudah terlihat dengan gembira menguyah coklat kesukaannya.

Tak lama setelah mereka menikmati coklat di halte Sarinah, tiba-tiba seseorang menghampiri mereka, “Tono, saya disuruh ibumu menjemput kamu, kamu disuruh pulang sekarang juga” sapa orang itu, “Ada apa Pak Karman?” jawab Tono bingung, “Maaf nak Tono, saya tidak bisa bercerita” jawab Pak Karman tetangga keluarga Tejo. Kemudian mereka pun bergegas pulang. Setelah dekat dengan rumah mereka, dari kejauhan Tono melihat keramaian di depan rumahnya dan mulai bertanya-tanya, “Pak, ada apa di rumah saya?” tanya Tono pada Pak Karman, tapi Pak Karman hanya diam tak menjawab pertanyaan. Sesampainya di muka pintu, Tono melihat ibunya duduk bersimpuh membaca Al-quran di depan jasad seseorang, “Buu?” sapa Tono pada ibunya, mendengar sapaan itu, ibunya langsung bangkit dan memeluk Tono sambil terisak, “Bapakmu nak” bisik ibunya lirih, “Bu!!, Rina di beliin coklat lagi sama kakak” kata Rina sambil mengacungkan coklat batang dengan polosnya. Kemudian, kedua tangan sang ibu meraih Rina dan menyatukan mereka dalam pelukan erat. “Bapakkkkkk…” teriak Tono yang tak kuat lagi menahan sedihnya sambil memeluk jasad bapaknya. Sedangkan Rina yang belum tau apa-apa hanya kebingungan, dan kemudian seorang kerabat membawa Rina keluar, dan Rina tak hentinya bertanya mengapa bapaknya tertidur di lantai dan kenapa ibu dan kakaknya menangis. Rina pun akhirnya meronta dan menangis ingin dekat dengan ibu dan kakaknya.

Sebulan sudah Tejo meninggalkan keluarganya, suasana rumah menjadi sepi, tapi hidup harus terus berjalan. Untuk menutupi kebutuhan keluarga, Hanum harus bekerja keras, selain menjadi tukang cuci, ia pun menjalani pekerjaan sebagai pemulung. Pagi mencuci, dan siang harinya bersama gadis ciliknya berkeliling kota mencari barang bekas yang bisa dijual. Jika malam datang, Hanum selalu mengajak anak-anaknya mengaji bersama dan berdoa untuk Tejo, setelah itu biasanya mereka duduk di depan televisi yang belum juga besar-besar, masih 14 inci. “Bu, untuk bulan ini uang sekolah Tono belum dibayar” kata Tono pelan, “Iya nak, nanti ibu bayar, ibu akan cari uang dulu” jawab ibunya meyakinkan Tono, “Apa Tono berhenti sekolah saja bu, supaya bisa lebih keras membantu ibu, pagi-pagi Tono bisa berjualan koran dan siangnya mengamen” kata Tono sambil mendekat pada ibunya, “Jangan nak, kamu harus terus sekolah apapun yang terjadi, itu pesan ayahmu agar kalian kelak jadi orang yang berguna, ibu masih sanggup kok membiayai kalian, Insya Allah ibu dapat uang untuk bayar uang sekolahmu itu” jawab ibunya sambil memegang kedua bahu Tono dan menatapnya dalam dengan mata berkaca-kaca, “Bu!!, Rina juga mau sekolah ya, biar bisa kayak kakak, ntar kakak jadi presiden, Rina jadi dokter ya bu” saut Rina sambil memegang tangan ibunya dengan manja, “iya sayang, nanti kamu juga harus sekolah” jawab ibunya sambil menaruh Rina di pangkuannya. “Bu!!, bapak kok nggak pulang-pulang, Rina kangen” tanya Rina sambil memainkan jemari ibunya. Untuk beberapa saat Hanum terdiam dan setetes air matanya menetes di lengan Rina, “Kok ibu menangis ?, kenapa bu?” tanya Rina sambil mengusap pipi Hanum dengan jemarinya yang mungil, “Nggak apa-apa sayang, cuma kangen sama bapakmu. Bapak belum pulang karena cari uang yg banyak untuk kamu dan kakakmu” jawab Hanum sambil memeluk putri ciliknya dengan erat dan menciumnya, “Maafin ibu sayang telah membohongimu” bisik Hanum dalam hati. “Aku harus berusaha lebih keras lagi, agar bisa membantu ibu, kasihan ibu, dia pasti sangat lelah” bisik Tono dalam hati sambil menatap dalam-dalam ibunya yang sedang memeluk erat adik kecilnya.

Hari demi hari mereka lalui, sepulang sekolah Tono mengamen dari satu bus ke bus lainnya dan pulang hingga larut. Begitu juga dengan ibunya, mereka seakan berpacu dengan waktu hanya untuk sekedar makan dan biaya sekolah, cita-cita untuk berpendidikan tinggi terasa seperti mendaki bukit terjal yang amat curam bagi mereka. Setiap sore, sang ibu tampak sibuk memilah-milah barang rongsokan yang didapatnya dibantu oleh Rina putri ciliknya. Tapi terkadang juga si Rina cilik ikut Tono mengamen di bus-bus kota. Suatu hari Tono membawa Rina mengamen di bus kota, mereka bernyanyi dengan riang dan penuh kegembiraan dan sang adik berkeliling menyodorkan kantung bekas pembungkus permen meminta partisipasi penumpang. Semangat mereka terdengar nyaring dari suara serak mereka dan beratnya kehidupan terukir jelas dari tetesan keringat mereka. Dan dari bangku paling belakang bus 213 jurusan Grogol-Kampung Melayu, aku menatap keduanya seperti menatap cermin negeri ini, mereka berusaha begitu keras untuk masa depan mereka dan tentunya masa depan negeri ini juga.

PRASASTI CINTA - Bagian 2

Judul : Prasasti Cinta - Bagian 2
Karya : Ales Oktapratama

Di sebuah pintu masuk salah satu kamar di sebuah rumah sakit, terlihat 2 orang polisi berjaga. Mereka duduk tenang sambil berbincang, sedangkan di dalam kamar tersebut seorang pesakitan tergolek lemas dengan padangan kosong menerawang ke langit-langit kamar. Ramsi sudah tergolek disana lebih dari satu bulan, luka-luka goresan di tubuhnya memang sudah hilang tetapi kondisi jiwanya masih belum pulih. Sejak pihak kepolisian membawanya ke rumah sakit ketika peristiwa ledakan pesawat Qantas di Bandara Soekarno-Hatta sebulan yang lalu, Ramsi tak pernah mengeluarkan satu katapun, matanya terus saja menatap kosong, dan terkadang titik air mata menetes dari matanya yang terlihat lebam. Tangannya terlihat terbelenggu oleh borgol, sesekali ia geraknya pergelangan tangannya yang terborgol itu dan kemudian menatapnya dalam.

“Selamat pagi bapak-bapak” sapa seorang lelaki kepada kedua polisi yang menjaga pintu kamar Ramsi, “Selamat pagi dokter” jawab kedua polisi tersebut, “Bagaimana pak, nampaknya anda-anda lelah sekali” lanjut dokter tersebut, “Ya beginilah tugas kami, harus menjaganya semalaman” jawab kedua polisi itu lagi, “Baiklah, saya akan memeriksa pasien dahulu” kata dokter itu mengakhiri perbincangan, “Silahkan dok” jawab polisi. Tak lama kemudian dokter itu terlihat memeriksa tubuh Ramsi dan sesekali mencatat hasil pemeriksaannya di sebuah buku yang dibawanya. “Bagaimana keadaan mu Ram, kamu terlihat makin sehat” sapa dokter kepada Ramsi, namun Ramsi tak pernah menjawab sapaan dokter itu, walaupun hampir setiap hari sang dokter berusaha berkomunikasi dengan Ramsi. Tatapan Ramsi masih saja tampak kosong, walau sesekali dia palingkan pandangannya ke arah dokter tersebut. “Kalau kamu butuh sesuatu atau ingin mengatakan sesuatu, saya siap membantu dan mendengarnya” ujar dokter itu sambil menepuk pundak Ramsi dan berlalu meninggalkan kamar. “Sayang ya, cakep-cakep stres, terorist lagi!!” bisik seorang perawat kepada rekannya sambil berjalan mengikuti sang dokter, “Iya ya Ran, serem ah punya cowok kayak gitu, misterius” jawab Rani salah satu perawat tersebut.

Sementara itu disebuah ruangan di Polda Metro Jaya. “Letnan Andi, bagaimana perkembangan tersangka?” tanya seorang perwira menengah dalam sebuah rapat, “Keadaannya belum banyak berubah, tersangka belum bisa di ajak bicara pak Irwan” jawab Letnan Andi kepada Pak Irwan. Pak Irwan adalah kepala satuan khusus yang menangani terorisme, beliau berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi. Perawakannya yang tenang dan tegas membuat ia begitu disegani oleh bawahannya. “Sebenarnya saya merasakan sesuatu yang aneh dengan tersangka, saya lihat dari pandangan matanya, seperti ada sesuatu yang amat dalam” ujar Pak Irwan, “Letnan Andi, sepertinya kita harus menggunakan jasa psikiater, pengungkapan kasus ini akan sangat lama jika keadaannya terus seperti ini” lanjut Pak Irwan, “Betul pak, saya setuju, besok saya akan hubungi Dokter Shinta untuk itu” jawab Letnan Andi. “Lalu bagaimana dengan hasil penggeledahan kamar hotel tersangka, apa yang kita dapat sebagai petunjuk” tanya Pak Irwan, “Tidak ada yang berarti pak, hanya sepotong tiket penerbangan dari Singapura ke Jakarta. Sepertinya hanya itu yang berarti yang bisa menghubungkan tersangka dengan peledakan Kedutaan Besar Inggris di Singapura” jawab Letnan Andi, “Dari potongan tiket tersebut diketahui bahwa tersangka meninggalkan Singapura tepat sehari setelah Kedutaan Besar Inggris di Singapura meledak” lanjut Letnan Andi sambil menyodorkan lembaran hasil pemeriksaan. “Bagus!, besok kita lihat hasil tes dari psikiater, saya berharap hal itu bisa membantu kita” jawab Pak Irwan penuh harap.

Di sebuah rumah tak jauh dari rumah sakit. “Assalamualaikum” sapa seorang wanita di sambil membuka pintu dan melangkah masuk, “Waalaikum salam, kok baru pulang Ran” jawab seorang ibu dari dalam rumah, “Iya bu, soalnya lagi banyak pasien” jawab Rani kepada ibunya. Sementara itu di ruang keluarga, ayah Rani sedang serius menyimak acara berita di sebuah stasiun televisi. “Wah, masa’ mengungkap peledakan begitu saja susah, kan tersangkanya sudah tertangkap” celetuk ayah Rani, “Ya ndak bisa gitu pak, soalnya tersangkanya itu masih dalam kondisi kejiwaan yang belum stabil” timpal Rani sambil duduk di sebelah ayahnya dan mengambil pisang goreng di meja di hadapannya, “Oh iya, kamu hati-hati lo selagi mengurusi tersangka itu, khawatirnya kamu dijadikan sandera ketika dia berusaha kabur, ya kayak di film-film itu” lanjut ayah Rani memperingatkan putrinya, “Ya nggak lah pak, kan ada polisi yang jaga, lagi pula tangannya di borgol kok” jawab Rani, “Ah kamu selalu saja menganggap remeh, namanya juga penjahat, akalnya banyak, apalagi dia terorist, pasti udah berpengalaman” jawab ayah Rani, “Iya deh pak, Rani tau bagaimana harus menjaga diri” jawab Rani lagi, “Ya sudah, kamu makan malam dulu sana, nanti terlalu malam tidak baik” pinta ayahnya sambil mengucek rambut Rani.

Keesokan harinya di kamar perawatan Ramsi. Ramsi terlihat masih tertidur ketika para perawat membersihkan. Tiba-tiba ketiga perawat tiu dikejutkan oleh suara seseorang menjerit kencang, “Nokeeeeee, tidakk!!!”. Jeritan itu berasal dari Ramsi yang terlihat langsung terjaga dengan nafas tersengal-sengal. Mendengar jeritan itu, kedua polisi yang menjaga pintu kamar Ramsi langsung masuk ke kamar Ramsi untuk mengetahui apa yang terjadi. “Ada apa!!” tanya salah seorang polisi itu, “pasien seperti mimpi buruk pak” jawab salah seorang perawat, “ooo...kalian tidak apa-apa?” tanya polisi itu, “kami baik-baik saja” jawab salah seorang perawat, “Ya sudah, lanjutkan tugas kalian” jawab polisi itu sambil pergi meninggalkan kamar. “Mari pak saya bantu mengganti pakaiannya, pakaian bapak basah karena keringat” ujar seorang perawat sambil memegang lengan Ramsi dengan hati-hati, “Ran, sini!!” kata seorang perawat lainnya sambil menarik tangan Rani menjauh dari Ramsi, “Kamu nekat yah, kalo kamu di cekik sama dia gimana” bisik perawat itu, “Nggak mungkin lah Tut, aku percaya dengan dia, bisa saya baca dari sinar matanya, sebenarnya mungkin dia itu orang yang baik” jawab Rani pelan, “Ah, kamu udah gila kali yah, ya sudah aku bantuin deh, khawatir kejadian beneran” jawab Tuti si perawat rekan Rani itu. Ramsi perlahan menggerakkan kepalanya menatap ke wajah Rani ketika jari jemari Rani menyentuh tubuhnya, Rani pun seketika terdiam ketika sadar mata Ramsi menatapnya dalam. Ada perasaan takut bercampur teduh di hati Rani mendapatkan tatapan itu, walau kemudian Ramsi memalingkan kembali wajahnya ke arah jendela.

Tak lama setelah selesai Ramsi berganti pakaian, serombongan polisi di iringi oleh dua orang dokter datang mengunjungi kamar Ramsi. “Selamat pagi Ramsi, ini ada tamu untuk mu” sapa dokter kepada Ramsi, “Dokter Syarief!, apakah kita bisa melakukan pemeriksaan psikologi pagi ini juga” tanya Letnan Andi, “Bisa!, pada dasarnya secara kejiwaan dia nggak ada masalah, hanya saja sepertinya dia mengalami sedikit goncangan” jawab Dokter Syarief, “Oke, kalau begitu Dokter Shinta bisa langsung mengadakan pemeriksaan” lanjut Letnan Andi. “Kalau begitu, mohon agar pasien dibawa ke ruang kerja saya sekarang” pinta Dokter Shinta sambil berlalu menuju ruang kerjanya. Tak lama kemudian, Ramsi pun sudah berada di ruang kerja Dokter Shinta. Sedangkan diluar ruang kerja Dokter Shinta terlihat penjagaan yang amat ketat, sementara itu di dalam ruang kerjanya, Dokter Shinta terlihat memperlihatkan berbagai macam objeck dan gambar sambil memperhatikan reaksi Ramsi atas gambar-gambar tersebut. Sudah berpuluh-puluh gambar di perlihatkan, namun Ramsi tak bereaksi apa-apa dan Dokter Shinta pun nampak sedikit berputus ada. Lalu Dokter Shinta mendengar bisikan dari bibir Ramsi, “Noke..Noke”, mendengar itu Dokter Shinta langsung saja membalikkan gambar sebelumnya, “Gambar pesawat terbang?” bisik Dokter Shinta. Ketika gambar itu di pertunjukkan kembali, Ramsi terlihat mencoba menggapai gambar itu dan terlihat titik air mata di pipinya.

Menjelang tengah hari, Dokter Shinta keluar dari ruangannya dan menemui Letnan Andi. “Letnan, sepertinya saya belum mendapat apa-apa, pasien belum mau membuka mulutnya” kata Dokter Shinta, “Hmmm, baiklah nanti kita lanjutnya pemeriksaan berikutnya besok” jawab Letnan Andi kecewa, “Ya, nanti saya siapkan metode pemeriksaan lainnya” jawab Dokter Shinta diplomatis, “Oke dok, kalau begitu saya kembali dulu ke kantor, nanti biar anak buah saya yang memindahkan tersangka ke kamarnya” lanjut Letnan Andi sambil berlalu. Belum lama Letnan Andi melangkah, tiba-tiba hand phonenya berdering, sambil berjalan Letnan Andi menjawab telpon itu, “Hallo komandan, ada apa?” sapa Letnan Andi kepada penelpon yang ternyata adalah Pak Irwan, “Bagaimana hasil pemeriksaannya?” tanya Pak Irwan di telpon, “Belum ada pak, Dokter Shinta belum berhasil memperoleh apapun” jawab Letnan Andi, “Wah, sebaiknya dipercepat saja proses ini, masalahnya pak Kapolri ingin kasus ini cepat tuntas karena pemerintah Amerika Serikat terus bertanya tentang kelanjutan kasus ini, tekanan politiknya besar disini” lanjut Pak Irwan, “Baik komandan, tapi kita mesti sabar sedikit karena dia lah kunci kita untuk membongkar jaringan teroris di Asia Tenggara” jawab Letnan Andi lagi, “ya itulah dilema kita, kita ada ditengah-tengah kepentingan politik, sehingga kita juga rikuh untuk melakukan tindakan yang diperlukan” lanjut Pak Irwan sedikit kesal, “Oke, kalau begitu saya tunggu perkembangan berikutnya” pinta Pak Irwan sambil mengakhiri pembicaraan, “Baik Dan” jawab Letnan Andi sambil menutup hand ponenya.

Sementara itu, Dokter Shinta terlihat merenung di ruang kerjanya. “Noke?, siapa dia, lalu apa pula hubungan dengan pesawat terbang, apakah Noke punya arti khusus baginya” bisik Dokter Shinta penasaran, “lalu kenapa dia menitikkan air mata setelah melihat gambar pesawat terbang ini” bisiknya lagi sambil memandangi gambar pesawat terbang yang ditunjukkan kepada Ramsi sebelumnya, “Apakah mungkin Noke ada di dalam pesawat yang meledak itu?, tapi kenapa dia besedih?, aku harus cari jawabnya!” bisik Dokter Shinta sambil meraih telpon di mejanya. “Hallo, Letnan Andi?” sapa Dokter Shinta di telpon, “Ya, saya Letnan Andi, ini siapa?” jawab Letnan Andi di hand phonenya, “Saya Dokter Shinta” jawab Dokter Shinta, “Ooo, ada apa dok?” jawab Letnan Andi sambil bertanya, “Letnan, bisa saya meminta daftar korban ledakan pesawat Qantas tersebut” pinta Dokter Shinta, “Oh bisa, tapi kalau boleh saya tahu untuk apa yah?” jawab Letnan Andi bertanya-tanya, “Saya hanya ingin menunjukkan nama-nama tersebut pada pasien, mungkin ada yang ia kenal” jawab Dokter Shinta, “Oh, kalau begitu baiklah, besok saya bawakan untuk anda” jawab Letnan Andi, “Terima kasih letnan, saya tunggu besok. Selamat siang” balas Dokter Shinta sambil mengakhiri pembicaraan. “Hmmm, suaranya di telpon merdu juga, cocok dengan wajahnya yang cantik” bisik Letnan Andi sambil tersenyum simpul.

Esok harinya, setelah mendapat daftar korban dari Letnan Andi, Dokter Shinta terlihat serius memperhatikan nama korban satu persatu, “Aneh, tak ada yang namanya Noke di daftar ini. Lalu apa hubungannya reaksi Ramsi saat melihat gambar pesawat dengan nama Noke yang ia sebut-sebut?” bisik Dokter Shinta sambil mengusap wajahnya karena bingung. Tak lama kemudian terdengar pintu ruang kerja Dokter Shinta di ketuk dari luar, “tok..tok..tok!!”, “Silahkan masuk!” jawab Dokter Shinta dari dalam ruang kerjanya, “Siang dok!” jawab sipengetuk pintu, “Ooo, Letnan Andi, selamat siang silahkan duduk!” jawab Dokter Shinta dengan ramah, “Terima kasih” balas Letnan Andi sambil duduk. “Dok, sepertinya kami tidak bisa lagi menunggu hasil pemeriksaan sampai selesai, karena pihak istana minta pengadilan atas kasus ini segera di gelar, agar terlihat ada perkembangannya” kata Letnan Andi menjelaskan, “Sayang sekali ya, padahal saya yakin dalam beberapa tes lagi kita bisa dapat petunjuk” jawab Dokter Shinta, “Ya begitulah. Oh iya ngomong-ngomong sudah jam makan siang nih, makan siang bareng yuk, sambil melanjutkan perbincangan ini” jawab Letnan Andi sambil berinisiatif mengajak makan siang, “Oke” jawab Dokter Shinta singkat. Selama makan siang Letnan Andi dan Dokter Shinta terlihat berbincang serius walau kadang ada gelak tawa disana. “Dok, kenapa wanita secantik anda masih sendiri, saya yakin banyak pria diluar sana yang mengidolakan anda” tanya Letnan Andi mencoba membelokkan topik pembicaraan kearah yang lebih ringan, “Ah, letnan bisa saja, mugkin jodoh saya saja yang belum datang” jawab Dokter Shinta tertunduk, “Ya, mungkin sih” lanjut Letnan Andi, “Anda sendiri bagaimana” kata Dokter Shinta bertanya balik, “Ya, sepertinya jawabnya sama seperti anda” jawab Letnan Andi.

Selepas makan siang, Dokter Shinta langsung kembali ke rumah sakit. Sepanjang hari hingga malam ia terus berpikir tentang Ramsi, “Mengapa saya jadi begitu perhatian terhadap kasusnya?” tanya Dokter Shinta dalam hati, “Orangnya sih cakep, matanya juga seksi” bisiknya lagi sambil tersungging, “Ah, gila. Pikiran apaan sih ini” bantahnya dalam hati. Ketika hendak pulang, Dokter Shinta menyempatkan berkunjung ke kamar Ramsi. “Malam dok” sapa polisi yang menjaga kamar Ramsi, “Malam pak, boleh saya masuk untuk menjenguk pasien?” tanya Dokter Shinta, “Oh, silahkan dok” jawab polisi tersebut. Kemudian Dokter Shinta pun masuk ke kamar Ramsi, sesampainya di sisi Ramsi, Dokter Shinta memandangi Ramsi yang tergolek dengan pandangan kosong ke langit-langit kamar. “Ramsi, siapa Noke?. Apakah ia punya arti khusus buat anda?” bisik Dokter Shinta di telinga Ramsi. Mendengar bisikan itu Ramsi terkejut dan langsung bangkit dan menatap Dokter Shinta tajam, “Katakan saja, saya tidak akan mengatakan perihal itu kepada polisi” lanjut Dokter Shinta merayu, “Anggap saja saya teman anda”. Tak lama kemudian Ramsi memalingkan wajahnya, lalu kembali berbaring. Untuk beberapa menit suasana menjadi hening, lalu Dokter Shinta memutuskan untuk pulang. Ketika Dokter Shinta ingin beranjak pulang, Ramsi terlihat meraih secarik kertas dan pena di meja sebelah tempat tidurnya. Setelah beberapa saat Ramsi mencorat-coret kertas itu, lalu perlahan ia serahkan kertas itu pada Dokter Shinta. “Noke tak ada di dunia ini tapi ada di hati ini, cinta tak pernah ada di dunia ini kecuali Noke ada di dunia ini”. Membaca tulisan Ramsi itu, Dokter Shinta terlihat mengerenyitkan keningnya. Sesampainya dirumah, Dokter Shinta membaca tulisan Ramsi itu berulang-ulang, “Ternyata dia pria yang romantis, tapi siapa atau apa sebenarnya Noke ini?” bisiknya penuh pertanyaan.

Satu minggu kemudian pihak kepolisian membawa Ramsi ke tahanan Polda Metro Jaya untuk di periksa. Satuan pengaman dari satuan elite POLRI terlihat berjaga di sekitar rumah sakit, begitu juga kendaraan baja yang akan mengangkut Ramsi ke Polda Metro. Para perawat terlihat sibuk mendandani Ramsi untuk berangkat meninggalkan rumah sakit, hingga saatnya Ramsi di jemput pihak kepolisian. Ketika sedang berjalan keluar kamar sambil dikawal, Ramsi mengeluarkan kata-kata pertamanya sejak peledakan pesawat Qantas itu, “Rani, terima kasih untuk semuanya” sapa Ramsi kepada Rani dengan suara yang berat dan lemah sambil berlalu. Mendengar itu Rani terpaku dan merasa sejuk di jiwanya, ia pandangi langkah Ramsi hingga menghilang di belokan berikutnya. “Mengapa aku merasa amat sepi sekarang, entahlah” bisik Rani, “Heh Ran, gile loe ye. Nggak ngeri loe” tanya Tuti rekan perawat lainnya, “Nggak, aku yakin sebenarnya dia orang yang baik” jawab Rani sambil terus menatap belokan di depan. Diluar rumah sakit suasana amat ramai, wartawan terlihat dimana-mana, begitu juga dengan polisi dengan siaga penuh mengawasi situasi. Ditengah kerumunan yang mebgiringi Ramsi ke mobil lapis baja, pandangan Ramsi tertumbuk pada sosok seseorang di kerumunan itu. Ramsi terus memandangi sosok tersebut, pandangannya dalam penuh pertanyaan, hingga sampai didalam mobil Ramsi masih terus memandangi sosok itu, Ramsi terlihat begitu terkejut. Sepanjang perjalanan menuju Polda Metro, Ramsi terlihat berpikir keras, situasi tersebut membuat Pak Irwan yang ikut menjemput menjadi bertanya-tanya.

Sesampainya di Polda Metro, Ramsi pun langsung dimasukkan tahanan. Kemudian Pak Irwan terlihat menghubungi sesorang melalui telpon di mejanya, “Letnan Andi, kamu perhatikan pandangan Ramsi tadi sewaktu ingin masuk ke mobil ?” tanya Pak Irwan di telpon yang ternyata kepada Letnan Andi, “Siap Dan, saat ini saya dan beberapa rekan masih terus memperhatikan sasaran dan akan membuntuti sasaran” jawab Letnan Andi, “Bagus, perhatikan terus. Saya yakin pasti Ramsi dan orang itu saling mengenal” lanjut Pak Irwan, “Siap Dan” jawab Letnan Andi lugas. Menjelang sore hari, Letnan Andi dan timnya tiba kembali di Polda Metro. Ia pun langsung menghadap Pak Irwan untuk melaporkan hasil pemantauannya. “Dan, saya sudah mendapatkan alamat orang tersebut dan saya sudah tempatkan beberapa intel di sekitar kediaman orang itu untuk memantau pergerakan orang tersebut” jawab Letnan Andi, “Bagus, besok kita bergerak ke sasaran untuk menjemput sasaran dan melakukan penggeledahan” perintah Pak Irwan, “Siap Dan, saya akan urus terlebih dahulu izin penggeledahan ke pengadilan” jawab Letnan Andi sambil meninggalkan ruang Pak Irwan.

Keesokan harinya, Letnan Andi beserta beberapa polisi lainnya mendatangi kediaman orang itu. Disertai oleh surat izin penggeledahan dan sebuah foto, Letnan Andi beserta polisi lainnya mengetuk pintu rumah yang mereka yakini sebagai tempat tinggal orang tersebut. “Tok..tok..tok” suara ketukan pintu, tak lama kemudian pintu terbuka dan terlihat seorang wanita cantik di muka pintu, “Selamat pagi nona, kami dari kepolisian Polda Metro. Ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan” sapa Letnan Andi dengan ramah. Dengan wajah bingung, wanita penghuni rumah itu mempersilahkan Letnan Andi dan beberapa stafnya untuk duduk. Setelah duduk, Letnan Andi pun segera menyodorkan surat izin dari pengadilan untuk melakukan penggeledahan. Selagi wanita itu membaca surat izin tersebut, Letnan Andi mencoba menjelaskan duduk perkaranya, dari pandangan Ramsi ke arah wanita itu kemarin sampai mengenai Ramsi yang belum mau buka mulut. “Maaf pak, tapi saya tidak mengenal si terorist itu. Mungkin saja dia memandangi saya hanya sebuah kebetulan” kata wanita itu kepada Letnan Andi, “Ya, itu bisa saja tapi untuk memastikannya izinkan kami untuk mulai melakukan penggeledahan dan membawa anda ke kantor untuk dimintai keterangan” jawab Letnan Andi sambil meminta izin untuk mulai menggeledah, dan tak lama kemudian Letnan Andi membawa wanita itu ke Polda Metro, sedangkan stafnya mulai melakukan penggeledahan di kediaman wanita itu.

Sesampainya di Polda Metro, mereka langsung menuju ruang pemeriksaan. Setelah wanita itu dipersilahkan duduk, Letnan Andi terlihat keluar ruangan dan kemudian datang lagi bersama Pak Irwan beserta staf lainnya dan terlihat juga Dokter Shinta ada disana. “Hai, apa kabar dok” sapa Letnan Andi dimuka pintu, “Baik letnan, anda bagaimana” jawab Dokter Shinta sambil balik bertanya, “Ya seperti yang anda lihat. Lama juga yah tak bertemu” jawab Letnan Andi, “Oke, sepertinya ngobrolnya kita lanjutkan nanti saja, pemeriksaan sudah akan dimulai” lanjut Letnan Andi sambil mempersilahkan Dokter Shinta memasuki ruangan pemeriksaan terlebih dahulu. Sudah hampir dua jam pemeriksaan berjalan namun tak ada sesuatu yang berarti yang bisa diperoleh dari wanita itu, wanita itu mengaku tidak pernah mengenal Ramsi. Beberapa saat kemudian Pak Irwan terlihat memberi kode kepada Letnan Andi untuk mengajaknya keluar ruangan, lalu diluar ruangan Pak Irwan terlihat terlibat pembicaraan serius dengan Letnan Andi. “Letnan Andi, bagaimana hasil penggeledahan, apakah sudah ada hasil” tanya Pak Irwan serius, “Belum pak, mereka masih dalam perjalanan menuju kemari” jawab Letnan Andi, “Baiklah, kita harap ada petunjuk lainnya dari penggeledahan tersebut” lanjut Pak Irwan sambil kembali masuk ke ruangan pemeriksaan.

Tak lama kemudian tim yang melakukan penggeledahan tiba, kemudian Letnan Andi terlihat berdiskusi dengan stafnya yang telah melakukan penggeledahan. Beberapa menit kemudian Letnan Andi masuk kembali keruangan pemeriksaan, “Dan, ada sesuatu yang menarik dari hasil penggeledahan” bisik Letnan Andi kepada Pak Irwan, “Apa itu letnan” tanya Pak Irwan penasaran, “Sebentar lagi staff saya akan membawanya ke sini” jawab Letnan Andi. “Pak Irwan, dari pengamatan saya tak ada yang aneh dengan wanita ini” kata Dokter Shinta sambil menunjukkan tabel hasil pemantauan psikologinya. Tak lama kemudian terlihat staf Letnan Andi masuk ke ruangan dengan membawa sesuatu, “Ini pak robekan foto itu yang sudah kami rangkai kembali” sapa staf itu kepada Letnan Andi, “Bagus, terima kasih sersan” jawab Letnan Andi. Kemudian Letnan Andi menunjukkan foto itu kepada Par Irwan. “Nona, di foto ini anda terlihat berduaan dengan tersangka. Apakah anda masih ingin menyangkal bahwa anda tidak mengenal tersangka” tanya Letnan Andi kepada wanita itu. Melihat foto tersebut, wanita itu hanya diam dan kemudian tertunduk. “Maaf letnan, bisa saya lihat foto itu” pinta Dokter Shinta kepada Letnan Andi. Sambil memandangi foto itu, Dokter Shinta tampak berpikir keras lalu..”Apakah anda yang dipanggil Noke?” tiba-tiba Dokter Shinta bertanya pada wanita itu. Mendengar pertanyaan itu, Pak Irwan dan Letnan Andi langsung terkejut dan menoleh kearah Dokter Shinta, sedangkan wanita itu masih tetap tertunduk. “Noke?, siapa dia, kenapa bisa menyimpulkan wanita ini bernama Noke” tanya Letnan Andi tampak bingung. “Maaf letnan, saya belum pernah bercerita bahwa saat pemeriksaan di rumah sakit tersangka pernah menyebut nama itu” jawab Dokter Shinta. “Tapi di KTP nya wanita ini kan bernama Nana Kestari” lanjut Letnan Andi, “Mungkin Noke adalah sebuah panggilan letnan” jawab Dokter Shinta. “Apakah benar yang dikatakan Dokter Shinta nona?” tanya Letnan Andi kepada wanita itu.

Mendengar pertanyaan-pertanyaan tersebut, wanita itupun menangis. Kemudian Dokter Shinta memberikan sapu tangannya kepada wanita itu, sambil terus memandangi wajah cantik wanita itu, Dokter Shinta terus memberi pertanyaan dan akhirnya, “Saya memang pernah mengenal tersangka, bahkan kami begitu dekat dan berencana menikah” ujar wanita itu, “Noke adalah panggilannya kepada saya,” lanjut wanita itu yang ternyata adalah Noke, “Apa yang anda lakukan di rumah sakit kemarin” tanya Letnan Andi, “Entahlah pak, kenapa siang itu setelah melihat gambarnya di televisi timbul keinginan saya untuk melihatnya” kata Noke menjelaskan, “Dan foto itupun adalah foto kami terakhir yg saya miliki, entahlah juga kenapa saya masih menyimpannya dan saya putuskan untuk merobeknya semalam” lanjut Noke menjelaskan sambil terisak menangis. “Pak, sepertinya wanita ini bisa kita jadikan umpan agar tersangka mau buka mulut” bisik Letnan Andi kepada Pak Irwan, “Betul pak, sekarang saya yakin bahwa kemurungan tersangka ada hubungannya dengan wanita ini” timpal Dokter Shinta, “Kalau begitu kamu atur caranya” jawab Pak Irwan memberi instruksi kepada Letnan Andi. “Nona, kami sangat berharap nona mau membantu kami untuk membuat tersangka buka mulut. Hal ini amat penting untuk membongkar jaringan mereka” pinta Pak Irwan kepada Noke. “Baiklah pak, saya akan coba, tapi terus terang ini membuat hati saya tersiksa” jawab Noke sambil mengusap air matanya, “Ya saya mengerti, tapi ini demi kebaikan negeri ini nona” lanjut Pak Irwan membujuk, “Kalau begitu, sekarang anda boleh pulang tapi kami akan menempatkan beberapa intelijen disekitar rumah anda dan saya beserta seorang staf akan menjaga anda di rumah” kata Letnan Andi sambil kemudian beranjak dan menuntun Noke keluar ruangan.

Satu minggu sudah berlalu, pemeriksaan atas diri Ramsi pun sudah berkali-kali dilakukan dan juga sudah seminggu pula Letnan Andi dan staf nya tinggal di kediaman Noke. Sudah banyak kemajuan yang diperoleh polisi dari Ramsi, saat ini Ramsi sudah bisa diajak berbicara namun tak banyak informasi yang ia sampaikan. Pada suatu hari pemeriksaan, hari itu pemeriksaan psikologi dilakukan oleh Dokter Shinta untuk memancing Ramsi berbicara, “Apa kabar Ramsi” sapa Dokter Shinta, namun Ramsi hanya menyambut sapaan itu dengan diam dan pandangan dingin. “Baiklah, kita mulai saja. Sekarang saya sudah tau siapa itu Noke, foto itu menjelaskan semuanya” kata Dokter Shinta, Ramsi hanya menoleh ke arah Dokter Shinta dan kemudian membuang kembali pandangannya. “Bagaimana kalau apa yang kamu tulis di kertas malam itu adalah terjadi sebaliknya, maksudnya Noke ada didunia ini, kalau dia sudah mati dia hidup kembali?” tanya Dokter Shinta, mendengar kata-kata itu, tiba-tiba Ramsi beranjak mendekat ke arah Dokter Shinta dan berujar keras “Tak akan ada yang hidup lagi yang ada hanya yang akan mati, mereka harus membayarnya”. Mendengar itu Dokter Shinta terkejut dan sedikit takut, “Siapa yang kamu maksud dengan mereka?” tanya Dokter Shinta lagi, “Mereka yang telah merenggut cinta saya dari dunia ini” jawab Ramsi, “Bagaimana kalau cintamu itu ternyata masih hidup di dunia ini” tanya Dokter Shinta lagi, sambil kembali duduk, Ramsi menjawab pertanyaan itu dengan nada yang lemah, “Tak mungkin karena saya sendiri yang telah membunuhnya, tanpa saya sadari sayalah pembunuh cinta itu”.

Kemudian seorang wanita masuk ke ruang pemeriksaan dan berujar “Kamu gagal membunuh saya Ram, karena perlindungan-Nya lah saya masih bisa menghirup udara segar sampai hari ini”. Mendengar kata-kata itu Ramsi terkejut dan berdiri memandangi wanita itu dengan tajam.”Noke?” itulah kata yang terbisik di bibir Ramsi, “Ya, saya Noke. Kaget?” jawab wanita itu sinis, “Tak mungkin, kamu sudah mati” lanjut Ramsi. Kemudian Dokter Shinta meninggalkan mereka berdua di ruang pemeriksaan, dan bersama Letnan Andi menyaksikan dari ruang kaca yang tersambung langsung dengan ruang pemeriksaan. “Ini ambil, ku tak sudi menerimanya” kata Noke sambil melempar sesuatu kepangkuan Ramsi. Lalu Ramsi terlihat memandangi benda kecil yang dilemparkan Noke di genggamannya, tak lama kemudian terlihat tetesan air mata di pipi Ramsi dan ia pun berujar pelan “Noke, maafkan aku. Aku tak pernah ingin menyakitimu apalagi membunuhmu”. “Cincin ini adalah bukti hal itu,aku amat mencintaimu. Keadaan lah yang membuat semua ini menjadi berantakan” lanjut Ramsi sambil mendekat ke arah Noke. Noke pun memundurkan langkahnya dan berujar sambil terisak “Kamu gagal membunuh saya tapi kamu sangat berhasil membunuh cinta di hati saya, kamu padamkan api yang membara di hati saya yang telah membakar banyak perbedaan dan keragu-raguan diantara kita” jawab Noke sambil melangkah keluar ruangan. “Noke dengar penjelasan ku, bukan aku yang melakukan semua itu, aku mencintaimu” jerit Ramsi sambil berusaha meraih tangan Noke. Sambil terus menangis Noke berusaha menarik tangannya, “Lepaskan aku Ram, kalau kamu tak ingin membuat ku tambah tersiksa”. Mendengar itu, dengan terpaksa Ramsi melepas genggamannya di tangan Noke. Tak lama kemudian dua orang polisi masuk keruangan dan menuntun Ramsi untuk kembali ke ruang tahanan, “sepanjang jalan menuju tahanan, Ramsi berteriak ke arah Noke, “Noke, aku tak melakukannya, aku mencintaimu sampai kapanpun”.

Melihat adegan tersebut, Dokter Shinta menjadi termenung. Dia begitu bersimpati dengan apa yang terjadi pada Ramsi dan Noke. “Letnan Andi, bagaimana kalau kita membicarakan hal tadi sambil makan siang” pinta Dokter Shinta, “Maaf dok, saya harus mengantarkan Noke ke rumahnya” jawab Letnan Andi, “Baiklah, nanti kita bicarakan lagi” lanjut Dokter Noke. Kemudian Letnan Andi bersama Noke berjalan berdua menuju keluar kantor, dan Dokter Shinta hanya memandangi mereka dari belakang, “Mengapa aku merasa cemburu melihat mereka berdua berjalan bersama” bisik Dokter Shinta, “Ah, mulai deh pikirin aneh nongol” lanjutnya. Sementara itu di ruang tahanan, Ramsi terus menitikkan air mata sambil menatap tembok. Tiba-tiba ada seoarang wanita yang menyapanya, “Ramsi!” sapa suara itu, lalu dengan lemah Ramsi menolehkan pandangannya ke arah luar sel dan ia pun terkejut, “Rani?” jerit Ramsi, “apa yang kamu lakukan disini“ lanjut Ramsi, “Saya di suruh Dokter Shinta untuk memeriksa keadaan anda” jawab Rani si perawat rumah sakit, “ saya sudah mendengar semuanya dari bu dokter dan saya mengerti apa yang kamu rasakan, namun kamu tak bisa berbuat apa-apa. Hukuman mati sudah menunggu mu” lanjut Rani, “Saya tau tentang hukuman itu, dan aku menangis bukan karena hukuman itu” jawab Ramsi pelan. Setelah pemeriksaan kesehatan selesai dilakukan, Ramsi berkata pada Rani “bisa saya pinjam pena dan meminta secarik kertas?” lanjut Ramsi, “Oh, sebentar saya pinjam ke meja jaga” jawab Rani sambil berjalan menuju meja jaga. Setelah mendapat pena dan kertas, lalu untuk beberapa lama Ramsi terlihat menulis sesuatu. “tolong berikan surat ini kepada Dokter Shinta untuk diberikan kepada Noke” pinta Ramsi sambil menyodorkan surat itu kepada Rani.

Sesampainya di rumah sakit, Rani langsung menuju toilet wanita. Ia begitu penasaran dengan isi surat tersebut, lalu ia membukanya :
“Noke, saya mengerti kepedihan hatimu, saya juga mengerti jika kamu saat ini membenciku. Saya sadar bahwa semua ini adalah salah ku, tapi aku hanya ingin kamu tau bahwa aku tak pernah berniat apalagi ingin menyakitimu. Malam itu sewaktu aku melamarmu, sesungguhnya siangnya aku sudah resmi keluar dari organisasi ini, aku ingin memulai semua yang baru denganmu. Aku tau tentang rencana peledakan pesawat itu, namun mereka terus mangawasiku agar tak membocorkan rencana itu dan mengancam akan membunuhmu jika aku bocorkan rencana itu. Dan malangnya aku sungguh tak tau bahwa hari itu kamu ada di pesawat itu. Entah bagaimana caranya sampai kamu terhindar dari ledakan itu, tapi aku amat bahagia mengetahui bahwa kamu ternyata selamat. Walau kini aku diambang mati di hadapan juru tembak, tapi biarlah, mungkin itu adalah bayaran dari semua kekeliruan yang aku buat. Bayaran di hadapan juru tembak itu tak seberapa di bandingkan bayaran yang harus kutebus dengan kehilangan cintamu. Aku lakukan apa yang perlu kulakukan demi keselamatanmu, dan aku berharap sampai detik terakhir ku nanti di hadapan juru tembak kamu mau memaafkanku, agar kelak aku bisa tersenyum dari alam sana karena melihat mu mengunjungi makam ku. Maaf kan aku, aku selalu mencintaimu dan selalu kutaruh cinta dan semua memori indah kita di pojok hatiku. With love, Ramsi.”

Membaca surat Ramsi itu, Rani tak sadar menitikkan air mata. Perasaannya yang sudah sedikit terpaut dengan Ramsi membuat dia iba, tak lama kemudian ia serahkan surat itu pada Dokter Shinta, “Dok, ini ada titipan surat dari Ramsi untuk disampaikan pada Nona Noke” ujar Rani, “Oh iya, nanti saya samapaikan ketika bertemu dengan Nona Noke” jawab Dokter Shinta. Sekembalinya Rani dari ruang Dokter Shinta, ia masih saja terbayang-bayang pada kata-kata dalam surat Ramsi tadi, “Ya ampun, entah apa yang terjadi, tapi ternyata cinta itu memang ada” bisik Rani. Sesaat kemudian telpon diruang perawat berdering, “Hallo,” jawab seorang perawat yang mengangkat telpon itu, “Ya hallo, bisa bicara dengan Ibu Rani?” jawab sipenelepon, “Sebentar pak” jawab si perawat sambil memanggil Rani. “Dari siapa?” tanya Rani pada si perawat, “Nggak tau” jawab siperawat. “Hallo, ini siapa?” sapa Rani, “Ooo bapak toh, oke pak nanti saya tunggu di restoran depan rumah sakit ini” jawab Rani setelah terlibat perbincangan singkat di telepon dengan seseorang. Siang harinya, pada jam istirahat, Rani terlihat berbincang dengan seorang pria separuh baya di restoran depan rumah sakit, entah apa yang mereka bicarakan. Sesaat setelah berbincang dan makan siang keduanya pun berpisah.

Seminggu kemudian, suasana malam di rumah kediaman Noke tampak hening. Tak banyak kegiatan berarti disana, hanya Noke yang masih sibuk di meja kerjanya menatap serius monitor komputer. Tiba-tiba beberapa sosok bayangan terlihat mendekati kediaman itu, sebagian sosok tersebut mulai memasuki kediaman Noke dan sebagian lagi terlihat berjaga di luar. Selanjutnya terdengar suara gaduh di ruang tengah dan terlihat polisi yang menjaga Noke sudah terkapar tewas dengan pisau di dada, “Siapa itu ?, ada apa pak? Tanya Noke mendengar gaduh tersebut sambil beranjak menuju ruang tengah, tapi belum lagi langkah kakinya mencapai ruang tengah, sesosok pria bertopeng membekap mulutnya dengan saputangan berbius dan Noke pun terkulai pingsan. Kemudian tubuh Noke dibawa oleh orang-orang tak dikenal itu ke sebuah mobil van yang sudah bersiap-siap di samping jalan rumah Noke. “Cepat masukkan tubuhnya kedalam mobil ? perintah seseorang pada orang yang membopong tubuh Noke, “Baik bu” jawab orang itu, “Yang lain mana ?” lanjut sesorang itu yang ternyata seorang wanita yang juga memimpin operasi tersebut, “Yang lain sedang mengurusi mayat polisi itu” jawab orang tersebut. Sementara itu suasana di ruang tahanan Ramsi malam yang sama juga begitu hening, Ramsi terlihat tertidur. Dan tiba-tiba Ramsi terbangun karena mendengar suara ledakan dahsyat, dan seketika itu pula terlihat banyak polisi yang berlarian . “Apa yang mereka lakukan lagi ?” bisik Ramsi. Lorong tahanan mulai dipenuhi oleh asap dan debu, dan ketika ledakan kedua terdengar, semua menjadi gelap.

Disebuah tempat di pinggiran Jakarta. “Apa kabar Ramsi ?” tanya wanita pemimpin gerombolan itu, dengan mata yang masih setengah tertutup karena pengaruh bius, Ramsi berujar lemah “Ya ampun, aku sungguh tak menyangka kau adalah bagian dari kelompok laknat ini”. “Maaf Ramsi, saya harus mengambil kamu dari Polda dengan cara yang agak brutal” lanjut wanita itu, “Entah berapa puluh polisi yang kamu bunuh dengan bom sialan itu” kata Ramsi agak kesal, “Seharusnya kamu berterima kasih pada ku karena sudah membebaskan kamu” kata wanita itu sambil melangkah mendekat. “Kamu pasti kenal wanita itu kan ?” tanya wanita itu sambil menunjuk kearas sosok wanita yang terbaring di atas lantai di belakang Ramsi. Ramsi pun perlahan menoleh ke aras sosok wanita yang terbaring tersebut, “Noke ?, apa yang kamu lakukan padanya!” teriak Ramsi, “Tenang, dia hanya pingsan sebentar, nanti juga sadar” jawab wanita itu. “Jadi selama ini kamu menjadi perawat agar bisa memata-matai aku ?’ tanya Ramsi sambil terus meronta dari cengkraman pengawal wanita itu, “Ya, begitulah, ketua khawatir kamu iseng buka mulut, dan terus terang sasaran saya adalah membunuh mu” jelas wanita itu panjang lebar. “Yang lain keluar, tinggalkan saya sendiri bersama mereka” pinta wanita itu kepada para pengawalnya, “Baik bu” jawab para pengawal sambil beranjak keluar ruangan. “Ramsi, terus terang saja, sesungguhnya malam ini target saya adalah membunuh mu dan Noke karena Polisi akan menggunakan kalian berdua untuk membongkar jaringan kita" kata wanita itu yang ternyata adalah Rani si perawat. “Kita ?, aku bukan lagi bagian dari kalian. So, kenapa belum mulai membunuh kami ?” jawab Ramsi, “Sejujurnya saya tak ingin membunuh kamu karena…” kata Rani sambil berbalik memandang ke arah jendela, “Karena apa “ tanya Ramsi, “Karena…..karena aku mencintai mu Ramsi” jawab Rani pelan sambil terus memandangi ke arah luar jendela. Mendengar jawaban Rani, Ramsi hanya diam dan untuk sesaat keadaan menjadi sunyi. Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita dan suara langkah kakinya yang mendekati Rani, “Ternyata, masih banyak orang lemah di dunia ini”. “Noke !!” teriak Ramsi yang melihat Noke sudah sadar. “Ramsi sayang, aku mendengar semuanya” jawab Noke, “Jadi…kamu berpura-pura pingsan ?” tanya Ramsi penasaran, “Iya sayang, saya berpura-pura” jawab Noke, “Noke!! tetap ditempatmu, jangan bergerak” teriak Rani kepada Noke, “Hmm…..sepertinya tidak mungkin” jawab Noke sambil menodongkan pistol ke arah Rani, “Noke…apa-apaan ini?” teriak Ramsi sambil berjalan menuju Rani, “Jangan maju Ram, diam ditempat!” bentak Noke pada Ramsi.

Sementara itu diluar terdengar suara sirene patroli polisi dan suara tembakan. Pengawal Rani dan beberapa polisi terlibat baku tembak disekitar lokasi. Tak lama kemudian terdengar suara dari pengeras suara pihak kepolisian, “Anda sudah dikepung, menyerahlah!!”. Sementara suasana didalam ruangan makin mencekam, dan sesaat kemudian terdengar suara letusan tembakan dan terlihat tubuh Rani tergeletak di lantai bersimbah darah, “Tidak!!!, Noke apa yang kamu lakukan” teriak Ramsi sambil memandangi tubuh kaku Rani, “Aku lakukan ini demi kamu” jawab Noke sambil membuka ikatan ditangan Ramsi, “Ayo kita pergi dari sini” ajak Noke. Tiba-tiba Ramsi bergerak cepat dan merebut pistol yang ada di tangan Noke, “Noke! Aku tak menyangka kau mengkhianati aku” kata Ramsi sambil menodongkan pistol ke arah Noke. “Aku bersusah payah untuk keluar dari organisasi ini, sudah aku gadaikan rasa kemanusianku demi keluar dari organisasi ini dan juga sudah aku siksa hati ini dengan merindukanmu. Tapi semua sia-sia karena ternyata kamu adalah bagian dari yang ingin kutinggalkan itu, aku kecewa dan amat sangat merasa sia-sia dan lelah” kata Ramsi panjang lebar sambil terus menodongkan pistol ke wajah Noke. Setitik air mata terlihat menetes di pipi Ramsi yang terlihat kurus. Sesaat kemudian terdengar lagi suara letusan tembakan, kemudian terdengar jeritan seseorang “Tidakkkkkkk”, terlihat Noke bersimpuh dilantai sambil memeluk tubuh Ramsi yang terlihat bersimbah darah. Dengan kekecewaan yang besar Ramsi menembak dirinya sendiri, Noke dengan kesedihan yang mendalam dan tak kuasa menahan diri, akhirnya mengikuti jejak Ramsi. Noke pun tergeletak dengan posisi memeluk Ramsi.

Suasana hening pun menyelimuti ruangan itu, dan tak lama kemudian beberapa personil kepolisian anti terorisme mendobrak masuk. Setelah pihak kepolisian selesai melakukan netralisasi, semua korban mulai di evakuasi. “Entah ada apa sesungguhnya dibalik ini semua, Ramsi, Noke juga Rani si perawat tewas di tempat dan waktu yang sama..hmmm” bisik Letnan Andi sambil memandang tubuh mereka.

Selesai……