Dering alarm handphone telah membangunkan Ramsi pagi itu. Tubuhnya masih terasa lelah karena telah menyelesaikan pekerjaan berat semalaman, sesaat kemudian Ramsi terlihat meraih air putih yang ada di meja sebelah tempat tidur, dan dia habiskan dua gelas air putih sekaligus. “Uh, kenyang banget”, bisik Ramsi sambil memegang perutnya yang jadi kembung. Lalu seperti biasanya, bangun tidur Ramsi langsung menyalakan televisi, ia cari channel berita untuk mengetahui perkembangan berita diluar sana, ia sengaja mencari channel televisi di Indonesia, dan pencariannya pun berhenti pada saluran Metro tv. “Pemirsa, telah terjadi sebuah ledakan bom dahsyat di kedutaan besar Amerika Serikat di Jakarta. Ledakan tersebut menewaskan sedikitnya 20 orang yang sebagian besar adalah pekerja di kedutaan besar tersebut, dan sampai saat ini belum ada yang mengklaim bertanggung jawab atas ledakan tersebut”, urai pembawa acara headline news di Metro tv pagi itu. Selepas mendengar berita tersebut, Ramsi bersiap-siap untuk mandi. Tiba-tiba handphonenya berdering, “Hallo”, sapanya di hp, “Ramsi saya Rangga, segera buka emailmu” jawab si penelpon yang ternyata adalah Pak Rangga.
Pak Rangga adalah atasan Ramsi dia selalu memberi perintah-perintah kerja melalui email. Ia mengenal Pak Rangga sebagai pribadi yang berwibawa dan misterius. Setelah menutup hp, Ramsi terpaksa menunda ritual mandi pagi untuk membuka email melalui lap top-nya. “Ah, cuma jadwal pertemuan doang. Lagian juga masih dua bulan lagi”, gerutunya setelah membaca email dari Pak Rangga. Kemudian ia langsung saja menuju ke kamar mandi, dan “wuihh, dingin bangettt”, katanya sambil menggigil terkena guyuran air. Setelah mandi ia langsung berbenah, ia pisahkan baju-baju kotor dan bersiap-siap untuk keliling kota menikmati kota Singapura. “Hello, I have laundry in room 7610” katanya kepada petugas house keeping hotel Kempinski Singapore melalui interphone. “Oke sir, we will take your laundry soon” jawab petugas house keeping dengan ramah.
Hari itu Ramsi begitu menikmati suasana Singapura, di sepanjang jalan Orchid road begitu banyak orang berlalu lalang, dan sebagian dari mereka berwajah Indonesia dan mungkin salah satunya adalah koruptor Indonesia yang sedang dalam pelarian. Ia masuki mall-mall dan toko untuk membeli barang-barang sebagai buah tangan keluarga dan kerabat. Ketika ia sedang asyik duduk-duduk di bangku taman, hp-nya berdering. “Hallo, siapa ini” sapaku pelan, “Ini Rangga, pertemuan yang dimaksud dalam email saya diadakan di Jakarta, tolong persiapkan segalanya ya Ram, saya percayakan pada kamu semua ini” jawab Pak Rangga, “Baik pak, saya akan persiapkan semuanya” jawab Ramsi pada Pak Rangga. “Oke Ramsi, hati-hati dan selamat menikmati Singapura” balas Pak Rangga sambil menutup pembicaraan. Baru saja ia tutup hp dari Pak Rangga, hp-nya kembali berdering. “Siapa lagi sih, paling Pak rangga lagi nih” bisiknya pelan sambil menjawab telpon itu, “Ya hallo, siapa ?” sapaku kepada si penelepon. “Duh, galaknya. Belum makan yah..hi.hi” jawab si penelepon. “Noke ?, kamu yah. Lagi dimana kamu?” katanya di hp. “Iya, aku lagi di Makasar, jadwal penerbanganku minggu ini di Indonesia Timur. Kamu kapan pulang dari Singapura Ram?” lanjut sipenelepon yang ternyata adalah Noke.
Noke adalah gadis cantik yang manja tapi mandiri. Dia bekerja sebagai Pramugari di Garuda Indonesia, dia sangat ramah, mungkin karena terbiasa sebagai seorang pramugari. Ramsi bertemu dengan Noke secara tidak sengaja, waktu itu Noke menyapa Ramsi karena mengenali wajahnya dan ternyata Noke itu adalah adik kelas Ramsi sewaktu di SMA dulu. Setelah beberapa lama mereka berhubungan, saat ini Noke sudah mengisi seluruh hati Ramsi. “Aku masih lama disini karena pekerjaanku belum selesai, mungkin baru pulang dua bulan lagi” jawab Ramsi. “Lama banget!!, enak yah disana?. Lupa deh sama aku” balas Noke dengan nada manja. “Ha..ha, nggaklah Ke, aku kangen koq sama kamu. Kamu juga sih, kalau aku lagi di Jakarta kadang kamunya lagi terbang kemana” jawab Ramsi lagi, “Ya gimana, kan aku memang kerjanya terbang melulu kaya burung, tapi hatiku nggak pernah terbang dari hatimu koq” balas Noke. “Yang bener nih!, aduh jadi pengen cubit pipimu, kayaknya ngegemesin nih” balasnya lagi. “Enak aja, kan sakit dicubit. Oh iya Ramsi sayang, minggu depan aku ada jadwal terbang ke Batam, kita ketemuan yah.., kan kamu tinggal nyebrang doang dari Singapura” pinta Noke merayu. “Oke deh Noke yang cantik, tapi imbalannya apa nih atas usahaku nyebrang ke Batam?” jawab Ramsi sambil tersenyum-senyum. “Dasar genit!!, ya udah. Imbalannya nanti aku jitak tiga kali.” Jawab Noke ketus. “Hah!! dijitak, ya udah deh, di jitak juga nggak apa-apa, asal kamu yang jitak” balasnya meledek. “Awas yah, siap dijitak. Oke deh, Udah dulu yah Ram, pulsanya mahal nih. I miss you..cup..cup..cup” jawab Noke sambil mengakhiri pembicaraan.
Walaupun pembicaraan dengan Noke sudah terputus, Ramsi masih saja memandangi nama Noke di hp-nya sambil tersenyum-senyum. Ia begitu senang mendengar suara Noke di hp tadi, Ramsi jadi pengen sekali bertemu dengan Noke, memandang wajahnya yang cantik dan tingkahnya yang manja. “Noke..Noke” bisik Ramsi sambil beranjak dari bangku taman yang sudah di dudukinya lebih dari satu jam. Menjelang malam, Ramsi kembali ke hotel, rasanya sudah puas menikmati kota Singapura. “Good evening Sir” sapa petugas reception. “Good evening” jawab Ramsi sambil membalas senyuman si petugas. Setibanya di kamar ia nyalakan televisi, dan langsung mencari channel Metro TV untuk mendengar berita di Indonesia, namun berita-beritanya masih seputar peledakan bom di kedutaan AS dan itu tidak menarik minatnya. Di depan televisi ia pandangi foto Noke yang terletak di atas televisi hingga akhirnya karena lelah Ramsi tak sadar tertidur.
Hari-hari ia lalui di Singapura dengan berbagai pertemuan di berbagai tempat, hari ini ketemu si A, besoknya ketemu si B, dan banyak lagi, capek sekali tampaknya Ramsi. Belum lagi terkadang ia harus bolak balik terbang ke Kuala Lumpur. Ketika ia sedang asyik dengan pekerjaan di meja kerjanya, dan matanya tertuju pada kalender meja di depannya, betapa Ramsi terkejut bahwa hari ini adalah hari Noke akan ke Batam. “Waduh, mampus dah, aku lupa kalo Noke mau ke Batam” teriaknya sambil beranjak dari meja kerja. Kemudian, tanpa basa-basi ia berkemas dan langsung cabut dari hotel. Hari ini masih jam 06.00 pagi, dan Ramsi belum tidur dari semalam dan perkiraan Noke akan tiba di Batam pukul 08.00 pagi. Sepanjang perjalanan menuju pelabuhan ferry, Ramsi berkali-kali mengingatkan supir taxi supaya lebih cepat. Setengah jam kemudian ia sampai di pelabuhan ferry yang akan membawanya ke Pulau Batam, dan ia pun langsung membeli tiket dan menaiki kapal ferry speed boat. Perasaan Ramsi sudah agak lega karena sudah diatas ferry dan kira-kira satu setengah jam lagi akan sampai di Batam.
Karena semalaman ia belum tidur, tak sadar ia tertidur dalam ferry karena tak kuasa menahan kantuk yang amat sangat. Tiba-tiba ia tersentak terbangun karena hp-nya berdering. “Waduh, Noke telpon!” bisiknya gusar sambil mengusap kedua matanya dengan jari. “Ram, kamu dimana?, aku sudah di Batam nih” sapa Noke di telpon. “Aku lagi di kapal ferry, sebentar lagi nyampe. Sorry yah agak telat, soalnya ada kerjaan tambahan yg mesti aku kerjakan semalam” jawab Ramsi memberi alasan. “Nggak apa-apa kok Ram, nanti kamu langsung ke Novotel aja yah, aku tunggu di lobby” lanjut Noke. “Iya, aku paling setengah jam lagi sampe. Dandan yang cantik yah Ke, aku kangen banget nih” jawab Ramsi merayu. “Iya, aku juga kangen. Cepetan yah tapi hati-hati, see ya” jawab Noke sambil menutup telpon. “Uhh, rasanya capek banget” bisik Ramsi sambil beranjak menuju toilet untuk membasuh wajahnya yang terlihat lelah.
Setelah kapal ferry yang membawa Ramsi dari Singapura berlabuh, ia langsung menaiki taxi menuju Novotel. Dengan hati yang berbunga-bunga menahan rindu, Ramsi mencoba merapihkan diri di sepanjang perjalanan. Sesampainya di Novotel, ia langsung menuju lobby. Ia tengok kanan-kiri mencari bidadarinya, Noke. “Kok nggak ada, kemana si Noke” bisiknya pelan. Ketika ia kebingungan mencari keberadaan Noke, tiba-tiba terdengar suara lembut yang menyapanya dari arah belakang, “Cari siapa pak?” sapa suara itu. Kemudian ia membalikkan tubuhnya, dan di belakangnya sudah berdiri seorang wanita yang amat cantik dengan wajah tersenyum. “Noke......” kata Ramsi pelan, “Ramsi..” balas wanita cantik itu yang ternyata Noke. Kemudian mereka berpelukan erat, dan sesaat mereka tidak sadar kalau mereka berpelukan di tengah-tengah lobby Novotel. “Aku kangen banget sama kamu Ram” bisik Noke di telinga Ramsi. “Aku juga Ke” balas Ramsi sambil mengusap rambut Noke yang hitam dan indah. Kemudian, “pletak!!”, kepala Ramsi seperti ada yang menjitak. “Tuh, imbalannya. Udah aku kasih ya” kata Noke. Ternyata Noke menjitak kepala Ramsi tiga kali. “Aduh” jawab Ramsi sambil memegangi kepalanya. “ha..ha..kacian, makanya jangan genit, sini aku obatin” balas Noke sambil mencium tipis bibir Ramsi.
Hari itu, mereka habiskan bersama. Mereka berkeliling Batam, makan dan keluar masuk cafe. Mereka juga lalui hari itu dengan canda dan tawa, bergandengan tangan dan cium pipi kanan-kiri. Noke hanya satu hari di Batam karena besok dia harus kembali terbang ke Jakarta, jadi mereka manfaatkan waktu yang singkat ini dengan sebaik mungkin, lumayan untuk mengurangi rasa rindu yang sudah menggunung karena sudah hampir dua bulan tak bertemu. “Ram, kapan yah keinginanku untuk terbang keliling dunia terwujud” kata Noke kapada Ramsi, “Maksudmu Ke” jawab Ramsi. “Aku tuh pengen banget jadi pramugari di maskapai penerbangan luar negeri, biar aku bisa terbang ke negara-negara lain” lanjut Noke, “Ya, kamu ngelamar-ngelamar aja ke maskapai international” balas Ramsi sambil terus menggandeng tangannya. “Udah sih, tapi belum ada balasan” jawab Noke lagi, “Sabar aja, ntar juga ada jalan. Tapi ntar aku tambah jarang ketemu kamu dong” kata Ramsi sambil cemberut. “Nggak lah Ram. Kamu kali yang pergi” jawab Noke sedikit ketus. “Yee, kan yang terbang melulu kamu” balas Ramsi sambil mencubit pipi Noke. “Ke, semoga kita tak pernah terpisah, entah karena kamu yang berpaling atau aku yang berpaling. Aku merasa kamu lah yang aku inginkan” lanjut Ramsi pada Noke. “Aku juga Ram, semoga Tuhan memberikan kamu pada ku” jawab Noke sambil memeluk Ramsi erat.
Esok harinya, Ramsi mengantar Noke ke bandara. Noke terlihat amat cantik dengan seragam pramugarinya. Ramsi merasa begitu beruntung memiliki Noke, dia cantik, baik, mandiri, setia dan cerdas. Sesampainya di bandara, mereka pun harus berpisah. “Ram, jaga hatimu juga matamu yah” pesan Noke, “Iya sayang” jawab Ramsi. Pesan itu adalah pesan wajib Noke setiap berpisah dengan Ramsi, Ramsi sih oke-oke saja karena tak ada alasan rasional baginya untuk menduakan cinta Noke. Ramsi menunggu di bandara sampai pesawat Garuda yang membawa Noke lepas landas dan menghilang di horizon bumi. Ketika sedang berjalan keluar bandara, hp Ramsi berdering dan ia langsung menjawabnya. “Hallo” sapanya di hp, “Ramsi, proyek di Singapura dibatalkan. Proyek di alihkan ke Jakarta, jadi dua minggu dari sekarang kamu harus ke Jakarta. Hati-hati sepertinya interpol sudah membaca gerak-gerik rencana kita” jawab si pelepon yang ternyata Pak Rangga. “Besok, paket yang sudah kita rakit suruh orang mu letakkan di dalam mobil di kedutaan besar Inggris di Singapura. Jangan sampai gagal atau kita celaka” lanjut Pak Rangga, “Baik pak, semua sudah siap” jawab Ramsi singkat. “Di Jakarta nanti kita bicarakan target berikutnya, kerjamu di kedubes AS di Jakarta kemarin bagus” balas Pak Rangga lagi sambil menutup pembicaraan.
Setelah menutup hp, Ramsi kembali duduk di ruang tunggu bandara sambil mengusap wajah nya. Pikirannya langsung pada Noke, entahlah apa reaksinya jika sampai tahu profesinya yang sebenarnya ini. Dia hanya tahu Ramsi adalah seorang konsultan di sebuah organisasi international yang tak lebih dari sebuah organisasi terorist. Beberapa kali terlintas untuk membuka tabir itu pada Noke, tapi Ramsi tak sanggup karena Noke pasti akan meninggalkan nya, sedangkan ia tak sanggup kehilangan Noke. “Ya ampun, kepalaku amat pusing memikirkan semua ini” bisik Ramsi dalam hati. Semenjak Ramsi dekat dengan Noke, sudah terpikir untuk mengakhiri semua ini. Ia ingin hidup wajar bersama Noke, selama ini ia hidup dalam kepura-puraan dan ketakutan. Ia pun takut untuk mundur dari organisasi ini, ia berhutang budi pada Pak Rangga yang telah membesarkan dan menyekolahkannya. Entahlah bagaimana caranya mengakhiri semua ini. Hari itupun Ramsi langsung kembali menuju Singapura untuk menyelesaikan pekerjaan malam ini di kedutaan Inggris di Singapura. Sesampainya di Singapura ia langsung menuju bandara Changi untuk menjemput beberapa anggota tim lainnya, rencana kemudian disusun di hotel tempatnya menginap. Dan tepat pukul 09.00 pagi keesokan harinya, kedutaan Inggris di Singapura pun luluh lantak. Hampir semua stasiun tv menyiarkan kejadian itu.
Siang itu, Ramsi hanya terpaku memandangi televisi yang menyiarkan peledakan itu. Hatinya bergetar dan muak. Tiba-tiba hp-nya berdering, “Hallo, siapa ini?” sapanya lemah, “Ram, kamu nggak apa-apa kan. Ya ampun aku lihat berita peledakan di kedutaan Inggris disana” jawab si penelepon yang ternyata Noke, “Aku baik-baik saja Ke” jawab Ramsi pada Noke, “Syukurlah Ram, aku khawatir banget. Kamu pulang aja deh ke Jakarta, aku takutnya ada peristiwa mengerikan lainnya disana” lanjut Noke, “Iya, minggu depan aku pulang ke Jakarta karena proyek dibatalkan” jawab Ramsi lagi masih dengan nada lemah. “Ke, bagaimana menurutmu tentang terorist” tanya Ramsi, “Kok tanya kesitu” balas Noke bingung, “Ya nggak, kan yang ngebom itu terorist” lanjutnya, “Menurutku sih itu tindakan yang keji dan pengecut banget, aku sih nggak akan pernah mau kenal sama orang kayak gituan, aku benci dengan mereka-mereka terorist itu. Ya udah Ram, hati-hati saja selama disana, ntar kalau mau ke Jakarta hubungi aku, biar aku jemput karena minggu depan aku lagi cuti” jawab Noke sambil menutup telpon. Mendengar kata-kata Noke itu tubuh Ramsi bergetar dan tak terasa air matanya menetes pelan. “Noke, maafin aku. Aku janji semua ini pasti akan ku akhiri” bisiknya lirih.
Tak terasa satu minggu sudah berlalu dan Ramsi pun harus ke Jakarta. Pagi-pagi sekali ia sudah berkemas karena ia ikut penerbangan pertama hari ini. Sesampainya di bandara Changi Ramsi langsung menghubungi Noke. “Ke, yee..baru bangun tidur yah. Aku udah mau berangkat nih. Aku naik Singapore Airlines” sapanya pada Noke di telpon, “Ugh..iya baru bangun. Ntar aku jemput deh, hati-hati yah sayang” jawab Noke. Selama dalam penerbangan, Ramsi terus berpikir bagaimana caranya untuk mengakhiri ini semua, “sanggup kah aku mengutarakan hal ini pada Pak Rangga, apakah dia mau terima dan mengerti”. Di tengah lamunannya itu, tiba-tiba terdengar pengumuman dari pilot bahwa pesawat sudah akan sampai di bandara Soekarno-Hatta. Perasaan bahagia karena akan kembali bertemu Noke dan bingung dengan keadaan ini semua campur jadi satu. Sesampainya di bandara Soekarno-Hatta ia langsung mencari Noke, “Ramsiii...” jerit seseorang memanggil namanya. “Noke,.itu dia” jawab Ramsi sambil melangkah menuju Noke. Kemudian Noke menghampiri Ramsi dan memegang kedua tangan Ramsi erat. Mereka pun langsung berangkat menuju hotel tempat Ramsi akan menginap. “Sudah makan Ram” tanya Noke, “Belum” jawab Ramsi singkat. “Kita makan dulu yah” pinta Noke, “Boleh deh, udah laper juga nih” jawab Ramsi sambil menepuk-nepuk perutnya. Setelah makan siang dan jalan di mall, Noke langsung mengantar Ramsi ke hotel untuk beristirahat. Sebelum keluar dari mobilnya, tak lupa Ramsi mengecup pipi Noke yang mulus dengan mesra. “Terima kasih ya sayang. Hati-hati, jangan ngebut” kata Ramsi sambil keluar dari mobil Noke. Sesampainya di kamar hotel, Ramsi langsung merebahkan tubuhnya dan tertidur.
Keesokan hari, Ramsi ada pertemuan penting di kediaman Pak Rangga di seputaran Cibubur. Ia mulai malas mengikuti pertemuan itu karena hanya membahas rencana peledakan-peledakan lainnya. Ia ingin keluar dari semua ini. Seusai pertemuan ia beranikan diri menghadap Pak Rangga. “Pak Rangga” sapa Ramsi pada Pak Rangga yang baru saja akan beranjak dari kursinya, “Iya, ada apa Ram” jawab Pak Rangga. “Saya ingin bicara hal penting dan hanya berdua saja” pinta Ramsi, “Baiklah, ayo ke ruangan saya” jawab Pak Rangga sambil berjalan menuju ruangannya. Sesampainya di ruangan Pak Rangga, “Ada apa Ram” tanya Pak Rangga, “Sebelumnya saya mohon maaf dan terima kasih atas semua kebaikan Pak Rangga selama ini” jawab Ramsi, “Ada apa Ramsi” tanya Pak Rangga dengan bingung, “Begini pak, saya ingin mengundurkan diri dari organisasi dan kegiatan ini. Saya sudah lelah dan ingin mencoba hidup baru. Saya harap bapak maklum” jawab Ramsi dengan wajah tertunduk. Kemudian untuk beberapa lama suasana menjadi sunyi, Pak Rangga hanya memandangi wajah Ramsi dan Ramsi pun mulai gusar dan takut. “Ramsi, kamu sudah saya anggap anak saya sendiri, kamu cerdas dan pemberani. Saya mengerti, semua ini pasti karena perasaanmu pada Noke. Dia memang cantik dan baik” kata Pak Rangga dengan suara beratnya. Ramsi tak merasa heran kalau Pak Rangga tahu hubungannya dengan Noke karena mata-matanya ada dimana-mana. “Baiklah Ram, kalau itu sudah menjadi keputusanmu, saya menghormatinya tapi kamu harus menyelesaikan proyek kita besok dan setelah kamu keluar dari organisasi ini, anggaplah kamu tidak pernah tahu semua ini” lanjut Pak Rangga sambil berdiri dan menepuk pundak Ramsi, “Ramsi..Ramsi, saya sudah berharap bahwa kamu yang akan menggantikan posisi saya kelak. Tapi tak apalah, karena kamu sudah saya anggap anak sendiri maka sayapun rela melepasmu dengan aman. Tapi kalau kamu sampai membocorkan rencana dan identitas kami, maka dengan sangat terpaksa saya akan membuat hubungan mu dengan Noke hanya mimpi seumur hidup” sambung Pak Rangga lagi.
Hari itu Ramsi begitu bahagia dan merasa sangat plong, beban beratnya sudah berkurang. Tapi kemudian ia kembali tercenung, karena ia masih harus menyelesaikan target besok. Target itu begitu berat, besok ia akan meledakkan pesawat Qantas milik Australia. Terbayang oleh-nya betapa banyak orang yang tak bersalah akan tewas dan menderita, “Ya ampun, aku bukanlah manusia tapi monster” jeritnya dalam hati. Belum lagi kebingungan Ramsi hilang, dalam perjalanan pulang, ia kembali dihubungi oleh Pak Rangga, “Ramsi, target besok batal kamu yang koordinir. Koordinasi saya alihkan pada Jacky, dan setelah telpon ini mati maka kamu bukan lagi anggota kami dan jangan coba-coba bernyanyi tentang target ini. Kamu akan diawasi ketat sampai target ini selesai” Kata Pak Rangga panjang lebar sambil menutup telpon. “Ternyata dia sudah membaca pikiranku” bisik Ramsi setelah menerima telpon itu. Tapi ia tetap tak bisa lepas dari bayang-bayang berapa orang yang akan mati besok. Kemudian hp-nya kembali berdering, “Hallo Ke, ada apa?, ternyata telpon dari Noke, “Ram, nanti malam kamu aku jemput yah, kita jalan, aku ada kejutan buat kamu” kata Noke bersemangat, “Iya,aku tunggu jam tujuh yah” balas Ramsi, “Oke, dandan yang keren yah” lanjut Noke sambil menutup telpon.
Tepat jam tujuh malam Noke menjemput Ramsi, mereka pun lalu langsung berangkat. “Kita mau kemana Ke” tanya Ramsi bingung, “Tenang aja, pokoknya sip deh” jawab Noke membuat Ramsi tambah penasaran. Tak berapa lama kemudian mereka pun sampai di tempat yang dituju, sebuah cafe yang indah dan terasa romantis. “Oh, gini doang. Kirain kemana!” saut Ramsi sebel. Kemudian Noke memintah Ramsi duluan untuk menuju meja yang sudah dipesan Noke. Ramsi pun langsung duduk dan menunggu Noke. Tak berapa lama kemudian, tiba-tiba Noke memeluk Ramsi dari arah belakang. Dia menutup mata Ramsi dengan tangannya yang lembut, mencium pipi Ramsi dan berbisik di telinganya:“Happy birthday honey”. Setelah itu dia lepaskan tangannya di mata Ramsi, dan Ramsi terkejut karena di hadapannya sudah ada boneka kerbau. “Siapa yang ulang tahun Ke” tanya Ramsi bingung, “Ya ampun Ram, ini kan tgl 4 Oktober, ulang tahunmu” jawab Noke, “Oh iya, aku lupa” jawab Ramsi lagi. “Mulai deh pikunnya keluar” balas Noke sambil mengucek-ngucek rambut Ramsi. “Terima kasih yah sayang, tapi kok hadiahnya boneka kerbau” kata Ramsi sambil meraih boneka kerbau di atas meja, “Iya, kan kamu kalau tidur kaya kebo, susah bangunnya ha..ha” jawab Noke sambil terbahak.
Kemudian mereka pun memesan beberapa makanan, sambil makan mereka berbincang banyak hal. Noke begitu mempesona malam itu, senyumnya banyak terlontar ke arah Ramsi. Setelah menghabiskan makanan, mereka pun berdiam sejenak karena mungkin kekenyangan. Di tengah kesunyian itu Ramsi meraih kedua tangan Noke yang lentik dan berkata “Noke, entah untuk kesekian kalinya aku katakan bahwa aku mencintai kamu, entahlah kata-kata itu ingin selalu terucap dibibirku ini” rayu Ramsi pada Noke, “Sekarang gantian, kamu yang pejamkan mata’ pinta Ramsi pada Noke, “Ada apaan nih” tanya Noke sambil menutup kedua mata indahnya. “Sekarang buka matamu” pinta Ramsi dengan lembut, “Hahh!!, Ram, indah sekali” jerit Noke terkejut dan kagum melihat cincin berlian yang Ramsi letakkan di hadapan Noke. “Ke, aku nggak mau bertele-tele. Maukah kamu menikah dengan ku” tanya Ramsi sambil menatap mata Noke. “Ramsi, are you serious?” jawab Noke penuh tanya, “Ya, why not. Will you marry me” tanya Ramsi lagi sambil memegang jari Noke dengan erat. “Ramsi, aku juga mencintai kamu. Jelas aku mau menikah dengan mu” jawab Noke lembut. Mendengar jawaban Noke, Ramsi sangat bahagia. Kemudian ia sematkan cincin itu di jari Noke yang lentik, lalu Noke memeluknya erat sekali dan terisak menangis. “Kenapa kamu menagis?” tanyanya pada Noke, “Entahlah Ram, aku bahagia. Tapi juga aku merasa tak ingin melepas pelukan ini” jawab Noke lirih. Tiba-tiba Noke melepas pelukannya dan dengan tiba-tiba wajahnya tersenyum sambil mengusap air mata di pipinya dan berkata: “Aku juga ada yang ingin aku sampaikan kepada mu, aku senang banget sama yang ingin aku sampaikan ini, cita-citaku terwujud juga” kata Noke membuat Ramsi sedikit bingung, “Apa sih Ke, ayo dong, tell me” pinta Ramsi, “Besok aja, pagi-pagi kamu baca email yah. Kejutannya aku jelasin di email aja” jawab Noke sambil tersenyum bahagia.
Malam itu menjadi malam yang tak terlupakan bagi mereka berdua, di hari ulang tahun Ramsi, ia lamar Noke dan diterima. Ia begitu bahagia, tapi ia masih saja penasaran dengan kejutan yang akan dibuat oleh Noke, tapi Noke berkeras tetap membuatnya penasaran. Malam itupun mereka bersepakat untuk mempertemukan orang tua mereka berdua minggu depan. Pokoknya, ketika lamarannya di terima Noke, ia langsung menghubungi orang tuanya untuk membicarakan hal itu. Sepertinya jalan bagi Ramsi dan Noke untuk bersama sudah amat dekat. Sekembalinya Ramsi di hotel, ia tidak bisa tidur karena sangat bahagia sehingga ia lupa akan kegundahannya pada target esok hari. Dan pagi harinya ia terbangun oleh dering telpon dari Noke. “Kamu udah baca emailku belum?, jangan-jangan baru bangun tidur nih si kebo” sapa Noke, “Iya nih baru bangun, kamu dimana?” jawab Ramsi pelan, “Aku di bandara, aku mau terbang perdana nih” jawab Noke lagi, “Terbang perdana?, kan kamu udah sering terbang” lanjut Ramsi bingung, “Makanya baca emailku, kejutannya ada disana, sekalian jawabannya. Ya udah, pesawatku sudah mau boarding, aku harus siap-siap. I love you Ram” jawab Noke manja, “Iya deh, aku buka emailnya. I love you too, bye” balas Ramsi sambil menutup telpon. “Kejutan apaan sih, si Noke kadang-kadang aneh juga” bisik Ramsi pelan sambil membuka lap top-nya.
Kemudian Ramsi membuka lap top di meja kerjanya untuk membaca email dari Noke, dan ketika ia membaca email itu, ia seperti tersambar petir. Tubuhnya kaku tak bisa bergerak, mulutnya seperti tak bisa berkata-kata. “Noke...!!” jeritnya sambil beranjak dari meja, dengan hanya mengenakan baju seadanya ia bergegas meninggalkan kamarnya. Dengan perasaan galau tak karuan ia keluar hotel menumpang taksi. “Taksi!” jeritnya memanggil taksi. “Pak, ke bandara Soekarno-Hatta, cepetan pak!!, darurat” perintah Ramsi kepada supir taksi. Kemudian taksi itupun meluncur kencang menuju bandara. Sepanjang perjalanan ia terus saja menyebut nama Noke, “Ya Tuhan, selamatkan cintaku” bisiknya dalam hati. Dan tak terasa air matanya terlihat mulai menetes, “Noke, aku tak ingin kehilanganmu” bisik Ramsi terisak, bayangan wajah Noke seakan memenuhi matanya. Sesampainya ia dibandara, ia langsung berlari masuk. Ia lihat dipapan boarding bahwa penerbangan Qantas dengan nomor penerbangan QF 013 sudah di posisi “take off”. Dengan perasaan galau ia menerobos masuk menuju ruang tunggu, dan bibirnya tak henti-henti menyebut nama Noke. Mendekati ruang tunggu yg dituju ia menjerit: “Nokeee..”, lalu “Ada yang bisa saya bantu pak” sapa petugas di ruang tunggu, “Batalkan penerbangan itu..batalkan!!” pinta Ramsi pada si petugas sambil berlari menuju landasan. Sesampainya dilandasan ia melihat pesawat Qantas dalam posisi siap take off, ia pun berlari menuju pesawat itu sambil berteriak memanggil nama Noke dan harap penerbangan dibatalkan. Dibelakang Ramsi terlihat satuan pengaman juga mengejarnya. Ketika pesawat Qantas itu mulai take off, Ramsi pun tak kuasa menahan diri dan tersungkur dilandasan pacu dan menjerit sambil menangis:”Nokeeeeeee......................”.
Tak lama kemudian terdengar suara ledakan dahsyat dan terlihat kilatan bola api diudara, pesawat Qantas itu telah meledak dan meluluh lantakkan cinta, masa depan dan semua hidup Ramsi. Kerasnya ledakan itu membuatnya terlempar. Matanya hanya menerawang ke angkasa. Disana ia seakan melihat senyum Noke dan terdengar derai tawanya. Masih ia ingat betapa bahagianya Noke dalam emailnya pagi tadi bahwa ia di terima sebagai pramugari Qantas dan keinginannya untuk berkeliling dunia terkabul. Betapa peristiwa malam tadi menjadi sebuah prasasti abadi di hati Ramsi, pelukan Noke malam itu dan juga kata-katanya, tak disangka adalah yang terakhir. “Noke, aku sayang kamu, aku sudah berusaha mengakhiri ini semua. Aku tak tahu begitu besar bayaran dari semua ini, kamu tak pantas menerima ini” bisik Ramsi lirih sambil terisak. Dikejauhan pun terdengar bunyi sirine mobil ambulance dan banyak mobil pemadam kebakaran bersaut-sautan, bunyi yang sama terdengar di hati Ramsi karena hatinya kini berdarah. Noke, sebuah prasasti cinta
Bersambung......
Friday, December 10, 2004
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment