Ales Oktapratama. Jakarta, October 7, 2007
Malam ini malam minggu, Adi hanya terdiam bersendirian di dalam kamar, menonton acara-acara televise yang rasanya sangat membosankan. Dia ngemil, makan begitu lumayan banyak makanan sampai merasa begitu kenyang. Di lihatnya tumpukan buku, begitu banyak dan beberapa diantaranya belum sempat dibacanya, sayangnya Adi sama sekali tak ada gairah untuk menyentuh mereka, Adi merasa sepi, pikirannya tak disina bersamanya.
Menjelang tengah malam, Adi masih seperti itu, terpaku sendiri dalam kamar. Adi begitu merindukan seseorang, seseorang yang begitu berarti baginya, tapi dia tak bisa bersamanya malam ini. Dia coba menghidupkan computer, membuka file-file bergambar dirinya, gambar mereka berdua, semuanya penuh dengan senyum, cermin kebahagiaan yang mereka miliki.
Tiba-tiba handphonenya berdering, sebuah pesan masuk. Dilihatnya sejenak, ternyata pesan dari Ratih.
“Sayang, ibu ku meminta ku untuk melupakan kamu, katanya hubungan ini tidak benar” begitu tulis Ratih dalam pesan singkatnya.
Adi memejamkan matanya, keningnya mengerenyit dan tampak gusar. Sesaat Adi terpaku memandangi terus pesan singkat dari Ratih, dia bingung ingin membalas apa, dia seperti kehabisan kata-kata.
“Sayang ku, katakan pada mereka bahwa cinta ku bukanlah sekedar saja, kamu begitu aku butuhkan dan aku mencintai mu dengan sepenuh hati dan hidup ku”. Akhirnya kata-kata itulah yang mampu Adi rangkai menjawab pesan singkat Ratih.
Hubungan mereka memang bukanlah sebuah hubungan yang normal, sebagian orang akan menganggap mereka ini gila, melanggar norma masyarakat umum bahkan mungkin akan ada yang bilang ini sebuah hubungan yang berlandaskan kesenangan sesaat. Tapi, lepas dari itu semua, yang mereka rasakan sesungguhnya adalah sebuah hubungan antar anak manusia yang indah bagi yang merasakannya. Adi mencintai Ratih sebagai sosok manusia yang pantas memperoleh banyak cinta, banyak kebahagiaan, banyak manja, banyak perhatian, banyak kasih sayang dan banyak perlakuan istimewa.
Mereka bertemu sekitar setahun yang lalu di sebuah acara. Awal perkenalan mereka tidak ada sesuatu yang istimewa, semua berjalan normal dan apa adanya. Sejak pertama bertemu, Adi memang sudah menyadari adanya kelebihan yang Ratih miliki, pesona yang dimiliki Ratih bisa membuat banyak pria tertunduk menyembahnya, senyumnya bisa membuat banyak lelaki berlari mengejar bayangannya dan keanggunannya bisa membuat dunia ini cerah secerah pagi bermandi sinaran mentari.
Kemudian berlanjut, berselang beberapa waktu setelah acara itu, mereka memang sering jalan bareng, mereka pun awalnya tak pernah mengira kalau semua berawal dari sana. Lama kelamaan, mereka pun tak sanggup lagi memendam rasa yang sudah mulai tumbuh sejak perkenalan pertama, hasrat untuk menyampaikan betapa mereka saling mencintai amat kuat. Akhirnya, suatu malam mereka mengatakannya, malam itu pula untuk pertama kalinya Adi menyentuh bibir Ratih yang merah merona.
"Sungguh manis rasanya bibir mu, terasa hangat hingga ke penjuru jiwa ku" bisik Adi sesaat setelah mengecup bibir Ratih.
Ratih hanya tersenyum kecil, tak bergeming, hanya melempar pandangan, yang tanpa disadari Adi, bentangan jaring cinta mulai terkembang mengikat mereka, untuk selamanya.
Sejak malam itulah mereka menjadi pasangan kekasih dengan nyala bara api rindu yang berkobar-kobar yang tak akan padam seumur hidup.
Mereka lalui banyak hari indah bersama, lewati banyak malam syahdu berdua. Inilah kisah perjalanan cinta yang belum pernah Adi alami sebelumnya, perjalanan yang penuh dengan arti dan rasa. Walau ada kalanya mereka bertengkar, tapi itu hanyalah sebuah letupan kecil dari bara api cinta yang mereka punya, mereka tetap menikmatinya dan tak akan pernah ingin mengakhiri hubungan indah ini sampai kapan pun.
Walau merekai begitu menikmati hubungan ini, tapi di hati kecil mereka selalu terbesit sebuah masalah yang tak akan pernah bisa di tutup-tutupi atau dibiarkan ,karena masalah itu adalah bawaan yang sejak awal sudah disadari, dia ada sejak pertama mereka menjalin kasih, dia ada sejak hati mereka berdegup untuk pertama kali ketika bibir mereka saling bersentuhan. Bagi Adi, Ratih adalah wanita teristimewa, tetapi Ratih juga adalah bukan wanita seperti pada umumnya. Ratih tetaplah Ratih yang dicintai Adi sepenuh hati.
Handphone disaku Adi terdengar berdering, sebuah pesan singkat dari Ratih datang lagi.
“Sayang, bantu aku meyakinkan mereka bahwa kita saling mencintai, bahwa kamu begitu mencintai ku”.
Lagi-lagi Adi terdiam membacanya, dia bingung ingin membalas apa.
"Harus kah aku datang kepada mereka dan mengatakan semuanya, mengatakan bahwa aku mencintainya ?. Tapi aku sadar itu tidak benar, tak akan menjadi solusi, malah akan menimbulkan masalah baru" bisik Adi dalam hati
“Katakan kepada mereka, aku mencintai kamu, aku tidak main-main” tulis Adi dalam dalam balasan pesan singkatnya.
Selepas mengirimkan pesan, dia pandangi seisi kamarnya, matanya tertuju pada sebuah kertas warna-warni, bentuknya kecil, lucu dan indah. “Happy birthday” begitulah tulisan di kertas itu. Itu adalah kartu ucapan ulang tahun dari Ratih sebulan lalu. Adi bangkit dari duduknya dan meraih kartu itu, dan dibacanya lagi pesan yang tertulis didalamnya. Tak terasa, matanya sudah basah, tak terasa pula beberapa bulir air mata sudah menetes membasahi pipinya. Dia teringat betapa indahnya hari ulang tahunnya tahun ini, hari ulang tahun terindah yang pernah ada dalam hidupnya, ulang tahun yang dihiasi dengan sebuah kue besar dengan lilin diatasnya yang Ratih bawakan saat pagi ketika Adi pun belum terjaga dari tidurnya.
Ia berpikir apakah semua harus berakhir disini, apakah ini adalah ujung dari kebahagiaan kami berdua?.
"Aku sungguh tak ingin, sungguh tak rela bila semua ini berakhir" jerit Adi dalam hatinya.
Adi jadi termenung, teringat lagi semua kejadian indah yang mereka alami, saat mereka nonton, makan di tempat-tempat istimewa, berbelanja bersama, atau hanya sekedar nongkrong di tempat dengan suasana yang luar biasa. Semua itu terukir diatas hati dengan tinta emas yang tak akan pernah lekang oleh waktu sampai ajal tiba.
“Sayang, jangan biarin aku kehilangan kamu, wanita yang amat istimewa dan begitu aku butuhkan, aku mencintai kamu selalu dengan sepenuh hati dan hidup”
Begitulah tulis Adi dalam pesan singkatnya untuk Ratih. Selang beberapa lama tidak ada balasan dari Ratih. Adi berharap bahwa semuanya baik-baik saja.
"Aku selalu bahagia bersamanya, dan akan selalu seperti itu, tak pernah berubah sampai kapan pun" ujar Adi dengan gambar Ratih di genggamannya.
Ia lalu roboh terbaring diatas tempat tidurnya.
SEKIAN
__________________________________________________________
Cinta bukanlah tentang benar atau tidak benar, tetapi cinta adalah tentang rasa, dan rasa itu adalah tentang kebahagiaan, dan kebahagiaan itu adalah yang manusia cari di dunia dan akhirat.
__________________________________________________________
Saturday, October 06, 2007
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment