Wednesday, September 28, 2005

PRASASTI CINTA - Bagian 2

Judul : Prasasti Cinta - Bagian 2
Karya : Ales Oktapratama

Di sebuah pintu masuk salah satu kamar di sebuah rumah sakit, terlihat 2 orang polisi berjaga. Mereka duduk tenang sambil berbincang, sedangkan di dalam kamar tersebut seorang pesakitan tergolek lemas dengan padangan kosong menerawang ke langit-langit kamar. Ramsi sudah tergolek disana lebih dari satu bulan, luka-luka goresan di tubuhnya memang sudah hilang tetapi kondisi jiwanya masih belum pulih. Sejak pihak kepolisian membawanya ke rumah sakit ketika peristiwa ledakan pesawat Qantas di Bandara Soekarno-Hatta sebulan yang lalu, Ramsi tak pernah mengeluarkan satu katapun, matanya terus saja menatap kosong, dan terkadang titik air mata menetes dari matanya yang terlihat lebam. Tangannya terlihat terbelenggu oleh borgol, sesekali ia geraknya pergelangan tangannya yang terborgol itu dan kemudian menatapnya dalam.

“Selamat pagi bapak-bapak” sapa seorang lelaki kepada kedua polisi yang menjaga pintu kamar Ramsi, “Selamat pagi dokter” jawab kedua polisi tersebut, “Bagaimana pak, nampaknya anda-anda lelah sekali” lanjut dokter tersebut, “Ya beginilah tugas kami, harus menjaganya semalaman” jawab kedua polisi itu lagi, “Baiklah, saya akan memeriksa pasien dahulu” kata dokter itu mengakhiri perbincangan, “Silahkan dok” jawab polisi. Tak lama kemudian dokter itu terlihat memeriksa tubuh Ramsi dan sesekali mencatat hasil pemeriksaannya di sebuah buku yang dibawanya. “Bagaimana keadaan mu Ram, kamu terlihat makin sehat” sapa dokter kepada Ramsi, namun Ramsi tak pernah menjawab sapaan dokter itu, walaupun hampir setiap hari sang dokter berusaha berkomunikasi dengan Ramsi. Tatapan Ramsi masih saja tampak kosong, walau sesekali dia palingkan pandangannya ke arah dokter tersebut. “Kalau kamu butuh sesuatu atau ingin mengatakan sesuatu, saya siap membantu dan mendengarnya” ujar dokter itu sambil menepuk pundak Ramsi dan berlalu meninggalkan kamar. “Sayang ya, cakep-cakep stres, terorist lagi!!” bisik seorang perawat kepada rekannya sambil berjalan mengikuti sang dokter, “Iya ya Ran, serem ah punya cowok kayak gitu, misterius” jawab Rani salah satu perawat tersebut.

Sementara itu disebuah ruangan di Polda Metro Jaya. “Letnan Andi, bagaimana perkembangan tersangka?” tanya seorang perwira menengah dalam sebuah rapat, “Keadaannya belum banyak berubah, tersangka belum bisa di ajak bicara pak Irwan” jawab Letnan Andi kepada Pak Irwan. Pak Irwan adalah kepala satuan khusus yang menangani terorisme, beliau berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi. Perawakannya yang tenang dan tegas membuat ia begitu disegani oleh bawahannya. “Sebenarnya saya merasakan sesuatu yang aneh dengan tersangka, saya lihat dari pandangan matanya, seperti ada sesuatu yang amat dalam” ujar Pak Irwan, “Letnan Andi, sepertinya kita harus menggunakan jasa psikiater, pengungkapan kasus ini akan sangat lama jika keadaannya terus seperti ini” lanjut Pak Irwan, “Betul pak, saya setuju, besok saya akan hubungi Dokter Shinta untuk itu” jawab Letnan Andi. “Lalu bagaimana dengan hasil penggeledahan kamar hotel tersangka, apa yang kita dapat sebagai petunjuk” tanya Pak Irwan, “Tidak ada yang berarti pak, hanya sepotong tiket penerbangan dari Singapura ke Jakarta. Sepertinya hanya itu yang berarti yang bisa menghubungkan tersangka dengan peledakan Kedutaan Besar Inggris di Singapura” jawab Letnan Andi, “Dari potongan tiket tersebut diketahui bahwa tersangka meninggalkan Singapura tepat sehari setelah Kedutaan Besar Inggris di Singapura meledak” lanjut Letnan Andi sambil menyodorkan lembaran hasil pemeriksaan. “Bagus!, besok kita lihat hasil tes dari psikiater, saya berharap hal itu bisa membantu kita” jawab Pak Irwan penuh harap.

Di sebuah rumah tak jauh dari rumah sakit. “Assalamualaikum” sapa seorang wanita di sambil membuka pintu dan melangkah masuk, “Waalaikum salam, kok baru pulang Ran” jawab seorang ibu dari dalam rumah, “Iya bu, soalnya lagi banyak pasien” jawab Rani kepada ibunya. Sementara itu di ruang keluarga, ayah Rani sedang serius menyimak acara berita di sebuah stasiun televisi. “Wah, masa’ mengungkap peledakan begitu saja susah, kan tersangkanya sudah tertangkap” celetuk ayah Rani, “Ya ndak bisa gitu pak, soalnya tersangkanya itu masih dalam kondisi kejiwaan yang belum stabil” timpal Rani sambil duduk di sebelah ayahnya dan mengambil pisang goreng di meja di hadapannya, “Oh iya, kamu hati-hati lo selagi mengurusi tersangka itu, khawatirnya kamu dijadikan sandera ketika dia berusaha kabur, ya kayak di film-film itu” lanjut ayah Rani memperingatkan putrinya, “Ya nggak lah pak, kan ada polisi yang jaga, lagi pula tangannya di borgol kok” jawab Rani, “Ah kamu selalu saja menganggap remeh, namanya juga penjahat, akalnya banyak, apalagi dia terorist, pasti udah berpengalaman” jawab ayah Rani, “Iya deh pak, Rani tau bagaimana harus menjaga diri” jawab Rani lagi, “Ya sudah, kamu makan malam dulu sana, nanti terlalu malam tidak baik” pinta ayahnya sambil mengucek rambut Rani.

Keesokan harinya di kamar perawatan Ramsi. Ramsi terlihat masih tertidur ketika para perawat membersihkan. Tiba-tiba ketiga perawat tiu dikejutkan oleh suara seseorang menjerit kencang, “Nokeeeeee, tidakk!!!”. Jeritan itu berasal dari Ramsi yang terlihat langsung terjaga dengan nafas tersengal-sengal. Mendengar jeritan itu, kedua polisi yang menjaga pintu kamar Ramsi langsung masuk ke kamar Ramsi untuk mengetahui apa yang terjadi. “Ada apa!!” tanya salah seorang polisi itu, “pasien seperti mimpi buruk pak” jawab salah seorang perawat, “ooo...kalian tidak apa-apa?” tanya polisi itu, “kami baik-baik saja” jawab salah seorang perawat, “Ya sudah, lanjutkan tugas kalian” jawab polisi itu sambil pergi meninggalkan kamar. “Mari pak saya bantu mengganti pakaiannya, pakaian bapak basah karena keringat” ujar seorang perawat sambil memegang lengan Ramsi dengan hati-hati, “Ran, sini!!” kata seorang perawat lainnya sambil menarik tangan Rani menjauh dari Ramsi, “Kamu nekat yah, kalo kamu di cekik sama dia gimana” bisik perawat itu, “Nggak mungkin lah Tut, aku percaya dengan dia, bisa saya baca dari sinar matanya, sebenarnya mungkin dia itu orang yang baik” jawab Rani pelan, “Ah, kamu udah gila kali yah, ya sudah aku bantuin deh, khawatir kejadian beneran” jawab Tuti si perawat rekan Rani itu. Ramsi perlahan menggerakkan kepalanya menatap ke wajah Rani ketika jari jemari Rani menyentuh tubuhnya, Rani pun seketika terdiam ketika sadar mata Ramsi menatapnya dalam. Ada perasaan takut bercampur teduh di hati Rani mendapatkan tatapan itu, walau kemudian Ramsi memalingkan kembali wajahnya ke arah jendela.

Tak lama setelah selesai Ramsi berganti pakaian, serombongan polisi di iringi oleh dua orang dokter datang mengunjungi kamar Ramsi. “Selamat pagi Ramsi, ini ada tamu untuk mu” sapa dokter kepada Ramsi, “Dokter Syarief!, apakah kita bisa melakukan pemeriksaan psikologi pagi ini juga” tanya Letnan Andi, “Bisa!, pada dasarnya secara kejiwaan dia nggak ada masalah, hanya saja sepertinya dia mengalami sedikit goncangan” jawab Dokter Syarief, “Oke, kalau begitu Dokter Shinta bisa langsung mengadakan pemeriksaan” lanjut Letnan Andi. “Kalau begitu, mohon agar pasien dibawa ke ruang kerja saya sekarang” pinta Dokter Shinta sambil berlalu menuju ruang kerjanya. Tak lama kemudian, Ramsi pun sudah berada di ruang kerja Dokter Shinta. Sedangkan diluar ruang kerja Dokter Shinta terlihat penjagaan yang amat ketat, sementara itu di dalam ruang kerjanya, Dokter Shinta terlihat memperlihatkan berbagai macam objeck dan gambar sambil memperhatikan reaksi Ramsi atas gambar-gambar tersebut. Sudah berpuluh-puluh gambar di perlihatkan, namun Ramsi tak bereaksi apa-apa dan Dokter Shinta pun nampak sedikit berputus ada. Lalu Dokter Shinta mendengar bisikan dari bibir Ramsi, “Noke..Noke”, mendengar itu Dokter Shinta langsung saja membalikkan gambar sebelumnya, “Gambar pesawat terbang?” bisik Dokter Shinta. Ketika gambar itu di pertunjukkan kembali, Ramsi terlihat mencoba menggapai gambar itu dan terlihat titik air mata di pipinya.

Menjelang tengah hari, Dokter Shinta keluar dari ruangannya dan menemui Letnan Andi. “Letnan, sepertinya saya belum mendapat apa-apa, pasien belum mau membuka mulutnya” kata Dokter Shinta, “Hmmm, baiklah nanti kita lanjutnya pemeriksaan berikutnya besok” jawab Letnan Andi kecewa, “Ya, nanti saya siapkan metode pemeriksaan lainnya” jawab Dokter Shinta diplomatis, “Oke dok, kalau begitu saya kembali dulu ke kantor, nanti biar anak buah saya yang memindahkan tersangka ke kamarnya” lanjut Letnan Andi sambil berlalu. Belum lama Letnan Andi melangkah, tiba-tiba hand phonenya berdering, sambil berjalan Letnan Andi menjawab telpon itu, “Hallo komandan, ada apa?” sapa Letnan Andi kepada penelpon yang ternyata adalah Pak Irwan, “Bagaimana hasil pemeriksaannya?” tanya Pak Irwan di telpon, “Belum ada pak, Dokter Shinta belum berhasil memperoleh apapun” jawab Letnan Andi, “Wah, sebaiknya dipercepat saja proses ini, masalahnya pak Kapolri ingin kasus ini cepat tuntas karena pemerintah Amerika Serikat terus bertanya tentang kelanjutan kasus ini, tekanan politiknya besar disini” lanjut Pak Irwan, “Baik komandan, tapi kita mesti sabar sedikit karena dia lah kunci kita untuk membongkar jaringan teroris di Asia Tenggara” jawab Letnan Andi lagi, “ya itulah dilema kita, kita ada ditengah-tengah kepentingan politik, sehingga kita juga rikuh untuk melakukan tindakan yang diperlukan” lanjut Pak Irwan sedikit kesal, “Oke, kalau begitu saya tunggu perkembangan berikutnya” pinta Pak Irwan sambil mengakhiri pembicaraan, “Baik Dan” jawab Letnan Andi sambil menutup hand ponenya.

Sementara itu, Dokter Shinta terlihat merenung di ruang kerjanya. “Noke?, siapa dia, lalu apa pula hubungan dengan pesawat terbang, apakah Noke punya arti khusus baginya” bisik Dokter Shinta penasaran, “lalu kenapa dia menitikkan air mata setelah melihat gambar pesawat terbang ini” bisiknya lagi sambil memandangi gambar pesawat terbang yang ditunjukkan kepada Ramsi sebelumnya, “Apakah mungkin Noke ada di dalam pesawat yang meledak itu?, tapi kenapa dia besedih?, aku harus cari jawabnya!” bisik Dokter Shinta sambil meraih telpon di mejanya. “Hallo, Letnan Andi?” sapa Dokter Shinta di telpon, “Ya, saya Letnan Andi, ini siapa?” jawab Letnan Andi di hand phonenya, “Saya Dokter Shinta” jawab Dokter Shinta, “Ooo, ada apa dok?” jawab Letnan Andi sambil bertanya, “Letnan, bisa saya meminta daftar korban ledakan pesawat Qantas tersebut” pinta Dokter Shinta, “Oh bisa, tapi kalau boleh saya tahu untuk apa yah?” jawab Letnan Andi bertanya-tanya, “Saya hanya ingin menunjukkan nama-nama tersebut pada pasien, mungkin ada yang ia kenal” jawab Dokter Shinta, “Oh, kalau begitu baiklah, besok saya bawakan untuk anda” jawab Letnan Andi, “Terima kasih letnan, saya tunggu besok. Selamat siang” balas Dokter Shinta sambil mengakhiri pembicaraan. “Hmmm, suaranya di telpon merdu juga, cocok dengan wajahnya yang cantik” bisik Letnan Andi sambil tersenyum simpul.

Esok harinya, setelah mendapat daftar korban dari Letnan Andi, Dokter Shinta terlihat serius memperhatikan nama korban satu persatu, “Aneh, tak ada yang namanya Noke di daftar ini. Lalu apa hubungannya reaksi Ramsi saat melihat gambar pesawat dengan nama Noke yang ia sebut-sebut?” bisik Dokter Shinta sambil mengusap wajahnya karena bingung. Tak lama kemudian terdengar pintu ruang kerja Dokter Shinta di ketuk dari luar, “tok..tok..tok!!”, “Silahkan masuk!” jawab Dokter Shinta dari dalam ruang kerjanya, “Siang dok!” jawab sipengetuk pintu, “Ooo, Letnan Andi, selamat siang silahkan duduk!” jawab Dokter Shinta dengan ramah, “Terima kasih” balas Letnan Andi sambil duduk. “Dok, sepertinya kami tidak bisa lagi menunggu hasil pemeriksaan sampai selesai, karena pihak istana minta pengadilan atas kasus ini segera di gelar, agar terlihat ada perkembangannya” kata Letnan Andi menjelaskan, “Sayang sekali ya, padahal saya yakin dalam beberapa tes lagi kita bisa dapat petunjuk” jawab Dokter Shinta, “Ya begitulah. Oh iya ngomong-ngomong sudah jam makan siang nih, makan siang bareng yuk, sambil melanjutkan perbincangan ini” jawab Letnan Andi sambil berinisiatif mengajak makan siang, “Oke” jawab Dokter Shinta singkat. Selama makan siang Letnan Andi dan Dokter Shinta terlihat berbincang serius walau kadang ada gelak tawa disana. “Dok, kenapa wanita secantik anda masih sendiri, saya yakin banyak pria diluar sana yang mengidolakan anda” tanya Letnan Andi mencoba membelokkan topik pembicaraan kearah yang lebih ringan, “Ah, letnan bisa saja, mugkin jodoh saya saja yang belum datang” jawab Dokter Shinta tertunduk, “Ya, mungkin sih” lanjut Letnan Andi, “Anda sendiri bagaimana” kata Dokter Shinta bertanya balik, “Ya, sepertinya jawabnya sama seperti anda” jawab Letnan Andi.

Selepas makan siang, Dokter Shinta langsung kembali ke rumah sakit. Sepanjang hari hingga malam ia terus berpikir tentang Ramsi, “Mengapa saya jadi begitu perhatian terhadap kasusnya?” tanya Dokter Shinta dalam hati, “Orangnya sih cakep, matanya juga seksi” bisiknya lagi sambil tersungging, “Ah, gila. Pikiran apaan sih ini” bantahnya dalam hati. Ketika hendak pulang, Dokter Shinta menyempatkan berkunjung ke kamar Ramsi. “Malam dok” sapa polisi yang menjaga kamar Ramsi, “Malam pak, boleh saya masuk untuk menjenguk pasien?” tanya Dokter Shinta, “Oh, silahkan dok” jawab polisi tersebut. Kemudian Dokter Shinta pun masuk ke kamar Ramsi, sesampainya di sisi Ramsi, Dokter Shinta memandangi Ramsi yang tergolek dengan pandangan kosong ke langit-langit kamar. “Ramsi, siapa Noke?. Apakah ia punya arti khusus buat anda?” bisik Dokter Shinta di telinga Ramsi. Mendengar bisikan itu Ramsi terkejut dan langsung bangkit dan menatap Dokter Shinta tajam, “Katakan saja, saya tidak akan mengatakan perihal itu kepada polisi” lanjut Dokter Shinta merayu, “Anggap saja saya teman anda”. Tak lama kemudian Ramsi memalingkan wajahnya, lalu kembali berbaring. Untuk beberapa menit suasana menjadi hening, lalu Dokter Shinta memutuskan untuk pulang. Ketika Dokter Shinta ingin beranjak pulang, Ramsi terlihat meraih secarik kertas dan pena di meja sebelah tempat tidurnya. Setelah beberapa saat Ramsi mencorat-coret kertas itu, lalu perlahan ia serahkan kertas itu pada Dokter Shinta. “Noke tak ada di dunia ini tapi ada di hati ini, cinta tak pernah ada di dunia ini kecuali Noke ada di dunia ini”. Membaca tulisan Ramsi itu, Dokter Shinta terlihat mengerenyitkan keningnya. Sesampainya dirumah, Dokter Shinta membaca tulisan Ramsi itu berulang-ulang, “Ternyata dia pria yang romantis, tapi siapa atau apa sebenarnya Noke ini?” bisiknya penuh pertanyaan.

Satu minggu kemudian pihak kepolisian membawa Ramsi ke tahanan Polda Metro Jaya untuk di periksa. Satuan pengaman dari satuan elite POLRI terlihat berjaga di sekitar rumah sakit, begitu juga kendaraan baja yang akan mengangkut Ramsi ke Polda Metro. Para perawat terlihat sibuk mendandani Ramsi untuk berangkat meninggalkan rumah sakit, hingga saatnya Ramsi di jemput pihak kepolisian. Ketika sedang berjalan keluar kamar sambil dikawal, Ramsi mengeluarkan kata-kata pertamanya sejak peledakan pesawat Qantas itu, “Rani, terima kasih untuk semuanya” sapa Ramsi kepada Rani dengan suara yang berat dan lemah sambil berlalu. Mendengar itu Rani terpaku dan merasa sejuk di jiwanya, ia pandangi langkah Ramsi hingga menghilang di belokan berikutnya. “Mengapa aku merasa amat sepi sekarang, entahlah” bisik Rani, “Heh Ran, gile loe ye. Nggak ngeri loe” tanya Tuti rekan perawat lainnya, “Nggak, aku yakin sebenarnya dia orang yang baik” jawab Rani sambil terus menatap belokan di depan. Diluar rumah sakit suasana amat ramai, wartawan terlihat dimana-mana, begitu juga dengan polisi dengan siaga penuh mengawasi situasi. Ditengah kerumunan yang mebgiringi Ramsi ke mobil lapis baja, pandangan Ramsi tertumbuk pada sosok seseorang di kerumunan itu. Ramsi terus memandangi sosok tersebut, pandangannya dalam penuh pertanyaan, hingga sampai didalam mobil Ramsi masih terus memandangi sosok itu, Ramsi terlihat begitu terkejut. Sepanjang perjalanan menuju Polda Metro, Ramsi terlihat berpikir keras, situasi tersebut membuat Pak Irwan yang ikut menjemput menjadi bertanya-tanya.

Sesampainya di Polda Metro, Ramsi pun langsung dimasukkan tahanan. Kemudian Pak Irwan terlihat menghubungi sesorang melalui telpon di mejanya, “Letnan Andi, kamu perhatikan pandangan Ramsi tadi sewaktu ingin masuk ke mobil ?” tanya Pak Irwan di telpon yang ternyata kepada Letnan Andi, “Siap Dan, saat ini saya dan beberapa rekan masih terus memperhatikan sasaran dan akan membuntuti sasaran” jawab Letnan Andi, “Bagus, perhatikan terus. Saya yakin pasti Ramsi dan orang itu saling mengenal” lanjut Pak Irwan, “Siap Dan” jawab Letnan Andi lugas. Menjelang sore hari, Letnan Andi dan timnya tiba kembali di Polda Metro. Ia pun langsung menghadap Pak Irwan untuk melaporkan hasil pemantauannya. “Dan, saya sudah mendapatkan alamat orang tersebut dan saya sudah tempatkan beberapa intel di sekitar kediaman orang itu untuk memantau pergerakan orang tersebut” jawab Letnan Andi, “Bagus, besok kita bergerak ke sasaran untuk menjemput sasaran dan melakukan penggeledahan” perintah Pak Irwan, “Siap Dan, saya akan urus terlebih dahulu izin penggeledahan ke pengadilan” jawab Letnan Andi sambil meninggalkan ruang Pak Irwan.

Keesokan harinya, Letnan Andi beserta beberapa polisi lainnya mendatangi kediaman orang itu. Disertai oleh surat izin penggeledahan dan sebuah foto, Letnan Andi beserta polisi lainnya mengetuk pintu rumah yang mereka yakini sebagai tempat tinggal orang tersebut. “Tok..tok..tok” suara ketukan pintu, tak lama kemudian pintu terbuka dan terlihat seorang wanita cantik di muka pintu, “Selamat pagi nona, kami dari kepolisian Polda Metro. Ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan” sapa Letnan Andi dengan ramah. Dengan wajah bingung, wanita penghuni rumah itu mempersilahkan Letnan Andi dan beberapa stafnya untuk duduk. Setelah duduk, Letnan Andi pun segera menyodorkan surat izin dari pengadilan untuk melakukan penggeledahan. Selagi wanita itu membaca surat izin tersebut, Letnan Andi mencoba menjelaskan duduk perkaranya, dari pandangan Ramsi ke arah wanita itu kemarin sampai mengenai Ramsi yang belum mau buka mulut. “Maaf pak, tapi saya tidak mengenal si terorist itu. Mungkin saja dia memandangi saya hanya sebuah kebetulan” kata wanita itu kepada Letnan Andi, “Ya, itu bisa saja tapi untuk memastikannya izinkan kami untuk mulai melakukan penggeledahan dan membawa anda ke kantor untuk dimintai keterangan” jawab Letnan Andi sambil meminta izin untuk mulai menggeledah, dan tak lama kemudian Letnan Andi membawa wanita itu ke Polda Metro, sedangkan stafnya mulai melakukan penggeledahan di kediaman wanita itu.

Sesampainya di Polda Metro, mereka langsung menuju ruang pemeriksaan. Setelah wanita itu dipersilahkan duduk, Letnan Andi terlihat keluar ruangan dan kemudian datang lagi bersama Pak Irwan beserta staf lainnya dan terlihat juga Dokter Shinta ada disana. “Hai, apa kabar dok” sapa Letnan Andi dimuka pintu, “Baik letnan, anda bagaimana” jawab Dokter Shinta sambil balik bertanya, “Ya seperti yang anda lihat. Lama juga yah tak bertemu” jawab Letnan Andi, “Oke, sepertinya ngobrolnya kita lanjutkan nanti saja, pemeriksaan sudah akan dimulai” lanjut Letnan Andi sambil mempersilahkan Dokter Shinta memasuki ruangan pemeriksaan terlebih dahulu. Sudah hampir dua jam pemeriksaan berjalan namun tak ada sesuatu yang berarti yang bisa diperoleh dari wanita itu, wanita itu mengaku tidak pernah mengenal Ramsi. Beberapa saat kemudian Pak Irwan terlihat memberi kode kepada Letnan Andi untuk mengajaknya keluar ruangan, lalu diluar ruangan Pak Irwan terlihat terlibat pembicaraan serius dengan Letnan Andi. “Letnan Andi, bagaimana hasil penggeledahan, apakah sudah ada hasil” tanya Pak Irwan serius, “Belum pak, mereka masih dalam perjalanan menuju kemari” jawab Letnan Andi, “Baiklah, kita harap ada petunjuk lainnya dari penggeledahan tersebut” lanjut Pak Irwan sambil kembali masuk ke ruangan pemeriksaan.

Tak lama kemudian tim yang melakukan penggeledahan tiba, kemudian Letnan Andi terlihat berdiskusi dengan stafnya yang telah melakukan penggeledahan. Beberapa menit kemudian Letnan Andi masuk kembali keruangan pemeriksaan, “Dan, ada sesuatu yang menarik dari hasil penggeledahan” bisik Letnan Andi kepada Pak Irwan, “Apa itu letnan” tanya Pak Irwan penasaran, “Sebentar lagi staff saya akan membawanya ke sini” jawab Letnan Andi. “Pak Irwan, dari pengamatan saya tak ada yang aneh dengan wanita ini” kata Dokter Shinta sambil menunjukkan tabel hasil pemantauan psikologinya. Tak lama kemudian terlihat staf Letnan Andi masuk ke ruangan dengan membawa sesuatu, “Ini pak robekan foto itu yang sudah kami rangkai kembali” sapa staf itu kepada Letnan Andi, “Bagus, terima kasih sersan” jawab Letnan Andi. Kemudian Letnan Andi menunjukkan foto itu kepada Par Irwan. “Nona, di foto ini anda terlihat berduaan dengan tersangka. Apakah anda masih ingin menyangkal bahwa anda tidak mengenal tersangka” tanya Letnan Andi kepada wanita itu. Melihat foto tersebut, wanita itu hanya diam dan kemudian tertunduk. “Maaf letnan, bisa saya lihat foto itu” pinta Dokter Shinta kepada Letnan Andi. Sambil memandangi foto itu, Dokter Shinta tampak berpikir keras lalu..”Apakah anda yang dipanggil Noke?” tiba-tiba Dokter Shinta bertanya pada wanita itu. Mendengar pertanyaan itu, Pak Irwan dan Letnan Andi langsung terkejut dan menoleh kearah Dokter Shinta, sedangkan wanita itu masih tetap tertunduk. “Noke?, siapa dia, kenapa bisa menyimpulkan wanita ini bernama Noke” tanya Letnan Andi tampak bingung. “Maaf letnan, saya belum pernah bercerita bahwa saat pemeriksaan di rumah sakit tersangka pernah menyebut nama itu” jawab Dokter Shinta. “Tapi di KTP nya wanita ini kan bernama Nana Kestari” lanjut Letnan Andi, “Mungkin Noke adalah sebuah panggilan letnan” jawab Dokter Shinta. “Apakah benar yang dikatakan Dokter Shinta nona?” tanya Letnan Andi kepada wanita itu.

Mendengar pertanyaan-pertanyaan tersebut, wanita itupun menangis. Kemudian Dokter Shinta memberikan sapu tangannya kepada wanita itu, sambil terus memandangi wajah cantik wanita itu, Dokter Shinta terus memberi pertanyaan dan akhirnya, “Saya memang pernah mengenal tersangka, bahkan kami begitu dekat dan berencana menikah” ujar wanita itu, “Noke adalah panggilannya kepada saya,” lanjut wanita itu yang ternyata adalah Noke, “Apa yang anda lakukan di rumah sakit kemarin” tanya Letnan Andi, “Entahlah pak, kenapa siang itu setelah melihat gambarnya di televisi timbul keinginan saya untuk melihatnya” kata Noke menjelaskan, “Dan foto itupun adalah foto kami terakhir yg saya miliki, entahlah juga kenapa saya masih menyimpannya dan saya putuskan untuk merobeknya semalam” lanjut Noke menjelaskan sambil terisak menangis. “Pak, sepertinya wanita ini bisa kita jadikan umpan agar tersangka mau buka mulut” bisik Letnan Andi kepada Pak Irwan, “Betul pak, sekarang saya yakin bahwa kemurungan tersangka ada hubungannya dengan wanita ini” timpal Dokter Shinta, “Kalau begitu kamu atur caranya” jawab Pak Irwan memberi instruksi kepada Letnan Andi. “Nona, kami sangat berharap nona mau membantu kami untuk membuat tersangka buka mulut. Hal ini amat penting untuk membongkar jaringan mereka” pinta Pak Irwan kepada Noke. “Baiklah pak, saya akan coba, tapi terus terang ini membuat hati saya tersiksa” jawab Noke sambil mengusap air matanya, “Ya saya mengerti, tapi ini demi kebaikan negeri ini nona” lanjut Pak Irwan membujuk, “Kalau begitu, sekarang anda boleh pulang tapi kami akan menempatkan beberapa intelijen disekitar rumah anda dan saya beserta seorang staf akan menjaga anda di rumah” kata Letnan Andi sambil kemudian beranjak dan menuntun Noke keluar ruangan.

Satu minggu sudah berlalu, pemeriksaan atas diri Ramsi pun sudah berkali-kali dilakukan dan juga sudah seminggu pula Letnan Andi dan staf nya tinggal di kediaman Noke. Sudah banyak kemajuan yang diperoleh polisi dari Ramsi, saat ini Ramsi sudah bisa diajak berbicara namun tak banyak informasi yang ia sampaikan. Pada suatu hari pemeriksaan, hari itu pemeriksaan psikologi dilakukan oleh Dokter Shinta untuk memancing Ramsi berbicara, “Apa kabar Ramsi” sapa Dokter Shinta, namun Ramsi hanya menyambut sapaan itu dengan diam dan pandangan dingin. “Baiklah, kita mulai saja. Sekarang saya sudah tau siapa itu Noke, foto itu menjelaskan semuanya” kata Dokter Shinta, Ramsi hanya menoleh ke arah Dokter Shinta dan kemudian membuang kembali pandangannya. “Bagaimana kalau apa yang kamu tulis di kertas malam itu adalah terjadi sebaliknya, maksudnya Noke ada didunia ini, kalau dia sudah mati dia hidup kembali?” tanya Dokter Shinta, mendengar kata-kata itu, tiba-tiba Ramsi beranjak mendekat ke arah Dokter Shinta dan berujar keras “Tak akan ada yang hidup lagi yang ada hanya yang akan mati, mereka harus membayarnya”. Mendengar itu Dokter Shinta terkejut dan sedikit takut, “Siapa yang kamu maksud dengan mereka?” tanya Dokter Shinta lagi, “Mereka yang telah merenggut cinta saya dari dunia ini” jawab Ramsi, “Bagaimana kalau cintamu itu ternyata masih hidup di dunia ini” tanya Dokter Shinta lagi, sambil kembali duduk, Ramsi menjawab pertanyaan itu dengan nada yang lemah, “Tak mungkin karena saya sendiri yang telah membunuhnya, tanpa saya sadari sayalah pembunuh cinta itu”.

Kemudian seorang wanita masuk ke ruang pemeriksaan dan berujar “Kamu gagal membunuh saya Ram, karena perlindungan-Nya lah saya masih bisa menghirup udara segar sampai hari ini”. Mendengar kata-kata itu Ramsi terkejut dan berdiri memandangi wanita itu dengan tajam.”Noke?” itulah kata yang terbisik di bibir Ramsi, “Ya, saya Noke. Kaget?” jawab wanita itu sinis, “Tak mungkin, kamu sudah mati” lanjut Ramsi. Kemudian Dokter Shinta meninggalkan mereka berdua di ruang pemeriksaan, dan bersama Letnan Andi menyaksikan dari ruang kaca yang tersambung langsung dengan ruang pemeriksaan. “Ini ambil, ku tak sudi menerimanya” kata Noke sambil melempar sesuatu kepangkuan Ramsi. Lalu Ramsi terlihat memandangi benda kecil yang dilemparkan Noke di genggamannya, tak lama kemudian terlihat tetesan air mata di pipi Ramsi dan ia pun berujar pelan “Noke, maafkan aku. Aku tak pernah ingin menyakitimu apalagi membunuhmu”. “Cincin ini adalah bukti hal itu,aku amat mencintaimu. Keadaan lah yang membuat semua ini menjadi berantakan” lanjut Ramsi sambil mendekat ke arah Noke. Noke pun memundurkan langkahnya dan berujar sambil terisak “Kamu gagal membunuh saya tapi kamu sangat berhasil membunuh cinta di hati saya, kamu padamkan api yang membara di hati saya yang telah membakar banyak perbedaan dan keragu-raguan diantara kita” jawab Noke sambil melangkah keluar ruangan. “Noke dengar penjelasan ku, bukan aku yang melakukan semua itu, aku mencintaimu” jerit Ramsi sambil berusaha meraih tangan Noke. Sambil terus menangis Noke berusaha menarik tangannya, “Lepaskan aku Ram, kalau kamu tak ingin membuat ku tambah tersiksa”. Mendengar itu, dengan terpaksa Ramsi melepas genggamannya di tangan Noke. Tak lama kemudian dua orang polisi masuk keruangan dan menuntun Ramsi untuk kembali ke ruang tahanan, “sepanjang jalan menuju tahanan, Ramsi berteriak ke arah Noke, “Noke, aku tak melakukannya, aku mencintaimu sampai kapanpun”.

Melihat adegan tersebut, Dokter Shinta menjadi termenung. Dia begitu bersimpati dengan apa yang terjadi pada Ramsi dan Noke. “Letnan Andi, bagaimana kalau kita membicarakan hal tadi sambil makan siang” pinta Dokter Shinta, “Maaf dok, saya harus mengantarkan Noke ke rumahnya” jawab Letnan Andi, “Baiklah, nanti kita bicarakan lagi” lanjut Dokter Noke. Kemudian Letnan Andi bersama Noke berjalan berdua menuju keluar kantor, dan Dokter Shinta hanya memandangi mereka dari belakang, “Mengapa aku merasa cemburu melihat mereka berdua berjalan bersama” bisik Dokter Shinta, “Ah, mulai deh pikirin aneh nongol” lanjutnya. Sementara itu di ruang tahanan, Ramsi terus menitikkan air mata sambil menatap tembok. Tiba-tiba ada seoarang wanita yang menyapanya, “Ramsi!” sapa suara itu, lalu dengan lemah Ramsi menolehkan pandangannya ke arah luar sel dan ia pun terkejut, “Rani?” jerit Ramsi, “apa yang kamu lakukan disini“ lanjut Ramsi, “Saya di suruh Dokter Shinta untuk memeriksa keadaan anda” jawab Rani si perawat rumah sakit, “ saya sudah mendengar semuanya dari bu dokter dan saya mengerti apa yang kamu rasakan, namun kamu tak bisa berbuat apa-apa. Hukuman mati sudah menunggu mu” lanjut Rani, “Saya tau tentang hukuman itu, dan aku menangis bukan karena hukuman itu” jawab Ramsi pelan. Setelah pemeriksaan kesehatan selesai dilakukan, Ramsi berkata pada Rani “bisa saya pinjam pena dan meminta secarik kertas?” lanjut Ramsi, “Oh, sebentar saya pinjam ke meja jaga” jawab Rani sambil berjalan menuju meja jaga. Setelah mendapat pena dan kertas, lalu untuk beberapa lama Ramsi terlihat menulis sesuatu. “tolong berikan surat ini kepada Dokter Shinta untuk diberikan kepada Noke” pinta Ramsi sambil menyodorkan surat itu kepada Rani.

Sesampainya di rumah sakit, Rani langsung menuju toilet wanita. Ia begitu penasaran dengan isi surat tersebut, lalu ia membukanya :
“Noke, saya mengerti kepedihan hatimu, saya juga mengerti jika kamu saat ini membenciku. Saya sadar bahwa semua ini adalah salah ku, tapi aku hanya ingin kamu tau bahwa aku tak pernah berniat apalagi ingin menyakitimu. Malam itu sewaktu aku melamarmu, sesungguhnya siangnya aku sudah resmi keluar dari organisasi ini, aku ingin memulai semua yang baru denganmu. Aku tau tentang rencana peledakan pesawat itu, namun mereka terus mangawasiku agar tak membocorkan rencana itu dan mengancam akan membunuhmu jika aku bocorkan rencana itu. Dan malangnya aku sungguh tak tau bahwa hari itu kamu ada di pesawat itu. Entah bagaimana caranya sampai kamu terhindar dari ledakan itu, tapi aku amat bahagia mengetahui bahwa kamu ternyata selamat. Walau kini aku diambang mati di hadapan juru tembak, tapi biarlah, mungkin itu adalah bayaran dari semua kekeliruan yang aku buat. Bayaran di hadapan juru tembak itu tak seberapa di bandingkan bayaran yang harus kutebus dengan kehilangan cintamu. Aku lakukan apa yang perlu kulakukan demi keselamatanmu, dan aku berharap sampai detik terakhir ku nanti di hadapan juru tembak kamu mau memaafkanku, agar kelak aku bisa tersenyum dari alam sana karena melihat mu mengunjungi makam ku. Maaf kan aku, aku selalu mencintaimu dan selalu kutaruh cinta dan semua memori indah kita di pojok hatiku. With love, Ramsi.”

Membaca surat Ramsi itu, Rani tak sadar menitikkan air mata. Perasaannya yang sudah sedikit terpaut dengan Ramsi membuat dia iba, tak lama kemudian ia serahkan surat itu pada Dokter Shinta, “Dok, ini ada titipan surat dari Ramsi untuk disampaikan pada Nona Noke” ujar Rani, “Oh iya, nanti saya samapaikan ketika bertemu dengan Nona Noke” jawab Dokter Shinta. Sekembalinya Rani dari ruang Dokter Shinta, ia masih saja terbayang-bayang pada kata-kata dalam surat Ramsi tadi, “Ya ampun, entah apa yang terjadi, tapi ternyata cinta itu memang ada” bisik Rani. Sesaat kemudian telpon diruang perawat berdering, “Hallo,” jawab seorang perawat yang mengangkat telpon itu, “Ya hallo, bisa bicara dengan Ibu Rani?” jawab sipenelepon, “Sebentar pak” jawab si perawat sambil memanggil Rani. “Dari siapa?” tanya Rani pada si perawat, “Nggak tau” jawab siperawat. “Hallo, ini siapa?” sapa Rani, “Ooo bapak toh, oke pak nanti saya tunggu di restoran depan rumah sakit ini” jawab Rani setelah terlibat perbincangan singkat di telepon dengan seseorang. Siang harinya, pada jam istirahat, Rani terlihat berbincang dengan seorang pria separuh baya di restoran depan rumah sakit, entah apa yang mereka bicarakan. Sesaat setelah berbincang dan makan siang keduanya pun berpisah.

Seminggu kemudian, suasana malam di rumah kediaman Noke tampak hening. Tak banyak kegiatan berarti disana, hanya Noke yang masih sibuk di meja kerjanya menatap serius monitor komputer. Tiba-tiba beberapa sosok bayangan terlihat mendekati kediaman itu, sebagian sosok tersebut mulai memasuki kediaman Noke dan sebagian lagi terlihat berjaga di luar. Selanjutnya terdengar suara gaduh di ruang tengah dan terlihat polisi yang menjaga Noke sudah terkapar tewas dengan pisau di dada, “Siapa itu ?, ada apa pak? Tanya Noke mendengar gaduh tersebut sambil beranjak menuju ruang tengah, tapi belum lagi langkah kakinya mencapai ruang tengah, sesosok pria bertopeng membekap mulutnya dengan saputangan berbius dan Noke pun terkulai pingsan. Kemudian tubuh Noke dibawa oleh orang-orang tak dikenal itu ke sebuah mobil van yang sudah bersiap-siap di samping jalan rumah Noke. “Cepat masukkan tubuhnya kedalam mobil ? perintah seseorang pada orang yang membopong tubuh Noke, “Baik bu” jawab orang itu, “Yang lain mana ?” lanjut sesorang itu yang ternyata seorang wanita yang juga memimpin operasi tersebut, “Yang lain sedang mengurusi mayat polisi itu” jawab orang tersebut. Sementara itu suasana di ruang tahanan Ramsi malam yang sama juga begitu hening, Ramsi terlihat tertidur. Dan tiba-tiba Ramsi terbangun karena mendengar suara ledakan dahsyat, dan seketika itu pula terlihat banyak polisi yang berlarian . “Apa yang mereka lakukan lagi ?” bisik Ramsi. Lorong tahanan mulai dipenuhi oleh asap dan debu, dan ketika ledakan kedua terdengar, semua menjadi gelap.

Disebuah tempat di pinggiran Jakarta. “Apa kabar Ramsi ?” tanya wanita pemimpin gerombolan itu, dengan mata yang masih setengah tertutup karena pengaruh bius, Ramsi berujar lemah “Ya ampun, aku sungguh tak menyangka kau adalah bagian dari kelompok laknat ini”. “Maaf Ramsi, saya harus mengambil kamu dari Polda dengan cara yang agak brutal” lanjut wanita itu, “Entah berapa puluh polisi yang kamu bunuh dengan bom sialan itu” kata Ramsi agak kesal, “Seharusnya kamu berterima kasih pada ku karena sudah membebaskan kamu” kata wanita itu sambil melangkah mendekat. “Kamu pasti kenal wanita itu kan ?” tanya wanita itu sambil menunjuk kearas sosok wanita yang terbaring di atas lantai di belakang Ramsi. Ramsi pun perlahan menoleh ke aras sosok wanita yang terbaring tersebut, “Noke ?, apa yang kamu lakukan padanya!” teriak Ramsi, “Tenang, dia hanya pingsan sebentar, nanti juga sadar” jawab wanita itu. “Jadi selama ini kamu menjadi perawat agar bisa memata-matai aku ?’ tanya Ramsi sambil terus meronta dari cengkraman pengawal wanita itu, “Ya, begitulah, ketua khawatir kamu iseng buka mulut, dan terus terang sasaran saya adalah membunuh mu” jelas wanita itu panjang lebar. “Yang lain keluar, tinggalkan saya sendiri bersama mereka” pinta wanita itu kepada para pengawalnya, “Baik bu” jawab para pengawal sambil beranjak keluar ruangan. “Ramsi, terus terang saja, sesungguhnya malam ini target saya adalah membunuh mu dan Noke karena Polisi akan menggunakan kalian berdua untuk membongkar jaringan kita" kata wanita itu yang ternyata adalah Rani si perawat. “Kita ?, aku bukan lagi bagian dari kalian. So, kenapa belum mulai membunuh kami ?” jawab Ramsi, “Sejujurnya saya tak ingin membunuh kamu karena…” kata Rani sambil berbalik memandang ke arah jendela, “Karena apa “ tanya Ramsi, “Karena…..karena aku mencintai mu Ramsi” jawab Rani pelan sambil terus memandangi ke arah luar jendela. Mendengar jawaban Rani, Ramsi hanya diam dan untuk sesaat keadaan menjadi sunyi. Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita dan suara langkah kakinya yang mendekati Rani, “Ternyata, masih banyak orang lemah di dunia ini”. “Noke !!” teriak Ramsi yang melihat Noke sudah sadar. “Ramsi sayang, aku mendengar semuanya” jawab Noke, “Jadi…kamu berpura-pura pingsan ?” tanya Ramsi penasaran, “Iya sayang, saya berpura-pura” jawab Noke, “Noke!! tetap ditempatmu, jangan bergerak” teriak Rani kepada Noke, “Hmm…..sepertinya tidak mungkin” jawab Noke sambil menodongkan pistol ke arah Rani, “Noke…apa-apaan ini?” teriak Ramsi sambil berjalan menuju Rani, “Jangan maju Ram, diam ditempat!” bentak Noke pada Ramsi.

Sementara itu diluar terdengar suara sirene patroli polisi dan suara tembakan. Pengawal Rani dan beberapa polisi terlibat baku tembak disekitar lokasi. Tak lama kemudian terdengar suara dari pengeras suara pihak kepolisian, “Anda sudah dikepung, menyerahlah!!”. Sementara suasana didalam ruangan makin mencekam, dan sesaat kemudian terdengar suara letusan tembakan dan terlihat tubuh Rani tergeletak di lantai bersimbah darah, “Tidak!!!, Noke apa yang kamu lakukan” teriak Ramsi sambil memandangi tubuh kaku Rani, “Aku lakukan ini demi kamu” jawab Noke sambil membuka ikatan ditangan Ramsi, “Ayo kita pergi dari sini” ajak Noke. Tiba-tiba Ramsi bergerak cepat dan merebut pistol yang ada di tangan Noke, “Noke! Aku tak menyangka kau mengkhianati aku” kata Ramsi sambil menodongkan pistol ke arah Noke. “Aku bersusah payah untuk keluar dari organisasi ini, sudah aku gadaikan rasa kemanusianku demi keluar dari organisasi ini dan juga sudah aku siksa hati ini dengan merindukanmu. Tapi semua sia-sia karena ternyata kamu adalah bagian dari yang ingin kutinggalkan itu, aku kecewa dan amat sangat merasa sia-sia dan lelah” kata Ramsi panjang lebar sambil terus menodongkan pistol ke wajah Noke. Setitik air mata terlihat menetes di pipi Ramsi yang terlihat kurus. Sesaat kemudian terdengar lagi suara letusan tembakan, kemudian terdengar jeritan seseorang “Tidakkkkkkk”, terlihat Noke bersimpuh dilantai sambil memeluk tubuh Ramsi yang terlihat bersimbah darah. Dengan kekecewaan yang besar Ramsi menembak dirinya sendiri, Noke dengan kesedihan yang mendalam dan tak kuasa menahan diri, akhirnya mengikuti jejak Ramsi. Noke pun tergeletak dengan posisi memeluk Ramsi.

Suasana hening pun menyelimuti ruangan itu, dan tak lama kemudian beberapa personil kepolisian anti terorisme mendobrak masuk. Setelah pihak kepolisian selesai melakukan netralisasi, semua korban mulai di evakuasi. “Entah ada apa sesungguhnya dibalik ini semua, Ramsi, Noke juga Rani si perawat tewas di tempat dan waktu yang sama..hmmm” bisik Letnan Andi sambil memandang tubuh mereka.

Selesai……

No comments: