Karya : Ales OP
Dingin malam ini membuat tubuh orang yang berjalan di trotoar menjadi menggigil. Hujan lebat yang turun sebelumnya membuat suasana menjadi lembab dan tanah menjadi becek. Gelandangan kota Jakarta yang terbiasa tertidur di selimuti malam pun tak kuasa menahan dingin malam itu, mereka tampak menutupi rubuh mereka rapat-rapat dengan lembaran selimut kumuh dan rombeng. Lalu lalang kendaraan pun tak begitu padat, mungkin mereka lebih memilih tinggal di rumah dan menikmati suasana hangat di tengah keluarga dibandingkan harus meladeni dinginnya malam ini.
Di sebuah halte bis yang letaknya tak jauh dari Bendungan Hilir, beberapa orang masih tampak terduduk menunggu bis yang akan membawa mereka kembali ke rumah. Menit demi menit, satu persatu mereka menaiki bis yang di mereka tunggu hingga akhirnya tak seorang pun tersisa, kecuali seorang wanita muda yang masih terduduk tersender di bangku halte. Wajahnya tampak jemu dan matanya terlihat lelah. Sementara itu, di pojokan halte ada seorang gelandangan tua yang memperhatikan wanita itu sejak tadi. Matanya menatap si wanita dengan tajam penuh tanda tanya. Kemudian langkah gontai si gelandangan tua tampak mendekati si wanita. “Hei Nona, sejak tadi saya perhatikan kamu hanya melamun saja disini, apa yang kamu kerjakan disini ?” tanya si gelandangan tua dengan suara bergetar karena kedinginan. Si wanita hanya diam, hanya terlihat tangannya merogoh kantungnya dan kemudian memberikan selembar uang Rp. 1.000 kepada gelandangan tua itu. “Maaf Nona, saya bukan meminta uang mu. Saya hanya memperingatkan mu bahwa tak baik wanita malam-malam begini masih sendiri disini, kamu tau sendiri Jakarta seperti apa”. Si wanita hanya melirik wajah si gelandangan tua itu dan kemudian kembali terdiam. “Ya sudah, sepertinya kamu nggak mau di ganggu, saya minta maaf. Tapi ingat, hati-hati!!” pesan si gelandangan.
“Saya sedang menunggu pacar saya disini, katanya kami akan bertemu disini setengah jam yang lalu” kata si wanita dengan nada lemah. Si gelandangan tua yang awalnya ingin kembali ke peraduannya, menjadi terhenti dan kembali menoleh si wanita. “Aneh!, kok janji ketemu di halte seperti ini?” jawab si gelandangan sambil mengerenyitkan dahinya. “Kalau boleh tau, namamu siapa ?” tanya si gelandangan lagi. “Nama saya Mira”. “Nama yang bagus, seperti Mira Lesmana”. “Pacar saya itu katanya mau mengenalkan saya pada ayahnya karena kami berencana mau menikah” lanjut Si wanita yang bernama Mira itu. “Oooo, pacar mu pasti baik dan tampan, sesuai dengan wajah kamu yang cantik dan manis. Semoga sebentar lagi dia datang”. “Mobil sedan mu tampak kotor sekali” ujar si gelandangan sambil memandangi mobil Mira yang penuh lumpur yang terparkir tepat di depan halte itu.
Tak lama kemudian, memang ada seorang pria yang datang. Dari kejauhan dia sudah berteriak memanggil Mira. Wajah Mira tampak berubah menjadi gembira melihat pria yang ditunggunya tiba. “Rahmat!!, kok lama bener sih nyampenya ?” tanya Mira sambil cemberut. “Kan hujan, aku nuggu hujan reda dulu baru naik bis”. “Oh iya, kalian sudah lama ngobrolnya” tanya Rahmat sambil memandang ke arah gelandangan tua. Mira hanya mengangguk kecil dan melirik ke arah gelandangan tua yang tampak masih berdiri di dekatnya. “Mir, kenalkan ini ayah ku” kata Rahmat sambil menyodorkan tangan si gelandangan tua pada Mira. Mata Mira tampak terbelalak dan wajahnya penuh keterkejutan mendengar perkataan Rahmat itu. Sementara si gelandangan tua yang diperkenalkan Rahmat sebagai ayahnya, hanya memandangi wajah Mira yang masih tampak tak percaya. “Mir, kamu baru sedikit mengetahui tentang diriku, karena kamu ingin menikah dengan ku, maka kubukalah semuanya untuk mu” lanjut Rahmat sambil merangkul ayahnya yang gelandangan itu.
Sementara Mira masih berdiri mematung dengan wajah tertunduk, Rahmat dan ayahnya memandanginya dengan diam.
Monday, October 17, 2005
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment