Karya : Ales Oktapratama, 2004.
Sinar matahari pagi itu terasa begitu hangat, cahayanya terlihat berkilau dari selah-selah dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Sesekali terdengar suara ayam berkokok bersaut-sautan, belum lagi terdengar suara gemuruh laju kereta api pagi yang datang dari arah Manggarai. Seorang pria separuh abad duduk diam di beranda sebuah rumah yang terletak tak jauh dari perlintasan kereta api, di hadapannya ada secangkir teh hangat yang masih mengepulkan asap nikmatnya. Wajahnya terlihat tanpa ekspresi, matanya menerawang dan goretan-goretan derita hidup amat nyata terukir di wajah tuanya itu. Dia hanya terlihat sesekali menghela lalat-lalat yang mencoba ikut menikmati teh hangatnya.
Pak Sastro amat dikenal di perkampungan pemulung itu, sosoknya yang penuh perhatian dan suka menolong membuatnya amat di sayangi seluruh penghuni perkampungan pemulung itu, sebuah perkampungan yang sering disebut oleh banyak orang yang lebih beruntung sebagai perkampungan kumuh. Namun kehidupan Pak Sastro amatlah malang, saat ini ia kehilangan ingatannya, hidupnya seperti hampa. Pak Sastro yang dulu dikenal mandiri, kini hanya pasrah menjalani hidup dari belas kasihan orang lain. Semenjak kepergian istri tercintanya beberapa tahun yang lalu, kini ia tinggal bersama putri satu-satunya, buah cintanya, Mawar. Mawar lah yang akhir-akhir ini dengan telaten merawat ayahnya itu, sikapnya yang penuh perhatian dan pengabdian pada orang tua, membuat penilaian orang akan parasnya yang cantik adalah luar dan dalam.
Setiap pagi hari, setelah selesai ia membereskan rumah dan menyajikan sajian untuk ayahnya, setelah mencium tangan ayahnya Mawar pun bergegas pergi: “Ayah, Mawar pergi dulu, kalau ayah lapar, dimeja makan sudah Mawar sediakan nasi goreng. Assalamualaikum” kata Mawar sambil beranjak. Pak Sastro hanya diam menerima pamit anaknya itu, matanya masih saja menerawang, sunyi. Berbekal sebotol air putih dalam botol bekas dan karung rombeng yang terlihat kotor ia jelajahi tiap jengkal kota Jakarta, ia coba jemput rezeki dari pinggiran jalan, dari tempat-tempat sampah dan dari tiap debu yang berterbangan di udara. Mawar menjalani semuanya dengan senang hati, tak pernah keluar keluh kesah dari bibirnya yang tipis, dia lalui hari-harinya dengan kesabaran. Setiap pukul 7.30 pagi, Mawar selalu saja berhenti di depan sebuah gedung SMU mewah di pusat kota, ia begitu menikmati suasana keramaian para siswa yang akan masuk sekolah, ia kadang terlihat tersenyum kecil dan memandang jauh ke komplek SMU itu, “Mawar, kamu kenapa senyum-senyum sendiri begitu ?” tanya Pak Kosim penjual gorengan di SMU itu yang sudah lama mengenal Mawar, “Nggak apa-apa Pak” jawabnya pelan, “Kalau saja saya seberuntung mereka ya pak” lanjut Mawar lagi.
Perempuan seusia Mawar memang seharusnyalah duduk di bangku SMU, untuk menerima hak yang sama atas masa depannya. Namun, segala macam alasan yang berbau ekonomi menjadi pagar kokoh yang menghalanginya. Ketidakberdayaan ayahnya dan tuntutan hidup membuat Mawar mesti rela kehilangan itu semua. Dalam setiap lamunannya ia ingat si Nita, Mirna, Santi, Joko dan Karim, teman-teman dekatnya sewaktu di SMP dulu yang kini melanjutkan sekolah ke SMU, alangkah enaknya menjadi mereka, pikir Mawar. Mawar pun sering teringat tentang kematian ibunya, kematian yang juga membawa kebinasaan bagi harmoni keluarganya, dia ingat betapa ibunya sangat ingin Mawar menjadi orang terpelajar, menjadi orang pintar agar kehidupannya tidak seperti kehidupan kedua orang tuanya kini, “Mawar! Apapun yang terjadi kamu mesti melanjutkan sekolah” kenang Mawar akan kata-kata ibunya. Itulah kata-kata ibunya yang selalu ada di pikirannya dan juga bukti pengorbanan ibunya demi sekolahnya.
Mawar pun teringat kembali akan kisahnya dahulu. Waktu itu Mawar duduk di bangku SMP kelas 3, prestasi belajar Mawar memang luar biasa, peringkat pertama selalu diraihnya sejak kelas 1. Sampai pada saat menjelang ujian akhir, Mawar memerlukan uang untuk membayar tunggakan SPP dan uang ujiannya, Mawar tahu bahwa orang tuanya sedang tak memiliki uang terlebih lagi saat ini ibunya sedang sakit-sakitan, namun walau bagaimanapun ia tetap meminta pada ayahnya: “Ayah, bulan depan Mawar mau ujian akhir, dan tunggakan uang SPP juga uang ujiannya mesti dilunasi, jika tidak, Mawar tidak boleh ikut ujian” kata Mawar kepada ayahnya dengan lembut dan wajah tertunduk. Sambil menghela nafas panjang, ayahnya, Pak Satro hanya menjawab: “Mawar, sepertinya saat ini ayah belum ada uang sebanyak itu, tapi ayah akan usahakan”. Haripun terus berganti, hingga akhirnya batas akhir pembayaran tinggal satu minggu lagi, dan Pak Sastro belum memberikan Mawar uang untuk membayar tunggakan SPPnya. Mawar sangat mengerti hal itu, ia tahu kalau ayahnya tak berhasil mendapatkan uang tersebut. Hingga pada hari terakhir batas waktu pembayaran, ibunya memberikan uang pada Mawar, “Mawar, ini uang untuk membayar tunggakan SPP dan uang ujian mu” kata ibunya sambil terbatuk-batuk, “Asyik!, Mawar bisa ikut ujian, terima kasih ya bu” jerit Mawar gembira sambil memeluk ibunya dan kemudian bergegas pergi ke sekolah.
Pada hari ujian berlangsung, ibunya harus dibawa rumah sakit karena penyakit yang dideritanya bertambah parah, keadaannya sangat lemah. “Bu, bertahan ya, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit” kata Pak Sastro sepanjang perjalanan. “Pak Dahlan, bisa tolong seseorang suruh menjemput Mawar disekolahnya” pinta Pak Sastro kepada Pak Dahlan tetangga sebelah rumahnya. “Jangan pak, biarkan dia berkonsentrasi pada ujiannya” pinta Bu Sastro lirih. “Pak, sepertinya saya sudah tidak kuat lagi” kata Ibu Sastro tampak menahan sakit, “Bertahanlah bu, sebentar lagi kita sampai” jawab Pak Sastro sambil terlihat meneteskan air mata, “Pak! Saya minta maaf karena sudah membohongi bapak, karena akhir-akhir ini saya tidak lagi minum obat karena obatnya sudah habis” kata Bu Sastro pelan. “Pak! uang untuk pengobatan dan untuk membeli obat saya berikan kepada Mawar untuk membayar tunggakan uang sekolahnya, jangan ceritakan hal ini pada Mawar ya” lanjut Bu Sastro, “Salam untuk Mawar pak, dan terima kasih bapak sudah menjadi suami yang baik” kata Bu Sastro yang kemudian menutup mata untuk selamanya. Suasana dalam mobil yang akan membawa Bu Sastro ke rumah sakit saat itu menjadi hening, “Inalillahi wa inna illahi rojiun” ucap Pak Sastro sambil manahan air matanya dan mengusap wajah istri tercintanya itu.
Seusai ujian, Mawar langsung kembali ke rumahnya, hatinya gembira karena hampir seluruh soal bisa ia jawab dengan meyakinkan. Hingga dari kejauhan ia melihat keramaian didepan rumahnya: “Ada apa yah ?, kok di depan rumah ramai sekali” tanya Mawar dalam hati. Beberapa tetangga memberitahu Pak Sastro kalau Mawar sedang menuju ke rumah, setelah tinggal beberapa meter dari muka rumah, Pak sastro tampak menyambut Mawar, melihat semua itu hati mawar jadi tak karuan, ia coba buang praduga buruk di pikirannya, “Ayah, ada apa ini, ibu mana?” tanyanya dengan bibir tergetar, “Tabah ya nak, tabah! “ jawab ayahnya sambil memeluk Mawar sambil tersedu, seketika itupun Mawar tak bisa lagi menampik dugaan dipikirannya, tangisnyapun tumpah dipelukan ayahnya: “Ibuu…!!!” jeritnya sambil kemudian masuk ke dalam rumah bersimpuh disisi jenazah sang ibu yang terbujur kaku dengan wajah tampak tersenyum: “Ibu, kenapa ibu tinggalin Mawar” bisik Mawar sambil menangis pedih.
Sejak saat itulah kehidupan keluarga Mawar berubah, Pak sastro menjadi sering melamun dan menangis sendiri. Mawarpun seperti kehilangan panduan, ia menjadi gamang menghadapi semuanya, bahkan saat menerima hasil ujian yang menempatkannya sebagai juara sekolah, Mawar hanya diam, hasil ujian yang begitu sangat ingin ia persembahkan bagi ibunya seakan sirna, “Mawar, kamu memang anak pintar, ayah bangga padamu, ibu mu pun pasti bangga menyaksikan ini semua” kata ayahnya saat melihat hasil ujian Mawar, “Tak sia-sia ia korbankan hidupnya untuk sekolah mu” lanjut ayahnya, “Korbankan hidup?, apa yang telah ibu lakukan ayah?” tanya Mawar penasaran. Kemudian ayahnya pun menceritakan semuanya. Tak lama kemudian Mawar menangis tersedu-sedu sambil bersimpuh di lantai, “Sudahlah nak, ini semua salah ayah, ayah tidak bisa memberi kalian kecukupan materi, mungkin ayah kurang berusaha” kata ayahnya sambil mengangkat bahu Mawar ke pelukannya. Setelah kejadian ini, ayahnya semakin sering melamun dan berbicara sendiri dengan kata-kata yang menyalahkan dirinya atas semua yang menimpa keluarganya.
Mengenang semua kejadian itu membuat air mata Mawar mengalir deras, ditengah kesedihannya ia coba raih sebuah kotak pensil yang masih terawat yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Ia pandangi kotak pensil itu, kotak yang bukan saja berisi alat-alat tulis tetapi berisi jutaan impian dan masa depan Mawar. Mawar masih ingat bahwa kotak pensil itu adalah pemberian Danny, anak majikan ibunya dahulu, saat itu Dany memberikannya kotak pensil ketika Mawar berulang tahun. Masih pula terbayang oleh Mawar kebaikan hati Danny dan wajahnya yang tampan, “Entah dimana ia sekarang” bisik Mawar sambil memeluk kotak pensil itu erat di dadanya.
______________________________________________________________________
Mawar bisa tumbuh dimana saja, bisa di taman yang indah ataupun di antara belukar. Namun mawar tetaplah mawar, bunga yang selalu menebarkan pesonanya.
______________________________________________________________________
Thursday, September 29, 2005
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment