Wednesday, September 28, 2005

Jangan sebut aku PKI !!

Karya : Ales Oktapratama, 2004.


Siang itu cuaca sangat panas, terik matahari seakan membakar pundak para kuli bangunan di proyek gedung pencakar langit yang sedang dibangun itu. Berpuluh-puluh kuli bangunan saling bahu membahu untuk menyelesaikan proyek pencakar langit itu agar sesuai dengan tenggat waktunya. Dari kejauhan terlihat dua orang kuli sedang duduk dan berbincang tak jauh dari tumpukan balok-balok kayu. “Jo, hari ini kamu lemes amat, kamu sakit ?” sapa seorang kuli kepada Sutejo sesama kuli bangunan, “Nggak apa-apa, mungkin karena belum makan aja” jawab Sutejo, “Mir, kamu kok malah semangat amat nih hari” lanjut Sutejo bertanya pada salah satu kuli tersebut yang bernama Amir. “Gimana sih kamu Jo, ya jelas aja seneng, kan hari ini hari bayaran” jawab Amir dengan aneh, “Oh iya, aku lupa Mir” jawab Sutejo sambil menggaruk-garuk kepalanya, “Ya sudah, nanti kita sambung lagi ngobrolnya, ntar ketauan mandor kan berabe” ajak Amir sambil beranjak menuju tumpukan kayu balok.

Di sebuah sekolah dasar terlihat anak-anak sekolah sedang serius belajar, wajah mereka tampak segar walaupun ruang tempat mereka belajar sama sekali tidak segar dan cenderung membahayakan. Plafon ruang kelas IV yang mereka tempati tampak sudah bergelayut nyaris roboh dan dinding-dinding kelas juga terlihat retak dan keropos. Tiba-tiba sebuah serpihak kecil kayu jatuh di hadapan seorang murid yg sedang serius menulis, “Wah, mejaku jadi kotor deh” bisik anak itu, “Iya, rambutmu juga tuh banyak ampas kayunya Ton" kata seorang murid perempuan kepada anak itu yang bernama Tono, “Eh, terima kasih ya Dar” jawab Tono kepada anak perempuan itu yg ternyata bernama Sundari. “Tono!, kamu ngapain, kok malah ngobrol” teriak ibu guru setelah melihat mereka berbicara dan sambil membersihkan meja mereka, “Nggak bu, ini sedang membersihkan ampas kayu yg jatuh dari plafon” jawab Tono, “Untung nggak roboh” timpal anak lainnya yg berpostur gendut yang duduk di bangku paling belakang, “Sudah..sudah, menurut ibu ini masih aman kok” lanjut bu guru. “Bu kalau kelak saya jadi presiden, sekolah-sekolah akan saya bangun dengan bagus” kata Tono lantang, “Supaya bisa belajar dengan tenang” lanjut Tono, “Ha..ha….ha..keturunan PKI mana bisa jadi presiden” timpal anak gendut tadi sambil tertawa dan diikuti tawa oleh teman lainnya, “Andri!!, kamu tidak boleh berbicara seperti itu, siapa yang mengajari kamu!” bentak bu guru kepada Andri si anak gendut itu, “Eeee, kata ayah saya bu, katanya kalau PKI itu nggak bisa jadi pegawai negeri apalagi presiden, dan katanya juga Tono itu keturunan PKI” jawab Andri sambil tertunduk, “Ya sudah, kamu tidak boleh lagi bicara seperti itu, kalau diulangi lagi, kamu ibu hukum” lanjut bu guru, “ya sudah, kita lanjutkan lagi belajarnya”.

Sementara itu di sebuah rumah yang amat sederhana di pinggir rel kereta api di sekitar Tanah Abang dan biasa disebut mereka yg lebih beruntung dengan sebutan “Kampung Kumuh”, seorang gadis cilik tampak duduk manis di samping seorang ibu yang sedang sibuk mencuci pakaian yang tampak menggunung. Sesekali terlihat ia mengusap kening sang ibu dengan kain ditangannya, “Ibu capek yah?” tanya gadis cilik itu, “Nggak sayang, ini kan sudah pekerjaan ibu” jawab sang ibu sambil terus mencuci, “Kalau ibu capek, ibu istirahat saja” lanjut gadis cilik itu, “Rina..rina, ibu sayang sama kamu, kalau ibu nggak nyuci nanti biaya kita makan gimana, terus bayarin masuk sekolahmu dan biaya kakakmu siapa” jawab sang ibu kepada Rina gadis cilik itu sambil mencubit pipinya. “Rina bisa kok mencuci, Rina aja sini yg cuci, ibu istirahat, kakak aja pulang sekolah bisa ngamen” lanjut Rina si gadis cilik, “Ah, kamu itu masih kecil, belum kuat kalau nyuci, sayang. Nanti kalau kamu sudah besar, tapi ya jangan kerja jadi tukang cuci, kamu kerja di gedung-gedung tinggi itu tuh, kakakmu juga. Ibu jadi tukang cuci begini karena untuk membantu ayahmu supaya kamu bisa sekolah supaya jadi orang hebat” jawab sang ibu, “Tapi masih lama yah bu, sekarang aja Rina belum sekolah” kata Rina lagi, “ya sabar, yg penting kamu nanti kalau udah sekolah belajar yang rajin biar pinter dan capeknya ibu ini nggak sia-sia ya sayang” jawab sang ibu lagi. Rina si gadis cilik hanya terpaku memandang ke langit mendengarkan ucapan ibunya itu.

Sore hari, Tejo dan Amir berjalan bersama sepulang mereka dari proyek, sepanjang jalan mereka terlihat berbincang-bincang. Dari wajah mereka terbesit sedikit kegembiraan karena mereka sudah menerima uang bayaran bulan ini. “Jo, bayaranmu nyisa berapa?” tanya Amir, “Tadi saya bayarin ke kedai Rp. 90.000, ya jadi nyisa Rp. 210.000” jawab Sutejo, “Wah, masih banyakan kamu tuh, aku nyisa Rp. 130.000, abis tadi selain bayar ke kedai Bu Sumirah, aku juga bayar utang sama si Jabrik tuh” lanjut Amir, “Kamu kan bujangan Mir, kalo aku kan harus menghidupi istri dan dua anakku, ya uang segitu paling habis untuk seminggu” jawab Tejo, “Ya gini deh nasibnya orang susah, dibayar sesuai UMR alias cuma cukup untuk makan pas-pasan” sambung Amir dengan kesal, “Ya sudah lah, kalau dipikirin terus ntar stres, Mir aku duluan yah, sampai ketemu besok” kata Tejo sambil berbelok ke salah satu gang di kampung kumuh itu. “Oke Jo, sampai ketemu besok” jawab Amir sambil melambaikan tangannya.

Sesampainya di rumah, Sutejo langsung duduk di bangku yg sudah buruk di muka rumahnya. Sambil menghela nafas panjang, dia pandangi uang bayarannya dan kemudian memasukkannya kembali dalam saku. “Eh, bapak sudah pulang toh, la ya kok ndak langsung masuk?” sapa sang ibu yang keluar sambil membawa sapu ijuk, “Ndak apa-apa, lagi kepingin liat-liat suasana aja” jawab Tejo, “Ibu buatkan kopi ya ?” kata sang ibu sambil meraih kantung plastik yang berisi peralatan kerja Tejo. “Bapak!!, bapak sudah pulang, sudah lama?” tanya Rina yang tiba-tiba muncul dari samping rumah mereka, “Baru aja sayang, kamu pasti belum mandi” jawab Tejo sambil menggendong dan mencium pipi putri ciliknya itu, “Kok bapak tau” jawab Rina sambil merangkul leher Tejo dengan manja, “Lha pasti tau dong, soalnya bapak cium masih bau asem..ha..ha..ha” lanjut Tejo sambil tertawa menggoda putrinya itu, “Ya sudah, kamu mandi sana, bapak juga mau mandi” lanjut Tejo sambil masuk ke dalam rumah. Setelah selesai mandi, Tejo duduk-duduk dan terlihat santai. “Pak, ini kopinya” sapa sang ibu sambil menaruh kopi di meja di depan televisi 14 inch yg gambarnya sudah mulai buram, “Terima kasih bidadariku” balas Tejo sambil meraih cangkir kopi dihadapannya, “Ah, bapak ini masih aja genit, inget dah tue loh pak” jawab sang ibu tersipu. “Oh iya, Tono belum pulang toh bu” tanya Tejo pada istrinya, “Iya, biasanyakan dia pulang selepas magrib pak, gimana sih, kok lali sih” jawab sang ibu.

Menjelang Isya, Tono pulang ke rumah, wajahnya tampak kuyu dan lelah. Peralatan mengamennya yg terbuat dari lempengen tutup botol ia gantung di muka rumahnya. “Assalamualaikum” sapa Tono sambil ngeloyor masuk ke rumah, “Waalaikumsalam” jawab sang ibu, “Capek nak?, mandi dulu sana biar segar” lanjut sang ibu sambil menepuk pundak Tono. Setelah selesai mandi Tono menonton televisi bersama ayahnya dan tak lupa ia bawa beberapa buku sekolahnya dan mengerjakan beberapa pekerjaan rumah dari gurunya. Tiba-tiba Tono bertanya : "Pak, PKI itu apa sih?” tanya Tono santai sambil serius mengejakan PR-nya, “Kamu dapat dari mana kata-kata itu” jawab Tejo sambil bertanya balik, “Kata si Andri, tadi di sekolah dia bilang Tono nggak bisa jadi presiden karena Tono keturunan PKI katanya” lanjut Tono sambil menatap Ayahnya lembut, “PKI itu bukan apa-apa nak, bukan juga siapa-siapa, PKI hanya sebuah sejarah gelap negeri ini” jawab Tejo hati-hati, “Terus, kenapa Tono nggak bisa jadi presiden, kan Tono mau membangun negeri ini menjadi negeri yg makmur” lanjut Tono. Sesaat kemudian Tejo beranjak dari kursinya dan mendekati Tono duduk di lantai, sambil menatap mata Tono dalam-dalam, ia berujar: “Tono anakku, untuk membangun negeri ini tidak harus dengan menjadi presiden, justru negeri ini hancur karena ulah presidennya. Belajarlah yg rajin, supaya kamu cerdas, juga taatlah beribadah supaya kamu juga punya moral yg baik”. “Tapi Tono mau jadi presiden pak!, makanya Tono sekarang belajar dan rajin shalat” kata Tono lagi, “Iya nak, jadilah presiden, kelak saat kamu dewasa, bapak harap negeri ini sudah berubah, tak ada lagi diskriminasi. Ya sudah, lanjutkan belajarnya deh pak presiden!!” kata Tejo panjang lebar sambil mengucek kepala Tono, “Apa itu diskriminasi pak?” tanya Tono lagi, “Hmmm…nanti saat kamu dewasa dan ilmu mu pun bertambah, kamu akan tau sendiri” jawab Tejo sambil beranjak dari sisi Tono.

Menjelang malam, setelah selesai mengerjaan PR-nya, Tono seperti biasa menghampiri Rina, adik kecilnya yang sedang bermain dimuka rumah. “Rina, sini deh” sapa Tono dimuka pintu, “Ada apa kak?” jawab Rina sambil menghampiri Tono, “Ini, kakak ada coklat untuk kamu” kata Tono sambil tersenyum, “Asyikk..terima kasih ya kak, kakak dapet uang dari mana bisa beli coklat ?” lanjut Rina bertanya, “Halal kok ini Rin, tadi kebetulan kakak ketemu penumpang-penumpang yg dermawan, jadi mereka kasih kakak uang lebih” jawab Tono, “Mending di tabung kak, biar kakak bisa sekolah tinggi dan jadi presiden beneran” kata Rina, “Udah kok, tiap hari kakak nabung, u/ bantu bapak biayai masuk sekolahmu tahun depan” jawab Tono sambil mencium pipi adik kecilnya itu. Kemudian keduanya masuk ke dalam rumah, tak lama kemudian mereka pun tertidur pulas untuk menyambut hari esok yang masih tak menentu.

Di tengah larutnya malam, Tejo dan istrinya terlihat duduk santai di muka rumah mereka. Sambil menatap langit yg ditaburi bintang mereka asyik berbincang. “Bu, kadang aku ini merasa tidak bertanggungjawab sebagai ayah” bisik Tejo pelan, “Kok ngomong gitu sih, bapak itu adalah bapak yg paling baik” jawab sang ibu dengan wajah terheran-heran, “Ya opo bu, lihat aja si Tono, dia harus mengamen untuk nambahin biaya sekolahnya, terus juga ibu harus jadi tukang cuci untuk menambal kebutuhan keluarga ini, rasanya aku gagal membahagiakan kalian” lanjut Tejo dengan mata berkaca-kaca, “Pak, jangan ngomong gitu, usaha bapak adalah nafas yang kami hirup sampai detik ini, kami nggak pernah nuntut harta berlimpah, sing penting bapak terus menyayangi kami” jawab sang ibu sambil tersedu memeluk Tejo, “Maafin aku ya bu, coba dulu kalau aku di terima sebagai pegawai negeri, mungkin nasib kita akan jauh berbeda, tapi aku tak bisa menyalahkan kakekku yang anggota PKI sehingga aku tidak lolos litsus dan tidak di terima sebagai abdi negara”, “tapi aku bertekad, anak-anak harus terus sekolah, apapun yang terjadi, supaya kehidupan mereka kelak lebih baik dan dihargai orang” kata Tejo panjang lebar sambil menatap bintang dan mengelus rambut istrinya. “Ibu juga bertekad yg sama pak, juga berharap semoga kelak negeri ini berubah, tidak lagi mendiskriminasikan para keturunan PKI seperti kita ini, agar anak-anak kita tak lagi harus menelan pil pahit harus di singkirkan” jawab sang ibu sambil mengusap air matanya, “Aku sangat beruntung punya istri seperti mu yg penuh pengertian dan anak-anak yg manis dan cerdas, semoga saja saya diberi umur untuk menyaksikan mereka tumbuh dan maju” ujar Tejo lirih, “Pak, ngomonge bapak iki opo sih, lha kok ke umur-umur segala, aku ngeri ah!!” saut sang Ibu sambil mencium tangan Tejo, “Ya sudah lah, sudah malam, ayo kita tidur” ajak Tejo sambil bangkit dan menggandeng sang ibu.


Satu minggu telah berlalu, sang ibu terus menggeluti profesi mencucinya dan Tejo juga terus berusaha sekuat tenaganya untuk membiayai keluarga kecilnya. Hingga pada suatu siang yang terik, Amir terlihat tergopoh-gopoh berlari menuju rumah Tejo. “Mbak Hanum..mbak Hanum!!” panggil Amir kepada Hanum istri Tejo, lalu dengan tergopoh-gopoh Hanum berlari kecil dari dalam rumah menghampiri Amir, “Ono opo Mir ?, lha kok kayak orang kesurupan gitu” tanya Hanum penasaran, “Anu mbak, Tejo!” jawab Amir terbata-bata, “Hah!!.kenapa mas Tejo, ada apa?” teriak Hanum merasa telah terjadi sesuatu, “Anu mbak, mas Tejo… kecelakaan, sekarang dia di rumah sakit” jawab Amir, “Ya Allah, mas Tejooo!! teriak Hanum histeris. Tak lama kemudian, mereka langsung menuju rumah sakit, sepanjang jalan Hanum tak henti-hentinya menangis, “Ya Allah, selamatkan suamiku ya Allah” bisik Hanum lemah, “Tabah mbak, kita doakan saja agar mas Tejo baik-baik saja” kata Amir menenangkan Hanum istri Tejo.

Sesampainya di rumah sakit, mereka langsung menuju ruang gawat darurat. Disana terlihat sudah banyak sekali teman-teman kerja Tejo yang lain, dan terlihat juga Pak Hasan sang mandor. “Minggir..minggir!!, ini istrinya Tejo” teriak Amir sambil memberi Hanum jalan. Sesampainya Hanum dihadapan Tejo yg terbaring lemah, “Mas, apa yang terjadi ?” tanya Hanum tersedu sambil mengusap wajah suami tercintanya itu dengan lembut, “ini sudah musibah bu” jawab Tejo pelan, “Sepertinya aku nggak kuat lagi bu” lanjut Tejo, “Pak, bapak harus sehat jangan tinggalin kami, Rina dan Tono butuh bapak” kata Hanum dengan tangis berderai, “Maaf kan aku bu, jaga anak-anak, sampaikan maaf ku karena aku belum bisa memberi mereka kabahagian, dan salam untuk Rina si calon dokter ku dan Tono si calon presiden” bisik Tejo lemah dan terbata-bata. “Bu, terima kasih untuk cinta mu, aku mencintaimu…” ujar Tejo yang kemudian Tejo menggenggam erat tangan istrinya dan menatapnya syahdu penuh cinta, hingga akhirnya matanya tertutup untuk selamanya. “Mas Tejooooo!!!” teriakan Hanum siang itu seakan merobek hati seisi ruangan, suami tercintanya yang sekaligus tulang punggung keluarga harus pergi mendahului mereka. Amir terlihat menangis di pojokan ruang, ia seperti tidak percaya telah kehilangan karib dekatnya. Sementara itu Hanum terus saja menangis sambil terus memeluk tubuh kaku Tejo, dia ciumi wajah suaminya itu, dia belai rambut hitam Tejo dan dia bisikkan “Aku akan sangat merindukan mu mas”.

Sementara itu, di sebuah sekolah dasar, Tono terlihat sudah keluar kelasnya untuk pulang. “Heh pengamen!!, loe nggak ngamen, mana kecrekan loe” teriak Andri meledek Tono, “Ngamen juga halal Dri, kalo kamu kan bisanya cuma minta sama orang tua mu” jawab Tono, “Iya dong, kan orang tua ku banyak uang nya” lanjut Andri di ikuti teman-temannya meledek Tono, “Bapak mu itu cuma lurah, kok bisa punya uang banyak dari mana tuh” bisik Tono dalam hati. Sesaat kemudian Tono terdiam dan menyadari kalau kecrekannya benar tertinggal di rumah, lalu ia pun langsung berlari pulang ke rumahnya. Mendekati rumahnya, Tono mendengar suara tangis Rina adik kecilnya dari dalam rumah, lalu dia berlari kencang untuk mengetahui keadaan adiknya itu, “Ya ampun, Rina kenapa kamu menangis, dimana ibu?” tanya Tono tergopoh-gopoh, “Nggak tau kak, tadi Rina pulang dari main, ibu sudah nggak ada” jawab Rina sambil merengek, “Ya sudah adikku sayang, mungkin ibu lagi ada perlu keluar rumah”, “Ya udah, dari pada sendirian ikut kakak ngamen yuk” ajak Tono pada adiknya, “Yuk, ntar kalau duitnya banyak, beliin Rina coklat lagi yah kak” jawab Rina sambil mengusap air matanya, “Iya sayang, yuk jalan” jawab Tono sambil meraih Rina ke gendongannya. Sepanjang siang itu, Tono dan Rina mengamen dari satu bus ke bus yang lainnya, dengan ceria si Rina kecil menemani sang kakak bernyanyi, karena wajah Rina yang imut dan lucu serta tingkahnya yang polos, banyak penumpang bus yang tercuri hatinya, sehingga uang yang mereka terima pun lumayan banyak. Menjelang sore, mereka terlihat duduk beristirahat di halte bus Plaza Sarinah, “Oh iya Rina sayang, yuk kita ke Hero di dalam” ajak Tono, “Ngapain kak” jawab Rina bertanya balik, “Loh, katanya tadi mau coklat” jawab Tono lagi, “Asyikkk, emang uangnya banyak kak?” teriak Rina gembira, “Alhamdulillah, ini rezeki kamu, karena ada kamu jadinya uangnya banyak” jawab Tono. Kemudian mereka pun langsung berjalan masuk ke basement Sarinah menuju Hero Supermarket. Dan sekembalinya dari Hero Supermarket, Rina sudah terlihat dengan gembira menguyah coklat kesukaannya.

Tak lama setelah mereka menikmati coklat di halte Sarinah, tiba-tiba seseorang menghampiri mereka, “Tono, saya disuruh ibumu menjemput kamu, kamu disuruh pulang sekarang juga” sapa orang itu, “Ada apa Pak Karman?” jawab Tono bingung, “Maaf nak Tono, saya tidak bisa bercerita” jawab Pak Karman tetangga keluarga Tejo. Kemudian mereka pun bergegas pulang. Setelah dekat dengan rumah mereka, dari kejauhan Tono melihat keramaian di depan rumahnya dan mulai bertanya-tanya, “Pak, ada apa di rumah saya?” tanya Tono pada Pak Karman, tapi Pak Karman hanya diam tak menjawab pertanyaan. Sesampainya di muka pintu, Tono melihat ibunya duduk bersimpuh membaca Al-quran di depan jasad seseorang, “Buu?” sapa Tono pada ibunya, mendengar sapaan itu, ibunya langsung bangkit dan memeluk Tono sambil terisak, “Bapakmu nak” bisik ibunya lirih, “Bu!!, Rina di beliin coklat lagi sama kakak” kata Rina sambil mengacungkan coklat batang dengan polosnya. Kemudian, kedua tangan sang ibu meraih Rina dan menyatukan mereka dalam pelukan erat. “Bapakkkkkk…” teriak Tono yang tak kuat lagi menahan sedihnya sambil memeluk jasad bapaknya. Sedangkan Rina yang belum tau apa-apa hanya kebingungan, dan kemudian seorang kerabat membawa Rina keluar, dan Rina tak hentinya bertanya mengapa bapaknya tertidur di lantai dan kenapa ibu dan kakaknya menangis. Rina pun akhirnya meronta dan menangis ingin dekat dengan ibu dan kakaknya.

Sebulan sudah Tejo meninggalkan keluarganya, suasana rumah menjadi sepi, tapi hidup harus terus berjalan. Untuk menutupi kebutuhan keluarga, Hanum harus bekerja keras, selain menjadi tukang cuci, ia pun menjalani pekerjaan sebagai pemulung. Pagi mencuci, dan siang harinya bersama gadis ciliknya berkeliling kota mencari barang bekas yang bisa dijual. Jika malam datang, Hanum selalu mengajak anak-anaknya mengaji bersama dan berdoa untuk Tejo, setelah itu biasanya mereka duduk di depan televisi yang belum juga besar-besar, masih 14 inci. “Bu, untuk bulan ini uang sekolah Tono belum dibayar” kata Tono pelan, “Iya nak, nanti ibu bayar, ibu akan cari uang dulu” jawab ibunya meyakinkan Tono, “Apa Tono berhenti sekolah saja bu, supaya bisa lebih keras membantu ibu, pagi-pagi Tono bisa berjualan koran dan siangnya mengamen” kata Tono sambil mendekat pada ibunya, “Jangan nak, kamu harus terus sekolah apapun yang terjadi, itu pesan ayahmu agar kalian kelak jadi orang yang berguna, ibu masih sanggup kok membiayai kalian, Insya Allah ibu dapat uang untuk bayar uang sekolahmu itu” jawab ibunya sambil memegang kedua bahu Tono dan menatapnya dalam dengan mata berkaca-kaca, “Bu!!, Rina juga mau sekolah ya, biar bisa kayak kakak, ntar kakak jadi presiden, Rina jadi dokter ya bu” saut Rina sambil memegang tangan ibunya dengan manja, “iya sayang, nanti kamu juga harus sekolah” jawab ibunya sambil menaruh Rina di pangkuannya. “Bu!!, bapak kok nggak pulang-pulang, Rina kangen” tanya Rina sambil memainkan jemari ibunya. Untuk beberapa saat Hanum terdiam dan setetes air matanya menetes di lengan Rina, “Kok ibu menangis ?, kenapa bu?” tanya Rina sambil mengusap pipi Hanum dengan jemarinya yang mungil, “Nggak apa-apa sayang, cuma kangen sama bapakmu. Bapak belum pulang karena cari uang yg banyak untuk kamu dan kakakmu” jawab Hanum sambil memeluk putri ciliknya dengan erat dan menciumnya, “Maafin ibu sayang telah membohongimu” bisik Hanum dalam hati. “Aku harus berusaha lebih keras lagi, agar bisa membantu ibu, kasihan ibu, dia pasti sangat lelah” bisik Tono dalam hati sambil menatap dalam-dalam ibunya yang sedang memeluk erat adik kecilnya.

Hari demi hari mereka lalui, sepulang sekolah Tono mengamen dari satu bus ke bus lainnya dan pulang hingga larut. Begitu juga dengan ibunya, mereka seakan berpacu dengan waktu hanya untuk sekedar makan dan biaya sekolah, cita-cita untuk berpendidikan tinggi terasa seperti mendaki bukit terjal yang amat curam bagi mereka. Setiap sore, sang ibu tampak sibuk memilah-milah barang rongsokan yang didapatnya dibantu oleh Rina putri ciliknya. Tapi terkadang juga si Rina cilik ikut Tono mengamen di bus-bus kota. Suatu hari Tono membawa Rina mengamen di bus kota, mereka bernyanyi dengan riang dan penuh kegembiraan dan sang adik berkeliling menyodorkan kantung bekas pembungkus permen meminta partisipasi penumpang. Semangat mereka terdengar nyaring dari suara serak mereka dan beratnya kehidupan terukir jelas dari tetesan keringat mereka. Dan dari bangku paling belakang bus 213 jurusan Grogol-Kampung Melayu, aku menatap keduanya seperti menatap cermin negeri ini, mereka berusaha begitu keras untuk masa depan mereka dan tentunya masa depan negeri ini juga.

No comments: